
“Tuan Allen, Tuan Putri ingin meninggalkan istana dengan pengawalan rahasia,” ucap dayang.
“Rahasia? Apa dia berkata ingin menemui siapa?” Tanya Allen.
Dayang itupun menggeleng, “Tidak Tuan, tapi Tuan Putri sedang sibuk memilih baju biasa.”
“Baiklah. Pergilah,” suruh Allen.
Baru beberapa menit ia memasuki mobil untuk mengawal Polaris tapi kini ia harus bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Sial.
“Allen, aku sudah mengirim sinyal darurat ke istana,” kata sopir mobil yang dinaiki Allen. Ada tiga orang didalam mobil ini termasuk dirinya dan sialnya lagi dengan senjata yang terbatas.
Sementara ada tiga mobil yang sedang mengejar Polaris jika perkiraannya benar ada sekitar tiga sampai empat orang dimasing-masing mobil. Dua mobil menargetkan Polaris dan satu mobil sedang ditugaskan untuk menghalang-halangi Allen.
“Berusahalah untuk menerobos, buka jendelaku Thom,” aku sudah bersiap menarik pelatuk mengincar ban belakang mobil yang menghalangi kami.
“Buka juga jendelaku Thom,” ucap Ricko, pengawal yang duduk disisi kiri Thom yang sedang fokus mengemudi.
Doorrr…. Dooorrrr….
Suara tembakan dari senjata yang dibidik kearah ban belakang mobil itu meleset, Ricko mengarahkan pistolnya ke kaca belakang mobil namun gagal. Ternyata mobil menggunakan bahan anti peluru begitu juga dengan bodynya.
“Pasti orang dibalik ini semua bukan orang sembarangan sampai menggunakan mobil anti peluru segala,” ucap Ricko yang kembali duduk dikursinya dan Thom masih fokus menyetir.
Allen juga kembali duduk, tidak ada perlawanan dari mobil didepan yang artinya satu mobil itu memang sengaja digunakan untuk menghalangi mobil Allen mengejar Polaris.
“Tak bisakah kita mengambil jalan lain Thom?” Allen berusaha mengajak diskusi untuk mencari opsi lain.
“Mobil ini dilengkapi GPS kau lihat? Dan hari ini libur nasional kerena ada Royal Wedding jadi beberapa jalan ditutup untuk perayaan,” jelas Thom.
Allen seperti kehilangan akal, ia kembali mengelurkan setengah badannya melalui jendela dan kembali membidik ban mobil itu, satu dua tembakan meleset. Ia tak pernah menembak ban mobil yang sedang melaju sebelumnya tapi ini pasti sama saja dengan latihan belajar menembak yang rutin ia lakukan.
Rickopun tak tinggal diam, ia kembali menembaki mobil itu namun kini ia fokus pada ban mobilnya, “kalaupun kita berhasil menembak bannya, mobil didepan sudah lumayan jauh,” teriak Ricko.
Suara deru pistolpun menggema dan pasti menarik perhatian pengguna jalan lain, bantuan sudah mulai berdatangan dengan ditandai bunyi sirine dari mobil-mobil polisi.
Allen mengeluarkan ponselnya mencari nama Polaris lalu menekan call, "kau menghubungi pamanmu?" tanya Ricko.
"Sial," gumam Allen. "Nomornya sibuk, aku sudah mengirim sinyal darurat kepada pihak keamanan istana. Tapi nomor Polaris sedang sibuk," jelas Allen.
"Mungkin dia juga sedang mencari pertolongan," sahut Thom dari kursi kemudi.
“Bagaimana jika kutabrak saja mobilnya dari arah belakang, aku sudah mulai frustasi,” teriak Thom.
“Kau gila,” jawab Allen.
“Kalau begitu cepat kenai bannya agar mereka berhenti,” teriak Thom.
“Tak bisakah berkomunikasi dengan petugas kepolisian yang mengejar?” Tanya Ricko sambil menembaki mobil didepan mereka.
