After Rain

After Rain
Episode 15 : Cerita Kediaman Timur



Kediaman Timur yang sekarang digunakan oleh Calon Putri Mahkota, dulunya diperuntukkan memang untuk Putri Mahkota. Dahulu bernama Istana Timur karena letaknya berda di timur istana utama tempat Yang Mulia Raja memerintah dan juga berada di timur kediaman utama keluarga kerajaan.


Negara Magellan dahulu kala sebelum adanya pembaharuan diberbagai model pemerintahan memiliki kediaman yang dinamakan dengan "istana" namun untuk jaman sekarang untuk menyederhanakan dan dimaksudkan untuk tak menyaingi keagungan istana utama tempat istana kerajaan utama Yang Mulia Raja memerintah, istana-istana itu kini diubah nama menjadi “kediaman”, tentu dengan memberi nama masing-masing kediaman.


Dahulu kala, pemilihan Putri Mahkota dipilih saat usia Putra Mahkota menginjak lima tahun. Sekalipun calon Putri Mahkota kala itu belum lahir ke dunia, kekuatan dari calon keluarga Putri Mahkotalah yang memegang titah Raja. Dan jika keluarga bangsawan yang dipilih sampai usia Putra Mahkota menginjak sepuluh tahun pada akhirnya tak memiliki keturunan anak perempuan dengan usia lebih muda dari Putra Mahkota, pihak kerajaan berhak memilih anak perempuan dari kelurga bangsawan lain.


Kediaman Timur milik Putri Mahkota yang termahsyur melahirkan ratu-ratu yang cerdas, anggun dan rupawan. Ketika calon Putri Mahkota berumur sepuluh tahun, ia sudah harus tinggal di Kediaman Timur, belajar etiket kerajaan dan pelajaran lain dengan guru-guru khusus bersama-sama dengan Putra Mahkota.


Lain halnya Putra Mahkota yang tetap tinggal dengan keluarganya, dan akan menghuni kediaman timur dengan Putri Mahkota setelah mereka resmi menikah. Putra mahkota tak diberi hak memiliki istri selain Putri Mahkota sebelum Putra Mahkota resmi naik takhta menjadi Raja, dengan kata lain memiliki selir selama masih berstatus sebagai Putra Mahkota adalah terlarang. Konsekuensinya adalah diturunkan statusnya dari Putra Mahkota menjadi Pangeran biasa dan harus tinggal diluar kediaman keluarga kerajaan.


Hukum ini adalah mutlak harus dipatuhi oleh keluarga kerajaan bahkan pangeran yang berstatus sebagai pangeran biasapun tak diperbolehkan memiliki selir atau wanita lain selain istri sahnya. Melalui peraturan dan hukum ini negara Magellan ingin memperlihatkan jika negara dan keluarga Raja negeri ini sangat memperhatikan posisi wanita sebagai seseorang yang bermartabat.


Polaris memandang pemandangan luar melalui jendela mobil yang terpacu tak terlalu kencang, dia ingin sekali merebahkan dirinya dikasur lembut dikamarnya. Badannya lelah, pikirannya juga lelah. Laki-laki itu selalu memenuhi pemberitaan akhir-akhir ini.


Setelah terlibat skandal dengan dirinya kini laki-laki ini dirumorkan memiliki hubungan khusus dengan sepupunya. Sepertinya ia mulai tertarik memanggil namanya saja daripada terus-terusan menyebut “laki-laki itu”. “Sirius..” diberita nama itulah yang dilekatkan pada laki-laki itu. Informasinya lebih banyak perihal pendidikannya, bisnisnya, pergaulannya dan kedekatan-kedekatannya dengan wanita-wanita muda dari kalangan yang cukup dikenal publik luas.


Sesekali dia melihat pencarian internet di handphone-nya dan sesekali melihat keluar melalui kaca mobil yang basah oleh air gerimis yang lama kelamaan semakin rekat turun ke bumi.


“Tuan Putri…”


“Polaris…”


“Polaris…” sambil mengguncang telapak tangan Polaris yang memegang handphone-nya erat, mamanya berusaha menyadarkannya dari lamunan.


Polaris tersentak, pikirannya yang dipenuhi dengan Sirius dengan kepatan cahaya, sirna.


“Mama memanggilmu sejak tadi,” katanya khawatir sambil mengelus rambut hitam Polaris. Pipi Polaris terlihat merona karena dingin dan efek kelelahan, “.. aku harap kita bisa kembali dan beristirahat jika kau lelah. Tapi kita tak mungkin melanggar tradisi keluarga kerajaan.” Lanjut mamanya. Sebagai anak perempuan satu-satunya dan hidup jauh dari keluarga, ia bisa mengerti kalau mamanya begitu khawatir.


