
Setelah bis berhenti di status kereta. Sylphy segera buru-buru pergi dari sana agar Nessy tidak mengikutinya lagi.
Dreett Drett
Dering ponsel Sylphy terdengar. Ponsel yang ia taruh di sakunya terasa bergetar, tanpa ragu ia langsung mengambil ponselnya dan tanpa melihat nama pemanggil ia langsung saja mengangkatnya.
[Sylphy! kau di mana?!!!] pekik wanita dari sebrang telepon.
Sylphy yang sudah tahu siapa pemilik suara itu hanya bisa menghela nafas frustasi saja. “Aku ada di stasiun bus. Ada apa?” jawab Sylphy lalu kembali bertanya.
[Sylphy!!! oh my!! Gery dia dia dia!!!]
Sylphy benar-benar sudah muak mendengar nama Gery yang keluar dari mulut Bella. Setiap hari perempuan itu hanya membicarakan Gery Gery dan Gery saja.
[Tadi aku lihat live streaming Gery dan dia bilang katanya akan ada acara festival Minggu depan!!]
“Aku tahu itu, emangnya apa yang menarik dari festival?” ujar Sylphy.
[Jadi.. dia.. DIA AKAN BAWA LAGU BARUNYA DI ACARA ITU!!! GILA GILA GILA!! KITA WAJIB DATENG NIH!!] kata Bella yang sudah sanga antusias dan tidak sabar menantikan hari festival musim panas.
Sylphy tersenyum paksa. ‘Sebenernya cowok itu pakai pelet model apa sih untuk cewek satu ini? aku muak dan pengen muntah denger cerita dia.’ batin Sylphy.
Langit yang berwarna jingga tidak memberikan hembusan angin sedikitpun. Rasanya sangat gerah di bawah awan yang berwarna jingga itu. Sylphy benar-benar ingin segera kembali dan berendam di bak air yang dingin sambil meminum es.
“Kau aja lah ya yang datang, aku kayaknya gak punya waktu deh.. aku harus siap-siap buat ujian, aku harus belajar.”
Bella yang mendengar jawaban Sylphy tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat. Kemudian, [Oh, oke lah. Semangat belajarnya, aku matiin ya bye]
Dan akhirnya sambungan telepon terputus.
Sylphy harus berjalan beberapa meter lagi untuk bisa sampai di rumah nya.
Sylphy berjalan beberapa langkah. Matanya melihat ada sebuah gang kecil yang kemungkinan hanya sebesar satu meter saja. Di tengah-tengah gang itu terdapat beberapa orang yang sedang beradu argumen.
Karena menurut Sylphy itu bukan urusannya. Jadinya ia hendak melanjutkan kembali langkahnya. Namun,
“Aku tak akan membiarkan kalian menyentuhnya!”
Suara yang terdengar familiar bagi Sylphy tiba-tiba terdengar olehnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menyelidiki apakah ada orang yang dirinya kenal atau tidak di antara beberapa orang tersebut.
“Kami tak ada urusan denganmu! lebih baik kau pergi karena ini urusanku dengan anak itu!”
Sepertinya orang yang terasa familiar itu hanya membantu di sana.
“Kalau kalian mau mendekati dia, langkahi dulu mayat ku!” lawannya.
Dengan itu, keadaan menjadi semakin mencekam.
“Oke, itu yang kau minta? awas, jangan menyesal!”
Bugh
Bugh
Bugh
Mereka adu pukul. Ada banyak orang yang memukuli si pahlawan itu.
Di sisi belakang mereka. Terlihat anak perempuan yang masih muda. Umurnya mungkin antara 10.12 tahun.
Anak itu masih mengunakan pakaian sekolah dasar.
Sylphy melirik ke arah anak itu. Matanya bersinar ketika matahari sore menyorot ke arahnya. Ia meneliti anak itu dan secara alami akhirnya ia mengenal siapa gadis kecil itu.
‘Bukannya itu Eva? kenapa dia di sini? dan, siapa yang menyelamatkannya? kenapa dia bisa bertemu orang jahat?.’ Pikiran Sylphy terus berjalan meninggalkan tanda tanya yang begitu banyak di pundaknya.
Setelah beberapa saat. Sangat mengejutkan bahwa satu orang bisa melawan lima orang yang tubuhnya lebih besar darinya.
Setelah lima orang itu tumbang. Penyelamat dan gadis kecil yang bernama Eva itu langsung pergi meninggalkan mereka. Sepertinya si penyelamat sudah kehabisan tenaga jika harus meladeni mereka lagi.
Sylphy yang penasaran dengan nama si penyelamat itu juga mengikuti mereka berlari.
Setelah jauh dari tempat perkelahian. Akhirnya Eva dan penyelamatnya berhenti di depan supermarket, mereka merasa bahwa akan aman di sana karena tidak mungkin para penjahat akan membuat keributan di supermarket yang berada di persimpangan lampu merah. Kebetulan di sana ada polisi yang mengatur lalu lintas sore.
“Kamu gak papa kan va?” tanya orang itu. Ia langsung meneliti tubuh Eva untuk memastikan apakah ada luka yang tertinggal atau tidak.
