
Duduk menikmati udara segar di rooftop istana kediaman yang dikhususkan untuk keluarga kerajaan memang saat ternyaman baginya. Sambil menyesap teh dengan aroma chamomile didalamnya, sungguh menenangkan.
Memandang taman dengan bunga mawar indah yang tertata apik juga membuat beberapa ingatan-ingatan masa lalunya yang tak ingin ia kenang kembali terkenang.
Namun seperti halnya sebuah kisah dirangkai, kenangan pertama ia menginjakkan kaki di istana ini sebagai Putri Mahkota, kehilangan kedua putranya tepat saat ia mendiami istana ini membuatnya meringis perih.
Tak mungkin ia akan lupa tentang kenangan-kenangan pahit lalu, namun kini, kehadiran putra ketiganya dan juga satu-satunya putranya yang hidup. Setidaknya mengembalikan lagi semangat hidupnya, mengembalikan kepercayaan baginya bahwa menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mustahil dia rasakan walaupun kedua putranya sebelumnya telah direnggut dari hidupnya.
Awan mendung masih setia berkumpul menyatu diatas langit, hujan adalah musim yang sangat dia sukai. Usianya sudah setengah abad lebih walaupun orang-orang bilang ia tak tampak menua. Namun setiap ia melihat putranya tumbuh dan mengingat ulang tahunnya membuatnya sadar, hidupnya sudah tak muda lagi.
Pikirannya terbebani, walaupun dia adalah Ratu negeri ini, istri seorang penguasa. Mengingat bukan putranyalah yang akan meneruskan tahkta bukan satu hal yang dia sesali. Dan juga, takhta bukanlah hal satu-satunya tujuannya saat ini, baginya kebahagiaan dan keselamatan putra satu-satunya adalah hal yang utama dan paling ia prioritaskan.
Kedatangan Selir Selena kemarin atau lebih tepatnya Selir Selena yang secara pribadi mengajukan diri untuk berbincang dengan dalih sambil mengunjungi ratu adalah hal yang paling ia waspadai. Wanita yang secara sengaja memasuki kehidupannya dengan ambisi kuat pada Raja dan takhta akan melakukan apa saja untuk mengamankan posisinya.
Beruntung aturan kerajaan Heiress mengijinkan putra pertama raja yang akan mewarisi takhta selanjutnya, terlepas apakah sang putra adalah anak yang dilahirkan sendiri oleh seorang ratu ataupun selir. Jika Pangeran Geralld menduduki posisinya saat ini sebagai Putra Mahkota, tentu saja Selir Selena tak akan melakukan segala cara untuk melukai putra ratu jika gelar Putra Mahkota Geralld ia dapatkan secara alami.
Tapi kini ia tahu, sebagai ratu dia tidak lemah hanya saja kehilangan anak-anaknya bukanlah hal yang sanggup ia lalui lagi jika itu berkaitan dengan Sirius, putra satu-satunya yang dia miliki.
Terlepas apakah dia mewarisi tahkta ataupun menjadi pangeran biasa, hal yang paling dia inginkan sebagai seorang ibu adalah menjamin anaknya hidup aman tanpa ancaman. Tapi tampaknya Selir Selena kembali mengusik apa yang ratu berusaha bangun, ketentraman.
“Yang Mulia Ratu, tamu anda telah sampai,” kata dayang dengan membungkukan badan sopan.
Dia memejamkan mata sebentar sambil menghirup aroma teh, “aku akan segera datang,” ucapnya tanpa memalingkan wajah kearah dayang tersebut.
Berlalu meninggalkan rooftop kesukaannya dengan dayang yang mengikutinya dibelakang. Ruangan yang dikhususkan untuk menerima tamu ratu secara pribadi kembali berfungsi setelah beberapa lama ia menolak kegaduhan.
Berdiri seorang dengan setelan rapi dan tampak mahal, memandang kedepan melalui jendela kaca besar. Tubuh proporsionalnya dari belakang tampak begitu meyakinkan orang yang memandang bahwa pria ini adalah pria yang rupawan.
Mendengar pintu yang dibuka, membuatnya langsung memalingkan tubuhnya dan mengatur posisi untuk menghormati sang tuan rumah, "ah tidak, ini istana," pikirnya.
Membuatnya terkesan, tanpa basa basi kali ini, negosiasinya harus berhasil. Wanita ini terkenal sangat sulit dan cerdas untuk sebuah negosiasi, tapi jika sudah menyentuh kelemahannya dan memainkan kata-kata mengkhawatirkan tentang putranya, mungkin cara ini layak dicoba.
