After Rain

After Rain
Episode 19 : The Royal Wedding



Suasana hening dan pandangan semua tamu tertuju ke arah depan.


“Cinta tumbuh seperti bunga. Sebelum tumbuh, butuh banyak perhatian. Begitu juga dengan cinta. Kalian berdua harus saling jujur, saling memberi, saling menghargai, saling peduli untuk kelebihan dan kekurangan. Aku ingin kalian berdua mengingat ini dan saling mencintai untuk selamanya.” Yang Mulia Raja memberi beberapa patah kata nasehat dan pesan untuk Putra dan Putri Mahkota.


Tepat setelahnya kepala dayang istana yang selalu bersama dengan Yang Mulia Ratu menyerahkan jubah kepada Putra Mahkota untuk dipasangkan pada Putri Mahkota. Setelah itu salah satu pengawal laki-laki menyerahkan cincin yang indah melekat ditempatnya dihiasi oleh bunga-bunga, langsung diambil masing-masing oleh Putra dan Putri Mahkota.


Putra Mahkota tanpa ragu memasangkannya di jari manis Putri Mahkota Navier, begitupun sebaliknya. Ini saat pertama mereka berdua begitu dekat, bisa saling memandang satu sama lain sedekat saat ini. Putri Mahkota Navier merendah untuk memberi penghormatan kepada Putra Mahkota El Nath.


“Aku mengucap sumpah ini dihadapan Raja dan Ratu dan rakyat Magellan yang tercinta. Aku selalu akan jujur pada istriku. Mulai dari sekarang, sampai kematian memisahkan kami.” Ucap Putra Mahkota El Nath.


Navier memandang fokus kedepan pada Putra Mahkota El Nath, butuh beberapa waktu ia sadar untuk gantian dirinya yang harus mengucap sumpahnya, “Aku mengucap sumpah ini dihadapan Raja dan Ratu dan rakyat Magellan yang tercinta. Aku selalu akan jujur pada suamiku. Mulai dari sekarang, sampai kematian memisahkan kami.”


“Semoga kalian berdua hidup sebagai kebanggaan rakyat Magellan. Semoga Tuhan memberkati kalian dan keluarga kalian bahagia selamanya. Mulai dari sekarang kau bukan lagi Tunangan Kerajaan. Mulai dari sekarang kau adalah Permaisuri Kerajaan dari Putra Mahkota” kata Yang Mulia Raja.


***


“Bagaimana seorang putri melarikan diri dari pengawal mereka?” sebuah suara tiba-tiba hadir, suara yang sudah lama tak lagi dia dengar. “Polaris..”


Polaris memalingkan badannya, bukan suatu kebetulan mereka akan bertemu karena laki-laki ini telah menjadi raja saat ini dan juga sudah beristri, “Saga…”


“Seandainya aku tahu lebih awal, Polaris..” Saga berjalan perlahan mulai mendekat dengan wajah penuh penyesalan ia berusaha menjangkau Polaris. Jauh dari perkiraannya Polaris malah melangkah mundur satu langkah perlahan. “Maaf, ini bukan maksudku…”


“Tidak! Berhenti Saga!” teriak lemah Polaris sambil tangannya terulur memberi tanda berhenti. “


“Polaris, ijinkan aku menyapamu sebagai teman lamamu,” ucap Saga, terdengar nyeri untuk didengar, seakan tiga tahun bersama adalah suatu kenangan yang mudah ia lupakan.


“Kenapa?” Tanya Polaris, suaranya bergetar, persetan harus menyembunyikan perasaan, taman belakang Gereja Katedral adalah taman senyap yang indah dan tak sembarang orang boleh menikmatinya. “Kenapa semudah itu kau bilang melupakan!!" Polaris berteriak tepat didepan Saga.


Saga terdiam, apakah begitu dalamnya ia menyakiti wanita didepannya yang sangat ia cintai. Wajahnya tertunduk, ia juga tak bisa berpikir jernih saat itu, ini semua salahnya. Wajar bila Polaris amat membencinya saat ini.


“Kau kecewa padaku, aku juga kecewa pada diriku sendiri. Jika saat itu aku cukup berani untuk menemuimu dan membawamu ke hadapan ayahku. Jika saja aku tahu lebih dulu…” suaranya tercekat tertahan ditenggorokan. Rasanya seperti terlilit tali tak kasat mata.


