
Semua wartawan memadati halaman Gereja Katedral, banyak juga rakyat yang ingin menyaksikan kedatangan para keluarga kerajaan maupun perwakilan negara-negara yang bukan tidak mungkin dihadiri langsung pemimpin negara atau mengirim perwakilan anak mereka sendiri.
Hal yang unik adalah Raja dan Ratu beserta para pangeran dan putri dari negara Magellan akan melewati jalan belakang Gereja Katedral, mereka tak menampakkan diri mereka didepan rakyat sehingga hanya akan Putri Mahkota yang akan menjadi sorotan utama didepan kamera para wartawan dan rakyat.
Keluarga kerajaan senang, rakyat bergembira dengan Putri Mahkota Navier. Bukan tak mungkin rakyat dengan kecanggihan teknologi modern yang cepat dan luasnya kesempatan memperoleh informasi akurat sudah mencari tahu perihal latar belakang Navier sebelumnya.
Rakyat banyak yang mengucapkan selamat dan bersuka cita atas pernikahan ini, Putra Mahkota mereka yang tampan dan gagah pantas mendapatkan wanita yang cantik dan cerdas pula.
Mobil-mobil yang didominasi berwarna hitam dan mewah, ada juga dengan model klasik bergiliran berhenti menurunkan sang empunya, para rakyat sangat heboh melihat kalangan bangsawan yang biasanya hanya mampu mereka lihat lewat layar kaca kini bisa langsung mereka temui.
Tapi ini bukanlah red carpet suatu penghargaan musik ataupun film, wartawan tak memiliki hak untuk mewawancarai. Hanya mengabadikan momen dan juga hanya boleh satu perwakilan dari stasiun televisi nasional yang boleh meliput kedalam Gereja Katedral.
Yang dinantipun tiba, iringan mobil hitam dengan hiasan bunga mawar putih berada di barisan paling depan berhenti. Putri Mahkota Navier keluar dan melambaikan tangan juga tersenyum kepada semua orang.
Untuk kemudian berjalan menuju kedalam Gereja Katedral, tempat yang akan menjadi saksi sumpah pernikahannya dengan Putra Mahkota negeri ini.
Pada satu ruangan khusus diperuntukkan untuk Putri Mahkota di gereja ini, kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya menghampirinya dengan tatapan haru. Navier hampir meneteskan air mata, ia tak menyangka hari ini akan tiba.
“Oh.. sayang, putriku,” mamanya menghampirinya.
“Kau cantik sekali,” puji papanya.
“Lihatlah dirimu, calon ratu kita,” ucapnya dengan bangga, matanya tak henti-hentinya berbinar.
“Apakah aku secantik itu?” katanya dengan memelas.
“Tentu saja, lihatlah!!” Christ menuntunnya didepan kaca besar.
Pintu diketuk dua kali, “saya paman Shi, Putri Mahkota.” Ucap suara didepan pintu.
“Masuklah paman.”
Pintu klasik dengan dua daun pintu itupun terbuka terlihat paman Shi di depan dan beberapa dayang yang membawa sesuatu.
“Saya mengantar mahkota untuk anda kenakan, Putri Mahkota,” paman Shi sambil memberi isyarat para dayang.
Navier duduk dikursi kayu didepan kaca besar itu, mengamati mahkota berkilau yang tengah dipasangkan para dayang diatas kepalanya. Dia dapat melirik kedua orang tuanya yang sangat bahagia. Kakak laki-lakinya yang semakin bangga, ia khawatir Christ akan lebih arogan. Tapi tak masalah, Christ mampu mengatur sikapnya, jika hanya berkumpul dengan kalangan konglomerat tak akan ada masalah dengan Christ.
“Selesai.” Ucap salah satu dayang dan mereka mundur dengan sopan, membantu berdiri dan menyingkirkan kursi yang tadi kududuki agar aku lebih leluasa memandangi diriku. Tak lupa juga mereka memberikan vail yang tak ditutupkan untuk memberikan kesan gaunku terlihat panjang.
Gaun ini sangat sederhana namun elegan, Navier penasaran dengan penampilan Polaris hari ini. Karena baginya, Ratu Rose sudah sangat baik dalam memperlakukannya dan menerimanya dengan baik dalam keluarga kerajaan. Tapi Polaris sepertinya agak berbeda.
