After Rain

After Rain
Episode 21 : Janji Yang Harus Ditepati



Mengobrol dengan manusia lain tapi otaknya terbelah antara kenyataan saat ini dan juga hal-hal yang menurutnya tak harus dipikirkannya. Mulai dari pertama kali ia bertemu dengan Victoria yang angkuh dan juga Sirius yang percaya diri.


Tepat sesaat tadi setelah ia meninggalkan Saga dan Victoria, seseorang ternyata tengah menatapnya tersembunyi dibalik pilar Gereja Katedral. Saat mencapai tempat itu ia berencana ingin meninggalkan Gereja Katedral, tangan seseorang menarik tubuhnya dan membuat pandangan masing-masing mata bertemu kembali.


Bukan kali pertama kami memiliki jarak yang sedekat ini, hanya dari sorot matanya ada sesuatu yang sepertinya ingin diungkapkannya.


Siapa lagi jika bukan Sirius yang entah bagaimana dia bisa hadir di acara Royal Wedding ini. Dia hanya pengusaha yang kebetulan memiliki perusahaan besar dan kebetulan juga dia masih muda dan cukup dikenal banyak orang.


“Quila, apa kau mengenal Sirius?” Tanya Polaris tiba-tiba. Aquila terlihat merasa tak nyaman atau lebih tepatnya heran Polaris menanyakan itu.


“Ah.. iya tentu.”


“Dia calon tunangan Aquila, jika kau penasaran,” Alhena menjawab pertanyaan Polaris.


Terlihat Aquila agak ragu ingin menjawabnya, “jika begitu, kenapa ingin menutupi?” Tanya Polaris agak sarkas.


“Bukan begitu, hanya saja terlalu cepat jika menyimpulkan dia adalah calon tunanganku,” ucap Aquila agak kikuk dan salah tingkah.


Alhena terlihat bersemangat, “dia terkenal, maksudku jika kau dekat dengan Sirius kau akan masuk dalam daftar pencarian internet.”


Polaris mengangguk setuju, “tentu saja. Tidak ada yang tidak mengenalnya,” Polaris tersenyum sambil menatap Aquila namun Aquila seperti menghindari kontak mata dengan Polaris.


“Jika kau seperti ini, aku akan mengira kau menyembunyikan sesuatu,” ucapnya kemudian meneguk wine-nya.


Aquila terkejut, “apa kau mulai mabuk? Ini hanya wine,” ucap Alhena pada Aquila.


Aquila menggelengkan kepalanya, “tidak, aku tidak mabuk,” ucapnya sembari tersenyum.


“Jangan menatapnya seperti itu. Tatapanmu seperti akan menembus bola mata orang didepanmu,” kata Alhena sambil tertawa.


“Polaris, apa kau sungguh tak begitu suka dengan wanita itu?” tambah Alhena sambil memberi kode mata mengarah pada Navier yang tengah mengobrol dengan kakaknya, Christ.


Polaris menggoyang-goyangkan gelas wine-nya dan menyesap aromanya, “aku tidak suka orang yang rapuh. Lihat bagaimana dia bersikap kemarin? Tidak ada kekuatan yang terlihat dari dalam dirinya. Jika dia merasa bersikap arogan adalah benteng pertahanan dirinya maka bersikaplah arogan. Bukan memasang wajah palsu seperti kemarin.”


Alhena dan Aquila menganga mendengar penjelasan Polaris, “apa dia dipaksa menikahi Nath?” Tanya Aquila pada Polaris.


“Apa kalian tak mencari informasi siapa sebelumnya kandidat calon Putri Mahkota sebelum dia?” Tanya Polaris kepada Alhena dan Aquila.


Alhena mengendikkan bahunya tanda “tidak” begitupula Aquila, kau tak tahu jika wanita itu sudah ditetapkan sebagai calon Putri Mahkota sejak ia berumur lima tahun? Aku mendengar mama berbincang dengan Ratu beberapa waktu lalu.”


“Lalu?” Tanya Polaris penasaran.


“Yah.. Ratu memilih beberapa calon lain tapi akhirnya wanita itu yang terpilih dan bersama mama, Ratu mengantar beberapa hadiah waktu itu untuk keluarga mereka. Keluarga calon Putri Mahkota mendapat bantuan bisniskan oleh keluarga istana?” jelas Alhena.


“Apa El Nath tak punya kekasih sebelumnya? Kenapa dia mau menikah dengan wanita itu?” Tanya Aquila pada Polaris.


Polaris terlihat berpikir tentang apa yang dikatakan Aquila, kenapa ia tak penasaran alasan El Nath bersedia menikah dengan Navier. Dia selama ini hanya fokus tentang tradisi keluarga istana namun jika El Nath memiliki kandidat yang lebih baik kenapa tidak memilih kandidat itu.


