After Rain

After Rain
Episode 22 : Jangan Katakan Pada Siapapun



Merebahkan tubuhnya dikasur, matanya terpejam dan tangan kanannya ia timpakan di atas keningnya menutupi matanya. Berharap ia kali ini bisa tertidur agak lama dan nyenyak.


Menjadi seorang pebisnis sukses dibidang teknologi beberapa tahun ini membuatnya memangkas jam tidurnya tapi baiknya ia masih memberi waktu istirahat dan liburan mata dengan jalan-jalan di berbagai negara yang indah.


Royal Wedding telah usai dan kini setelah memeriksa e-mail* terkait laporan perusahaan ia berniat memiliki me time* dengan tidur selama sisa hari ini kemudian jalan-jalan besok disekitar pedesaan negara ini tapi pikirannya tiba-tiba terlintas akan wanita itu.


“Jadi dia seorang Tuan Putri,” gumamnya seraya masih memejamkan matanya dan tangannya masih setia menghalau cahaya lampu menembus matanya.


“Hahaha… bagaimana bisa diriku menganggap remeh wanita itu,” ia melakukan dialog dengan dirinya sendiri.


Ingatannya melayang disaat tak sengaja melihat Polaris dengan laki-laki yang sepertinya tak asing baginya hingga saat Polaris beranjak ia sengaja menahannya, “Jadi? Ada sesuatu yang harus kau jelaskan padaku, hem?” tanyaku seraya menahan tubuhnya bersender pada pilar besar Gereja Katedral.


Polaris memandang dengan tatapan tak seperti biasanya. Jika setiap pertemuan dihiasi dengan mood-nya yang terasa sebal terhadapku namun kini kulihat suasana hatinya tak begitu baik.


Kulirik kembali tempat Polaris berbincang dengan laki-laki tadi yang kini sudah terlihat bersama seorang wanita. Tempatnya tak terlalu jauh namun tak mungkin baginya menjangkau apa pembicaraan mereka.


Baiklah, tak perlu waktu lama bagi otaknya memproses siapa gerangan mereka itu, dia adalah Raja dan Ratu dari Endora. Jika hanya berbincang biasa tak perlu bagi Polaris terlihat terisak, pikirku mulai bercabang kemana-mana.


Kutatap tajam Polaris tanpa bermaksud mengintimidasi, “Ingin menangis?” tanyaku spontan. Polaris terrus berkelit berusaha melepaskan belengguku padanya.


Baru kusadari dia bukan wanita yang mudah menghindar jika dirinya terlihat lemah bahkan saat air matanya keluar setetes dari pelupuk mata kirinya, dia tak berusaha menghindari bertatapan denganku.


“Lepas.. Lepaskan aku. Enyah dari hadapanku,” ucapnya dengan memaksa mendorongku dengan tenaganya yang kurasa tak seberapa bagiku.


Saat kurasa tindakannya dapat merusak penampilannya terutama tatanan mahkota di atas kepalanya tak ada jalan lain lagi untuk membuatnya tenang selain apa yang terlintas dipikiranku.


Kami sudah sering berciuman, lebih tepatnya disetiap pertemuan dan ini pertemuan ketiga. Kami bukanlah sepasang kekasih tapi aku tak bisa menyalurkan rasa penasaranku pada hal lain.


“Hmmmpp… ummmpphhh… lepaskan. Lepaskan aku, biarkan aku pergi,” katanya disela ciuman kami. Aku menekannya lebih dalam dan dengan tenagaku yang seorang pria mampu membuatnya terdiam hingga akhirnya membuatnya menikmati ciuman panjang ini. Mungkin Polaris sadar jika tak begini, kecil baginya untuk kulepaskan dengan cepat.


Aku merapikan anak rambutnya yang berantakan dan salut pada stylish-nya yang hebat menata rambut hingga tetap terlihat rapi seperti ini. Kemudian memeluknya dan kurasakan dia sedikit terisak.


Tubuhnya tak terlalu tinggi namun juga tak terlalu pendek bahkan saat dia menggunakan hak tinggi seperti sekarang ini tak membuatku kepayahan memeluknya karena aku memang tinggi.


“Baiklah, bicaralah. Tapi ada banyak hal yang ingin kuketahui, ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk bercerita atau bertanya,” aku membuka suara dan melihat sekeliling tentu saja mencari kemungkinan CCTV. Baguslah ketemu satu namun entah keberuntungan atau apa kuhitung kita berada dititik buta jadi tak perlu baginya membayar mahal meminta rekaman CCTV hari ini ditempat ini.


