
Sirius menekan nomor di remote untuk mengganti berbagai channel televisinya, isinya hampir seluruhnya Breaking News perihal adu tembak yang terjadi di jalanan.
Apa yang terjadi dengan negara ini hingga masyarakat biasa bisa dengan mudah mendapatkan senjata, pikirnya.
Sesaat ia melihat jam tangannya sambil bergumam, “sudah hampir jam lima."
Ia berpikir untuk menelepon Polaris guna memberi tahu jika ia menunggunya di loby nanti. Ia bangkit dari sofanya menuju ke kamarnya guna mengambil ponsel yang tengah diisi ulang baterainya.
“Apa dia tak sabar ingin bertemu denganku,” sambil tersenyum mengangkat telepon.
Ponselnya tak dia beri suara karena di negera ini ia benar-benar ingin menghabiskan waktu sendiri dan Bryan sudah mengurusi perusahaannya disana.
“To.. toloong.. tolong aku,” suara Polaris.
“Apa yang terjadi? Jangan ngajak bercanda…” belum selesai ia berbicara, ia mendengar suara keras seperti terbentur dengan sangat jelas.
“Heiii… haloo… halooo… katakan apa yang terjadi?”
Tuuuttttt….. tuuuttttt….
Panggilannya tiba-tiba terputus. Ia mencoba menghubungi Polaris kembali namun tak diangkat dan berulang kali ia lakukan itu tapi malah tidak aktif.
“Bagaimana bisa tadi tersambung sekarang malah mati, hah!!!” teriaknya.
“Sial.” Ia terduduk di ujung ranjangnya kemudian dia buru-buru mengambil ponselnya berharap itu Polaris namun ternyata panggilan ini dari Aquila. Kebetulan sekali, pikirnya.
“Iya…”
“Hai… apa kau ada waktu?”
Sirius termenung menimbang apakah ia akan bertanya tentang Polaris atau diam saja, “Halo…” Aquila mencoba memanggil Sirius.
“Ah iya.. kemungkinan ada acara,” jawabnya ragu.
“Begitu ya…” dari suaranya terdengar kecewa.
“Apa ada sesuatu yang penting?” Sirius mencoba perhatian.
“Ah… tidak, hanya papa mengundangmu untuk hadir di jamuan Putra Mahkota,” Aquila menjelaskan.
“Akan kupikirkan apakah aku bisa hadir atau tidak.”
“Baiklah kalau begitu jika kau berniat hadir hubungi saja aku. Aku akan menjemputmu,” suaranya sedikit agak kembali ceria.
“Oke.”
Ia kembali terduduk sambil memikirkan kata “tolong” Polaris dalam teleponnya tadi, apa benar dia sedang dalam bahaya. Tapi jika demikian kenapa pihak istana masih melangsungkan acara jamuan ataukah mungkin mereka sudah menolong Polaris.
Segala hal spekulatif berusaha ia munculkan dalam pikirannya bahkan kemungkinan pihak keluarga kerajaan menyembunyikan hal ini dari khalayak ramai juga muncul dalam spekulasinya.
Apapun itu jika hampir jam enam Polaris belum juga muncul dan nomornya masih nonaktif, jalan satu-satunya mengetahui tentang apa yang terjadi dengan Polaris adalah dengan mendatangi istana secara langsung.
Menit demi menit ia menunggu tak terasa sudah hampir jam enam. Daripada membuatnya penasaran lebih baik menghadiri jamuan istana. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Aquila dan tak butuh waktu lama untuk menunggu Aquila mengangkat ponselnya, “Halo..”
“Ah.. iya, aku berubah pikiran. Aku bisa menghadiri jamuan hari ini,” ucapnya agak kikuk.
“Baiklah, tunggu sebentar akan ku jemput,” sahut Aquila terdengar bahagia.
“Maaf merepotkanmu.”
Kemudian ia bersiap untuk berpakaian formal seperti biasa memakai setelan jas mewahnya dan sepatu pantofel hitam. Hanya butuh waktu sebentar untuknya bersiap seperti ini.
Hampir ia lupa, besok juga dia harus menghadiri makan malam dengan keluarga Pangeran Regulus.
Kali ini bukan makan malam biasa karena kedua orangtuanya juga akan hadir dan jika tak salah tebak kemungkinan akan membahas masalah pertunangan. Dia melihat seluruh badannya di cermin, “sempurna,” sambil merapikan rambutnya.
“Hanya pertunangan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, bisa dibatalkan sewaktu-waktu,” ucap dirinya sendiri sambil memandang cermin.
***
Di suatu ruangan yang gelap dan pengap bahkan sampai suara tetes air juga mampu terdengar oleh indera pendengarannya. Aku dimana?
