
Jamuan Royal Wedding kakaknya masih berlanjut, hingga nanti malam pasti tamu-tamu akan mulai berdatangan. Beruntung yang mendengar percakapanya dengan Sirius lewat telepon adalah kakaknya. Dengan begitu ia tak harus berusaha sendiri untuk bisa mendapat ijin keluar istana disaat keluarga kerajaan sedang bersuka cita.
Ada sedikit waktu hingga sebelum jam lima, bisa ia gunakan untuk mengisi perutnya. Suara ketukan diluar terdengar, sementara ia sedang memilih beberapa baju, “masuklah,” teriaknya.
Seorang dayang dengan troli dorong ditangannya melenggang masuk, “biarkan saja disana,” ucap Polaris.
Dayang itupun pergi, “tunggu.. bisa siagakan satu sopir untukku jam lima kurang?”
“Anda akan pergi?” Tanya dayang itu tampak terkejut.
“Iya, satu mobil saja. Tak perlu pengawalan,” ucap Polaris.
“Tapi jika ingin keluar tanpa pengawalan, Tuan Putri harus meminta ijin pada Raja atau Ratu. Atau setidaknya kepada Putra Mahkota, menuruti kemauan Tuan Putri tentang pengawalan bukan tugas kami." Polaris tampak berpikir sejenak.
“Baiklah. Dengan pengawalan tapi di mobil yang berbeda dan jangan terlalu mencolok,” suruh Polaris.
“Baik Tuan Putri.” Dayang itupun membungkuk dan meninggalkan kamarnya.
Dari sekian banyak pakaian yang dikeluarkannya akhirnya ia menemukan pakaian yang cocok. “Hanya bertemu Sirius, tidak perlu terlihat terlalu mempesona,” gumamnya sendiri.
Celana jeans panjang warna hitam dan blouse warna peach hanya tinggal menambahkan jaket dan juga sepatu boat hak tinggi. Jangan terlalu mencolok karena orang-orang sudah mengenali dirinya.
Sambil menyantap hidangannya, ia menekan nomor yang tadi menghubunginya. Tak perlu waktu lama untuk menunggu, sepertinya orang menyebalkan diseberang sana sedang menunggu panggilan dari dirinya. Dan Polaris pun cuma berkata akan datang kemudian menutup teleponnya.
Jalanan terlihat masih begitu ramai dengan orang-orang yang masih merayakan Royal Wedding, hari ini merupakan hari pertama ia keluar dari istana sejak kembalinya ia ke Magellan kemarin.
“Tuan Putri, apakah saya nanti perlu mengantar hingga kedepan kamar teman Tuan Putri?” Tanya sopirnya.
“Tidak perlu, turunkan saja didepan loby,” jawab Polaris sambil melihat pemandangan lewat jendela mobil yang transparan.
“Anda yakin?”
“Tentu.”
“Baiklah, sebentar lagi kita…” tiba-tiba sopirnya menekan rem dengan keras. Polaris terpelanting kedepan membuat kepalanya pusing dan perlu beberapa saat untuk sadar.
“Adduhhh… apa yang terjadi?” Tanya Polaris sambil memegang kepalanya yang masih terasa berkunang-kunang padahal sopir mengemudikan mobilnya tidak kencang.
“Maaf Tuan Putri, sepertinya kita tidak bisa sampai hotel tepat waktu. Pegangan!!” teriak sopir.
“Apa?”
Sebelum ia menguasai kebingungan atas situasi yang menimpanya, sopir sudah tancap gas. Mengendarai mobil dengan tidak beraturan dan luar biasa kencang menurut Polaris. Polaris memandang ke belakang kemudian samping kanan dan kiri, dia mengira itu pengawalnya. Tapi saat ia lihat lebih jelas, pengawalnya tengah berada dibelakang mobil-mobil ini.
Seketika perasaan takut mulai menyelimuti dirinya, ia yakin wajahnya sudah pucat sekarang, “apa yang terjadi? Apa kita dikejar?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Sepertinya begitu, Tuan Putri. Tapi tenang saja ada pengawal kerajaan yang mengikuti kita, mereka pasti sudah meminta bantuan. Saya hanya harus terus menghindar agar tak tertangkap,” jelas sopirnya.
“Si.. siapa namamu?” Tanya Polaris terbata-bata.
“Maaf?”
“Namamu, aku ingin tahu namamu. Aaakkhhh…” teriak Polaris. Mobilnya tiba-tiba saja berebelok membuat jantungnya hampir copot.
“Soviech.. apa kita akan tamat?”
“Saya akan berusaha yang terbaik Yang Mulia,” ucap Soviech.