Aku membantu menegakkan tubuhnya, menatap wajahnya yang sama sekali tak ingin terlihat tertunduk menyembunyikan air matanya. Aku tertawa, “biasanya wanita akan tertunduk malu saat laki-laki mengetahuinya sedang menangis.”


“Aku seorang Tuan Putri. Tak pernah menunduk.” Ucapnya dengan percaya diri.


“Baguslah. Nada bicaramu tak terisak,” kataku sambil menyetuh kedua pipinya dengan kedua tanganku. Menghapus sisa-sisa air matanya, “kau suka perlakuan seperti ini?” tanyaku.


Diluar dugaan dia mengangguk lemah dan menatapku tanpa rasa takut dan malu, “apa kau tak berdebar atau merasakan perasaan senang saat didekatku? Semua wanita selalu merasakan perasaan itu saat aku mendekatinya.”


“Tidak. Karena kau selalu menciumku, apanya yang membuatkan berdebar lagi. Aku akan pergi,” dia melenggang pergi namun aku mencegahnya sambil buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku jasku.


“Kenapa harus?” Polaris mengembalikan ponsel ditanganku. Sikap arogannya kembali, hebat sekali dia dapat mengendalikan emosinya begitu cepat. Wanita dari kalangan istana memang begitu menarik.


“Anggap saja sebagai ucapan terimakasihmu karena aku sudah meminjamkan bahuku untukmu. Cepat tulis nomormu.”


Sedetik aku melihatnya terkejut saat memandangku namun ketika kulihat arah pandangnya rupanya dia melihat Aquila yang seperti mencari sesuatu. Kutebak dia mencariku dan tangan Polaris yang kupegang tak hentinya menggeliat menuntut untuk dilepaskan. Pandangannya berulang kali beralih dari Aquila yang berada di kejauhan, aku dan tangannya.


Dia merebut ponsel yang kupegang dan mengetikkan nomornya dengan cepat kemudian berjalan menjauh dariku.


“Binggo.”


Aku berbalik menuju kearah Aquila, “Oh… kau kemana saja. Aku mencarimu," ucapnya dengan wajah berseri-seri.


“Hanya berjalan-jalan sebentar,” jawabku.


“Adakah sesuatu yang penting hingga kau bersusah payah mencariku?”


“Mereka…” ucapnya menggantung, “… oh tidak, maksudku Raja dan Ratu dari Heiress ingin bertemu denganmu.”


Aku menghembuskan nafas kasar, memejamkan mata dan memijat dahiku, “mereka berdua…” gumamku.


“Maaf…” ucap Aquila.


“Oh tidak. Mari antar aku menemui mereka dan kenapa wajahmu terlihat sedikit memerah. Apa kau sedang tidak enak badan?” tanyaku sambil berjalan beriringan dengan Aquila.


“Sirius, kenapa bibirmu merah?” kata Aquila. Aku belum menyadari tentang apa yang diucapkannya hingga aku tiba-tiba menghentikan langkahku dan sangat terkejut.


Bibirku. Kataku dalam hati kemudian menggunakan tanganku mengusap-usapnya secara spontan. Sialan Polaris, aku tak akan melepaskanmu.


“Oh sudahlah, aku antar kau ke toilet,” kata Aquila, ia kemudian berjalan duluan beberapa langkah didepanku. Entah apa yang dipikirkannya tapi pikiranku melayang pada Polaris. Raut mukaku jelas terlihat sedang tak bersahabat saat ini.


Dering handphone membuyarkanku dari diriku yang merebahkan diri dikasur ini, membuatku harus bangkit dan mencari-cari handphone disaku jas yang dipakai saat menghadiri Royal Wedding.


Sialnya panggilannya berhenti saat tepat ia memegang handphone-nya. “Bryan..” gumamnya. Jika itu penting Bryan akan menghubunginya kembali. Kemudian pikiran nakalnya muncul, sebuah ide untuk menghubungi seseorang.


Ia sempat melihat nama yang wanita itu simpan disini, “Ketemu… apa-apaan menyimpan namanya sendiri dengan tulisan Princess.” Tak usah berpikir panjang langsung tekan call.


Tuuutt… Tuuuttt…


Tidak diangkat, ia coba lagi menghubunginya untuk kedua kalinya tetap tak diangkat. Muncul pikiran ia berencana menelepon Aquila untuk menanyakan apakah ia sedang bersama Polaris atau tidak.Tapi langsung ia enyahkan pikiran konyolnya itu.


“Arrgghhh… coba lagi,” ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya.