After I Left You

After I Left You
Sesuatu Yang Aneh



Setelah duduk di depan Marcel. Sylphy hanya bisa mengigit bibirnya karena gugup akibat pertemuan terakhir mereka beberapa bulan lalu.


“Aku rasa kamu baik-baik saja karena aku pikir berat badanmu naik beberapa kilo.” Marcel mengatakan itu dengan wajahnya yang menampilkan seringai seperti mengatakan ‘Kamu tambah gemuk dan jelek’ dari sudut pandang Sylphy.


Perempuan itu hanya membalas perkataannya dengan senyum terpaksa saja.


“Ah, pasti kamu sudah lama tidak bertemu dengan Philips.”


Mendengar nama Philips. Entah bagaimana hati Sylphy terasa sesak ketika memikirkan apa yang Philips lakukan setelah ia menghilang dari hadapannya, apa ia sudah melupakannya sekarang. Semua itu Sylphy pikirkan ketika ia mengingat Philips.


“Umnh.. Aku rasa dia sibuk.” jawab Sylphy sambil memasak bibirnya untuk tersenyum.


Walau berat untuk mengangkat sudut bibirnya di saat-saat seperti ini. Namun, Sylphy tetap melakukannya agar tidak terasa canggung.


“Apa kamu tidak penasaran apa yang di lakukan nya sekarang? setelah kamu pergi, dan kenapa dia tidak mencari mu selama beberapa bulan terakhir?”


Sylphy mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Marcel dengan matanya yang menggambarkan kesedihan.


“Ehemm.. aku tidak terlalu peduli dengan itu, tapi aku punya firasat kalau dia sibuk bekerja karena memang seperti itulah dia biasanya.” jawab Sylphy sambil menggosok pelipisnya. Bibirnya yang baru saja mengatakan itu ia gigit karena entah mengapa ia merasa marah pada dirinya sendiri.


Aku tahu kalau Philips tidak akan datang kepada ku setelah aku pergi. Aku yakin, pasti banyak hal yang dia lakukan dan.. apa dia sudah punya pasangan? sepertinya begitu, tapi itu bukan urusanku sih.


“Apa yang akan kamu lakukan jika dia tiba-tiba saja muncul di depanmu?”


“Ya?”


Marcel menyeringai. “Aku bilang, apa kamu akan senang atau sedih jika bertemu secara langsung dengan Philips lagi.”


Mendengar pertanyaan Marcel hanya bisa membuat Sylphy diam tanpa kata-kata.


Kalau aku bertemu dengannya lagi? apa aku punya hak untuk bertemu dengannya lagi? apa bisa aku bertemu dengannya lagi? aku tidak yakin itu semua.. tapi, tidak bisa ku pungkiri kalau aku sangat senang jika bertemu dengan Philips lagi.


“Bagaimana jika kamu bisa berbicara, mendengar suaranya dan bertatap muka dengannya lagi.”


Dengan suara serak dan suram. Sylphy memaksakan dirinya untuk meluncurkan jawaban atas pertanyaan sopan Marcel.


“Aku sudah tenang dengan hidupku yang seperti ini, aku tidak peduli jika Philips akan datang lagi atau tidak.” dengan raut wajah dan suara yang di buat acuh tak acuh. Sylphy akhirnya bisa menyakinkan Marcel kalau ia tidak begitu peduli dengan keberadaan Philips. Walau nyatanya, ia sangat peduli.


Marcel awalnya terdiam, tersentak dan seperti tidak memiliki kata-kata lagi untuk berbicara dengan Sylphy. Namun kemudian, ia tersenyum seperti biasanya.


“Baiklah, Baiklah~ ternyata kamu bisa semudah itu move on dari Philips, aku yakin dia pasti akan sedih kalau mendengar ini.”


Sylphy tidak menjawab perkataannya lagi seperti tadi. Pikirannya kacau ketika harus memikirkan Philips lagi, perkataan-perkataan yang sudah lama ia lupakan tiba-tiba saja muncul di pikirannya dan, itu membuatnya merasa sangat sedih secara tiba-tiba.


...***...


