After I Left You

After I Left You
Cari Mati



Clara benar-benar sangat shock ketika melihat rumahnya terlahap oleh ganasnya api. Namun, hal yang membuatnya lebih shock hingga pingsan adalah ketika ia tahu bahwa ibunya mati di dalam ganasnya kobaran api tersebut.


Karena dia pingsan, ambulan langsung membawanya ke rumah sakit. Aquila menemaninya.


Selama di rumah sakit, di perjalanan dan di lokasi kebakaran. Aquila terus berfikir apakah Sylphy ada di dalam rumah itu ketika kebakaran atau tidak.


5 hari kemudian...


Clara sadar dari pingsannya, dia langsung menangis histeris ketika mendengar kabar bahwa ibunya sudah meninggal akibat kebakaran beberapa hari lalu. Aquila masih setia menunggunya di rumah sakit. Sementara ayahnya, ayahnya terus menyelidiki apa penyebab kebakaran besar itu terjadi, karena setahunya kabel-kabel listrik di rumahnya tidak pernah konslet dan tidak ada yang menyalakan api ketika malam hari.


Rumahnya yang seharga ratusan juta menghilang begitu saja dalam satu malam.


Aquila masih belum mendengar kabar dari Sylphy, dia benar-benar bersyukur ketika mendengar kabar bahwa korban kebakaran itu hanya Key saja.


Ketika Philips mendengar kabar itu, dia langsung mendatangi lokasi kebakaran tersebut, rumah yang kemarin malam dirinya lihat masih kokoh dan bagus, sudah menghilang dan hanya menyisakan beberapa puing-puing gosong.


Dia juga langsung menyelidiki ke mana Sylphy menghilang setelah kebakaran itu terjadi karena dia masih tidak mendapat kabar dari Sylphy.


Namun, dia terus menyuruh orang untuk mencari keberadaan Sylphy, entah kenapa dia benar-benar sangat kahwatir dengan keadaan Sylphy.


Di tengah-tengah kekhawatiran Philips, tiba-tiba dia harus menerima panggilan ayahnya untuk kembali ke luar negri, walau dia pergi, namun dia masih terus menyuruh orang-orang untuk mencari Sylphy.


...~Prancis~...


Hanya butuh beberapa jam saja untuk pergi dari Amerika Serikat ke Prancis mengunakan pesawat pribadi.


Setelah berada di bandara, Philips dengan segera di jemput oleh bawahan ayahnya.


Mereka langsung menuju mansion ayah Philips.


Beberapa Minggu kemudian...


Masih belum ada kabar dari Sylphy.


Philips masih berada di Prancis, namun dia tinggal di apartemen pribadi.


“Aku akan makan malam di luar, jadi jangan masak untuk ku malam ini.” Pesan Philips kepada maid yang bekerja di apartemen nya, di sana hanya ada dua maid saja.


Mereka manggut-manggut lalu membungkukkan badan mereka ketika Philips melewati mereka.


Philips ada hari ini ada pertemuan dengan seseorang.


Setelah keluar dari gedung apartemen. Philips segera berjalan ke arah parkir bawah tanah dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia segera pergi dari sana.


Beberapa saat kemudian, Philips sampai di restoran mewah yang terkenal di kota tersebut.


Tanpa lama-lama dia langsung masuk ke dalam dan mencari tempat di mana dia melakukan perjanjian pertemuan dengan seseorang tersebut.


Pelayan membawanya ke ruangan VIP dan ketika dia masuk, ternyata ada seorang pria di dalam sana.


Philips langsung duduk di kursi yang terlihat mewah itu.


Beberapa pelayan datang membawa makanan mewah dan mereka menyajikannya dengan tampilan alegan.


Philips mengambil pisau dan garpu, dia segera menusuk daging steak dengan garpu lalu memotongnya dengan pisau. Ketika dia mengangkat daging itu dan mengarahkannya ke mulutnya, tiba-tiba saja pria di seberangnya membuka suara.


“Apa kabar Philips?” Tanya pria itu sambil tersenyum melihat ke arah Philips.


