
Sore yang mendung, hanya terlihat awan abu-abu menghiasi langit yang semula cerah. Sebagian orang gusar karena tak membawa payung saat diluar rumah, namun perasaan khawatir karena turunnya hujan tak berlaku pada gadis yang tengah duduk sambil membaca sebuah buku fiksi kecintaannya.
Banyak buku berjejer rapi yang ditata dengan pola yang unik, kafe ini memang didesain untuk para pelajar yang ingin memanfaatkan waktu luang mereka namun masih tetap produktif. Karena letaknya tak jauh dari kampus, kebanyakan memang para mahasiswa yang menjadi pelanggan tetap kafe ini.
Terdiri dari tiga lantai, walaupun rooftop yang menjadi incaran semua pengunjung tapi lantai dasar kafe ini tetaplah menjadi tempat favorit bagi gadis yang sedang mengembangkan imajinasinya disetiap huruf yang ia rangkai.
Duduk dikursi empuk dekat jendela kafe sambil sesekali melihat orang-orang berlalu lalang, sungguh suasana yang menenangkan. Dengan alunan musik klasik yang tumben sekali kafe ini putar daripada musik-musik hits anak muda jaman sekarang menambah kesan benar-benar damai.
Suara gemerincing lonceng pintu setiap pintu kafe dibuka oleh seseorang kadang membuyarkan konsentrasinya dalam berimajinasi dalam novel yang dia baca. Sudah satu jam kurang lebih ia menunggu, setiap pengunjung kafe yang masuk tak memuaskan penglihatannya, karena orang yang sedari tadi ia tunggu tak juga muncul.
“Huh, apakah dia sedang berjalan kaki..” katanya sambil menggerutu dengan ekspresi sebalnya.
Sudah dua porsi roti isi dan satu gelas milk shake vanilla yang dia pesan untuk menemaninya di kafe ini. Tapi jika dia memesan satu gelas milk shake lagi, itu akan membuatnya menunda acara dietnya lagi. Tapi jika tidak kembali memesan makanan atau minuman, itu akan membuatnya mati kebosanan.
Sambil tangan kanannya menopang dagu, dia melihat keluar jendela, pas sekali gerimis mulai turun. Semoga hujan juga benar-benar turun, ini akan bagus jika hujan turun hingga pagi. Tidurnya akan ditemani suara hujan yang menenangkan.
Lamunnya dalam hati, saat ia melihat sekilas seseorang dengan jaket biru tua dan celana jeans yang sobek-sobek tampak pas ditubuhnya dalam hal ini adalah jeans yang layak dipakai. Jangan lupakan sepatu berkelas yang selalu ia kenakan selalu tampak cocok disetiap gayanya.
Orang yang dia tunggu selama satu jam lamanya akhirnya tiba. Senyumnya tak dapat ia sembunyikan, tapi urung juga dia perlihatkan pada laki-laki yang membuatnya menuggu begitu lama.
Tiiiinngg…..
Suara bel berbunyi saat pintu kafe dibuka, seorang laki-laki menyibakkan tudung jaketnya dan menata rambutnya dengan jari dengan asal membuat kegiatannya ini menjadi pusat perhatian karena wajah tampannya yang terekspos.
Pandangannya mengarah ke meja dekat jendela, seperti bukan hal sulit untuk mencari seseorang yang sedang menunggunya. Dengan langkah tegap dan anggun, kaki panjangnya berjalan perlahan menuju meja seorang gadis yang tengah memasang wajah datar.
“Bisa tidak menghubungi dulu jika ingin datang terlambat,” pertanyaan yang seperti sebuah pernyataan meluncur mulus dari mulut si gadis.
Masih dengan intonasi sebal dan manja. Laki-laki yang perlahan menggeser kursi untuk duduk didepannyapun tersenyum, “hehe.. ada keadaan mendesak yang membuatku tak bisa memberi kabar. Tapi setidaknya aku datangkan? Lagipula jika aku memberimu kabar disaat kamu sudah disini, apa kau akan meninggalkanku dan membiarkanku tetap pergi kesini tanpa ada kau,” jelasnya panjang lebar kepada si gadis yang masih memasang wajah sebalnya.
Sambil celingak-celinguk melihat kesekitar kemudian ke arah luar melalui jendela kaca disampingnya, lalu tatapannya kembali ke arah laki-laki didepannya.
Memasang wajah bertanya namun tak ingin bertanya. “Jika kau mencari pengawalku, mereka sedang berpencar. Aku menyuruhnya agar tak terlihat,” katanya sambil meminum milk shake yang hampir habis di gelas. “.. ayo kita keluar, ke mall saja. Aku ingin jalan-jalan.”
“Kau selalu mengambil keputusan sendiri, padahal aku yang menunggumu. Huh.. sebal,” kata si gadis sambil merapikan buku dan handphonenya dan memasukkan ke dalam tas.
Laki-laki itu hanya tersenyum, wajahnya tampan dan bersih. Mata coklat hazelnya sangat menghipnotis, rambut coklat tuanya juga sangat berkilau dengan gaya rambut yang sangat pas dengan wajah tampannya. Tapi jangan lupakan juga si gadis yang begitu cantik ini, warna mata dan warna rambut yang sama membuatnya begitu manis.
“Aku akan memegang tanganmu seperti ini, agar kita terlihat seperti sepasang kekasih,” kata gadis disampingnya dengan polos dan tawa seakan dunia sangat damai.