Tapi sialnya, orang yang menolongnya sangat tidak peka. Maka itu orang itu percaya dengan apa yang Eva bilang.
“Hey kalian!!” teriak Sylphy setelah melihat Eva dan penyelamatnya.
Eva menaik kan alisnya. Berusaha mengingat apakah dia pernah melihat Sylphy sebelumnya atau tidak.
Setelah Sylphy sampai di dekat mereka. Ia langsung berjongkok untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sejujurnya, Sylphy tidak bisa berlari. Faktanya dia tidak pernah mau berlari.
Orang yang membantu Eva terkejut ketika sudah mengenali wajah Sylphy, begitu juga sebaliknya dengan Sylphy.
“GERY?!”
“YANG TADI SIANG?!!”
Teriak keduanya sambil menunjuk satu sama lain. Gery tidak mengenal Sylphy karena mereka memang tidak pernah berbicara sebelumnya.
“Kalian saling kenal? teman? sahabat? atau pacaran?” tanya Eva. Gadis kecil itu membuat seringai menggoda.
“Ha?” Sylphy mengerjapkan matanya.
“Stt.. pacar apaan sih! temen aja enggak, lah gini mau di bilang pacar.” Sarkas Gery dengan wajah kesal.
Eva tertawa kecil hingga membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Kemudian, belum bisa di hitung satu menit namun sebuah mobil hitam menghampiri mereka.
“Nona kecil! apa anda oke?!” Teriak orang yang baru keluar dari mobil. Orang itu-pria langsung lari mendekati Eva dan yang lainnya.
“Mmh..” jawab Eva. Supirnya tahu apa yang Eva jawab. Maka dari itu ia dengan segera langsung menggendong Eva.
“Terima kasih karena sudah membantu nona kami, kami akan mengundang kalian untuk makan malam bersama nantinya untuk ucapan terima kasih!” Ujar pria itu. Ia segera memasukkan Eva ke dalam mobil.
Pria itu terlihat dekat dengan Eva, maka dari itu Eva bersedia di gendong oleh nya.
Gery dan Sylphy terdiam. Keduanya tersenyum canggung.
“Ha ha ha.. tak perlu~” kata Gery dan Sylphy bersamaan. Keduanya tersenyum sambil melambaikan tangan karena pria itu sudah siap untuk menginjak gas mobilnya.
Pria itu awalnya dia. Namun kemudian, ia tersenyum. “Okelah.”
Setelahnya. Ia menyalakan mobil dan menutup kaca jendela. Kemudian, dia langsung pergi dari sana.
Sylphy tersenyum kecil sambil melambaikan tangan.
“Oh ya.” kata Gery. Sylphy langsung melihat ke arahnya dengan wajah penuh selidik dan tanya. “Kenapa bisa di sini?” tanya Gery.
“Kebetulan lewat.” jawab Sylphy cuek.
Kemudian ia berbalik dari Gery lalu melangkah pergi dari sana. Namun, tidak diduga sama sekali bahwa Gery akan mengejar dirinya.
“Eee.. beneran? di mana rumahmu?” tanya Gery lagi.
Sylphy merasa terganggu kali ini. Sejujurnya ia bukanlah orang yang suka membicarakan keluarganya di depan orang yang kenal maupun tidak kenal.
“Di dekat sini.” jawabnya lagi cuek.
Gery yang merasa bahwa kecuekan Sylphy menandakan ketidak kesukaan kepada dirinya. Akhirnya ia memutuskan untuk diam saja.
“Sylphy.” panggil seorang pria. Suaranya terdengar familiar bagi Sylphy.
Perempuan itu berbalik untuk memastikan siapa yang bicara barusan. “Oh? Uncle? kenapa bisa di sini?” tanya Sylphy. Ia benar-benar mengenali orang yang memanggilnya tadi.
“Syukurlah.. aku pikir kau di culik atau apalah karena kau tidak ada di sekolah saat aku datang ke sana tadi.” Orang itu langsung meraih tangan Sylphy seraya melihat ke wajah perempuan itu. “Apa terjadi sesuatu?” tanya nya dengan wajah khawatir. Sylphy agak terkejut karena baru kali ini ia melihat wajah pamannya yang khawatir.
“Emm... enggak ada apa-apa. Yaudah ayo pulang.” Jawab Sylphy lalu menarik tangan pamannya dan melangkah pergi dari sana. Tapi, tiba-tiba ia ingat bahwa dirinya berjalan di depan Gery tadi. Jadinya, ia menoleh untuk melihat Gery. Tapi sayangnya, Gery sudah tidak ada di sana. “Eh? ke mana dia?” Gumam Sylphy.
“Siapa?” tanya pamannya.
Sylphy tersentak ketika tiba-tiba saja wajah pamannya ada di depan wajahnya. “Ahh.. bukan apa-apa.” jawabnya.
Setelahnya mereka langsung melangkah ke arah mobil paman Sylphy dan langsung pergi dari sana.
“Earl..” Ternyata. Gery belum pergi dari sana. “...Earl Moriarty?” dia hanya bersembunyi di balik pohon besar yang kebetulan berada di sana.
Earl Moriarty adalah paman Sylphy? kenapa bisa begini?