
Radeus tidak sengaja melihat Philips yang terburu-buru keluar dari rumah.
Karena ia khawatir dengan keadaan Philips. Jadinya ia menyuruh beberapa bodyguard untuk segera menyusul Philips.
Setelah sampai di hutan, hujan semakin turun dengan sangat lebat.
Philips terus menelusuri hutan untuk mencari Sylphy. Beberapa bodyguard yang datang ke sana juga membantu Philips setelah mendengar cerita singkat dari laki-laki itu.
Srak Srak Srak
Semak belukar terus Philips terobos. Walau beberapa bagian kulit nya terluka karena terkena semak-semak, namun itu sama sekali bukan halangan baginya untuk mencari keberadaan Sylphy.
Flash back off..
Karena sudah tidak tahan lagi. Akhirnya ia menjatuhkan butir-butir air matanya. Air matanya yang hangat membasahi pipi dan wajahnya.
Philips yang melihat itu tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak membuat ekspresi apapun ketika melihat Sylphy menangis.
“Tch.”
Brugh
Karena sudah bosan. Akhirnya Philips melepaskan Sylphy. Namun, ia melempar Sylphy ke lantai dengan cukup keras.
“Hikss.. hikss..” Isak Sylphy.
Philips menatapnya dengan ekspresi datar. Kemudian ia mengatakan, “Noah apa ada jadwal?” tanyanya pada Noah sang sekertaris barunya yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
Noah agak terkejut lalu kemudian ia menampakkan dirinya di depan Sylphy dan Philips. “Emm.. yah, Miss Mcgee sudah menunggu anda di restoran selama 15 menit. Jika anda memutuskan untuk menemuinya, aku akan membatalkan jadwal berikutnya..”
“Baiklah. Baiklah. Aku mengerti. Aku akan segera ke sana.” kata Philips memotong perkataan Noah.
Ia segera mengambil jas nya lalu memakainya sambil berjalan keluar pintu rumah kerjanya.
Noah yang melihat Philips sudah keluar langsung mengikutinya juga dari belakang.
Noah masih muda. Ia baru lulus dari kuliah nya dan pekerjaannya sebagai sekertaris Philips adalah yang pertama baginya.
Setelah mereka berdua keluar. Sylphy segera menyeka air matanya. Ia segara berdiri lalu cepat-cepat keluar dari ruangan tersebut.
...***...
Restauran Qnbeck
Restoran ini adalah pencaharian utama di as. Restoran yang mewah ini hanya menerima 25 tamu saja setiap harinya.
Sangat terbatas. Maka dari itu perlu membuat janji dulu sebelum makan di restoran itu.
Karena Philips orang yang terpandang di sana. Jadinya ia tidak perlu terlalu repot untuk membuat janji dengan pemilik restoran.
Setelah Noah memarkirkan mobil di parkiran bahwa tanah. Keduanya segera memasuki gedung Restoran tersebut dan lekas mencari keberadaan Miss Mcgee.
“Maaf membuatmu menunggu lama.” ujar Philips setelah duduk di kursi yang di depannya berada seorang wanita.
Wanita itu sangat cantik. Wajahnya sangat feminim. Dress merah yang ia gunakan benar-benar membuat kesal elegan yang melekat pada dirinya. Tidak lain, dia adalah Miss Mcgee.
“Tch.” dia berdecih membalas perkataan Philips.
Setelah duduk beberapa saat sambil mengobrol. Akhirnya makanan pun datang menghampiri meja mereka.
“Btw.. kenapa akhir-akhir ini nomor mu susah untuk di hubungi? aku sudah bilang kepada sekertaris mu untuk segara mempertemukan ku denganku, tapi dia bilang kau sangat sibuk.” Kata Mcgee dengan mulutnya yang masih di isi oleh makanan.
Philips diam sejak. Ia mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Mcgee. Ia tersenyum. “Kalau makan ya makan dulu.”
Mcgee tersenyum kecil. “Sialan satu ini!” tiba-tiba wajahnya kembali datar lalu melanjutkan makannya tanpa menunjukkan sifat elegan lagi.
Philips masih mempertahankan senyumnya. Ia mengambil gelas anggur dan mengguncangnya pelan.
“Oh btw, kau sudah dengar tentang Loid yang mati karena di bunuh?” tanya Mcgee tiba-tiba.