Setelah beberapa obrolan membosankan berikutnya. Sylphy pulang bersama supirnya dan meninggalkan Marcel begitu saja bagaikan putusnya benang yang tidak akan pernah menyatu kembali. Setelah membicarakan tentang Philips, Sylphy terus saja menunjukkan ekspresi dingin dan acuh tak acuh nya kepada Marcel, ia bahkan hanya menjawab sepatah dua kata saja dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus Marcel tanyakan padanya.


“Oh astaga, anak itu benar-benar berubah, aku yakin kalau dulu dia masih sangat lugu dan polos..” Marcel menyeringai ketika ingatan tentang Sylphy yang dulu dan yang sekarang tercampur di pikirannya. “...benar bukan, Philips?”


Sejak tadi, pria itu sudah ada di ruangan tersebut. Ia bersembunyi di tempat yang pastinya tidak bisa di lihat oleh Sylphy kalau ia ada di sana.


Wajah Philips lumayan berubah. Sejak perpisahannya dengan Sylphy untuk beberapa bulan, sepatunya ia jadi lebih besar dan tampan.


“Aku kecewa dengannya, tapi aku juga senang karena dia tidak sedih karena ku.” ujar Philips sambil meletakkan perlahan bokongnya di sofa yang bersebrangan dengan milik Marcel.


Marcel terkekeh pelan. “Ahaha, sangat lucu kalau kamu bisa move on juga darinya.”


Philips mengubah ekspresi nya, ekspresi nya jadi lebih santai. “Sejak awal aku tidak suka dengannya. Hanya Philips yang dulu yang menyukainya, aku tidak seperti itu.” jawab Philips.


“Kamu sangat kejam, tidak heran banyak yang memusuhi mu akhir-akhir ini ahaha.”


“Siapa yang berani melakukan itu padaku.”


“Tentu saja para Moriarty dan beberapa orang pengikut mereka~” jawab Marcel dengan senyum dan kekeh yang tampak dingin.


Philips mengubah ekspresi nya lagi. Kini ia menjadi datar dengan ekspresi dingin yang tampak sangat menyeramkan. Sangat beruntung jika seseorang yang berbicara padanya saat itu masih bisa bernafas. Dan tentu saja orangnya hanya Marcel seorang.


“Apa yang akan kamu lakukan dengan mereka? sepertinya mereka semakin hari semakin kuat.” sambung Marcel kembali bertanya.


Philips menumpuk kedua tangannya lalu meletakkan telapak tangannya di atas kakinya yang menyilang.


“Aku akan memikirkannya nanti, pertama-tama aku ingin mencari Dorothy terlebih dahulu.”


Marcel mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kemudian seringai licik mendadak muncul di wajahnya.


“Ahaa.. sudah lama aku tidak melihatnya, kenapa kamu mencarinya? apa kamu akan menikahinya setelah move on dari Sylphy?” pertanyaan Marcel sedikit menggoda. Tapi, Philips ketika masih SMA pernah berkata kalau ia akan menikahi Dorothy di masa depan sebagai balasan atas kebaikan Dorothy kepadanya ketika mereka masih menjadi anak SMA.


Philips menatap Marcel tajam. “Jangan konyol.”


“Ahaha oke, oke.. jadi apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? kenapa kamu mencarinya? sekarang?”


“Aku sudah tahu.”


Wajah Philips terlihat kesal. Tampak wajahnya yang awalnya biasa saja menjadi merah, mungkin apa yang ada di pikirannya benar-benar membuatnya kesal.


Sebelumnya, Philips tidak pernah terlihat kesal seperti itu sejak terakhir kali di SMA ketika ia memutuskan hubungannya dengan Dorothy atas beberapa alasan.


Marcel yang menyadari kalau amarah Philips sudah sampai di ubun-ubun segera membuka pembicaraan baru.


“Ngomong-ngomong, proyek mengenai taman hiburan yang akan di bangun di London akan segera di kerjakan. Aku akan menjadi donatur di sana kalau lokasi nya bagus, aku akan ke sana nanti.”


“Apa kamu sibuk?” tanya Philips setelah wajahnya kembali stabil dari warnah merah barusan.


“Ya, aku sangat sibuk.”