Kepalanya sangat pusing seperti berputar-putar apalagi keterbatasan udara yang dihirupnya untuk beberapa waktu ia merasa sudah tak berada di dunia ini tapi jika demikian bagaimana ia masih bisa merasakan tubuhnya yang serasa sakit semua.
Beberapa kali ia mendengar sebuah pintu dibuka mungkin pintu ruangan yang ia tempati saat ini ataukah pintu lain. Langkah kaki orang yang berjalan mondar mandir, suara laki-laki yang sedang mengobrol atau tertawa keras, semua dapat ia dengar walau samar tapi ia tak bisa melihat apapun.
Tubuhnya meringkuk kedinginan dengan tali yang membelenggu tangan dan kakinya bahkan mulutnyapun sepertinya disumpal lakban yang merekat kuat.
Erangan lemah dari dirinya tak banyak membantu tapi jika mereka ingin menghabisinya dan melenyapkannya harusnya mereka jangan ragu dan membiarkannya terlalu lama.
Mungkin Tuhan sedang berbaik hati membiarkannya masih bernafas untuk melihat apa yang mereka rencanakan ataukah Tuhan sedang memperlihatkannya perihnya menuju kematian sendiri didepan mata.
Lagi, dia mendengar langkah sepatu sepertinya lebih dari seorang, “bagaimana keadaannya?” tanya seorang laki-laki dengan suara yang jernih.
“Anda ingin melihatnya? Kami membiarkannya dikamar ini.” Seorang laki-lagi dengan suara serak. Jika tebakannya benar seorang dengan suara jernih itu adalah orang yang memiliki banyak uang dan kekuasaan, mendengar pria dengan suara dingin berbicara dengan formal padanya.
Hah.. dingin sekali.
Jika dia benar masih di negaranya Magellan berarti ia sedang merasakan dinginnya lantai karena musim hujan. Mungkin mereka sengaja membiarkannya perlahan lenyap karena kedinginan.
“Akan kutunjukkan,” terdengar suara kunci yang diputar, beberapa langkah kaki yang menyeruak masuk. Ia berusaha diam tak bergerak agar tak membuat mereka curiga ia sudah sadar dan bisa mendengar percakapan mereka.
Salah seorang dari mereka terasa melangkah maju dan tercium aroma parfum aroma mint yang segar. Jika saja mereka tak menutup wajahnya, ia akan membuka matanya agar bisa menyumpahi orang yang menculiknya.
Jika saja mulutnya tak dilakban ia bisa berteriak meminta pertolongan atau setidaknya menggigit mereka hingga berdarah. Tapi kini ia memilih diam saja menunggu mereka mengeluarkan suara lagi satu sama lain.
“Selundupkan ia keluar negeri. Besok subuh akan kusiapkan kapal untuk kalian.”
Apa? Mereka ingin menjualnya?
***
“Apa yang coba kau rencanakan? Kau ingin kembali pada wanita itu?” teriak Victoria, ia mengikuti kemanapun langkah kaki Saga beranjak.
Kamar tipe King ini cukup luas dan lengkap hampir seperti apartemen, “berhentilah mengabaikanku Saga!! Aku istrimu,” Victoria meraih pergelangan tangan Saga yang sedang sibuk memasang dasinya.
“Apa yang kau inginkan Victoria? Kau cemburu pada Polaris itu masalahmu sendiri,” ucap Saga dingin.
“Kau pasti ingin bertemu dengannya lagi, kan?”
“Victoria, apa urusanmu aku bertemu dengan siapa. Sudah kubilang bahwa kau bisa menikah denganku dan memiliki posisi ratu. Tapi tidak akan pernah bisa memiliki raja. Jangan buat aku menjelaskannya lagi,” jelas Saga sambil memakai jasnya didepan cermin besar tanpa menghiraukan Victoria yang terus mengekorinya.
Mereka sudah terbiasa seperti ini. Tiada hari tanpa bertengkar saat mereka sedang berdua, Saga tak pernah memulai pertengkaran lebih dulu tapi Victoria dengan sifatnya yang manja tak pernah bisa berpikir dewasa sehingga bisanya hanya menuntut Saga.
“Jangan menghindar setiap aku marah! Bersikaplah seperti laki-laki, Saga!!” Victoria kembali berteriak.
Saga mengehembuskan nafasnya kasar, menatap Victoria dan mendekat ke telinganya, “dan jadilah Ratu yang bisa kubanggakan. Kau selalu mempermalukanku, berada didekatmu tak pernah membuatku nyaman,” bisiknya kemudia pergi meninggalkan Victoria.