Polaris memejamkan mata sejenak, mengatur nafasnya dan pikirannya, “tidak mama, aku baik-baik saja. Aku memang lelah tapi ini tak masalah, jadi berhenti khawatir seperti itu. Oke.” Polaris meyakinkan mamanya.


Ratu Rose yang tadi sempat melirik sekilas handphone milik Polaris merasa tak bisa lagi menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya. Mungkin ini sudah saatnya membicarakan sesuatu yang lebih serius dengan anak perempuan satu-satunya, tentang laki-laki misalnya.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan pada mama, sayang…? Tanya Ratu Rose lembut.


Pandangan Polaris teralihkan, “Ah… tidak mama. Apa yang harus aku sampaikan.” Katanya.


Ratu Rose tersenyum, menggenggam tangan Polaris, memberi isayarat kalau anak perempuannya bisa bercerita apa saja kepada mamanya, bahkan perihal laki-laki sekalipun. “Apa ada laki-laki yang sedang kau sukai?”


“Sirius Windsor.”


“Apa?” Polaris terkejut.


“Pangeran Regulus menemuinya secara peribadi dan menawarkan sebuah pertunangan. Dari informasi yang dapat dipercaya, Sirius Windsor memiliki hubungan dengan Selir Selena dari Heiress. Karena secara bersamaan juga ada Selir Selena ditempat pertemuan mereka.” Ratu Rose memberitahu ini karena ingin melihat reaksi putrinya, melihat reaksi terkejut dan ketidakpercayaan pada apa yang di ucapkannya, sepertinya kabar ini belum muncul dikalangan media.


“Mama.. kenapa mama menceritakan ini padaku?”


“Karena kami juga sedang mencarikan calon suami untukmu.”


“Jadi? Siapa?” Tanya Polaris penasaran. Awalnya ia ingin memiliki laki-lakinya sendiri namun mengingat hubungannya yang kandas dengan Saga beberapa bulan lalu keinginannya untuk mencari suami atas keinginan sendiri telah sirna.


Mungkin lebih baik begini, membiarkan keluarga kerajaan yang mencarikan calon suami untuknya dan mengatur pernikahannya. Setidaknya keluarganya tidak akan menyandingkannya dengan seorang laki-laki yang tidak baik, yang tidak pandai meninggalkan, misalnya.


Ratu Rose tertawa kecil, sepertinya rasa khawatir yang berlebihan tadi telah tergantikan oleh rasa bahagianya saat ini. Putrinya tak menolak untuk menyerahkan perihal pendamping hidupnya pada pihak keluarga kerajaan. Padahal dia sudah bersiap menghadapi penolakan dari putrinya ini.


“Pangeran kedua dari Heiress.”


“Mereka memiliki Putra Mahkota Geralld dan sudah memiliki calon Putri Mahkota. Apa tak masalah jika calon pasanganku tidak berasal dari Magellan?”


“Negara kita sudah memperbaharui hukum pernikahan kerajaan, tapi mungkin ada beberapa rakyat yang tidak menyetujuinya. Mereka lebih aman jika silsilah keluarga kerajaan berasal dari Magellan murni.” Ratu Rose menjelaskannya pada Polaris dan berharap anak perempuannya tak perlu merisaukan tentang pendapat publik.


Polaris bukanlah pewaris takhta tapi agar putrinya memiliki status sosial yang tinggi dikemudian hari, Raja dan Ratu sepakat untuk tak memasangkannya dengan seorang bangsawan jika masih ada pangeran yang lajang di negeri lain yang memiliki hubungan baik dengan Magellan.


“Ah… kediaman timur sudah terlihat, bersiaplah Tuan Putri. Kau harus bersikap baik nanti, ini kemunculan perdanamu.” Kata Ratu Rose.


“Mama… kita sedang tidak menghadiri acara debutante jaman dahulu. Hanya jamuan sederhana saling mengenal dengan antara beberapa wanita.” Jawab Polaris malas.


Ratu rose kembali tertawa kecil dengan menutupi bibirnya dengan tangan kirinya, “tentu saja.. aku mendandanimu dengan sangat memukau hari ini. Ingatlah… di jamuan ini setelah Ratu, statusmulah yang tertinggi.”


“Aquila jua hadir?” Tanya Polaris penasaran.


“Tentu saja, kita masih keluarga. Jika kau ingin melihat tunangan Sirius Windsor dari dekat,” kata mamanya menggodanya… “.. ah belum. Kukira masih calon tunangan,” tambahnya.