After I Left You

After I Left You
Aku Sungguh Naif



Alasan kenapa Philips mengejar-ngejar Sylphy sampai sekarang adalah, karena dia mendapatkan sesuatu dari perempuan itu.


Di kejadian ketika Philips menyelamatkan Sylphy dari mobil yang ugal-ugalan di gang belakang cafe, pada saat itu ketika Philips mendorong Sylphy dia melihat sebuah bayangan yang di duga mungkin bisa jadi itu adalah ingatannya.


Yahh..


Philips hilang ingatan sejak beberapa tahun lalu.


Yang dia ingat hanyalah, ketika dia membuka matanya, dia sudah berada di Amerika.


Masih belum di ketahui apa penyebab dia amnesia. Tapi, keluarganya punya firasat dia hilang ingatan karena shock akibat kakeknya yang meninggalkan nya, kakeknya mati beberapa tahun lalu.


Ketika Philips dapat melihat bayangan masa lalu nya, dia hanya dapat melihat wanita yang tersenyum ke arahnya di pinggir danau. Namun, sayangnya dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.


Karena itu, dia terus mengejar Sylphy dan ingin mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu. Tapi, sekarang Sylphy malah menghilang darinya.


7 tahun lalu..


Seperti biasa, ketika pagi Sylphy membawa Radeus mengelilingi halaman Vila besar tersebut. Ketika matahari sudah naik ke atas, mereka duduk di bawah pohon besar yang ada di depan Vila sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


Ketika Radeus dan Sylphy sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja seseorang mendatangi mereka berdua. Dia adalah anak Radeus yang membawa Sylphy ke sana, Reyga.


“Ayo masuk.” Ajak Radeus sambil tersenyum.


Reyga membalas senyumnya lalu dia melangkah menuju arah Vila mengikuti Radeus dan Sylphy dari belakang.


Sudah lama sejak terakhir kali Sylphy melihat wajah Reyga.


Karena tuan Radeus mengatakan ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Reyga, jadinya Sylphy pun pergi mencari udara keluar vila sendirian.


Ia kembali duduk di bawah pohon sambil bersenandung untuk menghilangkan rasa bosannya.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba Reyga datang ke sana. “Aku ingin bicara denganmu.” Ucap Reyga. “Aku rasa di sini aja bukan masalah karena tidak ada orang.” Sambungnya.


Reyga berdiri tidak jauh dari Sylphy yang duduk di kursi. “Aku yakin, cepat atau lambat ayahku pasti akan membicarakan soal pernikahan.” Sylphy menaikkan alisnya tanda ia bingung. “Aku rasa ayahku suka denganmu jadinya dia pasti nanti akan menjodohkan mu dengan anak ku!”


“Anak anda?”


“Ya, dia ada di luar negri sekarang karena studinya.” Jawab Reyga. “Aku mau kau jangan langsung menolaknya dan jangan langsung menerimanya, ulur waktu lebih lama karena aku tidak mau anakku pulang ke sini hanya karena hal ini.”


Sylphy manggut-manggut pelan. “Ya.”


Setelah itu Reyga masuk kembali dan kemudian dia keluar lalu masuk ke mobil nya dan pergi dari Vila tersebut.


Beberapa hari kemudian..


Seperti biasanya, Sylphy mengajak Radeus mengelilingi lingkungan Vila dengan Sylphy yang mendorong kursi roda Radeus sambil mengobrol dan tertawa bahagia.


Mereka sudah sangat akrab sekarang.


Namun, tawa mereka seketika menjadi keadaan hening setelah Radeus berbicara.


“Sylphy.”


“Ya, kakek?”


“Apa kau mau menikah dengan cucuku?”


Yahh.. akhirnya pertanyaan ini datang juga, padahal Sylphy belum menyiapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Radeus.


Ia sama sekali tidak tega untuk menolak perkataan Radeus, tapi tentunya dia juga tidak mau menerima apa yang Radeus tawarkan kepadanya.


“Eung..”


Sylphy menggodok leher belakangnya, mencoba meredakan rasa tegangnya.


“Kau mau menolaknya? ah yah! aku punya fotonya! dia benar-benar anak yang baik dan juga tampan, tapi sayangnya dia saat ini sedang studi mangkanya dia tidak di sini.”


