After Rain

After Rain
Episode 11 : Sirius Windsor



Suara baling-baling helicopter berputar dilandasan atap tertinggi helipad Land Tower, beberapa orang menunggu di bawah. Helicopter mendarat dengan mudahnya dan seseorang dengan pakaian serba hitam berperawakan gagah turun dari helicopter, diikuti seorang lainnya.


Berjalan dengan tegap menampilkan aura seorang pilot yang memiliki sejarah jam terbang tinggi dan handal memang sangat berbeda. Beberapa orang mengecek seluruh tubuhnya selayaknya keamanan tingkat tinggi. Setelah lolos, seseorang menyalaminya dan tersenyum menyambut kedatangannya.


“Tak kusangka.. anda yang akan mengemudikan helicopter itu sendiri, Tuan Dean,” katanya.


Sambil berjalan menuju arah lift dan diikuti beberapa pengawal, “hanya menguji kemampuanku, haha… aku tak menyangka anda masih terlihat cukup tangguh Tuan Shi,” ucapnya.


Tuan Shi menekan tombol dan mempersilakan Tuan Dean untuk masuk, diikuti dirinya dan beberapa orang lain. Tuan Shi tak menyangka, Tuan Dean yang menjadi pilot helicopter kali ini, alih-alih mempercayakan transportasi udara Putra Mahkota El Nath kepada anak buahnya seperti sebelum-sebelumnya.


Pangeran El Nath berpindah-pindah hotel beberapa hari ini, bahkan menyewa kamar menggunakan nama orang lain pun tak membuat tenang pihak istana. Sungguh merepotkan, pihak intelijen negara Magellan juga berulah memperketat pengawalan Pangeran El Nath, alih-alih membawanya segera kembali ke Magellan malah mengulur waktu untuk berada di negara Heiress.


Raja Fomalhaut pun tak memberi perintah padanya dan tak memberi tahu apa yang sedang terjadi. Apakah keamanan Pangeran El Nath terancam atau ini hanya protocol biasa menjelang pernikahan kerajaan.


“Saya tak menyangka Tuan Dean sendiri yang akan menjadi pilot hari ini. Saya harap ini bukan sesuatu yang harus saya risaukan,” kata Pangeran El Nath.


Tuan Dean tertawa, sudah sepantasnya beberapa pihak saling mencurigai perihal Pangeran El Nath yang seperti tertawan di Heiress. Tuan Dean menyesap meminum tehnya dengan hati-hati.


“Saya tak begitu memperhatikan jika saya sendiri yang menjadi pilot hari ini akan membuat Pangeran tertarik untuk mencurigai maksud saya,” sambil tertawa setelahnya.


Matanya menyipit khas orang asia. Garis-garis keriput halus memperlihatkan dia sudah cukup berumur. Namun berkat usahanya, usia sebenarnya mampu tertutupi. Bukankah begitu guna dari sebuah kemajuan.


“Saya kira akan ada satu orang penting lagi yang akan terbang bersama malam ini?” Tanya Tuan Dean dengan nada lebih seperti pernyataan.


Pangeran El Nath menatap tajam Tuan Dean, “jadi ada sesuatu yang Anda ketahui atau ada yang ingin anda sampaikan, Tuan Dean.” Kata Pangeran El Nath.


Tuan Dean sepertinya banyak tertawa malam ini, seperti berusaha mencairkan suasana beku yang sengaja diciptakan Pangeran El Nath.


Sambil menata posisi duduknya, sekilas melirik Tuan Shi disamping Pangeran El Nath, Tuan Dean berkata, “yah.. desas-desus di Negara Magellan mengatakan, Tuan Putri Polaris akan hadir dalam pernikahan kerajaan. Rakyat merasa, Tuan Putri terlalu jahat pada rakyat jika terus menyembunyikan dirinya. Mengingat negara Magellan diperintah oleh keluarga kerajaan. Begitulah…”


Pangeran El Nath berdecak, punggungnya ia senderkan ke sofa dan tertawa. Dia pikir ada benarnya, pertanyaan ini sudah sangat lama ia ingin tanyakan dengan Raja dan Ratu. Tapi mereka selalu menghindari perihal ini.


Pangeran El Nath hanya tahu jika, Raja dan Ratu memiliki hak untuk mengatur anak-anaknya selain pewaris tahta.


Contohnya adalah dirinya yang disibukkan dengan bisnis keluarga sejak ia lulus dari sekolah menengah atas. Dan sesekali menghadiri acara amal atau mendampingi raja dan banyak lagi yang membuatnya lebih sering terekspose.


