After Rain

After Rain
Episode 27 : Rencana Mereka



Rintik hujan membasahi bumi, ini bukan yang deras, hanya titik-titik air yang sedikitnya mampu membuat orang-orang malas untuk pergi keluar dimalam sabtu ini. Begitupun Polaris, yang harus bergulat dengan pikirannya memikirkan rencana untuk meloloskan diri dari usaha penculikannya.


“Berhentilah membuat suara berisik!,” bentak suara pria disampingnya. Mobil melaju kencang dijalanan yang sepi. Polaris terus merengek kendati mulutnya dilakban dan kepalanya ditutupi oleh kain hitam. Tak ada yang bisa dilakukannya, tangannya diikat sangat kuat dan kedua kakinyapun bernasib sama.


“Apakah dia tidak diberi makan?” Tanya pria dengan suara bariton yang kemarin Polaris dengar.


Suara tawa menggema, menampilkan betapa sadisnya orang-orang yang meculik Polaris, “untuk apa? Tidak makan selama tiga atau lima hari tidak akan membuatnya mati, kan?” jawabnya enteng sekali.


“Dasar! Tapi setidaknya dia harus minum.” Suara lebih lembut terdengar dipendengaran Polaris. Polaris telah menyerah untuk mencoba melarikan diri. Usahanya menggeliat meraba-raba benda yang mungkin ia temukan diruangan tempat ia dikurung tak membuahkan hasil.


“Kalau begitu, buka penutupnya dan beri ia minum dengan cepat.” Perintah pria lain lagi dengan suara serak.


“Tapi…”


“Cepat lakukan!” pria dengan suara serak berteriak memerintah.


Salah satu dari mereka membuka penutup yang digunakan untuk menutupi kepala Polaris, dibuka hanya sebatas mulutnya. Begitupun lakban dilepas dengan kasar.


Polaris terengah, mencoba mengambil udara sebanyak mungkin, tapi percuma, udara didalam mobil juga sama pengapnya.


“Minum ini.”


Dapat Polaris rasakan, seseorang tengah membantunya minum lewat botol air yang disodorkan padanya. Benar dugaan mereka, Polaris sangat butuh minum daripada makanan. Tenggorokannya kering dan tubuhnya lemas.


Segera dengan cepat Polaris meminum air yang diberikan, Polaris sudah tidak peduli lagi akan dibawa kemana ia kali ini. Entah dijual atau disekap lagi ditempat lain. Tapi daripada dijual, Polaris lebih memilih untuk dihabisi saja. Setidaknya dia tak lagi merasakan pengapnya hidup.


“Sudah cukup!” botol minumpun dirampas paksa, tapi setidaknya ini bisa mengaliri tenggorokan kering Polaris.


Mulutnya kembali dilakban dan penutup kepala kembali ditutupkan. Polaris memilih lebih menurut kali ini. Berontak tak ada gunanya, tenaganya lebih baik digunakan saat ia bisa melihat atau mengucapkan kata “tolong” lebih leluasa.


“Sudah sampai.” Seru pria dengan suara baritone.


Suara pintu mobil terdengar sesaat setelah mobil berhenti. Polaris digendong ala Bridal Style, cukup lama kira-kira sepuluh menit hitungan kasar. Polaris diam tak memberontak, tak lagi mencoba.


Permukaan tak rata membuat pria yang menggendong Polaris seperti harus benar-benar berusaha keras menjaga keseimbangan. Itu artinya Polaris tak sedang coba untuk dibuang seperti layaknya sampah.


Suara mesin boat terdengar, ini diatas kapal?.


“Letakkan disini dulu,” seru pria yang menggendongnya. Suara bug keras menghantam lantai. Polaris memekik.


“Kau gila? Seperti membuang sampah saja,” suara santai pria yang lembut terdengar bersuara lagi.


“Biarkan saja, toh juga masih hidup.”


Terdengar gelak tawa banyak pria, sejak tadi Polaris hanya mendengar empat suara yang berbeda. Jika benar dugaannya ada sekitar empat pria yang sedang menyekapnya hari ini.


“Bawa dia ke ruangannya,” suara baritone terdengar lagi.


“Biar aku saja,” kata si suara serak. Mau kemana lagi? Tanya Polaris dalam hati.


Kembali tubuh Polaris diangkat, sekarang di bahu. Polaris kembali memekik. Pria yang menggendongnya menepuk pantatnya, Polaris memekik marah dan suara tawa menghiasi kapal ini.


