
Ruang tengah yang ramai, semua wanita memakai gaun santai terbaiknya. Berusaha berpenampilan sederhana namun modis. Mereka tak diperkenankan memakai gaun-gaun mahal nan indah maupun memperlihatkan lekuk tubuhnya, namun dress sederhana, karena dengan ini dipercaya kemampuan berpenampilan seorang wanita akan di uji.
Wanita yang benar-benar beretika dan berpendidikan akan tetap mempesona dengan dress sederhana dan riasan yang alami. Tidak untuk bintang utama hari ini yaitu calon Putri Mahkota, Navier. Dia memakai dress putih bersih dengan border atau lukisan emas sebagai coraknya.
Corak-corak berwarna emas hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja untuk menghadiri jamuan yang di adakan oleh kerajaan.
“Selamat Putri Mahkota Navier. Dan selamat datang di keluarga kerajaan Magellan. Saya harap kita bisa berbagi cerita dan pemikiran-pemikiran untuk kedepannya.” Ucap perempuan yang tak lain adalah istri Pangeran Regulus, Lady Anita. Lady Anita memperkenalkan kedua putrinya, Putri Alhena dan Putri Aquila.
“Perkenalkan kedua putri saya, Putri Alhena…” yang disebutkan membungkuk sopan dan “… Putri Aquila.”
Navier membalas dengan anggukan dan senyuman, setidaknya itulah yang diajarkan oleh guru-guru etiketnya dalam menyambut anggota keluarga yang statusnya tak lebih tinggi darinya, namun sebagai bentuk kesopanan Putri Mahkota harus menganggukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan bagi anggota keluarga kerajaan lainnya.
“Saya banyak mendengar kedua putri Lady Anita adalah perempuan yang hebat, banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Itu sungguh luar biasa..” mama Putri Mahkota Navier menimpali kedua Putri ini dengan pujian.
Lady Anita tersenyum, “Ah… itu sudah tugas anggota keluarga kerajaan untuk ikut memperhatikan segala hal tentang kebutuhan rakyat. Lady Giselle, kita bisa minum teh sambil bercengkrama dengan beberapa wanita disana dan membiarkan putri kita saling mengenal. Bagaimana?” tawar Lady Anita.
“Tentu.” Ucapnya sambil tersenyum. “Kuharap kalian menikmati jamuan ini,” tambahnya sambil bergantian memandang ketiga putri. Dan mereka tersenyum lalu mengangguk.
Navier mencoba ramah dengan calon saudara-saudara dari calon suaminya, walaupun rasanya pikirannya masih terpaut pada laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya, Sirius. Tapi melihat berita terbaru, yang menyorot Putri Aquila yang tengah menjadi bintang diinternet hari ini. Hatinya kembali sesak, perempuan yang bersama Sirius ada didepan matanya.
Segala pikiran-pikiran yang berlebihan kembali bermunculan dipikirannya saat ini, apakah karena Putri Aquila, Sirius mengakhiri hubungan mereka?
“Putri Mahkota, apakah anda sedang tidak enak badan? Wajah anda terlihat pucat?” Tanya Putri Alhena terlihat seperti khawatir.
Navier tersadar dengan cepat dari pemikirannya sendiri dan berusaha menampilkan senyuman paling bersahabat, “tidak, saya tidak apa-apa. Mungkin riasannya yang berlebihan,” Navier berusaha mengalihkan.
“Ah… kulit anda sudah putih bersih, jadi tak perlu berlebihan. Penata rias anda melakukan kesalahan,” Putri Aquila memberikan komentarnya. Perempuan ini terlihat tegas dibalik wajah manisnya. Dia terlihat sebagai calon putri yang selalu awet muda. Bisa dibilang diantara para wanita yang hadir disini, Putri Aquila lah yang begitu menonjol, mungkin karena Pangeran Regulus sangat tampan dan menurun pada putri bungsunya ini.
Putri Mahkota tertawa menutupinya dengan tangannya, “tidak.. tidak… saya tidak menggunakan jasa rias wajah. Saya merias wajah saya sendiri begitu juga rambut saya.”
Putri Alhena dan Putri Aquila terkejut, “benarkah?” kata mereka bersamaan. “kami selalu menggunakan jasa rias dan juga bertanggung jawab untuk penampilan kami. Karena kakakku seorang model jadi kami tak ganti-ganti untuk orang yang bertanggung jawab untuk pekerjaan ini,” terang Putri Aquila sedikit panjang.
“iya begitulah..” jawab Navier dengan nada rendah sambil menyelipkan anak rambut dibelakang telinganya, terlihat manis.
“Kuharap besok saat penikahan anda tidak mencoba merias dirimu sendiri.” Putri Alhena menegaskan.
Dua orang perempuan melangkah memasuki ruang perjamuan, terlihat Lady Anita dan Lady Giselle menyambutnya. Kedua putri dari Lady Anita terlihat antusias, Navier memperhatikan jika salah satu wanita itu adalah Yang Mulia Ratu Rose. Navier berjalan menghampiri Yang Mulia Ratu bersama dengan kedua putri dan memberi hormat.