Ini tidak bisa dianggap remeh, pikir Polaris. Jika memang dia akan tamat disini setidaknya seseorang harus menemukannya apapun keadaanya. “Sirius,” gumamnya, “.. iya. Sirius.”
Ia mengambil ponselnya, mencari nomor Sirius dengan ketakutan dan kepanikan luar biasa. Ah ketemu.
Tuuuutttt…. Tuuuuuttttt…
Sial. Tidak diangkat. Coba lagi beberapa kali hingga panggilan kelima akhirnya orang diseberang mengangkat panggilannya. Polaris tak tahu ia sekarang tengah berada dimana, Soviech hanya mengatakan mereka harus terus melaju agar tak tertangkap dan sembari menunggu bantuan datang.
“To.. toloong.. tolong aku,” tak perlu lagi menunggu Sirius untuk menyapa, tangisannya sudah pecah karena takut.
Cckkkkiiiitttt…. Braaakkkkk…..
***
Terlihat Aquila sedang merenung sendirian di balkon rumahnya, menimbang tentang rencana pertunangannya dengan Sirius. Walau bagaimanapun ia tak bisa menentang keinginan papanya bahkan mamanya selalu setuju akan keputusan papanya dalam memilihkan calon bagi anak-anaknya.
Kedua orangtua Sirius tak membahas tentang rencana pertunangan saat mereka bertemu di Gereja Katedral tadi. Tapi apa boleh buat seandainya Sirius mencintai wanita lain, yang terpenting baginya adalah sebuah status tapi jika dirinya cukup cerdas pasti bisa membuat Sirius bertekuk lutut, kata papanya.
Ucapan papanya memang sedikit menohok karena awalnya ia cukup percaya diri pada Sirius terutama saat Sirius memperlakukannya dengan baik saat pertama kali mereka bertemu tapi ia baru sadar kenapa papanya berkata seperti itu karena saingannya adalah Polaris.
Polaris sepupunya terlihat manis jika tak benar-benar mengenalnya namun jika sesuatu yang harusnya menjadi miliknya direbut orang lain, tak perduli keluarga sendiri dia akan bersikap seolah seperti binatang buas.
“Jangan menggigiti kukumu seperti itu. Apa yang sedang kau pikirkan?” sebuah suara yang datang tiba-tiba membuatnya terkejut.
“Tidak ada,” jawabnya singkat dan cepat guna menyembunyikan keterkejutannya.
Orang disampingnya tertawa, “kita sudah hidup bersama sejak kecil, jika kau mengkhawatirkan Sirius atau Polaris, aku bisa memberimu saran.” Ucap Arcturus, kakak laki-laki satu-satunya.
“Tuan Arcturus, maaf mengganggu,” sebuah suara menginterupsi mereka berdua kemudian Arcturus berbalik, “Ah.. Marco, ada yang ingin kau sampaikan padaku?”
Marco kemudian maju dan membisikkan sesuatu di telinga Arcturus, untuk sesaat Aquila melihat ekspresi Arcturus yang terkejut kemudian tersenyum.
“Apa yang terjadi?” Tanya Aquila penasaran sambil memandang kepergian Marco.
Arcturus masih tersenyum seakan dia tak bisa menahannya, “apa terjadi sesuatu?” Aquila bertanya lagi.
“Tidak. Bukan sesuatu yang penting, lebih baik kau pikirkan hubunganmu dengan Sirius. Besok Raja dan Ratu dari Heiress akan berkunjung kesini, jika tak bisa menaklukkan anaknya pastikan kau mengambil hati orang tuanya. Mengerti?” jelas Arcturus.
Aquila memandang Arcturus curiga, “apa kau sudah tahu Sirius dan Polaris memiliki hubungan?”
“Terserah apa hubungan atau keterkaitan mereka berdua yang jelas jika paman Fomalhaut mengetahui identitas Sirius yang sebenarnya bukan tidak mungkin Sirius akan jatuh kepelukan Polaris,” Arcturus terlihat masih berekspresi bahagia sangat kontras dengan Aquila yang diliputi kecemasan.
Arcturus melangkah pergi meninggalkan obrolannya dengan Aquila kemudian tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik, “jika kau tak ada kerjaan bisakah kau mencari tahu kenapa mereka berdua yang sudah mengetahui identitas masing-masing tapi tak juga memutuskan bersama?” mata Aquila membulat tak percaya, ia tak memikirkan sejauh itu.
“Jadilah agresif seperti Alhena atau buas seperti Polaris jika kau tak ingin tersingkirkan,” tambah Arcturus kemudian benar-benar melangkah pergi.