
Gemerlap lampu kota menghiasi malam yang indah, gedung-gedung pencakar langit begitu megahnya menjulang tinggi. Sendirian berjalan-jalan sambil menikmati keramaian ini begitu juga mampu menghibur hati.
Langkahnya sengaja ia hentikan didepan cafe yang cukup terkenal memiliki banyak cabang diseluruh dunia dan selalu ramai pembeli. Cukup ramai tapi ia memilih memesan Ferrero Rocher, mereka bilang ini menu rahasia. Setelah membayar dan membawa pesanan kemudian dia memilih duduk di teras.
“Apa masih menyukai minuman manis,” sahut suara yang tiba-tiba terdengar. Kemudian pemilik suara itu duduk didepannya, “kuharap kau akan sedikit lebih lama singgah disini, ternyata hanya mampir,” ucapnya lagi sambil menyunggingkan senyum lebar sampai matanya terlihat menyipit.
"Diego.. "
“Ah… sebelumnya terimakasih, Bryan. Kau mau menjadi investor salah satu perusahaanku. Kau penyelamat,” lanjut Diego sambil tertawa.
“Kau ada acara lain?” tanya Bryan karena melihat setelan yang dipakai Diego dengan setelan jas bermerk mahal. Bryan masih sibuk menyedot minumannya.
Kemudian laki-laki didepan Bryan tak lain adalah Diego langsung memeriksa apa yang dilihat Bryan dan menyadari, “ah.. kau tahu aku sekarang adalah tunangan kerajaan?” pertanyaannya seperti pernyataan sekilas.
Bryan menaikkan kedua alisnya seperti orang yang tak tahu, “kau sudah bertunangan?”
Kemudian Diego memasang ekspresi wajah kesal dan bersungut-sungut, Diego melakukan ini setengah hati, “kenapa bersedia jika tak suka?” tanya Bryan memancing.
Diego kemudian agak memajukan kursinya, “apa ada hal-hal seperti itu? Kami melakukan pernikahan politik untuk memperbesar perusahaan dan menaikkan citra kami,” ucap Diego dengan bangga.
Bryan menghabiskan minumannya dan menaruhnya dimeja, “lalu kenapa kau seperti berat hati? Jalani saja, ini semua demi uangkan? Tak ingin segera pergi "Diego" sang tunangan kerajaan,” ucap Bryan dengan dengan nada mengejek.
Ekspresi Diego tampak aneh, “lalu? Kapan kau akan menikah?” tanya Bryan lagi.
“Entahlah belum ditentukan, mungkin menunggu calonku meminta menikah,”jelasnya dengan santai, “yang pentingkan aku sudah berstatus sebagai tunangan kerajaan, bisnisku lancar karena ada backing.”
Bryan tertawa, “kau hanya melanjutkan bisnis keluargamu,” nadanya dalam.
Diego menggebrak meja dengan pelan, “sialan kau! Jika bukan aku lalu siapa? Aku anak tunggal.” Rahangnya mengeras, kuyakin dia tak tersinggung dengan perkataan Bryan tapi mungkin sedang teringat nasibnya.
Bryan dan Diego cukup saling mengenal karena Diego teman pertama Bryan saat Bryan pindah sekolah di Washington, lebih tepatnya juga adalah teman sekelas yang entah kebetulan atau memang nasib Diego adalah teman sebangku Bryan.
Mungkin karena nasib pula mereka satu almamater yaitu di Stanford University, setiap kali bertemu dengan Diego, dengan status barunya yang kini sudah terikat, Bryan-pun selalu teringat betapa Diego telah merancang masa depannya atau lebih tepatnya masa depan percintaannya.
Menikah dan berkomitmen dengan seorang wanita saat berumur 30 tahun bukanlah gayanya. Mungkin Diego yang dulu masih begitu berapi-api berencana berkomitmen saat umurnya menginjak tiga puluh lima tahun ke atas dengan kriteria wanita yang lebih muda darinya dan cerdas.
Tapi kini melihatnya berakhir bertunangan dengan seorang wanita luar biasa diumurnya yang baru menginjak tiga puluh tahun, membuat Bryan miris. Rupanya dia sama seperti kebanyakan anak tunggal lain yang ia kenal.
Dilahirkan dan hidup untuk memenuhi hasrat orang tua. Menipu diri sendiri bahwa ini semua demi kebaikan masa depannya dan keluarga, terlebih nama baik keluarga di kalangan konglomerat.
