
Diujung kapal pesiar, lantai tertinggi, seorang wanita yang beberapa bulan ini memintaku untuk menikahinya tengah berdiri diujung kapal, menatap sendu ombak yang menerpa dinding kapal ini. Aku lelah jika wanita ini tak menyerah untuk mengejarku, “Castella..” panggilku lirih.
Dia berbalik dan langsung memelukku, “Sirius...” ucapnya lirih sambil memelukku dan sambil menangis. “Bawa aku pergi bersamamu, Sirius,” katanya.
Aku menghembuskan napas untuk kesekian kalinya, sepertinya memang ia tak mampu membuat wanita ini mengerti, atau lebih tepatnya wanita ini yang tak ingin menyerah. Ia tak habis pikir, apa bedanya Castella menikah dengan Geralld atau dengan dirinya. Toh mereka juga sama-sama pangeran negera Heiress. Hanya saja Geralldlah yang menyandang gelar sebagai Putra Mahkota sedangkan dirinya berstatus Pangeran Kedua.
Sirius melepaskan pelukan Castella, memegang kedua bahunya, mata yang saling menatap dengan sinar yang berbeda seolah Sirius ingin mempertegas perasaannya pada wanita dihadapannya. “Castella, berhentilah mengejar seseorang yang tak mungkin bisa kau kejar,” Sirius mengatakan dengan penuh penekanan.
Castella menunduk, keadaannya sangat payah hari ini, “Sirius, aku serius pada perasaanku padamu. Kumohon bawa aku pergi bersamamu dan menikahlah denganku. Hanya cara ini yang bisa membatalkan pernikahanku dengan Geralld.”
“Jangan bodoh Castella, pernikahan pangeran ditentukan oleh ibu dari masing-masing pangeran dan Selir Selena telah memilihmu mendampingi Geralld.” Sirius berusaha bersikap sedingin mungkin, memang benar ia tak memiliki perasaan apa-apa pada Castella, dia hanya teman masa kecilnya dan tak akan pernah menjadi lebih.
Castella terus bersikeras memaksakan kehendaknya pada Sirius, “Raja dan Ratu sangat baik padamu, kumohon Sirius, mereka tak akan keberatan jika kau meminta mereka untuk memberikanku padamu,” Castella terus mendesak.
“Castella mengertilah, aku hanya akan menikahi wanita yang aku cintai dan aku tak mencintaimu. Tak akan pernah.”
Sirius pergi meninggalkan Castella sendiri yang masih menangis. Harusnya dia tak datang ke kapal ini jika bukan karena Selir Selena memintanya secara pribadi.
Kini ia pun muak harus bertemu dengan Selir Selena, sudah beberapa kali Selir Selena mencoba untuk mencelakainya dan dengan muka tebalnya Selir Selena menganggap jika ia tak tahu siapa dalang setiap teror yang menimpa dirinya, Pangeran Kedua negara Heiress.
Pintu kamar suite pun dibuka oleh pengawal Selir Selena, menampakkan Selir Selena dan seorang laki-laki yang duduk di sofa single berlengan disebelah kanan Selir Selena.
Pangeran Sirius memberi hormat terlebih dahulu pada Selir Selena untuk kemudian dengan isyarat, Selir Selena mempersilakan Pangeran Sirius untuk duduk di sofa single sebelah kiri Selir Selena dan jadilah Pangeran Sirius duduk berhadapan dengan laki-laki itu.
“Pangeran Sirius, perkenalkan tamuku, Pangeran Regulus dari negara Magellan, adik dari Raja Fomalhaut,” kata Selir Selena dengan nada aristokratnya.
“Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda, Pangeran Regulus,” sapa Pangeran Sirius.
Pangeran Regulus tertawa kecil mendengar sapaan dari Pangeran Sirius, begitu dingin, batinnya. “Ternyata bukan rumor belaka jika pangeran kedua negara Heiress sangatlah tampan, begitu berkharisma. Bukankah begitu Selir Selena?” kata Pangeran Regulus. Seperti biasa pikir Pangeran Sirius, penuh dengan basa-basi.
Pangeran Sirius menampakkan senyum aristokratnya, jarang-jarang ia seperti ini. Menunjukkan posisinya dihadapan orang lain yang baru ia temui. “Terimakasih atas pujian anda Pangeran Regulus. Tapi waktu saya tidak banyak, jika tidak ada yang penting yang harus saya dengar, saya ingin permisi,” ucapnya memandang Pangeran Regulus, bergantian memandang Selir Selena, “.. masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan.” Penekanan dalam intonasinya sengaja ia ucapkan saat memandang Selir Selena.
“Oh.. Pangeran Sirius adalah seorang presiden direktur perusahaan Orange Group. Perusahaan teknologi komunikasi terbesar. Saya rasa memang bukan hal yang mudah bagi Pangeran Sirius menghadiri undangan saya hari ini,” ucap Selir Selena memandang Pangeran Regulus. Dan sepertinya Pangeran Regulus cukup paham situasi ini.
Pangeran Regulus tertawa kecil memandang Pangeran Sirius dengan tatapan tajam dan dingin, “Maafkan saya, karena saya anda harus mengorbankan waktu pribadi Anda,Pangeran. Tapi lebih baik kita langsung ke intinya saja.”
