
Harinya berjalan seperti biasa, memasuki perusahaannya dan para karyawannya juga masih seperti biasa menyapanya dengan sapaan sopan seperti biasa. Alih-alih saham Orange yang diprediksi jatuh karna skandalnya kemarin malah terbang meroket membumbung tinggi. Dia sudah bisa menebak hal ini, karena pandangan publik mempengaruhi harga sahamnya, tereksposenya berita perihal kekasihnya malah akan membuat semuanya berbalik.
Semua ini berkat kehidupan pribadinya yang benar-benar ia rahasiakan, bahkan identitasnya sebagai pangeran kedua negera Heiress-pun bisa ia sembunyikan. Tentu saja dengan bantuan ketakutan dari pihak yang mendukung Putra Mahkota Geralld saat ini, membuatnya melenggang bebas tanpa embel-embel pangeran yang dilahirkan oleh Ratu.
Gadis itu masih mengganggu pikirannya hingga saat ini. Bryan tak biasanya melakukan pencarian informasi dengan lambat seperti ini. Ia sedang tak ingin membuat kisah membatalkan pertunangan dengan cara memilih gadis lain seperti di cerita-cerita novel atau romasa untuk kemudian media akan mengolahnya selayaknya kisah Cinderella di dunia nyata.
Ada banyak gadis dari keluarga kaya dan bangsawan yang ia ketahui tak akan memikirkan citra dirinya saat rumor kedekatan dengan dirinya akan tercium media, bahkan mereka malah menginginkannya. Tapi berbeda dengan gadis itu, keluarganya sepertinya sedang memikirnya cara agar rumor tak tersebar terlalu jauh.
Dering telepon membuyarkan pikirannya dalam mengarang segala kemungkinan tentang gadis itu. Laki-laki yang mencarinya memanggilnya Polaris, nama yang aneh untuk anak gadis, pikirnya.
“Presdir Windsor, Tuan Alex menyampaikan agar anda mengangkat handphone anda.” Kata suara sekretaris di seberang telepon.
“Baiklah.” Jawabnya singkat sambil mengambil handphone yang sejak tadi ia letakkan disamping laptopnya. Mode silent membuatnya tak mendengar jika ada panggilan masuk.
Sambil menunggu panggilannya tersambung dan dijawab, ia berdiri menghadap pemandangan kota dari tower ini memang sangat menakjubkan. Ia selalu merasa diatas, kehadirannya walau tak mengganggu cukup membuat kubu dari pihak Selir Selena waspada. Hatinya sungguh senang saat dirinya bermain-main dengan bahaya yang diciptakan Selir Selena padanya.
“Sirius, putraku…” kalimat pertama yang ia dengan di seberang sana.
“Ya… mama.” Jawabnya singkat.
“Kukira kau sudah tahu, mama akan membahas apa, kan?” Tanya suara diseberang.
“Tentu, tentang pertunangan yang di ajukan Pangeran Regulus.” Jawabnya datar.
“Kita akan membahasnya dengan ayahmu hari ini, jadii…”
“Tidak.” Sirius dengan cepat memotong kalimat mamanya. “… Putri Aquila akan datang ke Heiress. Sebelum aku bilang “YA” pada rencana pertunangan ini, kita tak akan membahas apapun tentang kehidupan asmaraku, mama.”
“Sirius, kami tidak akan memaksamu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan selama itu baik menurutmu. Dan lagi, ini akan menjadi pernikahan politik jika sesuatu terjadi antara dua negara.” Jelas mamanya panjang lebar.
“Mama…”
“Sirius, sesekali kita harus melihat dari dua sudut pandang. Ada saatnya kau berpikir sebagai orang biasa dan ada saatnya kau berpikir sebagai seorang Pangeran. Dan kunjungilah mamamu…” kata Ratu Soraya.
Sirius menghembuskan nafas kasar, “Aku akan berkunjung saat mama kembali dari menghadiri pernikahan kerajaan Putra Mahkota Magellan.”
Sepertinya dia harus mencari udara segar dan sedikit cuci mata. Kakinya ia langkahkan keluar ruangan, satu ingatan terbesit di otaknya kalau berita perihal dirinya pasti belum juga reda.