“Sial. Kita sudah masuk kawasan perbukitan,” tambahnya.
Mobil yang dikemudikan Thom melaju dengan kencang walau sepertinya Polaris sudah cukup jauh setidaknya mereka harus mendapatkan mobil ini untuk mendapatkan informasi.
“Awaaaassss…..!!” teriak Thom. Rupanya ia menginjak rem mendadak dan karena sebelumnya ia melaju kencang, pilihannya hanya ada dua yaitu membiarkan mobil menabrak atau banting setir dan terperosok ke jurang.
Brraaaakkkkk…….
Suara keras hantaman dari dua mobil yang saling beradu tak terhindarkan, sesaat tadi Thom berteriak untuk berpegangan dan memasang sabuk pengaman, dengan cepat mobil terpelanting menimpa mobil musuh.
Mereka tak menyangka Thom akan menabrakkan mobilnya secepat ini tapi ini lebih baik daripada jatuh ke jurang.
Mobil kami terseret hingga kurang lebih lima meter jauhnya dan dalam posisi terbalik, kulihat airbag Ricko mengembang dan Thom sepertinya tak sadarkan diri. Ricko masih sadar karena kulihat ia berusaha melepaskan sabuk pengamannya hinggah tubuhnya jatuh kemudian merangkak keluar.
Dalam keadaan tubuh terbalik juga kulihat darah menetes dari kepalaku, entah seberapa parah kecelakaan ini. Kuharap Ricko segera bergerak untuk menyelamatkan kami terlebih Thom yang tidak sadarkan diri.
Ricko menarik tubuh Thom, mungkin agak susah karena dia berada di kursi kemudi. Perlahan pandanganku juga semakin samar mungkin kesadaranku juga akan hilang hingga kurasakan Ricko menarik tubuhku dan pandanganku juga perlahan menjadi gelap.
Namun masih bisa kurasakan tubuhku yang diseret dan namaku yang dipanggil lalu suara sirine mungkin mobil polisi atau juga suara ambulance. Tubuhku serasa remuk tapi tak juga kurasakan kesadaranku benar-benar menghilang setidaknya untuk sesaat ia tak perlu merasakan sakit di tubuhnya.
Apa? Bertiga?
***
“Kerahkan semua pengawal, kepolisian dan pasukan-pasukan elit untuk mencari mereka. Lihat juga CCTV di jalanan yang dilalui Polaris dan dapatkan nomor kendaraan mereka,” teriak dengan marah Raja Fomalhaut pada para kepala dan jendral.
Bagaimana bisa ia tak mengetahui putrinya keluar istana, dengan siapa dia meminta ijin untuk keluar istana. Segala pikiran negatif terus muncul dikepalanya, “Lucas, panggil Putra Mahkota dan Ratu kemari,” suruh Raja Fomalhaut.
“Siap.”
Pandangan Raja Fomalhaut mengarah ke sofa dekat meja kerjanya, “Regulus, apa kau ikut ambil bagian?” tanya Raja Fomalhaut penuh selidik.
“Hmmm… apa kau mencurigai saudaramu sendiri?” jawab Pangeran Regulus santai.
“Berhenti berpura-pura!!” bentak Raja Fomalhaut.
Pangeran Regulus bangkit dari duduknya dan membenarkan kancing jasnya, “aku tahu kau sedang dalam keadaan kalut namun profesionallah, pertahanan negara Magellan ada dalam kekuasaanku jadi akan aku selidiki ini,” ucapnya seraya pergi meninggalkan ruangan Raja Fomalhaut.
“Tunggu Regulus!! Jika terbukti kau terlibat, aku bersumpah tak akan mengampunimu.” Raja Fomalhaut sangat marah, pandangan matanya dipenuhi aura dendam.
Pangeran Regulus melenggang pergi setelah mendengar kata-kata terakhir saudaranya dan tak sengaja bertemu dengan saudara iparnya, kemudian ia membungkuk sebagai tanda penghormatan lalu ia meneruskan berjalan meninggalkan istana.