Apa perkiraannya benar seperti drama jika El Nath menjalin hubungan dengan wanita biasa dan tak memiliki kesempatan untuk bersamanya jadi dia memilih menjalankan tradisi.


“Apa? Aku? Apa yang tak ku ketahui?”


“Aku melihat El Nath berkencan dengan pramugari pesawat pribadi papa, Adelaide. Aku melihatnya beberapa kali, karena Adelaide tak hanya terbang dengan papa terkadang juga dengan mama dan kebetulan kami disatu penerbangan. Jadi kubuat dia terpojok dan mengaku. Tapi kalian tahu?” kata-kata Alhena menggantung dan sepertinya dia sengaja ingin membuat Polaris dan Aquila penasaran.


“El Nath pun mengakuinya.” Jawab Aquila.


“Tepat sekali.” Alhena bangga.


“Dia seperti laki-laki sungguhankan. Tapi sayang sekali mereka tak memiliki masa depan dihubungan mereka.” Jelas Aquila.


Tiba-tiba handphone Polaris bergetar setelah dilihatnya tertera ada nomor tak dikenal menghubunginya tiga kali, dua kali tidak terjawab. Nomor asing yang tidak dikenalnya lalu dia teringat jika beberapa waktu tadi di pilar Gereja Katedral , Sirius memaksa meminta nomornya.


Polaris bisa saja tak memberikannya tapi Aquila tiba-tiba terlihat didekat mereka. Agar Aquila tak melihat Polaris, ia cepat-cepat menuliskan nomornya di handphone Sirius langsung dan langsung beranjak dari tempat itu.


Polaris perlu mengetahui lebih dalam perihal siapa Sirius sebenarnya dan jika Aquila melihatnya sedang bersama dengan Sirius dan saling mengenal itu bukan tidak mungkin Aquila akan meminta pamannya untuk mempercepat pertunangannya dengan Sirius.


Dipikiran Polaris jika Sirius memang benar-benar seorang lelaki yang sangat menguntungkan, ia tak akan membiarkan Aquila memilikinya. Tapi bagaimana jika Sirius membuat Aquila curiga karena menanyakan hubungan Polaris dan Aquila. Tapi tidak mungkin, jika itu terjadi pasti Aquila dan Alhena akan bersikap memcurigakan untuk menyembunyikan perihal Sirius.


“Aku mengangkat telepon dahulu,” ucap Polaris.


“Oh oke,” kata Alhena.


“Bisakah pergi ke Royal Hotel nanti sore?” kata suara diseberang padahal Polaris baru saja menekan tombol hijau.


“Apa?” suaranya tak begitu jelas bukan karena tak ada sinyal hanya saja handphone-nya baru mendarat ketelinganya saat suara di telephone mengucap kata “sore.”


“Kau tak mengenaliku? Kukira kau cerdas.” Suara diseberang tedengar meremehkan membuatnya dalam mode On untuk ceramah panjang lebar. Belum sempat ia mengeluarkan kata-kata, “… datang ke Royal Hotel nanti sore.”


“Atas hak apa kau berani menyuruhku,Tuan?” suara Polaris terdengar tegas.


“Kau tidak *mau? Mau aku yang menjemputmu? Oke, tidak masalah. Nanti jam lima sore*.” Ucap suara ditelepon seakan dia punya akses keluar masuk istana ini dan seakan dirinya adalah orang yang akan diterima masuk dengan mudah jika menginjakkan kaki di istana.


“Siapa kau sebenarnya Tuan Sirius?” Tanya Polaris dengan nada dingin.


“Aku? Calon tunangan sepupumu. Bukankah kau sudah mengetahuinya?”


“Jika kau adalah tunangan Aquila, kenapa masih mendekatiku?” teriak Polaris. Dia sudah sangat sebal dengan sikap Sirius yang seenaknya mempermainkannya menyuruhnya datang dan pergi sesukanya.


“Datang saja ke Royal Hotel jam lima. Jika kau ingin datang, kirim pesan jam empat padaku. Dan.. jangan lupa untuk simpan nomorku. Oke!!”


Tuuttt… tuuuttt…


Suara panggilan yang diputus secara sepihak oleh Sirius, “arrrggghhh…. Dasar orang tidak waras!” dia hampir saja ingin membanting ponselnya namun tiba-tiba dia ingat ponsel ini yang membelikan adalah Sirius.


“Sial.. kenapa dia harus menyebalkan,” gumamnya.


“Siapa yang menyebalkan?” Polaris terkejut sebuah suara tiba-tiba muncul diruang pendengarannya.