“Setelah tiga tahun yang kita lalui kita baru sadar jika kita begitu egois,” terlihat Polaris mulai bisa mengatur emosinya. “Bagaimana kita tak saling jujur satu sama lain?”


“Tak ada akhir bahagia yang bisa diharapkan dari hubungan yang diawali dengan ketidakjujuran,” saga berusaha tersenyum, miris.


Saga berjalan mendekat, “jangan mencoba menjauh, Polaris” pinta Saga.


“Tidak ada yang bisa diharapkan dari suami orang! jaga ucapanmu pada Tuan Putri negeri ini Raja Saga yang terhormat,” kemarahan Polaris kembali tersulut.


Pandangan mata mereka sama-sama menyiratkan sebuah kerapuhan, walau mereka tahu tak ada jalan bagi mereka untuk bersama kembali. Saga begitu mengutuki dirinya sendiri, kenapa ia saat itu begitu lengah tak mengetahui jika kekasihnya, Polaris adalah seorang bangsawan.


Seandainya ia tahu lebih cepat, tak harus baginya menikahi wanita lain selain Polaris. Tapi sekarang semua sudah terlambat, tak mungkin baginya menjadikan Polaris sebagai seorang Selir atau bahkan simpanan.


Meninggalkannya tanpa memberi penjelasan saja sudah membuat hatinya remuk apalagi melihatnya dihakimi orang-orang kelak akibat ia tak bisa mengendalikan keegoisannya.


“Polaris aku masih mencintaimu dengan segenap hatiku aku masih mencintaimu,” ucap Saga.


“Apakah berharga perasaan cinta seorang Raja yang sudah dimiliki oleh wanita lain?” Polaris menanggapinya dengan kenyataan. Kenyataannya memang benar tak ada masa depan lagi bagi hubungan mereka. Mereka bukan rakyat biasa yang dengan mudah meninggalkan seseorang demi bersama dengan yang dicintai.


“Polaris, apakah kau akan melupakanku?” Saga berharap Polaris sama seperti dirinya yang tak sedetikpun melupakan perasaannya pada Polaris tapi sungguh egois baginya jika begitu. Polaris berhak bahagia dengan atau tanpa dirinya.


“Saya tak menyangka suami saya bersama anda disini Yang Mulia,” sebuah suara terdengar sengaja menginterupsi hadir diantara Saga dan Polaris.


Polaris langsung menegakkan badannya, kepalanya masih mengenakan mahkota dengan kata lain ia harus bersikap layaknya Tuan Putri yang berkuasa di tanah yang mereka injak saat ini, menjaga wibawa dan pesona kebangsawanannya. “Inikah wanita yang menggantikan posisiku?” ucap Polaris dalam hati.


“Kau..” Saga sangat geram, terlihat pada ekspresi wajahnya dan bagaimana ia menyikapi kedatangan wanita ini. Wanita ini tersenyum seperti sengaja ingin menunjukkan diri didepan Polaris.


“Salam pada Yang Mulia Tuan Putri Polaris,” ucapnya terdengar arogan, “sepertinya anda dan suami saya sedang terlibat percakapan yang menyenangkan,” Victoria tersenyum ramah namun mematikan.


“Hanya sekedar ramah tamah sebentar,” Polaris menanggapi sekenanya karena tak ingin terlibat percakapan lebih jauh. Dari lubuk hatinya mengatakan kalau ia harus menghindari berurusan dengan Saga dan wanita ini.


Terlihat Victoria mengalungkan tangannya di lengan kiri Saga, Polaris terlihat menampilkan ekspresi datarnya, “saya kira anda dan suami saya saling mengenal bukan? suami saya mengenal Putra Mahkota El Nath.”


“Saya tidak terlalu mengenal teman-teman kakak saya. Saya permisi, semoga anda berdua menikmati acara tadi,” Polaris berusaha bersikap seformal mungkin dan tak menunjukkan kemarahannya pada Saga yang terlihat mematung memperhatikan interaksi Polaris dan istrinya, Victoria.


Polaris melangkahkan kakinya dan gaun panjangnya yang indah terlihat sangat luar biasa dikenakannya, “ah.. Putra Mahkota mengundang kami pada jamuan perayaan pernikahannya besok sore, apakah anda akan hadir, Tuan Putri?” pertanyaan Victoria menghentikan langkahnya seperti sengaja sedang memancing pertemuan dengan Polaris kembali, “saya akan hadir,” jawab Polaris tanpa memalingkan tubuh dan wajahnya kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan dua sejoli itu.