Raja Fomalhaut melemparkan tubuhnya sendiri ke kursi kerjanya yang untungnya empuk sampai mengeluarkan bunyi berdecit.
Tangan kanannya ia sangga di lengan kursi sambil jari2nya memijit keningnya, "sialan kau Regulus," suaranya dipenuhi kemarahan yang tertahan.
Sura pintu dibuka memperlihatkan Ratu Rose yang tergesa-gesa, bisa terlihat air matanya yang tumpah, "bagaimana... Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Polaris," ucapnya bergetar tepat di depan meja kerja Raja Fomalhaut sedangkan suaminya masih tetap dengan posisinya.
Suara pintu dibuka kedua kalinya terdengar, tak perlu menebak siapa yang masuk pastilah putranya, El Nath.
"Konspirasi... Penghianatan!! Apakah paman berada dibalik semua ini? Katakan papa!!" El Nath mendesak.
Raja Fomalhaut melirik ke arah El Nath, "katakan siapa yang ingin ditemui Polaris?" suaranya dingin.
El Nath memalingkan wajahnya, ia marah kenapa ia tadi mengijinkan adiknya keluar.
"Kenapa menghindariku? Apa sekarang kau merasa menyesal?" ucap Raja Fomalhaut seperti menyindir El Nath tapi biar bagaimanapun El Nath adalah penurusnya, satu-satunya putranya.
"Dia ingin menemui Sirius." jawab El Nath memberanikan diri memandang papanya.
"Jelaskan tentang dia tanpa ada yang kau tutupi," perintah ayahnya. Kini posisinya agak rileks.
Dilihatnya Andrew sudah menunggunya kemudian berjalan beriringan dengannya, “sesuai perintah kami sudah membawanya ke suatu tempat,” ucapnya sangat pelan.
“Bagus.”
“Kami menunggu perintah selanjutnya,” kata Andrew sambil membuka pintu mobil untuk Pangeran Regulus kemudian dia menuju kemudi mobil. Dia memasang sabuk pengaman kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya.
“Ini ponsel Tuan Putri Polaris, kami sudah melenyapkan barang bukti lain selain ponsel ini,” ucapnya sambil menyerahkan ponsel kepada Pangeran Regulus yang duduk dibelakang tanpa memalingkan tubuhnya.
Pangeran Regulus menerimanya, “sudah kami ubah dalam mode pesawat tapi masih mungkin untuk melacak imeinya tetapi hal itu juga kami kaburkan karena itu saya berani membawanya kesini,” Andrew menambahkan, “jika anda sudah selesai dengan ponsel itu saya sarankan untuk menghancurkannya.”
Pangeran Regulus senang karena Andrew bertindak sangat luar biasa bahkan dalam tugas berat seperti ini, “bagaimana dengan pengawal yang mengikuti Polaris?”
“Mereka kecelakaan dan sudah dilarikan ke rumah sakit. Tak perlu dikhawatirkan kerena berada dijalanan pegunungan tak ada CCTV dan orang kita juga sudah kabur tanpa jejak.”
“Apakah bisa dipercaya?”
“Tentu saja mereka sudah professional, tak ada bekas ban selain mobil milik Allen. Mobil yang mereka gunakan sangat bagus dengan modifikasi canggih.”
Pangeran Regulus tertawa puas, niatnya mengombang-ambing pemerintahan saudaranya nyatanya sebentar lagi akan terlaksana, “apakah Allen keponakan Shi?” tanya Pangeran Regulus ingin memastikan.
“Benar. Kudengar saat ini kritis karena kehilangan banyak darah, dari mereka bertiga hanya Ricko yang masih sadar tapi keterangannya tak akan banyak membantu.”
Pangeran Regulus kembali tertawa, "benar, Ricko tak akan banyak membantu," gumamnya.