After I Left You

After I Left You
Kisah Tahun 1997 lalu



Beberapa hari kemudian..


Setelah hari di mana Monica menginap di Vila Radeus. Wanita itu jadi sering datang ke Vila dengan alasan ingin bertemu dengan Philips.


Awalnya Radeus memang hanya diam saja dengan tingkah Monica. Tapi kemudian, ia membatasi Monica untuk bertemu dengan Philips.


Biar bagaimanapun, Radeus menganggap Monica dan Philips benar-benar memiliki ikatan sebagai tunangan yang terikat satu sama lain.


Oleh karena itu. Monica kini datang untuk bertemu dengan Sylphy.


Ketika mereka hanya berdua atau bersama. Sylphy tidak banyak pikir, kalau pun dia berfikir. Dia hanya akan memikirkan yang baik-baik saja.


Itu adalah kewaspadaannya terhadap Monica.


Di antara mereka tidak ada perkelahian atau perdebatan sama sekali. Namun, tentunya keduanya memiliki rasa tersimpan masing-masing.


Entah itu, kebencian, kecemburuan, keegoisan, kemurahan hati ataupun keiri dan dengkian.


Monica terlahir sebagai anak pemilik ternak sapi. Walaupun begitu, tapi uang keluarga mereka sangat banyak.


“Janesiyu? apa yang sejak tadi kau pikirkan? aku merasa wajahmu terlihat gelisah.” Tanya Monica sambil tersenyum ramah.


Senyumnya benar-benar terlihat palsu. “Gak ada.” Jawab Monica cuek.


Monica tersenyum. “Baiklah..” Kemudian ia memakan kue ringan buatan para maid. ‘Apa dia jadi waspada karena aku bilang kalau aku adalah Esper? tapi aku kan cuman bercanda. Gak mungkin ada Esper di dunia ini.’ Pikir Monica.


Monica melihat ke arah Sylphy. Ia memperhatikan Sylphy yang berfokus kepada buku yang sedang wanita itu baca.


“Buku apa itu?”


Sylphy mengalihkan pandangannya kepada Monica. “Kisah Tahun 1997 lalu. Ini kisah Detektif terkenal di London.” jawab Sylphy lalu ia menunjukkan sampul bukunya kepada Monica.


“Detektif London? Tahun 1997 yaa..” Gumam Monica. Setelah melihat sampul lebih jelas, akhirnya ia mengingat sesuatu. “Ah! bukannya itu kisah tentang Maverick Lucas Smithy?”


Sylphy menjentikkan jarinya. “Bingo.”


“Eh? kau baru baca ceritanya? aku udah baca ceritanya sejak lama. Pokoknya aku ngeship banget sama Verik karena dia ganteng banget!! aku suka lihat bola matanya yang berwarna biru dan rambutnya yang berwarna pirang! dia kelihatan cantik pokoknya!!” Ujar Monica terus memberitahu betapa kagumnya dia dengan Maverick Lucas Smithy sang detektif terkenal itu.


Dia mengatakan semua yang ia pikirkan. Sampai-sampai dia lupa bahwa mereka tidak sedekat itu, bahkan untuk di katakan teman saja mereka tidak bisa.


Mengenai detektif Maverick Lucas Smithy. Pada mulanya, dia adalah orang yang sangat jenius dan berbakat dalam memecahkan teka-teki.


Dia berasal dari keluarga bangsawan yang cukup terkenal. Ayahnya adalah Letnan militer London, dan hidup mereka sangat damai dan tentram.


Namun, ayahnya harus mati mengenaskan karena di bunuh oleh Jendral Militer. Awalnya semua orang tidak bisa memecahkan misteri ini, namun karena kecerdasan yang Maverick miliki. Akhirnya misteri tentang kematian ayahnya terpecahkan walau memang membutuhkan 3 bulan lamanya.


Wajar saja, karena saat itu dia masih berusia 7 tahun.


Sejak hari itu, semua orang memuji kecerdasan yang ia miliki.


Sejak usianya 23 tahun, ia sudah bekerja sebagai detektif dan namanya sebagai Maverick Lucas Smithy terus berkembang sebagai Detektif paling jenius dalam sejarah.


Namannya terus dikenang hingga sekarang, bahkan seluruh dunia mengenal nya.


Yang membuat semua orang suka dengannya karena dia memiliki wajah yang sangat tampan. Tapi, orang juga suka dengannya karena dia cerdas dan bijak.


“Ah, btw.. di dalam cerita ada orang lain yang genius selain Maverick. Dia William Carlson Lewis.” Gumam Monica. “Dia anak dari panti asuhan yang di pungut oleh keluarga Carlson Lewis, setelah itu....”


