
Pagi yang cerah walau langit berwarna abu-abu pertanda mendung masih menghiasi kota Phoenix, ibu kota negara Heiress. Saat yang tepat untuk melanjutkan tidur, pikir Polaris.
Hal yang bagus karena kakaknya, Pangeran El Nath memilih kembali ke negara Magellan tiga hari sebelum upacara pernikahannya. Ia heran pada Nath yang sebentar lagi akan menikah tapi terlihat santai sekali, walaupun semua telah diatur oleh keluarga kerajaan, setidaknya ia harusnya memperlihatkan rasa pedulinya sedikit. Bahkan Nath tak menghiraukan calon istrinya, sepertinya kehidupan para pangeran layaknya sebuah novel. Baca saja, walaupun ada bagian atau ending yang tak sesuai dengan harapan pembaca, toh tetap semua terserah penulisnya.
Tapi Polaris tak habis pikir, akankah hidupnya akan berjalan seperti Nath, tak berhakkah dia bersama dengan orang yang dia cintai.
Memikirkan ini membuatnya tak bisa kembali tidur. Matanya mengerjap-ngerjap, diraihnya smartphone-nya di nakas samping ranjang. Dia baru sadar, hari ini dia harus membeli smartphone baru yang tak kalah canggih dari milik Allen. “baiklah, setidaknya ada kegiatan yang bisa aku lakukan hari ini,” gumamnya.
Polaris bangun dari ranjangnya, menyibak gorden besar disamping tempat tidurnya, terlihat taman hijau dengan jalanan-jalanan kecil. Pemandangan pagi hari di bawah apartemennya memang luar biasa saat memasuki musim hujan, hijau menenangkan dan meneduhkan.
Apartemen yang dia sewa berada di lantai 18 gedung ini, berjalan perlahan menuju arah lift yang akan membawanya turun. Dia menghabiskan waktu dua jam untuk merias diri, memilih hoodie berwarna merah dan memakai celana jeans ketat serta tak lupa sepatu boats–nya. Melihat pantulan dirinya didalam lift, menaikkan alisnya sebelah, dia baru sadar jika hodie ini lebih baik diganti dengan sweeter. “huufft… dasar aku,” gumamnya.
Sendiri berjalan menyusuri trotoar dengan deretan tanaman hias disamping dan pohon-pohon cantik yang meneduhkan, kota Phoenix memang pantas dijuluki smart city.
Apartemennya sangat strategis, hanya berjalan tak begitu jauh sudah terlihat mall yang dia tuju. “Puffftt… semua media massa bahkan di timeline ensta dipenuhi oleh orang ini. Dasar gak punya bahan postingan…” gumamnya sendiri.
Seseorang menarik tangannya dan tunggu… pria ini tiba-tiba menciumnya. Polaris susah payah melepaskan diri, dicium pria asing yang tak ia kenal, semua orang memperhatikan mereka. Dan saat pria itu mulai melepas ciumannya, tangannya memegang erat kedua pipinya, sampai bibirnya membentuk seperti bebek. “Hei.. apa yang kau lakukan, kauu…” mata Polaris kembali terbelalak kaget, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya pria itu kembali menciumnya untuk kedua kalinya, walau tak selama ciuman yang pertama.
“.. kau.. apa yang kau lakukan,” dua tonjokan mendarat ke dada pria asing ini dan tonjokan yang ketiga telah dapat di hadang oleh pria ini.
“Hei… tenanglah..” katanya sambil memegang kedua tangan Polaris.
“Bodoh kau, kau tiba-tiba menciumku dan memintaku tenang!! Dasar kau mesum..!! teriak Polaris. Kini mereka berdua sukses menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang lewat disekitar mereka. Dan sialnya, handphone dari masing-masing orang-orang itu juga ikut teracungkan ke arah mereka.
Pria asing ini tiba-tiba memeluknya, “dengar, ada paparazzi yang sedang mengikutiku. Bekerja samalah denganku,” bisik pria ini.
Polaris masih berusaha melepaskan diri dari pelukan pria asing ini, sialnya pria ini terlalu tinggi dan sangat kuat, yang ada dia lelah sendiri, “bodoh.. bodoh... mau kau bayar berapapun aku tak akan sudi bekerja sama denganmu. Dasar kau mesum, lepaskan aku!!”
“oke.. terimakasih,” katanya sambil tersenyum, “terimakasih kau tak memminta bayaran karena mau bekerjasama denganku,” katanya sambil memegang kedua bahu Polaris, kini mereka sudah tak berpelukan lagi.
Dengan wajah cengonya, Polaris tak habis pikir, bagaimana pria ini mengartikan kata-katanya barusan seperti sebuah kebaikan. Jelas-jelas dia marah karena ketidak sopanan pria ini padanya.
Kedua tangannya menepis tangan pria yang berada di bahunya, “jangan membodohiku dan berhenti tersenyum palsu seperti itu,” Polaris berkata sambil melotot tanda ia sangat marah. Ini memalukan, pikirnya.