Philips mendongakkan kepalanya, melihat ke arahnya tanpa ekspresi. “Kurang baik.” jawabnya lalu dia langsung memasukkan steak yang sudah dia potong ke dalam mulutnya.


“Ehh,.. ada masalah apa?”


“Orangku hilang dan sampai sekarang belum ketemu.”


“Orangmu,..? pacar mu?”


“Tch, Cris jangan bercanda! gak mungkin dia pacarku.” Jawab Philips kesal. ‘Tapi mungkin suatu hari,..’ batinnya.


Cris tersenyum. “Okay okay.. jadi, kenapa dia bisa hilang?”


Beberapa jam kemudian..


Cris memesan anggur berniat membuat Philips meminum itu agar pria itu bisa tenang karena terlihat jelas bahwa wajah Philips sedang kacau.


Namun, nyatanya malah Cris yang banyak minum hingga mabuk.


Philips langsung menghubungi supir Cris mengunakan ponsel milik Cris. Setelah Cris di jemput, tidak lama kemudian dirinya juga di jemput oleh supir karena dia minum beberapa gelas tadi, jadi lebih baik jika dia di antar pulang oleh supir saja.


“Ke apartemen.” Ujar Philips memberi arahan si supir.


Supir manggut-manggut pelan. “Okay tuan.”


Di perjalanan suasananya terasa sangat hening, Philips memijat dahinya karena terasa pusing.


Dia sejak tadi melihat ke arah jendela karena merasa bosan, lagu-lagu yang di putar oleh supir membuat dia merasa mengantuk dan ingin segera tertidur.


Namun, sesuatu membelalakkan matanya.


“STOP!” ujar Philips sambil menepuk-nepuk pundak supir beberapa kali.


Supir yang panik langsung menghentikan kemudi di pinggir jalan.


Setelah mobil berhenti, Philips segera mengambil jas nya dan langsung keluar dari mobil tersebut.


Ketika supir mencoba memperhatikan ke mana sebenarnya Philips pergi, ternyata pria itu berlari ke arah wanita yang sedang berlari di atas trotoar dengan penampilan berantakan.


Philips terus mengejar langkah wanita itu, dia memiliki insting bahwa dirinya mengenalnya.


“SYLPHY TUNGGU!!” secara otomatis mulutnya meneriaki nama yang sudah selama satu bulan tidak dirinya sebutkan.


Greep-


Akhirnya Philips berhasil menggapai pergelangan tangan wanita itu, dia segera menarik wanita itu ke arahnya dan memastikan siapa sebenarnya wanita itu.


“S-Sylphy! ternyata benar kau!” Philips langsung memeluknya erat.


Wanita itu memang benar-benar Sylphylee Creylin yang sudah menghilang selama satu bulan lebih.


Entah apa yang terjadi, namun Sylphy benar-benar terlihat sangat berantakan saat ini.


Baju gaun nya yang berwarna pink muda, adalah gaun yang terakhir kali Philips lihat ketika dia mengantar Sylphy pulang satu bulan lalu.


Namun, kini gaun itu sudah lusuh, kotor dan beberapa bagiannya robek.


Rambut Sylphy sangat berantakan, dia terlihat seperti pengemis jalanan.


Setelah beberapa saat, beberapa pria kekar muncul di belakang Philips dan salah satu dari mereka langsung mendorong Philips.


“Seettt.. sial.” desis Philips.


Dia mendongakkan kepalanya dan melihat ada beberapa orang di depannya. Awalnya dia tidak terlalu marah karena mereka mendorongnya, namun ketika matanya melihat mereka memegang Sylphy rasanya amarahnya tiba-tiba saja memuncak di ubun-ubun nya.


Matanya mengilap ganas ketika dia menatap mereka semua dengan tajam.


Suasana di sana gelap, hanya ada lampu jalanan yang memberikan cahaya redup.


“Lepasin dia.” Ucap Philips dingin.


Mereka semua diam, namun detik itu juga mereka tertawa terbahak-bahak seolah meremehkan Philips. “Hei! siapa kau yang berani dengan kami?! kau mau mati hah?!”


Bugh!


Belum sempat orang itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja bogem mentah sudah Philips berikan untuknya.


“Kalianlah yang cari mati,..”