“Hmm..”
Walau sekedar deheman sederhana. Namun, Mcgee sudah tahu pasti jawabannya bahwa Philips sudah tahu.
“Jadi, siapa menurutmu yang akan bergerak membunuh orang seperti dia?” tanya wanita itu lagi.
Philips diam sejenak. Ia mengundang gelas anggurnya sambil terlihat berfikir. Kemudian, matanya yang menyipit melirik ke arah Mcgee dengan seringai di bibirnya. “Tentu aku tak akan tahu, bagaimana mungkin aku tahu di saat polisi saja tidak tahu siapa pelakunya.”
Mcgee menjadi datar. “Benar juga, bodoh nya aku bertanya denganmu.” ia melanjutkan kembali makannya.
Beberapa saat kemudian..
Setelah selesai makan. Mcgee langsung menyuruh pelayan untuk membersihkan meja dan mengantarkan hidangan pencuci mulut.
Sambil memakan hidangan penutup, mereka berbincang tentang banyak hal.
“Hmm.. aku kasihan dengannya.” Gumam Mcgee, ia memegang dagunya sambil melihat ke arah Philips. “Ibunya mati, paman dan bibirnya mati, sepupunya mati lalu adiknya di bawa oleh ayah mereka Agam... dan sekarang dia sedang berada di tempat mu, di tempat yang seharusnya ia hindari.”
“Kalau dia menghindari ku akan ku pastikan belenggu ada di kaki, tangan dan lehernya.” sahut Philips.
Mcgee menyipitkan matanya. Kemudian ia menghela nafas lalu menaikkan bahunya. “Yahh~ aku hanya berharap ingatan mu seharusnya tak kembali secepat ini, biar bagaimanapun aku kasihan kepadanya.” kata Mcgee seraya memejamkan matanya.
Philips hanya diam saja.
Tap Tap Tap
Langkah kaki mendekati meja mereka berdua. Mereka mengira bahwa itu orang lewat atau pelayan. Namun, orang itu malah tiba-tiba berdiri di dekat meja mereka. Karena penasaran, jadinya mereka mendongak dan melihatnya.
“Selamat malam.” sapa orang itu. Ia adalah seorang pria yang terlihat tampan, bahunya sangga lebar.
Philips menyipitkan matanya saat sudah mengenal wajah itu. Sementara orang itu dan Mcgee saling berbalas senyum.
“Kenapa ku di sini?” tanya Mcgee seraya tersenyum.
“Aku kebetulan ada janji dengan klien di restoran ini.” jawabnya ramah.
“Oh.” jawab Mcgee. Kemudian, mereka mengobrol lagi lalu, akhirnya orang itu akan pergi meninggalkan mereka karena sekertarisnya sudah memanggil dirinya. “Sampai jumpa.” kata Mcgee sambil melambaikan tangan dan tersenyum kepada orang itu.
Tap Tap Tap
Pria itu pergi meninggalkan mereka dengan wajah tersenyum. Namun, ketika ia telah berbelok di lorong. Senyumnya menghilang menjadi seringai.
“Kau tahu dia siapa?” tanya Philips, matanya menyipit dan menatap tajam.ke arah Mcgee.
Wanita itu menaikkan bahunya seraya menaikkan ujung bibir kirinya yang berhasil membuat seringai. “Tentu saja, dia Earl Moriarty, siapa yang tak kenal dengannya?” jawab Mcgee tanpa ragu.
“Bukan itu maksudku.” Philips menghela nafas, ia memijat dahinya pelan. “Apa kau tak tahu rumor tentangnya? aku ingat beberapa tahun lalu dia masuk ke dalam rumor, padahal umurnya masih muda saat itu.” sambung Philips.
Mcgee berfikir sejenak. Kemudian ia menepuk tangannya satu kali. “Oh benar! aku hampir lupa karen semuanya sudah melupakannya, aku bahkan sudah lupa.” Jawab Mcgee. Kemudian, ia melihat ke arah Philips. “Kenapa kau bisa mengingatnya?”
“Entahlah, aku rasa karena ingatanku sudah kembali.” Jawab Philips.
Mcgee menyeringai lagi. “Yah~ berterima kasih kepada Sylphy yang telah memulihkan ingatanmu.”