After I Left You

After I Left You
Ayahku?



Pertanyaan demi pertanyaan terus berloncatan dari bibir Philips.


Noah yang di sana hanya diam dan menyimak saja, ia berada di sana akibat mereka percaya bahwa pria itu tidak akan membocorkan apa yang mereka bicarakan. Kalaupun mereka tidak percaya, Noah bisa yakin bahwa dirinya tidak memiliki ember yang mudah pecah hingga bisa membocorkan informasi.


“Ini benar-benar sama sekali tidak pernah terpikirkan denganku.” gumam Philips. “Orang itu...” ujarnya terhenti ketika matanya menyipit dan menajamkan. “..Edgar adalah ayah kandung Sylphy..”


“Tapi, bagaimana dengan Agam Wree? bukannya dia ayahnya?” sahut Noah.


Mcgee melihat ke arah Noah sambil mengangkat bahu seraya memejamkan kedua matanya dan di hiasi dengan seringai di ujung bibirnya. “Sudah jelas bahwa dia adalah ayah tirinya.” kata Mcgee.


Plak!


Philips memukul meja dengan kuat.


“Sial! jadi anak itu anaknya Edgar? pantas muka mereka hampir sama, warna mata mereka bahkan sama!” gerutu Philips dengan dahinya yang berkerut. “Padahal aku hanya ingin menebak kalau mereka teman masa kecil atau semacamnya..” sambungnya. Ia memegang dahinya sambil memijatnya pelan. Kemudian, ia melihat ke arah Noah dengan tatapan tajam. “Aku ingin kau memperhatikan anak itu sekarang, aku tidak ingin dia menghilang untuk saat ini.” Perintahnya.


Noah mengangguk pelan, menjawab perintah Philips. “Baik, tuan.”


Mcgee mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya kukunya pelan. “Aku penasaran dengan ini sejak tadi..” katanya, lalu ia melihat ke arah Philips. “..Dari mana informasi ini kau dapat?” tanyanya.


Philips menaikkan bahunya. Ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan sikunya di pegangan sofa lalu telapak tangannya di dahinya. “Aku bisa mencari informasi apa saja, terutama setelah ingatan ku kembali semua.” jawabnya. “Tapi..” nadanya terdengar berubah menjadi pilu. “Aku belum bisa mendapatkan informasi tentang kematian kakek ku.” kemudian, ia menghela nafas.


Noah dan Mcgee langsung memusatkan perhatian mereka pada Philips.


“Oh aku baru ingat itu!” kata Noah. “Aku ingat kalau Radeus Neuman mati akibat dibunuh tujuh tahun lalu.” sambungnya.


“Ya.” kata Philips. “Aku memiliki kecurigaan bahwa Sylphy lah yang sudah membunuh kakekku.”


“APAA?!!” Teriak Mcgee dan Noah bersamaan akibat shock.


“A-Apa? kenapa bisa dia? a-apa kalian sudah kenal sejak awal?” tanya Noah.


“Ya.” jawab Philips. “Kami sudah mengenal sejak tujuh tahun lalu, itu terjadi ketika musim panas.”


“Dan kakek mu mati di akhir musim panas.” sahut Mcgee. “Bukti yang kau punya hanya cincin tunangan kalian saja. Apa kau bisa yakin dengan itu saja?” lanjutnya.


Philips menyeringai. “Tentu saja tidak, sejujurnya aku sama sekali tidak menyalahkan nya atas kematian kakekku karena aku tahu jelas bahwa dia sudah kembali ke dari Perancis hari itu..” matanya menajam di detik kemudian. “...apa apa salahnya jika aku hanya berhati-hati?” sambungnya.


“Itu sama sekali bukan urusanku kau mu menganggapnya sebagai pembunuh kakekmu atau tidak.” sahut Mcgee cuek.


Saat Mcgee cuek, ekspresi Noah malah berbeda. “Tu-tunggu, ka-kalian sudah tunangan?” tanyanya hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “..astaga.. jadi Sylphy sebenarnya adalah mantan Miss Neumann.” sambungnya.


Mcgee dan Philips hanya diam saja.


-Di sisi lain


Perlahan mata Sylphy terbuka. Ia menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk ke ruangannya.


Perlahan ia duduk di ranjang sambil memegang dahinya yang terasa pusing.


“Bagaimana? apa masih ada bagian yang sakit?” suara pria yang terdengar sangat familiar baginya. Suara parau, dingin dan serak itu kini menggema di ruangan yang Sylphy gunakan.


