
Sylphy bingung harus menjawab apa, ia tidak bisa berkata-kata untuk menjawab pertanyaan Philips saat ini.
“Siyuu?” panggil Philips hingga berhasil membuyarkan lamunan Sylphy.
Karena Sylphy tidak menjawabnya tadi. Ia memutuskan untuk bertanya kembali. “Kamu beneran tidak mau berkencan denganku?”
“Mnh.. aku tidak.. aku tidak bisa melakukan itu denganmu.” jawab Sylphy acuh tak acuh. Ia tidak melihat ke arah Philips karena ia merasa sangat gugup apa lagi ketika melihat wajah Philips yang sampai saat ini masih mengunakan ekspresi memelas.
Philips cemberut kecewa. Ternyata ia tetap saja di tolak oleh Sylphy. Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus mundur? tapi aku sudah melakukannya sejauh ini.
Philips melirik ke arah Sylphy yang sepertinya tidak nyaman dengan dirinya. Namun ia tidak terlalu memikirkan itu karena yang ada di pikirannya saat ini bukan itu.
Ia tiba-tiba saja berdiri dari kasur dan perlahan berjalan ke arah Sylphy. Karena kaget Sylphy segara mundur. Namun, Philips malah semakin dekat dengannya.
“Phil.. Philips? ka-kamu mau ng-ngapain?” tanya Sylphy tergagap karena sudah panik memikirkan kemungkinan apa yang akan Philips lakukan kepadanya saat ini.
“Aku menyukaimu, tapi kamu tidak menyukaiku, sebesar apapun cinta yang aku berikan untukmu, setulus apapun cinta yang aku buktikan padamu, kalau kamu tidak menyukaiku, itu semua hanya sia-sia saja.” ucap Philips.
Ia mendorong Sylphy ke kasur dengan cukup kuat hingga membuat Sylphy merasa lebih kesakitan dari apa yang Philips lakukan sebelumnya.
“Auw.. sakit banget.” Sylphy merasa bahwa tangannya mungkin saja terkilir.
“Berharap setinggi awan hingga jatuh sedalam laut.” gumam Philips. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan menyukaimu sampai sebesar ini, tidak. Aku rasa aku obsesi denganmu karena tidak mungkin aku bisa sangat-sangat ingin memilikimu tidak peduli mau dengan cara apapun.” sambungnya. Ia melihat ke arah Sylphy dengan matanya yang sayup.
Keadaan kamar itu redup, masih seperti awal, hanya lampu tidur yang ada di nakas yang menerangi ruangan tersebut.
Sylphy tidak bisa melihat wajah Philips dengan jelas karena memang di sana agak gelap.
“Ka-kamu mau ngapain?” tanya Sylphy dengan pikirannya yang sudah bercabang ke mana-mana.
Philips segera menyeringai. Kali ini wajahnya terlihat jelas karena terkena pantulan cahaya lampu tidur.
“Bagaimana menurutmu? apa aku harus melakukan itu sekarang?” tanya Philips balik.
Sylphy tentu saja langsung mengeryitkan alisnya. Ia tahu betul dengan apa yang Philips maksud itu karena ia memang bukan lagi anak kecil yang polos.
“Philips kamu sudah di luar akal! aku bilang minggir kamu cepat! minggir atau aku pukul kamu!” ancam Sylphy untuk melepaskan dirinya dari masalah yang tidak terduga ini.
“Melepaskan mu?” Philips tertawa miris. “Bagaimana bisa aku melepaskan mu begitu saja setelah sejauh ini mnh?”
Tanpa abah-abah, Philips langsung menarik baju Sylphy hingga kancing baju tidurnya terbuka semua. Ia melihat badan Sylphy yang di tutupi oleh tank top.
Philips kesal karena memikirkan kenapa wanita harus memakai pakaian yang berlapis-lapis.
“PHILIPS! APA YANG KAMU LAKUKAN!!” teriak Sylphy sekencang-kencangnya karena sangking kagetnya.
Philips mengabaikan suaranya itu. Ia kembali meraih tank top Sylphy dan ingin melepaskannya juga. Namun,
Bugh!
Tiba-tiba saja ada yang memukul lehernya hingga tepat mengenai urat nya dan membuatnya jatuh pingsan secara tiba-tiba.
Sylphy terkejut setengah mati karena melihat ada orang lain di sana selain Philips. Ia segara mengambil selimut dan menutupi tubuhnya lalu mundur menjauh dari orang itu dan Philips yang pingsan.
“Astaga.. apa-apaan bocah ini? kenapa dia begitu gegabah?” Gumam orang itu sambil memegang kepala Philips yang terletak di atas kasur.
Suaranya milik seorang wanita. Namun,
“Dia terlalu antusias hahaha.” ada suara laki-laki yang menyahut dari pintu.
Taak
“Waaw hebat banget kamu tidak menangis setelah mengingat kalau kamu hampir saja di lecehkan~” wanita itu antara memuji dan menghinanya atas keberaniannya merespon tindakan Philips tadi.