Diego adalah salah satu laki-laki beruntung terpilih tapi juga kasihan, “aku pergi dulu,” serunya sambil kulihat dia tertawa kecil. Bryan-pun membalasnya dengan senyuman mengejek seperti biasa dan Diego kemudian menghilang dari pandangannya.
Sekarang Bryan berada di negara Heiress, begitupun sahabat sekaligus rekan bisnisnya, Sirius. Beberapa hari lalu ia menghubungi Sirius beberapa kali namun tak diangkat.
Pikiran Bryan melanglang buana, Bryan berani bertaruh jika Sirius pasti akan menyetujui rencana pertunangannya. Banyak keuntungan yang akan didapatkannya, tapi itu jika pemikirannya sama seperti Diego. Tapi jika Sirius membiarkan hatinya sendiri yang memilih dan mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarganya, keinginannya untuk hidup tenang tanpa embel-embel seorang pangeran akan terwujud.
***
“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Aquila.
Sirius tersenyum menanggapinya, “seharusnya aku yang meminta maaf, sudah membuatmu menjemputku.”
“Kau tamu penting papaku, kan?” katanya berusaha menyakinkan Sirius bahwa benar bukan suatu hal yang serius bila Aquila menjemputnya. “Biar kupasangkan dasimu.” Aquila mendekati Sirius dan langsung memegang dasi untuk membuat simpulnya.
Sirius sempat menolak bahwa ia bisa melakukannya sendiri, tapi karena tangan Aquila lebih cepat sebelum Sirius benar-benar menyelesaikan ucapan penolakannya yang berkali-kali, Aquila sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Sudah selesai.” Senyumnya.
Sirius tak bisa berbuat apa-apa, memang benar dasinya sudah terpasang dengan rapi sekarang, “te-terima kasih. Aku jadi tidak enak.”
“Jangan canggung. Kita santai saja.”
Sirius mengangguk menyetujui dan melangkah memakai jasnya. Sudah siap untuk meninggalkan hotelnya. Jamuan ini sepertinya akan menjadi boomerang untuknya, karena Sirius sama sekali tak tertarik untuk tampil di kalangan kerajaan.
Jika sampai paparazzi tahu mengenai hal ini.
“Hmm… apakah harus datang berdua? Mak-maksudku aku tak ingin wartawan melihatku,” Sirius mencoba memberi pengertian pada Aquila. Air wajah Aquila berubah dan ini membuat Sirius merasa bersalah.
Buru-buru Sirius untuk mengklarifikasinya, “wait,, maksudku, bisakah kita menghindari gossip. Aku sedang tak ingin berbuat skandal.”
Aquila mengangguk dengan senyum yang dipaksakan dan ini membuat Sirius benar-benar sangat canggung. Disatu sisi Sirius tak bisa memasuki istana tanpa Aquila padahal ia ingin mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan Polaris.
Namun di sisi lain, Sirius tahu jika Aquila mulai menaruh rasa padanya dan Sirius tak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Aquila.
Hanya saja sebagai laki-laki yang baik dan ramah, Sirius tak bisa jika tidak bersikap baik.
Aquila hanya diam didalam mobil sepanjang perjalanan. Tidak ada pembicaraan yang berusaha ia lakukan setiap kali dengan Sirius seperti biasanya.
Sirius adalah tipe laki-laki dengan gengsi yang tinggi, tapi merasakan suasana didalam mobil yang semula tidak pernah secanggung ini membuatnya diliputi rasa bersalah.
Apakah Aquila tak bisa berakting seperti kebanyakan wanita berkelas yang pura-pura baik-baik saja. Atau bekerja keras menjadi pribadi yang menyenangkan walau ditimpa keadaan yang sulit. Eluh Sirius dalam hatinya.
Sirius semakin yakin jika keputusannya kali ini benar-benar akan tepat, namun satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya dari rencana pertungannya entah sedang menghilang kemana saat ini.
Posisi Polaris lebih tinggi daripada Aquila, kedua orang tuanya kemungkinan besar tak akan keberatan jika pilihannya jatuh pada Polaris. Entah keberuntungan macam apa yang dia miliki saat ini.
Sirius sesekali melirik pada Aquila yang sibuk dengan lamunannya sendiri sambil menatap pemandangan jalanan melalui jendela mobil. Gerimis mulai turun kembali, hal pertama yang dipikirkan Sirius adalah mencari tahu laki-laki yang sering bersama Polaris.
Yang paling mungkin dan tercepat untuk mengetahui ini adalah dengan bertanya langsung dengan putra mahkota walaupun membongkar identitasnya adalah yang dipertaruhkannya saat ini.