After Rain

After Rain
Episode 2 : Kekhawatiran Raja



Langit yang tadi tampak biru cerah kini semakin memudar tergantikan semburat orange pertanda kegelapan akan segera tiba. Kegelapan dengan kemenangan yang berpihak pada Magellan.


Pesawat tempur sudah berjejer di pangkalan dan para tentara bersorak atas kemenangan ini. Perang yang singkat jika bukan karena strategi adiknya, Pangeran Regulus. Selalu seperti ini, adiknya sangat lihai dalam menentukan strategi dalam merebut kemenangan dalam perang. Tidak hanya itu, dia juga sangat lihai dalam mengambil dukungan dari kedua fraksi di Istana. Bukan tidak mungkin jika posisinya dan penerusnya akan benar-benar terancam.


Dengan gaya kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya dan berdiri dengan badan tegap, seusai memberikan semangat kepada para tentara yang berjuang, Raja Fomalhaut menatap langit kemudian memejamkan matanya dan merasakan angin semilir yang berhembus di gurun Alua.


Sejenak merasakan kedamaian, sebelum pertempuran kekuasaan dan dukungan didalam istana dalam harus ia hadapi lagi.


“Phill, sampaikan kepada juru bicara istana untuk menyampaikan jumpa persnya,” kata Raja Fomalhaut kepada asisten pribadinya, Phillip.


Phillip tampak ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia sangat penasaran. “Kenapa Yang Mulia Fomalhaut sendiri yang tidak mengadakan jumpa pers? rakyat akan lebih gembira jika tahu rajanya juga turun tangan di medan pertempuran.” Akhirnya apa yang harus disampaikan, ia sampaikan juga pada Raja Fomalhaut.


Raja Fomalhaut berbalik menghadap Phillip, sedikit tersenyum tipis namun tetap dengan badan tegap seraya berujar, “akan sangat merepotkan jika mereka banyak bertanya…” sambil berjalan dengan Phillip mengikutinya, “.. ini akan menjadi kemenangan Magellan, bukan Regulus. Nama siapapun yang disebut asalkan jangan dia.”


“Baik.. saya mengerti Yang Mulia,” jawab Phillip dengan mantap.


Bukan rahasia lagi jika di istana dalam, bahwa kini hubungan Raja Fomalhaut dan Pangeran Regulus tengah bergejolak. Walaupun mereka berdua tak menampakkannya, tapi kami dan juga para fraksi barat dan fraksi selatan yang juga ikut andil dalam menopang pemerintahan sudah menduga bahwa masing-masing Raja Fomalhaut dan Pangeran Regulus tengah membawa pedang dimasing-masing tangan mereka. Hanya menunggu waktu siapakah diantara mereka berdua yang menancapkan pedang paling dalam.


Semua orang tahu, baik rakyat maupun petinggi pemerintahan jika takhta raja hanya diberikan kepada putra pertama dari raja dan ratu. Raja Fomalhaut adalah putra pertama dari Raja Arcturus dan Ratu Elizza, hingga tak ada yang menentang saat Raja Fomalhaut naik takhta.


Tak ada skandal dalam pemerintahannya bahkan saat dia masih sebagai Putra Mahkota terdahulu. Namun belakangan ini rakyat maupun para bangsawan begitu mengelu-elukan Pangeran Regulus. Walau bagaimanapun caranya jika Raja Fomalhaut dan keturunannya masih ada dan berlanjut, mustahil bagi pangeran yang berstatus adik raja akan naik takhta.


***


Istana utama Negara Magellan, pusat pemerintahan yang berada di ibukota Magellan. Tempat tinggal utama keluarga kerajaan, hanya keluarga raja dan ratu beserta keturunannya. Sangat megah, dengan menara yang menjulang tinggi. Banyak jendela seakan begitu klasik, dikelilingi oleh taman bunga yang luas dan lahan luas untuk memelihara rusa.


Pintu gerbang istana yang begitu tinggi bercat emas kemudian terbuka tak lama kemudian mobil dengan plat nomor khusus memasuki istana, butuh 3 kilometer untuk berhenti tepat di area biasa pelayan akan menyambut sang Raja.


Seorang pria tegap tanpa ekspresi masih dengan baju dinas militernya berjalan tergesa-gesa sambil asisten pribadinya yang berusaha menyamakan langkah dengan pria didepannya. Sapaan para pelayanpun tak dihiraukannya kali ini.


“Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu sedang menunggu anda diruang baca saat ini. Jika anda ingin membersihkan diri dulu saya bisa meminta pelayan untuk memberitahu Ratu,” kata Phillip.


“Aku akan langsung menemui Ratu, kau pergilah beristirahat,” perintah Raja Fomalhaut pada Phillip.


Phillip mengangguk sopan, “baik Yang Mulia, bisa panggil saya jika memerlukan sesuatu. Saya undur diri.” Phillip setengah membungkuk dan Raja Fomalhaut berjalan menuju salah satu pintu besar terbuat dari kayu yang mengkilap bercat emas. Istana Magellan yang didominasi warna putih dan emas baik dari luar maupun dalam. Menambah kesan mewah dan elegan.


Seseorang tengah berdiri menatap pemandangan luar melalui jendela besar yang terpasang dibelakang meja kerjanya. Wanitanya, Ratu di negara ini, yang selalu saja protes perihal kaca yang diletakkan dibelakang kursi kerjanya.


Wanita itu berbalik, mendengar pintu dibuka dan menampilkan sosok gagah dan berwibawa dengan baju seragam dinas militernya. Umurnya sudah hampir 57 tahun di tahun ini, membuatnya khawatir tatkala laki-laki ini selalu memunculkan topik perihal takhta kerajaan yang tidak aman.