Wanita itu adalah Monica sementara laki-laki itu adalah Marcel.
Sylphy terkejut ketika melihat Monica yang memukul Philips hingga bisa membuat laki-laki itu langsung pingsan di tempat.
“Ap-apa yang kamu lakukan dengan nya?” tanya Sylphy yang panik mengira bahwa Philips akan kenapa-kenapa karena pingsan akibat di pukul.
Monica melihat ke arah Sylphy dengan ekspresi yang tidak bisa di lukis kan.
“Aku ahli bela diri kuno, aku hanya memukul urat lehernya dan membuatnya pingsan, nanti dia akan bangun sendiri kok.” jawab Monica.
Sylphy yang mendengar itu hanya berdeoh saja. Ia tidak begitu mengerti tentang bela diri bela diri seperti yang Monica katakan.
Sylphy melirik ke arah Marcel yang sejak tadi melihat ke arah nya.
“Ada apa, yaa?” tanya Sylphy bingung.
Monica yang ikut menyadari bahwa Marcel memperhatikan Sylphy sejak tadi mulai menggoda Marcel.
“Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan kalau Yuiss tahu hal ini, mnh?” gumam Monica dengan seringai liciknya.
Sementara itu, Marcel yang melihat ke arahnya membuat tatapan yang sangat tajam ke arahnya.
“Tch.” Marcel memutuskan untuk keluar. Entah apa yang di pikirkan pria itu, tapi yang pasti pikirannya sangat sulit untuk di tebak.
Setelah Marcel keluar. Monica menarik Philips untuk membawa pria itu keluar dari sana.
“Oh iya, aku ada beberapa kata untukmu.” Monica menghentikan kakinya. Ia melihat ke arah Sylphy dengan seringai yang bisa membuat siapa saja merinding, tanpa terkecuali Sylphy. “Aku melakukan ini bukan karena aku menolongmu, melainkan sebaliknya.. aku menolongku.”
Dengan itu, Monica pergi dari sana meninggalkan Sylphy yang terus memunculkan tanda tanya di benak nya. Apa yang dia maksud tidak menyelamatkanku tapi menyelamatkannya? berapa kali pun Sylphy mencoba mengerti. Ia tetap tidak bisa mengerti dengan situasinya.
Keesokan paginya Sylphy selesai berkemas untuk kembali ke rumahnya. Sejak malam itu Philips tidak muncul lagi di depan wajahnya.
Mungkin dia merasa bersalah? atau dia tidak ingin bertemu denganku karena dia takut dirinya sedih? atau karena dia tidak ingin aku pergi mangkanya dia tidak muncul?
Setelah selesai berkemas. Sylphy membawa kopernya yang agak besar keluar dari kamar. Menyeret koper itu di ruangan Vila yang sangat besar. Setelah berada di lantai bahwa, ia melihat Radeus yang sepertinya menunggu dirinya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Sylphy tersenyum. “Apa kakek akan mengucapkan hati-hati untukku?”
“Janesiyu, apa kamu benar-benar ingin kembali secepat ini? padahal kita baru bertemu.” keluh Radeus.
Reyga yang ada di sana segera mengangkat bicara mengingat perjanjian mereka memang hanya sampai musim panas selesai. “Ayah, dia masih harus sekolah di kotanya, dia punya banyak urusan.”
“Eh? Sylphy, kamu masih sekolah?” tanya Radeus yang agak kaget.
“Errmm.. hehehe ya.” jawab Sylphy acuh tak acuh. Membayar biaya rumah sakit ibu saja sudah sangat susah, bagaimana mungkin aku bisa bersekolah dengan tenang mengingat Aquila harus bersekolah? semakin Sylphy memikirkannya. Ia hanya bisa membuat senyum miring miris saja di wajahnya.
“Baiklah. Tapi, bagaimanapun kamu harus berkunjung ke sini. Kamu masih bertunangan dengan Philips, kalian baik-baik saja 'kan selama ini?”
Akhirnya Radeus membicarakan hal ini. Hal yang sudah Sylphy pikirkan dari sekian lama. Ia ingin segera menjawab “Tidak, kami sebenarnya bahkan melakukan pertunangan ini karena mengikuti skema dari Reyga.”
Tapi ia tidak bisa mengatakan itu karena Reyga memberinya uang sementara Radeus sudah tua. Ia akan menyimpan masalah ini untuk selamanya setelah ia keluar dari Vila tersebut.
“Oke kakek. Kamu juga harus sehat-sehat terus, oke?” jawab Sylphy seraya tersenyum hangat. Matanya yang menutup ketika ia tersenyum memperlihatkan bulu matanya yang terlipat cantik.
Radeus mengangguk pelan. Dan setelah itu, Sylphy pergi dari sana dengan taksi karena Reyga tidak punya waktu untuk mengantar dirinya. Faktanya, orang itu sudah tidak ingin berurusan dengan Sylphy lagi.