Ketika Sylphy memutar bola matanya. Ia terperanjat kaget setelah melihat sosok pria itu. “K-kau.. kau.. k.. kau.. p-pria.. ya.. yang.. tadi..” Sylphy gemetar dan memundurkan tubuhnya. Berusaha menjauh dari pria yang kini sedang duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang yang dirinya gunakan.


Pria itu berdiri dari Sofanya. “Tenang, kau aman di sini, aku tidak akan menyakitimu.” ujarnya datar.


‘Siapa yang akan percaya ketika kau ngomong dengan ekspresi dingin itu..’ pikir Sylphy dengan bola matanya yang masih bergetar. “A.. apa yang ka-kau mau?..” tanya Sylphy, ia ingin segera pergi dari sana.


“Oke.” jawab Sylphy tanpa menunjukkan keraguan.


Beberapa jam lalu..


Sylphy telah selesai mengerjakan tugasnya. Hari ini, Sylphy di suruh untuk membuang sampah yang berada di mansion.


Semua sampah yang ada di dalam tong ia kumpulkan jadi satu di sebuah tong yang bisa di tarik.


Ia mengambil tong sampah yang ada di beberapa tempat. Salah satunya yang ada di depan pintu kamar Philips.


“Mm?” Sylphy tidak sengaja melihat pintu kantor Philips yang tidak terkunci dan terbuka sedikit. ‘Apa yang mereka obrolkan? kayaknya lagi serius banget..’ batinnya ketika melihat Noah dan Philips mengobrol.


Noah melihat ke arah Philips bingung. “Apa itu?”


“Ini sangat mudah.” kata Philips. Ia mengambil amplop coklat lalu mengeluarkan selembar kertas foto. “Aku ingin kau menyelidiki latar belakang orang ini dan.. selidiki apa hubungannya dengan Sylphy.” ia meletakkan foto itu di atas meja.


Sylphy mengerutkan dahinya, ia semakin penasaran setelah mendengar namanya di ucapkan. ‘Aku? ada apa denganku? apa hubunganku dengan orang yang ada di foto itu?’ batin Sylphy, ia semakin memfokuskan dirinya pada obrolan Noah dan Philips.


Noah yang penasaran langsung mengambilnya. Ia melihat foto itu sejenak lalu kemudian ia terkejut. “A-apa?! apa anda serius tuan? di-dia..”


Saat itu, Sylphy tidak sengaja melihat orang yang ada di foto. ‘Orang tua! tidak mungkin aku ada hubungan dengan orang tua selain dengan ayah dan pemilik cafe.’ pikir Sylphy.


Philips menghela nafas. “Yahhh.. dia adalah orang yang hebat. Tapi, aku memiliki firasat kalau dia memiliki suatu hubungan dengan Sylphy.”


Noah memaksakan dirinya untuk senyum. “Tak mungkin..”


Noah teringat sesuatu. “Oh ya, maksud anda hubungan apa ya?” tanya Noah setelah menyadarinya.


Philips mengangkat bahu. “Mana ku tau, mangkanya aku nyuruh kau buat selidiki dia.” Jawab Philips. “Tapi..” perkataan ia tahan ketika dirinya menyeruput teh. Setelahnya, ia kembali bicara. “Aku rasa dia adalah ayah kandung Sylphy karena mata mereka warnanya sama, hanya keluarga orang inilah yang memiliki mata seperti itu, jadi mata ini langkah.”


Sylphy membelalak kaget. “A.. apa? ayah? ja-jadi? ayah yang itu?..” gumam wanita itu yang sudah keluar dari pikirannya. Ia tidak pernah berfikir bahwa Agam bukan ayah kandungnya.


Noah yang mendengar itu juga hampir tidak percaya.


Philips kembali bicara. “Lupakan, nanti aku akan tanyakan ini ke seseorang kalau aku bertemu dengannya.”


‘Seseorang?..’ Sylphy diam sejak.


Pat


Tiba-tiba, sebuah tangan mendarat di bahu Sylphy. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya orang itu.


Ketika Sylphy berbalik. Ia sangat terkejut ketika melihat wajah cantik di iringi dengan aura garang bagaikan singa kini berdiri tepat di belakangnya.


Ia langsung segera bangkit dari tempatnya. “Ma.. maaf, a-aku.. ak-aku tidak bermaksud..” ia membungkuk dan segera pergi dari sana.


Untungnya, ia mengenakan masker, jadi tidak mungkin orang itu akan mengenalinya.


Wanita cantik itu diam lalu kemudian membuka pintu kantor Philips dengan berbicara beberapa kata lalu masuk ke dalam.


Di belakang itu. Sylphy belum pergi dari sana. Ia kembali melihat mereka dan menguping apa yang mereka katakan.


Setelah cukup puas dengan obrolan mereka. Sylphy pergi dari sana dengan segera.