After I Left You

After I Left You
Obrolan Siang



Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan lalu Philips mencari-cari Dorothy, hanya saja baru dua Minggu lalu ia mendapatkan jawaban mengenai di mana Dorothy sekarang berada.


Perempuan itu berada di Korea saat ini, sekitar satu Minggu lagi ia baru pulang ke Amerika.


...***...


Setelah kembali dari perusahaan entah punya siapa itu, Sylphy tampak tidak semangat dengan aktivitas nya. Ia terus bertanya-tanya kenapa sebenarnya supir itu membawanya ke sana, namun ketika ia menanyakannya secara langsung supir itu menjawabnya dengan kata ‘ini perintah’ tanpa supir menyebut siapa yang menugaskannya untuk mengajak Sylphy bertemu dengan Marcel. Sylphy susah menebak bahwa ini pasti Edgar yang menyuruh supir tersebut. Karena, tidak ada lagi yang bisa menyuruh supir itu selain Edgar Alexander Moriarty.


Tok Tok Tok


“Nona, tuan Earl ingin bertemu dengan anda.”


Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, tapi itu wajar karena biasanya mereka juga hanya bertemu satu kali dalam seminggu atau dua kali saja. Mengingat Earl adalah orang yang sibuk.


“Baik, aku akan segera turun.” jawab Sylphy dari dalam kamarnya.


Setelah merapikan pakaian nya, Sylphy segera turun ke bawah karena dirinya tidak memiliki niatan untuk membuat Earl menunggu dirinya terlalu lama di lantai bawah.


“Kenapa paman mencari ku? aku pikir kita sudah bertemu dua kali Minggu ini dan di tambah ini bukannya akan menjadi tiga?”


“Ahaha, apa dua kali adalah max angka bertemunya kita?” Earl sedikit terkekeh mendengar ucapan Sylphy.


“Tidak juga.” jawabnya. Ia sungguh hanya bercanda saja tadi.


Sylphy duduk di sofa yang bersebrangan dengan Earl, lalu ia menatap Earl dengan raut wajah bertanya.


“Bagaimana pertemuanku dengan Marcel.?” tanya Earl Tiba-tiba dan sontak membuat Sylphy membuka matanya lebar.


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku bertemu dengan Marcel? apa dia orang yang memerintah Lilack (nama supir) kemarin? pikir Sylphy sambil menatap Earl dengan penuh selidik.


“Biasa saja, tidak ada yang menarik.” Mengingat Marcel suka berbicara omong kosong, terkadang membuat Sylphy bosan dengan laki-laki itu. “Bagaimana paman bisa tahu kalau aku bertemu dengannya?” tanya Sylphy balik.


“Aku tahu karena Edgar mengatakannya.”


“Ayah? kenapa?”


Earl membuat wajah yang tidak bisa di jelaskan, ia melihat ke arah Sylphy. “Tunggu, apa kamu tidak tahu kenapa kamu di bawa ke sana?”


“Tidak.” jawab Sylphy jujur. Memangnya ada apa? kenapa aku tidak tahu? apa sesuatu yang rumit untuk di jelaskan mangkanya Edgar tidak mengatakannya padaku?


“Edgar membawamu ke sana karena---”


Belum selesai Earl berbicara. Tiba-tiba saja Edgar sudah muncul dari belakang Sylphy dan memberikan isyarat padanya menggunakan jari, Earl mengerti arti isyarat tersebut.


“Karna apa?” tanya Sylphy. Ayo dong! kenapa harus setengah-setengah?! ini bukan acara televisi atau apalah! Sylphy kesal akibat Earl tidak menyelesaikan perkataannya.


“Apa kabar?” tiba-tiba suara berat dan parau muncul di belakang Sylphy membuat perempuan itu terperanjat kaget. Suara Edgar yang di anggap menyeramkan bagi Sylphy tentunya terasa menyeramkan juga di manapun dan kapanpun mendengarnya.


“Ahahaa.. aku baik.” jawab Sylphy dengan senyumnya yang di paksa.


