After I Left You

After I Left You
Hutan



Pagi yang cerah secerah senyum semangat Sylphy.


Hari ini ia merasa bosan jadi dirinya memutuskan untuk lari pagi mengelilingi kawasan Vila saja.


Setelah beberapa putaran mengelilingi Vila. Akhirnya Sylphy memutuskan untuk berhenti karena sudah kelelahan untuk lari maupun berjalan.


Kini Sylphy sedang berada di bawah pohon untuk berteduh menikmati angin sejenak sebelum masuk ke dalam.


Saat Sylphy tengah memejamkan mata seraya mulutnya yang bersenandung kecil, tanpa di duga tiba-tiba saja Philips datang menemuinya.


“Ngapain?” tanya Philips.


Sylphy mendongak kan kepalanya, ia melihat Philips yang membawa buah pir di tangannya.


“Habis lari pagi.” jawab Sylphy lalu memalingkan wajah dan merenggangkan otot lehernya.


Philips berdeoh. Lalu kemudian ia duduk di sebelah Sylphy dan tanpa abah-abah dirinya langisng menyuapi pir yang sudah ia potong ke mulut Sylphy.


Sylphy sangat terkejut dengan hal itu.


“Gimana? enak gak?” tanya Philips, senyum berharap untuk di puji terpancar di wajah tampannya.


“Hmm..” jawab Sylphy.


Philips memayun kan bibirnya, rasa tidak puas terlintas di benak Philips.


“Eh btw, musim panas tinggal beberapa hari lagi.” ujar Philips sambil memakan pir yang ia pegang.


Sylphy memutarkan kepalanya, melihat ke arah Philips yang tepat berada di sebelahnya. “Iya.” jawabnya. Karena merasa tidak nyaman akibat terlalu dekat dengan Philips. Sylphy memutuskan untuk bergeser sedikit.


“Oh iya aku baru ingat,” Philips melihat ke arah Sylphy, begitu juga dengan Sylphy yang melihat ke arah nya dengan alis yang terangkat. “Setelah musim panas berakhir, kau akan kembali, bukan?” kata Philips. Bertanya untuk memastikan.


Sylphy berdehem pelan sebelum ia mengatakan. “Ya, aku akan kembali setelah musim panas selesai.” jawabnya sambil tersenyum.


Namun, senyumnya tidak di balas dengan senyuman oleh Philips. Laki-laki itu malah menyipitkan matanya dan membuat ekspresi wajah datar.


“Oh..” gumam Philips.


Sylphy yang melihat ekspresi Philips berubah menjadi bingung. Namun, ia hanya bisa menaikkan alisnya saja.


Setelah berdiam selama beberapa menit di pinggir danau sambil menikmati suara dedaunan yang di terhembus oleh angin.


Mata Sylphy hanya tertuju ke arah air yang ada di depannya. Air yang berwarna biru muda itu berhasil memikat pandangan milik Sylphy.


Namun, karena keasikan melihat ke arah air danau. Perempuan itu tidak menyadari sama sekali bahwa awan sudah berubah menjadi menjadi agak gelap, menandakan akan segera turun hujan.


“Eh, air?” gumam Philips saat menyadari beberapa bagian air danau yang bergerak mengobrak di permukaan air akibat tetesan butiran-butiran hujan yang jatuh dari awan.


Philips segera melihat ke arah Sylphy dan hendak mengajak Sylphy kembali ke Vila. Namun, Sylphy malah sudah tidak ada di sebelahnya.


Ia bergegas bangkit dari tempatnya. Menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Sylphy. Memastikan setiap sudut tanpa melewatkan satu bagian pun. Namun, faktanya Sylphy sudah tidak ada di sana.


Philips sama sekali tidak melihat keberadaan Sylphy di sana. Namun, ia melihat seorang pria yang mengenakan caping sedang berjalan santai sambil mendorong gerobak yang di isi dengan benih padi yang sudah di ikat rapi.


Philips segera mengerjai orang itu, berharap bahwa orang itu melihat Sylphy. “Permisi tuan!” ujar Philips.


Pria itu melihat ke arahnya, mencoba mengenali wajah Philips. Namun, pria itu sama sekali belum pernah melihat Philips sebelumnya. “Siapa ya?”