Yang Mulia Ratu mengangguk begitupun wanita disampingnya, Navier tak begitu mengenal seluruh keluarga anggota kerajaan. Hanya sebatas Yang Mulia Raja dan Ratu, calon suaminya Pangeran Mahkota El Nath dan juga Pangeran Regulus dan istrinya, Lady Anita.
Acara jamuan ini sepertinya dimaksudkan sebagai ajang saling mengenal anggota keluarga atau orang-orang yang memiliki kekerabatan dengan keluarga kerajaan.
Mungkin dengan acara ramah tamah ini, calon Putri Mahkota akan mendapatkan dukungan oleh para wanita sosialita dalam politik istana maupun kehidupan sosialnya. Navier tak mengira hidupnya akan dikelilingi oleh hal-hal yang besar seperti ini, orang-orang yang berpengaruh besar bagi kerajaan dan negara.
Yang Mulia Ratu berjalan menuju pusat perhatian ruang jamuan, diikuti oleh wanita yang datang bersamanya. Wanita ini begitu anggun dan cantik, entah mengapa sekilas mirip dengan Putra Mahkota El Nath.
“Terimakasih telah hadir pada jamuan calon Putri Mahkota. Para keluarga, saudara, kerabat dekat dan jauh kerajaan Magellan. Saya tak ingin berlama-lama, perkenalkan putri saya, Putri Polaris,” Yang Mulia Ratu Rose tersenyum bangga memperkenalkan putrinya.
Ruangan mendadak ramai dengan riuh tepuk tangan dan keterkejutan dalam hal “akhirnya kita bisa melihat putri.” Samar-samar kudengar Putri Alhena berbicara, “kurasa dia banyak berubah. Terkhir kita bertemu dengannya saat dia lulus sekolah pertama kan?” Putri Aquila menjawab, “ah iya… dia sudah dewasa. Lebih tua satu tahun dariku.” Katanya sambil tertawa.
Yang Mulia Ratu selesai memberikan sambutan beserta acara perkenalan putrinya. Kini ia berbaur dengan para tamu yang keseluruhan adalah wanita. Polaris mendatangi Navier dan Putri Alhena, terlihat Polaris dan Putri Aquila cukup dekat. Navier rasa karena jarak umur mereka yang cukup dekat, “lama tidak jumpa Alhena,” sapa Putri Polaris.
Navier cukup kaget mendengar Putri Polaris tidak saling memanggil dengan sebutan Tuan Putri pada Putri Alhena, tapi Navier pikir untuk mendengarkan mereka mengobrol.
“Iya.. iya… sudah berapa tahun aku tak ingat, tapi kita saling berhubungan di media sosial. Itu bagus.” Ucap Putri Alhena bersemangat.
Pandangan Putri Polaris beralih ke Navier, serentak Putri Alhena dan Putri Aquila mengikuti arah pandang Putri Polaris. “Calon Putri Mahkota Navier, saya tidak tahu banyak tentang anda. Kakak saya tidak pernah bercerita perihal anda kecuali saya yang memulai bertanya. Saya harap kita dapat bekerja sama sebagai keluarga dan juga saudara ipar,” Putri Polaris tersenyum manis, Navier terkesima dengan gaya bicara Putri Polaris. Kharismanya sama seperti ratu, bagaimana dia mengatur intonasi dalam gaya bicaranya seperti seorang aktris yang biasa memerankan sosok ratu atau keluarga kerajaan.
“Tentu saja Tuan Putri,” jawab Navier dengan menganggukan kepala sopan kemudian tersenyum ramah. “..saya dan Putra Mahkota jarang bertemu berdua secara pribadi. Tapi saya harap kami bisa menjadi pasangan yang ideal di masa yang akan datang.”
“Kami harap kalian bahagia, bukan begitu Polaris?” Putri Aquila menjawab.
Polaris hanya tersenyum, “kami bertiga saling memanggil nama karena sejak kecil kami selalu bermain bersama. Selain itu kami adalah keluarga langsung. Jadi saya harap ini dapat menjawab pertanyaan dalam hatimu.” Putri Polaris agaknya bisa membaca hati Navier. Navier tersenyum mengiyakan tanpa banyak bicara. Mereka bertiga bukan perempuan yang mudah akrab dengan calon anggota keluarga baru agaknya.
“Putri Mahkota, kuharap anda tak lupa memanggil nama kami dengan awalan “Tuan Putri” atau “Putri” agar dewan etiket istana tak membuat anda terlibat masalah,” tambah Putri Alhena.
“El Nath juga laki-laki yang menyenangkan namun kuharap anda mematuhi segala atauran sebagai Putri Mahkota. El Nath bukan tipe pemarah yang meledak-ledak tapi bersiaplah untuk didiamkan selama berhari-hari atau berbulan-bulan jika dia marah atau kecewa,” Navier tak menyangka keramah-tamahan kedua putri Lady Anita berubah ketika Putri Polaris bersama mereka.
Biar bagaimanapun, dia seperti diperingatkan secara tak langsung atau ketiga putri ini sedang menguji ketangguhannya hidup di lingkar istana.