“Kuharap aku tak membuatmu menunggu terlalu lama, Pangeran Regulus,” ucapnya sambil menata posisi duduknya.
Pangeran Regulus menanggapi dengan senyum sekilas dan raut wajah yang ramah, “jangan terlalu dikhawatirkan, Yang Mulia Ratu Soraya,” jawabnya.
“Terimakasih atas sanjungan Anda, Yang Mulia Ratu,” kata Pangeran Regulus. Sambil memeriksa ekspresi Ratu Soraya, basa-basi yang terlalu lama sepertinya bukanlah gayanya. Sambil menyamankan posisi duduknya, inilah saatnya untuk menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan ini.
“Saya harap, Anda dan Yang Mulia Raja Selalu sehat. Sebelum ini, saya tak ingin berbasa-basi terlalu lama, Yang Mulia Ratu,” kata Pangeran Regulus. Memberi jeda pada kalimat yang diucapkannya.. “sebelumnya saya sudah bertemu dengan Pangeran Sirius, tapi saya rasa Pangeran Sirius tidak membahasnya dengan anda, Yang Mulia Ratu,” sambung Pangeran Regulus.
Dengan serius agar tak dianggap main-main dan tak meninggalkan perangai ramahnya, dia menunggu respon dari Ratu Soraya.
Ratu Soraya tersenyum, wanita ini sangat cantik dengan kulit sehalus porselen dan iris besar sehitam arang agak menyipit memperlihatkan dia tengah berusaha tersenyum sopan menjaga kelas bangsawannya.
“Pangeran Sirius tidak terlalu terbuka perihal masalah pribadinya padaku, tapi… saya rasa, saya memiliki banyak waktu untuk mendengarkan perihal Pangeran Regulus menemui putra saya,” katanya kemudian menyesap teh yang telah disiapkan dayang.
“Ah.. Yang Mulia Ratu…” Pangeran Regulus menjeda perkataannya, “...saya pribadi menawarkan sebuah pernikahan antara Pangeran Sirius dan putri saya, Tuan Putri Aquila,” katanya.
Ratu Soraya terkejut, namun karena sudah terlatih, diapun mampu menyembunyikan keterkejutannya di depan Pangeran Regulus.
“Saya kira ini bukan suatu yang tiba-tiba, Pangeran Regulus. Banyak yang tidak mengetahui Sirius adalah pangeran kedua negeri Heiress. Tapi saya terkesan dengan Anda,” jawab Ratu Soraya.
Pangeran Regulus tertawa, “saya anggap itu suatu pujian, Yang Mulia Ratu,” ucapnya.
“Tapi.. seperti layaknya merencanakan calon istri ataupun pernikahan kerajaan tidak seperti keluarga konglomerat pada umumnya. Akan ada banyak pertimbangan, walau saya yakin…” Ratu Soraya menatap serius pada Pangeran Regulus, “… tak ada yang diragukan dari Tuan Putri Aquila karena dia adalah putri anda.”
Hening.. Pangeran Regulus dan Ratu Soraya saling menunggu untuk salah satu dari mereka agar melanjutkan percakapan. Tapi sepertinya Pangeran Regulus berhasil, ia menginginkan jawaban atas permintaannya daripada basa-basi tanpa hasil.
Ratu Soraya berdeham kecil, “sebagai seorang ibu dan Ratu negeri ini, saya harap bisa bertemu secara langsung dengan Putri Aquila,” kata Ratu Soraya dengan tegas.
“Saya menantikannya, Yang Mulia. Tak ada yang lebih baik untuk mengenal calon menantu secara pribadi. Tentu saja.” Kata Pangeran Regulus, tersenyum ramah. Tujuan awalnya tercapai. Membuat Ratu tertarik akan tawarannya.
"Dan.. akan lebih baik, bagiku untuk membicarakan ini dengan putraku. Perlu anda ketahui, Pangeran Sirius bukanlah orang yang mudah setuju," kata ratu. Kembali ia menyesap tehnya dengan santai, mengingat sudah berulang kali ia menawarkan pernikahan pada putranya namun hasilnya nihil.
Dan dengan percaya diri Pangeran dari negeri Magellan menawarkan pernikahan pada keluarga kerajaan Heiress, alih-alih sejak awal menawarkan pada Putra Mahkota Geralld.
"Saya mengerti, Yang Mulia Ratu. Saya telah mengetahuinya," kata Pangeran Regulus.