“Haha.. terserah kau saja,” kata laki-laki ini gemas.
“Nath, apa kau tidak takut paparazzi akan membuat gossip? Mereka akan mengira kau memiliki wanita lain,” kata gadis ini.
“Dan mereka akan gigit jari saat tahu wanita lain ini adalah adikku sendiri,” katanya dengan santai sambil memandang kedepan.
Letak mall tak jauh, hanya sekitar 100 meter dari kafe yang tadi mereka datangi. Terletak di area kampus tempat adiknya menempuh pendidikan di negara lain. Kampus eklusif terbaik yang berada di negara Heiress memang sangat mewah.
Jadi tak sembarang orang bisa menjadi siswa disini, jika bukan karena uang atau prestasi yang luar biasa hingga mampu mendapat beasiswa penuh. Kampus juga ini terkenal karena kemampuan siswa dan tenaga pendidiknya, bukan karena anak-anak konglomerat yang menjadi siswanya.
Suasana mall sangat ramai di hari sabtu sore yang menjelang malam, diluar sedang hujan deras dan beruntung kali ini adiknya tidak memakai sepatu hak tinggi sehingga bisa berlari agar tidak kehujanan tadi, setidaknya tidak harus basah kuyup berada didalam mall dan menjadi pusat perhatian.
“Nath, apa kau mengunjungiku dan mengajakku berbelanja untuk membelikanku gaun yang akan dipakai dipesta pernikahanmu?” Tanya adiknya.
“Keluarga kerajaan tidak membeli gaun resmi di mall, Polaris. Apalagi anak Raja dan Ratu,” jelas Nath. “Kuharap kau selalu menyimak pelajaran istana, itu akan sangat berguna untukmu dimasa yang akan datang,” tambah Nath.
Huh.. selalu saja begitu. Kini moodnya sedikit buruk, tinggal diluar lingkungan istana memang menyenangkan untuknya, dia tak harus selalu memberikan pencitraan di depan public seperti anggota keluarga kerajaan lain.
Dia adalah tuan putri Polaris, misterius dan bebas tapi pendidikan sebagai seorang tuan putri dan bangsawan terhormat masih dia dapatkan walaupun tinggal jauh dari negaranya. Bukan hanya pendidikan tuan putri biasa, tapi secara khusus ayah, ibu dan kakak laki-lakinya memberinya pendidikan sebagai penerus tahta, padahal sesuai aturan kerajaan, El Nath kakak laki-lakinyalah yang akan meneruskan menjadi Raja Magellan kelak. Tapi karena pendidikan ini dilakukan jauh dari negara Magellan dan rahasia, keluarga raja beruntung tak ada pertentangan dari petinggi kerajaan.
Eskalator membawa mereka ke lantai tiga di deretan mall ini, mata Nath melirik Polaris yang disampingnya karena sejak tadi adiknya belum memutuskan akan mencari apa disini dan jangan bilang jika Polaris hanya membawanya untuk olahraga kaki meyusuri setiap lantai mall yang besar ini.
Kini Nath terlihat agak bosan saat Polaris menghentikan langkah kakinya didepan toko pastry dengan pandangan mata yang mengkilat. Jelas dia akan memborong beberapa makanan manis dari toko itu, batin Nath dalam hati.
Polaris menyeret Nath memasuki toko mengambil nampan dan penjepit kemudian dengan antusias meletakkan setiap cake yang dia minati, tentunya tanpa bertanya pada Nath apakah ada salah satu dari cake tersebut yang dia sukai.
“Nath, apa kau akan menginap di apartemenku? Aku tidak ingin membawa makanan ini di hotel. Bisa untuk cemilanku beberapa hari jika kutaruh di lemari pendingin,” katanya sambil menunggu cake yang banyak itu dihitung di kasir.
“Besok malam aku akan kembali ke Magellan, kurasa tak masalah jika di apartemenmu, aku akan menghubungi paman Shi untuk menarik pengawal,” katanya sambil mengeluarkan kartu Black istimewa untuk membayar ke kasir.
Polaris sangat senang, ini kali pertamanya kakaknya menginap di apartemennya karena sebelumnya ketika Nath datang mengunjunginya, ia yang selalu ke hotel tempat Nath menginap.
“Bagus, kalau begitu besok pagi kita ke kampus dan lanjutkan jalan-jalan,” katanya sangat senang.
Nath begitu malas, harusnya besok ia bisa tidur sampai siang, “untuk apa aku harus ke kampusmu, jika harus menunggumu sampai selesai kelas, aku tidak mau mati kebosanan. Lebih baik aku tidur. Huh..,” kanya sambil mendengus.
Polaris terlihat gemas, tidak akan ia sia-siakan ketampanan Nath sebelum ia resmi menikah satu minggu lagi.
“Pamer donk! Lagian kau kan tau aku baru patah hati,” sambil memayunkan bibirnya dan tangan yang ia remas di pergelangan tangan Nath.
“Adduuhhh…pelan-pelan sakit tahu! Kau sudah putus kurang lebih enam bulan. Apanya yang masih galau, jangan seperti gadis biasa yang dibudak cinta,” untuk kali ini dia harus tegas pada Polaris.
Mantan kekasihnya adalah seseorang yang baru saja sedang berperang dengan Magellan hari ini, sampai ia harus diungsikan ke negara Heiress dan ayahnya turun langsung ke medan perang demi mewujudkan perdamaian saat pernikahan Putra Mahkota terlakasana dengan lancar satu minggu lagi.