Papa yang mengerti kode paman Shi langsung menghampiriku, meraih tanganku dan menuntun tanganku di lengannya. Mama dan Christ keluar bersama para dayang dan pengawal muda itu.
“Apa kau gugup?” Tanya papa, aku tahu papa gugup. Saat menuntunku dia akan dipandang banyak pasang mata terhormat dan disiarkan secara langsung ditelevisi secara nasional.
“Seperti di film-film. Semua ayah menanyakan itu saat pernikahan putrinya,” jawabku. Kulihat ayah menghembuskan dan menahan nafasnya berulang kali, sepertinya untuk mengurangi kegugupannya.
“Bukankah papa sudah sering bertemu orang-orang penting?” tanyaku, aku tidak terlalu gugup hanya sedikit khawatir.
Kami mulai berjalan, ada empat pengawal muda mengenakan jas rapi berwarna hitam dengan alat komunikasi disalah satu telinga mereka. Sejak pertama menginjakkan kaki di istana, sungguh tak menyangka bagaimana keluarga kerajaan sangat selektif pada para pengawal dan dayang-dayang. Mereka memiliki tubuh ideal dan bagus dan tak lupa para pengawal semua terlihat rupawan.
Papa berhenti didepan pintu utama, seorang dayang memberikanku bucket bunga mawar putih yang dipadukan dengan bunga baby breath putih dan beberapa daun. Sangat cantik, kulihat dekorasinya menggunakan bunga sungguhan. Tentu saja, ini pernikahan bangsawan.
“Navier, jangan tersandung,” papa membuka suara.
Aku tertawa, “mereka mengajariku berjalan sebelumnya dengan gaun yang lebih panjang dari ini.”
“Baguslah.”
Para pengawal yang berdiri dimasing-masing sisi pintu besar itu memberi isyarat pada kami bahwa mereka akan membuka pintu ini.
Pintu terbuka, bisa kulihat para tamu mulai berdiri dan menoleh serentak ke belakang ke arah kami. Bisa kulihat riuh tepuk tangan yang elegan, tatapan penasaran mereka juga senyum yang terpasang diwajah-wajah mereka.
Yang Mulia Raja berdiri di mimbar paling atas, tepat Yesus berada di atasnya, satu tangga di bawah sebelah kanan terlihat Yang Mulia Ratu. Mereka memakai pakaian resminya yang luar biasa membuatku kagum, pandangan matakupun tak luput dari perempuan dengan wajah aristokrat berdiri di satu tangga dibawah Yang Mulia Raja sebelah kiri, Tuan Putri Polaris.
Di satu tangga lebih rendah dari Yang Mulia Ratu, disana berdiri calon suaminya yang gagah menggunakan pakaian resminya sebagai Putra Mahkota. Laki-laki yang tampan, entah kenapa dirinya belum mampu mengganti Sirius dengan El Nath, bahkan El Nath menerima pernikahan ini tanpa penolakan.
Kami mulai berjalan maju, tak lupa memasang senyum ramah terbaik. Memandang lurus kedepan, guru etiket istana mengajari untuk memandang Putra Mahkota saja saat berjalan menuju altar, agar terkesan pernikahan ini adalah takdir Semesta.
DEG!!
Sudah setengah perjalanan menuju altar, tapi jantungku serasa berhenti. Wanita yang kemarin baru ia temui dengan mata kepalanya sendiri kini tengah berdiri berdampingan dengan Sirius.
Sesaat ia tak mempercayai pandangannya, keluarga kerajaan mendapat tempat paling depan tapi kenapa Putri Aquila tersesat ditengah. Pikiran negatifpun menghampiri, apakah karena menemani Sirius yang tak bisa duduk didepan karena bukan anggota keluarga kerajaan?
Dadaku rasanya sesak, kerongkonganku rasanya seperti ditimpa batu besar, air mataku ingin menerobos keluar dan kuyakin mataku sudah agak merah saat ini. Aku tak bisa tiba-tiba menengadah untuk menghentikan keluarnya air mata. Harus bisa kutahan.
Pandangan mata kami bertemu, tanpa beban yang seperti kurasakn saat ini Sirius menganggukkan kepala seolah tengah berkata, teruslah berjalan.