Perkataan Monica terhenti akibat tiba-tiba saja Philips berada di jangkauan pandangannya.


“Keluarga Lewis di bangun lagi oleh William dan Wycliff...” gumam Sylphy. Ia menutup bukunya lalu menaruhnya di atas kursi. “...Karena mereka berdua yang sudah menghancurkan keluarga Lewis. Setelah itu, mereka berdua hidup tentram menjadi saudara, walau bukan saudara kandung. Tapi, mereka bisa sangat akrab dan tentram hingga akhir.” Ia berdiri dari kursinya sambil tersenyum. Ia melihat Philips dan Monica yang mengobrol cukup jauh darinya. “Bikin iri banget.”


Beberapa hari kemudian...


Hubungan Sylphy dan Philips menjadi lebih agak dekat. Merek tidak bertengkar seperti saat pertama bertemu lagi. Dan, Philips sudah terbiasa memanggilnya Janesiyu.


“Mau beli es?” Tanya Philips saat ia melihat Sylphy yang memegang sepeda milik Anna.


Sylphy melihat ke arahnya. “Yes.” jawabnya.sambil tersenyum.


Philips berdeoh lalu kemudian ia mengambil sepeda tersebut. “Yaudah yok aku anter.” Ujarnya setalah naik di sepeda.


Sylphy memiringkan kepalanya. Ia ingin segera menolak Philips. Namun, niatnya ia.urungkan karena melihat tatapan Philips yang seakan mengatakan tidak menerima penolakan.


“Baik.” Jawab Sylphy dan langsung naik ke boncengan belakang sepeda.


Setelahnya. Mereka langsung pergi dari Vila menuju ke tempat yang ingin Sylphy datangi.


Beberapa saat kemudian..


Setelah membeli es krim dan beberapa jajan ringan lainnya. Kini Sylphy dan Philips berada di pinggir danau tempat mereka mengambil mangga tanpa izin beberapa hari lalu.


Mereka duduk di tepi air danau sambil menikmati camilan yang mereka beli.


“Hiyaahhh! enak banget kalau bisa jalan-jalan gini.” Ujar Sylphy. Ia menyandarkan bokongnya di batang pohon yang besar, itu adalah pohon mangga yang Philips panjat beberapa hari lalu.


Philips menoleh ke arah Sylphy, lalu kemudian ia melihat ke air danau.


“Btw Janesiyu..” gumam Philips. Karena Sylphy mendengarnya, jadinya ia langsung mengalihkan pandangannya kepada Philips.


“Hmm? ada apa?”


“Eumm.. gimana ya..” ujar Philips. Ia memainkan jari-jarinya dan tidak melihat ke arah Sylphy.


Sylphy menaikkan sebelah alisnya. “Hm?”


“Jadi gini.. kita udah kenal beberapa Minggu ini 'kan? nah jadi..” Perkataan Philips terhenti, ia melihat ke arah Sylphy yang masih melihat ke arah dirinya. “...bagaimana menurutmu aku?”


Sylphy menaikkan alisnya dan matanya agak terbuka lebar. Bibirnya menampakkan seringai yang hampir membentuk tawa. “Ya gimana ya ges ya..” gumam Sylphy. Ia mengalihkan wajahnya langsung dari Philips.


Rahang Philips jatuh karena melihat perubahan Sylphy. Pikiran negatifnya mulai bermunculan di kepalanya yang kecil itu. “Ada apa?” tanya Philips.


“Gak ada.” Jawab Sylphy. Ia perlahan melirik ke arah Philips yang berjarak tidak jauh dari dirinya. “Jadi jawaban atas pertanyaan mu.. menurutku sih yah nih. Yah gitu lah.”


Perkataan Sylphy hanya bisa membuat Philips bingung. Tentu saja, siapa yang akan paham dengan apa yang dia katakan.


“Gitu gimana? aku ganteng? keren? atau apa?” Tanya Philips lagi.


Pertanyaan-pertanyaan Philips terus saja berloncatan dari bibirnya yang tertuju pada Sylphy.


Hingga akhirnya Sylphy menjawab nya dengan wajah serius. “Aku rasa.. kau orang yang baik.”


Keduanya diam sejenak. Karena tidak ada yang bersuara. Sylphy melihat ke arah langit yang berwarna biru muda dan cerah. Kecerahan langit membuat Sylphy merasa silau. Namun, ia tidak dapat memalingkan pandangannya dari langit akibat melihat awan yang membentuk berbagai bentuk.


Bentuk-bentuk yang menarik berhasil membuat Sylphy takjub, merasa bahwa dia sangat beruntung karena bisa melihat awan-awan yang berbentuk-bentuk tersebut.


Namun, rasa kagumnya pada awan tiba-tiba menghilang setelah mendengar apa yang philips katakan.