“Saya Philips,” jawab Philips memperkenalkan dirinya, namun wajah gelisahnya sama sekali tidak bisa ia sembunyikan.


Philips melihatnya. “Ya ya ya, jadi gini. Apa anda ngeliat cewek rambut panjang lewat sini?” tanya Philips. “Kulitnya putih, hidungnya mancung terus hidung sama pipinya merah muda gitu.” Philips menyebutkan ciri-ciri Sylphy.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Setelah ia berfikir beberapa saat, akhirnya ia mengatakan “Aku lihat! aku lihat dia pergi ke sana tadi!”


Pria itu segera menunjuk ke arah pegunungan yang jaraknya cukup jauh dari sana.


Philips mengedipkan matanya beberapa kali. ‘Gak mungkin lah! gimana bisa dia udah ke sana sementara tadi masih di sini ngeliatin danau! masa iya sih..’ batin Philips yang meragukan ucapan pria itu.


“Dia pakai baju warna coklat agak-agak putih ‘kan? dia bener-bener ke sana tadi! dia ngejer anjing, kayaknya itu anjing punya orang sini deh.” Kata pria itu lagi.


“Oke, makasih pak.” ujar Philips. Ia segera pergi meninggalkan pria itu.


Walau Philips ragu dengan ucapannya. Tapi dia akan tetap mencoba mencarinya ke sana. Toh, ini sudah hampir hujan. Akan bahaya kalau Sylphy benar-benar pergi ke hutan untuk mengejar anjing.


Karena ia malas berjalan, jadinya ia menaiki sepedanya untuk mencari Sylphy di dalam hutan.


Srak Srak Srak


Beberapa semak tumbuhan menjalar menghalangi jalan Philips. Tapi, ia tetap melewati tanaman itu dengan sepedanya.


Beberapa saat kemudian..


Tidak ada tanda-tanda manusia di sana. Philips berfikir bahwa pria itu telah membohonginya. Namun, setelah ia pikir-pikir lagi, tidak mungkin pria itu berbohong karena ia tahu baju yang Sylphy gunakan warna apa dan untuk apa juga pria itu berbohong.


Karena itu. Philips memutuskan untuk mencarinya sedikit lebih lama lagi.


Hujan akhirnya menjadi deras. Butiran-butiran air yang jatuh dari langit lumayan menganggu Philips. Suara guntur yang menggelegar juga beberapa kali membuatnya terkejut. Jadi, dia memutuskan untuk kembali saja ke Vila.


Ia berharap bahwa Sylphy sudah kembali ke Vila dan tidak ada di hutan lagi.


Tap Tap Tap


Langkah Philips menggema di Vila yang terasa sangat sunyi.


“Tuan muda? kenapa anda sangat basah kuyup seperti itu?” tanya seorang maid yang kebetulan masih berdiri di ruangan dengan beberapa maid lainnya.


Philips melihat ke arahnya. “Aku kehujanan.” jawab Philips datar. Lalu kemudian, ia ingat tentang Sylphy. “Oh ya! apa Janesiyu sudah kembali?” tanya Philips.


Mereka yang ada di sana mengangkat alis mereka.


“Bukannya dia pergi dengan anda tuan Philips?” Tanya maid A.


“Iya, aku melihat kalian pergi naik sepeda bersama tadi.” Jawab maid B.


“Apa terjadi sesuatu? apa dia hilang?” Tanya maid C yang penasaran.


Philips langsung diam seketika. Bagaikan petir yang menyambar dirinya.


‘Tungu! jadi! apa dia benar-benar masih di dalam hutan?!! apa dia masih di sana.’ batin Philips, wajahnya memucat seketika.


Karena ia yang khawatir dengan Sylphy. Jadinya ia kembali lagi ke arah pintu utama dan langsung keluar dengan terburu-buru.


Beberapa maid yang melihatnya hanya diam saja. Walau mereka sudah memanggil namanya beberapa kali. Namun, dia tidak menjawab.


‘Aku mohon, plis baik-baik saja..’ batin Philips.


Kakinya bergerak dengan cepat berlari ke arah sepeda. Lalu, ia mendayung pedal sepeda meninggalkan Vila begitu saja.