Matanya ia edarkan ke sekeliling, ia harus segera melarikan diri dari pandangan manusia-manusia ini, pikirnya untuk kesekian kalinya.
“.. angkat kakimu!!” kata Polaris dengan nada memerintah.
“Apa?” pria itu malah balik bertanya. “Kubilang angkat kakimu, kau telah menginjak handphone-ku!! Dasar kau bodoh,” rengek Polaris.
Mengetuk-ngetuk layar handphone-nya, “kau lihat? Ini rusak setelah kau menginjaknya.”
Polaris lagsung menggandeng tangan kiri pria itu, “kau harus menggantinya,” katanya sambil berjalan dan seperti menyeret pria ini, “setelan mahal yang kau kenakan, sudah pasti kau bisa mengganti rugi handphone-ku dengan yang paling mahal.” Ucap Polaris tanpa menoleh ke arah orang yang dia ajak bicara.
“Tunggu dulu..” akhirnya pria ini bersuara, “kau tak meminta persetujuanku,” ucapnya. Polaris menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pria ini. Karna pria ini lebih tinggi darinya membuatnya harus menengadahkan kepalanya untuk berbicara.
“Apa kau meminta persetujuan dariku dahulu saat menciumku tadi, Tuan!” jelas Polaris sangat marah terdengar dari nada suaranya yang sedikit meninggi dan ditekan.
Pria ini menyilangkan kedua tangannya, “Oke, jika ini urusannya dengan ciuman tadi, aku akan bertanggung jawab. Dan jika ini karena kau melihat pria yang menciummu mengenakan setelan mahal, aku juga akan bertanggung jawab atas handphone-mu. Kau puas, Nona?” ucapnya panjang lebar.
***
Pintu lift terbuka, menampakkan dua orang yang bernampilan sangat kontras, langsung menuju ke gerai gadget terbesar di pusat perbelanjaan ini. Polaris tak memperhatikan betapa orang-orang tengah memandangi mereka, atau lebih tepatnya laki-laki yang dia bawa saat ini. Yang dia tahu, dia harus segera memperoleh handphone baru saat ini juga.
“Nona, bisa tolong smartphone termahal dan tercanggih yang kalian miliki?” Tanya Polaris pada customer service di gerai ini, customer service pun malah menatap pria yang dibelakang Polaris. Polaris yang tahu akan keadaan ini pun menyadarinya, “berhenti kalian saling mempermainkan mata!” sentak Polaris, emosinya sedang tidak stabil sejak mendapatkan ciuman iblis beberapa menit tadi, “… nona cepatlah. Aku tahu pria ini sangat tampan, tapi aku sedang membutuhkan handphone sekarang,” jelas Polaris.
“Oh.. tentu saja Nona, mohon tunggu sebentar,” kata cs muda itu. “… Ini yang terbaru, nona. Keluaran dari Orange Group. Mewah dan memiliki memori penyimpanan yang besar dengan kamera depan dan belakang yang sangat jernih..” jelas cs wanita itu panjang lebar. Polaris hanya mendengarkannya dengan harapan wanita ini segera berhenti berbicara.
“Baiklah, aku hanya menginginkan yang paling mahal dan terbaru. Dia yang akan membayarnya. Bisa kau bungkuskan sekarang?” kata Polaris sambil melirik pria disampingnya.
“Kau puas?” Tanya pria itu. “Sekarang kita bahas pertanggungjawaban ciumanku tadi,” lanjut kata pria ini.
“Apa? Bagaimana kau mau bertanggungjawab?” Tanya Polaris bingung. Dia hanya tidak tahu bagaimana sebuah ciuman bisa dipertanggung jawabkan.
“Tuan muda Windsor..” panggil seorang perempuan setengah baya namun terlihat tak terlalu tua, sangat elegan. Menghampiri pria ini, dan kini Polaris tau bagaimana ia selanjutnya memanggil pria menyebalkan ini setelah mengetahui namanya dari wanita yang memanggilnya.
“Saya tak menyangka akan bertemu anda disini,” ucapnya sambil memandang Polaris untuk kemudian beralih memandang tuan muda Windsor. “Berita tentang anda sangat viral di internet,” lanjutnya dengan tersenyum.
“Saya harap anda tak salah sangka tentang pemberitaan tentang saya dan Castella di kapal itu. Hanya kebetulan bertemu,” kata tuan muda Windsor. Polaris hanya mendengarkan mereka berdua bercakap-cakap. Pria ini sangat dingin, pikinya.
Nyonya ini tersenyum, memandang tangan Polaris dan tuan muda Windsor yang saling bertautan dan saling berpandangan, “saya menyesal, Castella tidak berakhir dengan anda. Tapi, saya senang anda kini telah move on dari Castella,” ucapnya sambil memandang Polaris dengan pandangan merendahkan.
Tuan muda Windsor tersenyum kecil, “tentu saja, sejak awal kami memang tak pernah ada hubungan seperti apa yang anda kira,” ucapnya. “Perkenalkan, calon istri saya..” lanjutnya sambil memandang Polaris.
“APA???”