Sylphy tidak bisa mengerti apa yang Edgar pikirkan selama ini, entah mungkin karena fakta bahwa mereka jarang bertemu atau entah karena memang sulit menebak isi pikiran Edgar. Pria itu terlihat aneh, terkadang dingin, hangat dan terkadang tidak bisa di jelaskan.


“Earl, aku sudah menemui Lionel beberapa waktu lalu, sepertinya dia baik-baik saja walau istrinya sudah mati.”


Mendengar kata mati membuat Sylphy tersentak. Ia kembali mengingat tentang ibunya yang sudah mati.


“Ah benar!” ia menarik perhatian Edgar dan Earl secara bersamaan. Kemudian, “Apakah ayah dan paman sudah tahu kalau ibuku sudah meninggal? dia meninggal beberapa waktu lalu dan paman, bibi dan sepupu ku Clara juga sudah meninggal.”


“Aku tahu.” jawab Edgar dan Earl bersamaan.


Walau mereka menjawab ya dengan santai dan seperti biasa orang pada umumnya. Namun, Sylphy merasakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan di balik wajah santai mereka.


“...dan, Aquila..”


“Aquila ada di desa Eweryp wey sekarang.” sahut Edgar sebelum Sylphy menyelesaikan perkataannya dengan ekspresi sedihnya. Mendengar apa yang Edgar katakan membuat mata Sylphy terbuka cukup lebar.


“Eh? benarkah? kenapa dia sudah ada di sana? bukannya dua bulan lalu dia masih ada di Washington, D.C.”


“Itukan dua bulan lalu, sekarang sudah lewat dua bulan sejak terakhir kali dia ada di Washington.” jawab Earl sambil tersenyum.


Sylphy bersimpati dengan hal itu. “Benar juga..” gumamnya. “Lalu, di mana Ayah sekarang?” dengan suaranya yang pelan dan ragu-ragu, Edgar terlihat tidak suka ketika mendengar Sylphy mengatakan itu, Edgar tahu kalau yang Sylphy maksud adalah Agam Wree.


“Katanya dia pergi ke London karena beberapa urusan. Dia mencari detektif katanya.” jawab Earl karena Edgar tidak menjawab. Earl tahu betul kalau sebenarnya Edgar tahu hal ini, bahkan Edgar lebih tahu dari dirinya.


Sylphy mengerjapkan mata, kemudian ia berdeoh sambil manggut-manggut pelan.


Dret Dreet Dreeettt


Suara ponsel Edgar berderit. Edgar langsung berdiri dan melihat siapa yang memanggilnya di jam-jam makan siang seperti ini.


“Kalau begitu lanjutkan obrolan kalian, aku ada urusan mendadak.” Edgar pamit dan sebelum ada yang menjawab ia sudah pergi dari sana.


Sylphy hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan mengecil lalu menghilang dari pandangannya.


“Apa kamu merasa kalau ayahku menyembunyikan sesuatu? aku yakin dia seperti menyembunyikan sesuatu..” gumam Sylphy, namun sepertinya ia salah bertanya pada orang.


Earl tidak menjawabnya dan lebih memilih seolah tidak mendengar apa yang Sylphy katakan.


Earl juga terlihat sama, sebenarnya apa yang kalian coba sembunyikan dariku? semakin Sylphy memikirkannya. Itu hanya semakin membuatnya bingung saja.


Setelah Earl pun pergi dari sana. Sylphy kembali ke kamarnya dan ingin melanjutkan istirahatnya di akhir pekan yang panas ini.


Namun, baru beberapa menit Sylphy berhasil memejamkan matanya. Tiba-tiba saja suara melengking memenuhi kamar nya. Suara yang penuh antusias membuat Sylphy tidak bisa tidur lagi.


“Sylphhyy!! lihat-lihat! karena kita tidak melihatnya kemarin, dia bermain sangat bagus!!! aku menyesal karena melewatkan ini hiks!”


Bella menunjukkan sebuah rekaman yang menunjukkan Gery sedang bermain gitar di ruang musik. Benar, mereka ada janji untuk melihat Gery namun mereka melupakannya dan langsung pulang saja.


Gery sangat tampan, dia seperti Philips.. mereka terlihat seperti adik-kakak.. Pikir Sylphy saat melihat wajah Gery yang serius di rekaman tersebut.