“Aku khawatir sekali..” kata-katanya sambil berjalan dan memeluk suaminya.”… setelah sekian lama, kau turun langsung ke medan peran,” katanya sendu.


Sambil melepas pelukan, Raja Fomalhaut menatap istrinya dan tersenyum, “aku akan lebih khawatir jika Putra Mahkota yang turun langsung ke medan perang,” katanya.


Ratu Rose menuntun suaminya menuju sofa, ruangan ini kedap suara dan hanya bisa dimasuki oleh keluarga Raja Fomalhaut, pengecualian untuk Phillip atau paman Shi, karena mereka sudah menjadi kepercayaan Raja.


Sambil menuang segelas wine dan memberikannya pada Raja Fomalhaut, Ratu Rose menunggu saat yang tepat untuk dia mengeluarkan suara.


Saat dirasa Raja Fomalhaut sudah selesai meneguk wine dan memejamkan mata sejenak, “aku sudah menemui nyonya Barnett, sudah mendiskusikan acara pernikahan Pangeran El Nath, bagaimanapun prosesi dan dekorasinya, bagiku yang terpenting adalah keselamatan pangeran. Aku tidak bisa tinggal diam jika keselamatan putraku dipertaruhkan seperti ini,” ucap Ratu Rose dengan nada gusar dan sedih.


“Aku sudah memikirkannya, sebagai Putra Mahkota, sangat tidak mungkin jika pernikahan kerajaan dirahasiakan. Lagipula musuh Putra Mahkota juga bukan berasal dari luar istana. Jadi, lebih baik kita biarkan sesuai tradisi kerajaan,” kata Raja Fomalhaut.


Ratu Rose berdiri dari duduknya, berjalan menuju kaca besar yang menurutnya sangat perlu untuk diganti dengan tembok beton demi keselamatan, menutup tirainya dan berjalan kembali untuk duduk disamping suaminya. “Lalu bagaimana dengan putri kita? Haruskah aku mencarikan tunangan secepatnya? Dia sudah berusia 21 tahun di tahun ini,” tanya Ratu Ros masih dengan perasaan khawatir.


Seharusnya pernikahan putranya dan kenyataan putrinya yang semakin dewasa membuatnya senang seperti para ibu-ibu lainnya. Tapi kenyataan bahwa keluarganya adalah seorang pemimpin negara ini dan menjalani kehidupan istana yang penuh aturan dan pertentangan membuatnya harus membuang jauh angan-angannya untuk memberi kehidupan yang normal dan damai pada anak-anaknya.


Raja Fomalhaut menatap langit-langit, perkataan istrinya membuatnya berpikir kembali. Tuan putri negara ini sudah dewasa, walau tidak tinggal di istana tetapi dia tak kehilangan haknya sebagai putri raja.


Kini ia memandang istrinya serius, “akan lebih baik kalau dia bertunangan dengan seorang pangeran,” kata Raja Fomalhaut, lebih seperti permintaan.


“Awalnya aku ingin menjodohkannya dengan Raja Saga dari Endora, tapi melihat situasi tegang diantara dua negara walau sudah menandatangani perjanjian damai atas perbatasan Alua, Raja Grans terlanjur menikahkan putranya dengan wanita lain.” Ekspresi Ratu Rose tampak terkejut, ia tak menyangka suaminya berpikir akan melakukan pernikahan politik, demi apapun dia butuh penjelasan.


Raja Fomalhaut mengerti ekspresi istrinya dan melanjutkan kata-katanya, “maksudku, menikah dengan seorang calon raja akan dapat melindungi Polaris, setidaknya dia akan menjadi Ratu, bukan? Walaupun aku masih berharap Polaris dapat menikah dengan seseorang yang dia sukai, tapi selama dia masih menjadi anak raja, tradisi adalah yang utama.”


Ratu Rose sendu, memang benar apa yang dikatakan suaminya. Sebagai keluarga kerajaan, pernikahan akan diatur sedemikian rupa oleh orang tua tanpa memikirkan perasaan anak mereka. Ini semua demi kebaikan mereka ke depan dan tentu saja demi menjaga status dan citra keluarga.


Bahkan tak sedikit keluarga bangsawan terhormat dan konglomerat negeri ini menerapka aturan yang sama. Tapi apa bisa dia menemukan seorang pangeran yang masih lajang, bukankah pernikahan para pangeran sudah di atur sejak mereka masih kecil.


“Aku akan mendiskusikan ini dengan keluarga White, bagaimanapun keluarga White juga harus ikut andil dalam hal ini. Mereka yang mengasuh Polaris sejak kecil, aku tak menampik jika mereka mungkin lebih memahami putri kita dibandingkan kita sebagai orang tua kandungnya,” kata Ratu Rose.


Memang aneh jika tuan putri negara Magellan tak tinggal di istana sejak ia masih kecil, tapi siapa yang tau jika membuatnya untuk tak hidup dilingkungan istana adalah keputusan dari kedua orang tuanya, Raja dan Ratu Magellan.


Bersama keluarga White, tuan putri tumbuh sebagai gadis biasa, menjadi anak angkat keluarga pebisnis kaya yang memiliki saham di berbagai perusahaan besar dunia. Tentu saja pemimpin negara Magellan tak main-main dalam menitipkan anak mereka, walau tidak tumbuh dilingkungan istana seperti tuan putri seharusnya tapi kedua orang tuanya tak sembarangan memilih orang tua angkat baginya.