“Pernikahan seorang pangeran di negara Heiress ditentukan oleh ibu dari masing-masing pangeran. Dan jika ingin membicarakan perihal pertunangan, saya sarankan Pangeran Regulus untuk membicarakan ini dengan Ratu. Bukankah saya benar, Selir Selena?” jawab Pangeran Sirius sekaligus memberi pertanyaan merendahkan kepada Selir Selena.
“Hoho… jangan salah sangka, pangeran Sirius. Saya berniat membicarakan ini dengan Ratu, tapi saya lebih memilih untuk meminta pendapat anda terlebih dahulu,” kata Pangeran Regulus.
“Pendapat saya tetap, Pangeran. Saya hanya mematuhi peraturan keluarga kerajaan Heiress. Tetapi, jika putri anda adalah keluarga kerajaan Magellan, kenapa tak menawarkannya menjadi calon istri Putra Mahkota negara Heiress…” Pangeran Sirius memberi jeda sambil menatap begantian Pangeran Regulus dan Selir Selena yang ekspresi wajahnya tampak tegang. “… akan lebih menguntungkan jika putri anda menjadi Ratu masa depan negara Heiress daripada menjadi istriku yang hanya berstatus pangeran kedua.”
“Mohon maaf saya harus undur diri. Terimakasih atas undangannya. Permisi.” Pangeran Sirius memberi hormat dan langsung berjalan pergi. Namun kini ia puas, mempermalukan kedua orang menyebalkan itu sungguh menyenangkan. Permainan apa lagi yang ingin dimainkan oleh Selir Selena kali ini, batin Pangeran Sirius.
Pangeran Sirius cukup kaget melihat Bryan tengah menunggunya didepan pintu tempat pertemuannya. Tapi ia segera sadar jika ada gps yang terpasang di jam tangan yang ia pakai, pasti Bryan sedang kebingungan mencarinya tadi.
“Apa kau dilamar?” cerosos Bryan. Pertanyaannya cukup mebuat sebal dirinya, “Entahlah, mungkin dunia sudah gila,” jawabnya.
“Hei… jangan begitu, mungkin disana memang wanitalah yang melamar pria lebih dulu. Tapi apa kau menerimanya? Ah..tidak, kau kan kemana-mana selalu denganku.. haha” kata Bryan sambil tertawa.
Merekapun tertawa bersama, siapa yang menyangka jika Pangeran Sirius yang dingin ternyata hanya ditujukan pada orang dan situasi yang tak ia kehendaki.
“Aku hanya akan menikah dengan wanita yang kuinginkan, kau tahu, orang tuaku tak akan memaksaku menikahi orang yang tak kuhendaki,” ucapnya sambil melirik Bryan.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil, Sirius yang berada dalam kemudi dan Bryan disampingnya tampak malas menanggapi Sirius. Sambil memejamkan mata, “Wanita yang kau inginkan atau yang kau cintai yang akan kau nikahi, hem?” Tanya Bryan.
“Apa bedanya, cinta dapat tumbuh seiring waktu. Aku hanya akan menikah dengan wanita yang kuingin nikahi,” jawab Sirius.
Jalanan sedang lengang, sehingga ia dapat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi. Hari ini tanpa pengawal disisinya, atau tepatnya tanpa pengawal yang berada satu mobil dengannya. Walaupun para pengawalnya mengikutinya dimobil yang terpisah.
“Okay.. kita tunggu saat Raja dan Ratu memanggilmu untuk memilih salah satu wanita pilihannya,” kata Bryan, “kupikir tak masalah juga perihal kau menikah atau tidak, orang-orang mengenalmu sebagai Tuan Muda Sirius tanpa tahu kau seorang pangeran. Benarkan?” Bryan mulai antusias berpikir apakah karena tak ada tuntutan sebagai seorang pangeran yang membuat Sirius sangat santai.
Bryan melirik Sirius yang menyeringai, tak dapat ia tebak kenapa sahabatnya begitu tampak senang, sebagai seorang milyuner Sirius dapat membuat kejutan di depan public jika dia adalah pangeran kedua negara Heiress yang misterius itu. Tapi alih-alih menuntut haknya, ia hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan liburan keluar negeri sesekali. Sepertinya Sirius memang dilahirkan dengan kebebasan dan tanpa ambisi kekuasaan.
“Bryan, kenyataan Castella yang mengejar-ngejarku dan memohon padaku untuk membawanya pergi dari pernikahannya adalah salah satu bukti bahwa berada disisi Putra Mahkota tidak selalu membuat siapapun nyaman,” tiba-tiba Sirius bersuara, “menjadi Putra Mahkota yang lahir dari seorang selir, apa hebatnya?!” tambahnya.
“Ya.. ya.. kau menang, tapi bertunangan dengan putri dari seorang pangeran dari negara lain juga harus dipertimbangkan. Harusnya Putra Mahkota yang bertunangan dengannya, daripada dengan Castella yang hanya keluarga bangsawan. Sangat mencurigakan, bukan?” Tanya Bryan.
Sirius tak menanggapi, memilih focus membelah jalanan. Sudah ia pikirkan sejak pertemuannya dengan Pangeran Regulus, dan ia yakin Pangeran Regulus tidak akan dengan sengaja membuatnya mencurigai motifnya. Tapi daripada itu, selama ia tak mengehendaki pertunangan dengan siapapun yang diajukan oleh keluarga kerajaan, ia tak harus menikah dengan wanita yang tak ia kehendaki pula. Sesederhana itu.