After Rain

After Rain
Episode 5 : Pertemuan Tak Terduga



Dari mulai menginjakkan kaki menuju ke aula pesta di atas kapal pesiar yang tengah sandar di wilayah pelabuhan negara Endora, Pangeran El Nath dan pasangannya tak lepas dari tatapan orang-orang. Sebuah berita besar sebagai bahan gossip mengingat Putra Mahkota dari Magellan tengah menghadiri pesta ini dengan wanita lain padahal bebarapa hari lagi Putra Mahkota El Nath akan melangsungkan pernikahannya.


Polaris yang tengah menggandeng tangannya saat ini, tak ada yang menyadari jika mereka bersaudara. Tak ada yang menyadari jika gadis ini adalah Tuan Putri Polaris yang sosok dan keberadaannya sengaja dirahasiakan oleh keluarga Istana Magellan.


Putri Polaris hanya muncul setahun sekali untuk menghadiri upacara atau perayaan hari jadi negara Magellan. “Aku akan berbaur dengan para tamu yang lain, kau pergilah berkeliling dengan Allen,” kata Nath dengan suara yang pelan.


Polaris mendengarkan dengan sangat antusias, dia tak perlu ikut berbaur dengan orang-orang disini, tak perlu bersikap beramah-tamah dan tersenyum palsu atas obrolan yang saling menyindir diantara para konglomerat.


“Baiklah, aku akan ke atas melihat pemandangan,” ucapnya antusias.


Nath mengernyitkan keningnya, “makanlah sesuatu dulu, baru kau boleh berlarian,” sambil beralih memandang pemuda tinggi berambut coklat tua yang berparas seperti laki-laki yang masih berumur 18 tahun, “.. teruslah berada disamping Polaris, Allen. Jangan biarkan dia jauh darimu,” ucapnya.


Allen mengangguk, "baik Pangeran El Nath,” katanya seraya menjauh mengikuti Polaris berjalan dibelakang gadis itu.


“Allen, kau tampan. Kukira kakakku akan menyuruh paman Shi untuk mengawasiku,” katanya sambil tertawa kecil.


“Ah, itu…” belum sampai Allen menyelesaikan perkataannya, Polaris sudah menggenggam tangannya seperti layaknya pasangan. Allen tak menyangka jika Polaris tak memberi batasan antara pengawal dan tuan putri. “Itu.. apakah tidak apa-apa, tuan putri menggenggam tangan saya seperti ini?” tanya Allen dengan intonasi suara rendah.


Polaris masih berjalan sambil memegang lengan Allen, sambil terlihat memasang wajah aristokratnya jika ada wanita-wanita yang diam-diam atau terang-terangan melirik atau memandangnya.


“Tenanglah, tak akan ada yang berpikir macam-macam. Dan jangan panggil aku tuan putri, panggil saja Nona, hihi…” katanya sambil terkikik kecil, “Allen siapa tahu jika nanti aku bertemu dengan calon suamiku masa depan disini.”


“Allen, kita teman,” tambahnya, “jadi jangan sungkan, jangan terlihat seperti pengawal.”


Tanpa sadar mereka sudah berada ditaman, Polaris berlarian seakan hak tinggi yang tengah menempel dikakinya seperti sandal rumahan biasa. Dan Allen hanya bisa mengikuti Polaris kesana kemari berjaga-jaga jikalau ia terjatuh.


Kapal pesiar ini memang sangat mewah, memiliki delapan belas lantai dan tentu saja arsiteknya menambah kesan taman buatan yang indah di dalamnya. Tapi jangan salah mengira jika tumbuhan disini adalah palsu, semua asli.


“Oh.. Allen lihat, ada yang mau bunuh diri,” Polaris menunjuk pada kolam renang yang besar yang terletak dilantai atas.


“Tidak ada siapa-siapa disini,” jawab Allen. Terlihat seorang wanita tengah berdiri sendirian, tangannya memegang pagar pembatas yang ada di ujung kapal dan wajahnya tertunduk melihat air laut dibawah.


Polaris berjalan mendekat ke arah wanita itu, sebelum langkahnya dihentikan oleh Allen.


Ternyata Polaris tengah menunjuk seseorang di pagar pembatas, salahkan tangan Polaris yang konyol, pikir ALllen.


Allen menggeleng sambil menarik pergelangan tangan Polaris, “jangan dekati,” bisik Allen. Alhasil Polaris dan Allen melihatnya dari kejauhan. Lagipula jika wanita itu terjun ke air untuk bunuh diri, akan mudah diselamatkan karena kapal besar ini tengah sandar.


“Dia mungkin sedang menikmati angin malam disini, jadi nona lanjutkan saja apa yang nona ingin lakukan,” kata Allen.


“Kalau begitu fotokan aku,” kata Polaris sambil berseri-seri menyerahkan smartphonenya pada Allen.


Allen yang menerima smartphone Polaris sedikit mengernyitkan dahi, “cahaya disini tidak terlalu terang dan smartphone nona juga model lama, pake smartphoneku saja,” Allen mengeluarkan smartphonenya sambil tersenyum kemenangan.


“Hei..” pipi Polaris menggembung dan merampas smartphone Allen, mengamatinya, “bagaimana bisa? Milikmu lebih bagus daripada punyaku,” katanya sambil membawa smartphone dimasing-masing tangannya.