Dia secara pribadi meminta pihaknya untuk tak mebuat pernyataan atau meluruskan apapun yang harus dijelaskan alih-alih menepati perkataannya pada laki-laki yang bersama Polaris kemarin untuk menyelesaikan masalah ini.
Ia sedang menunggu reaksi dari Pangeran Regulus, bukan tak mungkin Pangeran Regulus akan terus mengirim mata-mata atau seseorang untuk mengetahui segala tentangnya.
***
Sejak kejadian kemarin pencarian internet tentang dirinya meroket, para netizen berlomba-lomba untuk medapatkan info tentang akun media sosialnya, terutama ensta. Dalam hitungan beberapa jam jumlah pengikutnya sudah bertambah sekitar 2 juta dari yang semula hanya 1 jutaan.
Dia merasa pusing sekarang, apakah dia harus senang atau gelisah. Senang karena popularitasnya di internet semakin naik atau gelisah karena besok dia akan tampil di hadapan umum saat pernikahan kerajaan. Dan tentu saja, wajahnya akan terekspose.
Tak ada informasi dari pihak negaranya apakah mereka akan menghalau berita atau setidaknya mengaburkan wajahnya walau itu sangat tidak mungkin. Dia benar-benar bingung sekarang, ibunya hanya mengatakan lewat sambungan telepon bahwa semua akan baik-baik saja. Dia malah senang mendengar skandal pertama putrinya. Oh Tuhan… mereka orang tua yang aneh.
Belum lagi teman-teman kampusnya yang memberondong Line-nya dengan banyak pertanyaan hingga handphone barunya seakan diajak untuk bekerja keras dihari pertamanya.
Ting… Ting… Ting…
Suara bel didepan pintu kamar apartemennya berbunyi, Allen sudah tiba. Hari ini ia akan terbang ke Magellan, tentu saja dengan membujuk orang tuanya agar tak menggunakan pesawat pribadi tapi menggunakan pesawat penumpang biasa.
Dengan syarat harus memilih kelas bisnis daripada ekonomi. Allen akan banyak menggerutu karena ia memilih menggunakan penerbangan biasa daripada private jet dengan pengamanan yang lengkap dan ketat dan dia hanya tinggal menemani perjalananku atau tidur sepanjang perjalanan. Tapi biarlah, Allen akan terbiasa dengan dirinya lama-kelamaan.
“Sudah siap?” Tanya Allen seperti meng-scan penampilanku yang hanya memakai sepatu boat berhak tinggi, celana jeans dan kaos dengan tertutup jaket. Mungkin dia membayangkan aku akan membawa banyak koper daripada sebuah ransel berukuran sedang.
“Oh.. oke. Kuharap ini tidak menyusahkan.” Katanya lagi.
Walaupun penampilanku sederhana, bagi orang-orang yang paham fashion dan penyuka barang-barang branded, penampilanku terbilang tak murah.
Polaris mulai membuka suara, “apa kau takut aku tak berpakaian pada tempatnya?” tanyanya sarkas.
Allen tertawa, “Hei.. ya tentu saja. Bagaimana jika kau mendapatkan seorang pangeran.”
“Siapa yang medapatkan seorang pangeran?”
“Oh.. yasudah. Lupakan, mungkin kau akan medapatkan seorang aktor.”
Mereka berjalan menuju keluar gedung apartemen, sesuai permintaan Polaris, mereka menuju bandara dengan menggunakan taxi.
“Kita seperti turis yang tak punya uang.” Kata Allen dengan nada datar. Jelas dia tak terlalu terbiasa bepergian dengan hanya membawa baju yang menempel dan sebuah ransel.
“Kau akan sering menemui keadaan seperti ini jika ke Afrika.” Jawab Polaris enteng.
Allen memalingkan wajahnya cepat kearah Polaris, “Afrika? Aku sedang tak tertarik untuk bertemu jerapah. Kau dengar?!” nadanya dengan berteriak.
Polaris tertawa, “siapa bilang? Kau secara resmi akan selalu menempel denganku. Jika aku ingin melihat kudanil kaupun akan melihat kudanil juga. Jika aku ingin melihat suku kanibal di Afrika kau pun akan menemui mereka juga.” Jelas Polaris dengan gaya yang ia paksa terlihat angkuh. Polaris serasa puas mengerjai Allen.