Polaris dijatuhkan di atas permukaan yang empuk tidak seperti tempat sebelumnya yang keras dan lembab, begitu dingin. Kemudian penutup kepalanya di buka sampai sebatas hidungnya, Polaris kembali bisa menghirup udara sebanyak mungkin dengan leluasa.


Namun kali ini bau air asin menyeruak di penciumannya, benar, sekarang mereka ada dilaut.


Lakban yang menutup mulutnya kembali dilepas dengan kasar dan cepat. Tempat bekas dilakbanpun meninggalkan ruam merah, perih juga.


“Baiklah, kau bisa bicara sekarang. Tapi, percuma jika berteriak.” Suara pria yang lembut mengajak Polaris berbicara.


“Apa tujuan kalian?” untuk pertama kalinya Polaris mengeluarkan suaranya, agak serak karena tenggorokannya belum puas meminum air.


“Jangan jahat-jahat, disini kau yang korban. Kami bisa melakukan apapun yang bisa kami lakukan.” Jawabnya.


“Kenapa tidak membunuhku saja?” ucap Polaris lirih, merana dengan apa yang dialaminya saat ini.


Terdengar suara langkah sepatu lagi, menuruni tangga bersautan dengan ombak laut namun masih sangat jelas untuk didengar.


“Sudah beres, aku mengusulkan untuk membuangnya ke laut. Tapi Bos meminta kita untuk membawanya kesuatu negara dan membuangnya disana,” jelas pria dengan suara serak.


“Benarkah? Dimana?”


“Singapura.” Jawabnya singkat.


“Jauh sekali. Baiklah, jet pribadi akan siap sebentar lagi saat kita sampai ke bandara kecil kira-kira enam jam.”


“Siapa kalian?” teriak Polaris. Sudah cukup ia diam mendengarkan obrolan mereka. “Siapa yang menyuruh kalian? Apa yang kalian inginkan? Uang? Katakan berapa yang kalian inginkan!” teriak Polaris, mendengar ia akan dibuang di Singapura, sebuah negara di benua Asia. Siapa yang akan menyangka ia akan dibuang disana, pihak istana akan membutuhkan waktu lama untuk menemukannya.


Walaupun ia bisa hidup disana, bagaimana ia akan bertahan. Tanpa identitas, tanpa uang dan tanpa orang yang dikenal.


Dua orang pria yang menculik Polaris tertawa terbahak-bahak, suara langkah kaki lain agaknya ikut bergabung bersama mereka.


“Apa yang kalian tertawakan? Apakah dia berteriak meminta tolong?” ucapannya yang sinis bisa Polaris rasakan.


Sambil menahan tawa, pria pemilik suara baritone berkata, “hanya mentertawai pertanyaan klasik seorang tawanan.” Dia kembali tertawa.


“Aku serius. Jika yang kalian butuhkan adalah uang, aku bisa memberikan berapapun yang kalian mau,” ucap Polaris sembari memohon.


“Tidak semudah itu. Pada akhirnya kami juga akan kau penjarakan. Kau hanya anak kecil payah yang tak pandai bernegosiasi,” jawab suara lembut dan jernih.


“Kaliaaan…” Polaris mulai marah.


“Kau tak bisa menjamin kami bebas dari hukuman tapi bisa menyakinkan kami menerima banyak uang. Tidakkah kau pikir kami adalah seorang Profesional?” ucapnya kembali menyindir Polaris.


“Kau. Potong rambutnya!” perintah salah seorang dari mereka.


“Apa yang kau lakukan?” jerit Polaris.


“Diamlah! Jika tak ingin mati, maka diamlah!” bentak pria dengan suara serak.


“Tidak! Jangan lakukan itu.” Polaris menggeliat menghindar walaupun matanya tak bisa melihat karena tertutup kain. “Jangan potong rambutku!” teriaknya berulang kali.


“Jadi kau lebih sayang rambutmu daripada nyawamu?” rambutnya sudah terpotong secara acak dengan bentuk tak beraturan. Percuma menggeliat menghindar agar rambutnya tak dipotong. Walau tidak digunduli tapi memiliki penampilan baru dan dibuang ditempat asing akan mempersulit Polaris untuk ditemukan.


“Huh, padahal hanya rambut.”


Polaris menangis tergugu. Para pria yang meculiknya meninggalkannya setelah memotong sebagian besar rambut Polaris.