“Pakai ini…” Allen melepaskan jas hitamnya dan memakaikannya ditubuh Polaris, Polaris yang diam saja dengan tingkah Allen tak sengaja melihat ke arah wanita tadi. Jarak ia dan wanita tadi tak cukup jauh sehingga memungkinkan baginya untuk melihat laki-laki yang kini tengah bersama wanita itu.


Polaris tak ambil pusing apa yang sedang mereka bicarakan, setidaknya ia tahu jika wanita itu memang tak berniat untuk bunuh diri. Tapi yang menarik perhatiannya adalah laki-laki tampan yang bersama wanita itu. Tubuhnya yang tinggi dan sempurna mengingatkannya pada Saga, laki-laki yang meninggalkannya tanpa ada sepatah katapun.


Tapi kini ia tahu, Saga telah menjadi milik wanita lain. Raut wajahnya kian sendu, ia tak bisa menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba mengalir keluar.


Allen menyadari perubahan raut wajah Polaris, “laki-laki itu adalah pendiri dari perusahaan teknologi Orange,” kata Allen, “lebih baik kita kembali ketempat pesta,” tambah Allen berjalan menuntun Polaris sambil memegang pundaknya.


***


Paman Shi melihat laki-laki yang sangat dikenal berjalan menghampiri Pangeran El Nath, bergegas ia menuju kesisi Pangeran El Nath untuk berjaga-jaga.


Bukan suatu hal yang baik jika mereka bertemu, iapun tampak waspada menajamkan pendengarannya jika ada suatu hal yang mencurigakan yang akan mengancam Putra Mahkota negara Magellan.


El Nath tampak melirik sekilas Paman Shi dan mendapati Pangeran Regulus sudah berada disampingnya, menyapa tamu lain yang semula berbincang dengan El Nath.


Tampaknya Pangeran Regulus menginginkan pembicaraan pribadi hingga membuat tamu tersebut sungkan dan dengan sopan berkata akan menyapa seseorang lain di kapal.


Pangeran Regulus yang menyeringai menatap Pangeran El Nath, “lama tidak berjumpa denganmu keponakanku,” katanya diiringi senyum tipis, “sebentar lagi upacara pernikahanmu, bukankah agak berbahaya jika kau berkeliaran di luar,” katanya, matanya bergulir memandang ke arah Paman Shi, “aku dengar, keponakanmu juga ikut dalam rombongan Putra Mahkota, Tuan Shi? Kuraharap dia cukup terampil,” tambahnya.


Masih dengan ekspresi datar dan dingin, Pangeran El Nath tak berniat bertemu dengan pamannya selama ia berada di negara ini. Tapi sepertinya semua sudah direncanakan oleh pamannya. “Terimakasih paman telah menyapa, tapi permisi.. ada yang harus saya kerjakan. Kami…”


“..Nath..” panggil suara disamping Pangeran El Nath, belum sempat Pangeran El Nath meneruskan kalimatnya, berharap ia dapat menghindar dan tak mempertemukan adiknya dengan pamannya. Semua berpaling ke arah sumber suara, memandang gadis cantik bermata hazel cemerlang.


“Lama tidak berjumpa, keponakanku,” ucapnya dengan halus. Polaris yang mengerti bahwa pamannya tengah menyapanya kemudian ia merendah hormat.


“Mungkin aku akan sering mengunjungimu jika aku tahu kau selama ini berada di negara Heiress. Bukan sesuatu yang adil bagi rakyat saat Raja menyembunyikan Tuan Putri negara Magellan, bukan?” tanyanya, dengan nada seperti membuat pernyataan dan menyindir.


Polaris menatap Pangeran Regulus, “maaf paman, tapi keluarga istana mungkin mempunyai maksud tersendiri yang orang luar tak harus tahu,” ucapnya sambil tersenyum.


“Jadi? Pamanmu adalah orang luar, keponakanku?” Tanya Pangeran Regulus dengan nada menggantung yang memuakkan.


“Maaf, Pangeran Regulus, dengan segala hormat kami pamit undur diri. Masih ada hal lain yang harus kami kerjakan. Permisi,” ucap Paman Shi.


Rombongan Pangeran El Nath pun berjalan keluar, Pangeran Regulus masih memandang ke arah mereka dengan perasaan puas. Rencananya kembali akan berjalan lancar kali ini. “Kami sudah menyuruh orang untuk mengikuti Pangeran El Nath dan sudah mendapatkan foto Putri Polaris,” kata Andrew.


Pangeran Regulus tampak kaget, “aku tak memerintahkanmu seperti itu,” kata Pangeran Regulus.


Mereka berjalan keluar dari ruang pesta, “hanya menjawab penasaran Pangeran selama ini untuk rencana selanjutnya jika rencana Pangeran kali ini berjalan lancar. Bukankah Pangeran selalu bertanya-tanya dan penasaran tentang Putri Polaris,” jelas Andrew.


Pangeran Regulus menyunggingkan senyum kemenangannya, “kau memang bisa diandalkan, Andrew.”


“Nyonya Selena sudah menunggu di Kamar Suite, dia bilang waktunya tidak banyak,” kata Andrew.