***


Navier memperhatikan wajahnya di cermin dengan durasi yang tak sebentar. Suara pintu yang dibuka dari luar dan langkah sepatu hak tinggi terketuk dilantai membuyarkan lamunannya kali ini.


“Ohhh… Navier, lihatlah dirimu.” Kata ibunya sambil memegang pundaknya dari arah belakang. Navier masih setia memandangi cermin di meja riasnya yang besar. “… dalam beberapa hari kau akan menjadi Putri Mahkota negara ini. Lihatlah, wajah putih dan cantik khas bangsawan ini dalam beberapa tahun akan menjadi Ratu negara ini.” Ucap ibunya, sambil membelai pipi putrinya.


Dirinya berbalik, menghadap ibunya tanpa memberikan tenaganya untuk berdiri. “Mama.. kapan Yang Mulia Putra Mahkota akan tiba di Magellan?” tanyanya.


“Seharusnya malam ini Putra Mahkota sudah dalam perjalanannya kembali,” kata ibunya. “… pengawalannya akan sangat ketat dan rahasia.”


“Aku melihatnya di kapal bersama Pangeran Regulus, kuharap bukan menjadi masalah besar.”


“Navier…” ucap ibunya sambil duduk di ujung tempat tidur mengadapnya, “… kuharap kau tak mencari Sirius disana,” selidik ibunya.


Navier menghembuskan nafas, “awalnya… hingga aku melihatnya berpelukan dengan Callista,” jawabnya tajam dan penuh amarah.


Ibunya tertawa kecil mendengarnya, “sudah kukatakan, tak akan ada perasaan biasa saja jika pria dan wanita bersahabat. Sampai kapan kau akan menyangkal hubungan Sirius dan Callista, hah?”


Navier menatap tajam ibunya, nafasnya memburu dipenuhi amarah. Namun ia dapat mengendalikannya. Dia adalah calon Putri Mahkota, bukan tempatnya ia harus menunjukkan emosinya.


“Jadi… karena Sirius kau menjadi berubah pikiran mengenai Putra Mahkota?” Tanya ibunya senang dengan menampilkan ekspresi seperti tengah terkejut.


“Callista adalah calon istri dari Putra Mahkota negara Heiress. Tak kalah makmur dengan Magellan. Ibu… ini akan sepadan jika aku bersama dengan Putra Mahkota El Nath.” Katanya dengan berapi-api.


Semuanya sempurna, Callista adalah calon Putri Mahkota Heiress dan dia adalah calon Putri Mahkota Magellan. Jika hanya menyesali Sirius saja ini tak akan menyembuhkan kekecewaannya.


Dengan hanya mencapai posisi inilah dia harap bisa membuat Sirius merasakan sakit hatinya karena merasa tak diperjuangkan. Bahwa selama ini dugaannya benar antara Sirius dan Callista ada sebuah hubungan melebihi sahabat sejak kecil.


Sirius selalu menyangkal bahkan saat seminggu sebelum hari ini dia secara tiba-tiba menyerah pada hubungan mereka. Memilih memberikan diriku menjadi Putri Mahkota alih-alih menjadi calon istrinya. Padahal keluarganya sudah merestui mereka dan membiarkan ia dan Sirius menentukan masa depan hubungan kami sendiri.


“Navier.. Navier…” panggil ibunya. Lamunannya pun buyar kembali.


“Navier… desas-desus mengatakan jika Putri Aquila akan bertunangan dengan Presdir Grup Orange.” Kata ibunya dengan nada khawatir.


Navier masih mencerna perkataan ibunya, “apa? Sirius? Putri Aquila? Mama… bagaimana bisa?” tanyanya kaget tak percaya.


Setelah Callista kemudian Aquila. Yang satu calon Putri Mahkota negara Heiress dan satunya lagi adalah putri dari Pangeran Regulus.


Apakah selama ini Sirius memang sebrengs*k itu. Mulutnya tak bisa berkata-kata, matanya memerah pertanda air matanya berontak untuk di keluarkan.


“Mama… kapan acara pertunangan mereka akan dilaksanakan?” Tanya Navier.


Ibunya melihatnya dengan khawatir, “belum.. pihak Pangeran Regulus masih membicarakannya dengan keluarga kerajaan Heiress. Lagipula, media sosial dihebohkan dengan kemunculan kekasih Presdir Grup Orange secara terang-terangan. Navier, tenanglah..” kata ibunya.


“Apa? Kekasih?” sungguh ia terkejut mendengarnya. Berapa banyak wanita yang disembunyikan Sirius selama ini dari dirinya. Satu tetes air matapun lolos dari matanya yang indah.