Radeus tiba-tiba saja merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar foto, seolah dia sudah menyiapkan itu sebelumnya.


Radeus langsung memberikan selembar foto itu kepada Sylphy dan tanpa pikir Sylphy langisng menerima nya.


Pria dengan mata coklat yang mengilap karena pancaran matahari, rambutnya berwarna coklat dan kulitnya yang sepucat mayat. Cucu Radeus yang ada di foto benar-benar terlihat hanya seperti lukisan saja.


Sylphy diam sejenak, mencoba memperhatikan wajah sempurna tersebut beberapa detik.


Sylphy hanya diam, dia bimbang harus menjawab apa, faktanya dia tidak mau membuat Radeus kecewa dengannya, namun hatinya juga tidak mau di kecewakan oleh dirinya.


“Ahh.. aku akan memikirkan nya dulu kek.” jawab Sylphy dengan nada acuh tak acuh.


Terlihat wajah Radeus yang keriput memancarkan ekspresi kekecewaan menatap Sylphy. Radeus menghela nafas. “Yahh.. baiklah, aku harap jawabanmu sesuai dengan ekspektasi ku.”


Setelah itu mereka kembali mengobrol ringan seperti biasanya, membicarakan apa saja yang bisa membuat suasana di antara mereka tidak akan hening. Namun, di antara mereka, mereka lebih sering menceritakan kisah nenek Janesiyu yang sudah meninggal.


Setelah cukup lama, akhirnya Radeus meminta untuk masuk ke dalam Vila.


“Sylphy mandilah, nanti turun untuk makan malam bersama.” Perintah Radeus setelah mereka berada di ruang tamu Vila.


“Ah, okay.”


Sylphy langsung pergi dari sana menuju ke kamarnya.


Ceklek-


Ia memutar gagang pintu kamarnya dan perlahan ia membuka pintu lalu masuk ke dalam dengan irama langkah yang pelan.


Langkahnya sangat pelan sampai-sampai decitan dari alas kaki yang ia gunakan pun tidak bisa di dengar dengan jelas, bagaikan ia tidak sungguh-sungguh menginjak lantai.


Malamnya..


Hari ini maid yang bertugas untuk memasak makanan di vila memasakkan makanan kesukaan Radeus.


Radeus memakan makanan favorit nya dengan lahap dan bahagia.


“Ayo ambil lagi Sylphy, kau harus makan banyak! akhir-akhir ini aku merasa kau terlihat kurus!”


“Ya kakek.. makasih.”


Rasanya seperti keluarga yang hangat. Egois jika Sylphy mengatakan ini. Tapi, sungguh dia berharap semua ini tidak akan pernah berakhir.


‘Aku sungguh naif.’


Setelah selesai makan, akhirnya Sylphy bisa masuk ke kamarnya dan beristirahat setelah satu hari yang menyenangkan namun melelahkan.


“Bagaimana kabar mereka?” gumam Sylphy sebelum benar-benar tidur.


Ia menyipitkan matanya dan melengkungkan bibirnya. “Hanya tersisa 2 bulan lagi..”


Ia memejamkan matanya perlahan.


Pagi berikutnya..


Hari ini Reyga datang menjenguk Radeus. Seperti biasanya, ia hanya berbicara berdua saja dengan Radeus.


Setelah beberapa saat, barulah dia akan berbicara dengan Sylphy secara rahasia.


“Apa dia sudah bertanya?”


“Ya.”


“Apa yang kau jawab?” nadanya terdengar menyelidiki.


“Aku bilang aku akan menjawabnya nanti..”


Reyga menghela nafas. Matanya menyipit menatap Sylphy. “Aku harap kau bisa memainkan peranmu dengan benar.”


Sylphy diam sejenak, setelahnya ia membuka mulutnya. “Ya.” jawabnya acuh tak acuh.


Dia bukanlah tipe orang yang bimbang, namun kali ini entah bagaimana.itulah yang terjadi padanya.


“Okay, aku akan pergi.” Reyga segera bangkit dari sofa. “Ah, yah. Ibumu sudah mulai membaik.”


Sylphy tersentak. “B-benarkah?”


“Ya, tapi dokter bilang dia masih harus tetap di awasi dengan baik.”


Mata Sylphy menyipit, perlahan ujung bibirnya mengangkat. “Syukurlah..”