
“Janesiyu, aku suka denganmu.”
Karena ucapan tiba-tiba Philips. Sylphy hampir saja kehilangan jantungnya akibat kaget.
‘Bukanya ini bisa di sebut sebagai pengakuan?! tapi, kenapa tiba-tiba?..’ batin Sylphy yang mendadak ngeblush. Ia langsung memalingkan wajahnya dari Philips karena sangking malunya.
“Ekhem.” Philips mencairkan suasana yang tadinya sepi karena Sylphy dan dirinya diam.
Sylphy melihat ke arahnya, tampak perempuan itu malu-malu. “Ekhem!” Namun, sedetik kemudian ia mengesampingkan rasa malunya akibat perkataan Philips. “Suka gimana, ya?” tanya Sylphy, mencoba memberanikan dirinya untuk berbicara dengan Philips.
“Suka.. ya suka.” jawab Philips acuh tak acuh.
Jawabannya hanya bisa membuat Sylphy diam saja.
“Kau gak suka ya sama aku?” tanya Philips dengan ekspresi kecewa.
Sylphy membuka matanya lebar dengan bibirnya yang sedikit terangkat. “Bu-bukan gitu.. gimana ya..” Sylphy menggosok pelipis bagian belakangnya. “Jadi.. suka itu ada dua macam, suka karena cinta dan suka karena sayang.. tapi cinta juga sayang, tapi ada suka selain cinta ya sayang apa gak ya..” Sylphy terus saja mengoceh omong kosong yang Philips sama sekali tidak bisa mengerti.
Karena setiap kata yang Sylphy ucapkan hanya omong kosong yang tidak bisa Philips pahami. Jadinya pria itu menghentikan suara Sylphy dengan kata-kata nya.
“Ayo pulang.” Ajak Philips.
“Eh? sekarang? kok cepet banget?” tanya Sylphy bingung.
“Cepet apa cepet, udah ayok pulang!” jawab Philips lalu kembali mengajak Sylphy untuk kembali.
Karena Philips yang sudah berjalan menuju ke arah sepeda. Tanpa bicara lagi, Sylphy mengikuti langkah cepat Philips.
‘Dia marah?..’ batin Sylphy saat melihat punggung Philips dari jarak yang cukup jauh.
Setelah beberapa saat. Akhirnya mereka sampai di Vila.
Philips langisng masuk ke kamarnya setelah menaruh sepeda ke garasi. Sylphy juga sama, ia kembali ke kamarnya karena Radeus kebetulan tidak ada di rumah.
Akhir-akhir ini Radeus sering bolak-balik ke rumah sakit. Keadaan kesehatannya bisa di bilang semakin hari semakin memburuk.
Namun, itu sama sekali bukan hal yang mengejutkan bagi keluarganya karena memang dokter sudah mengatakan itu sejak hari-hari sebelumnya.
Di kamar Philips terlihat pria yang yang tertidur sambil memeluk erat guling di atas kasur yang di tutupi seprai berwarna putih.
“Kenapa cobak aku bisa suka dia? perasaan dia gak secantik itu deh, kenapa juga aku bisa bilang kayak gitu ke dia. Pasti dia lagi kegeeran nih karena apa yang aku bilang tadi!” oceh Philips. Mulutnya terus berkomat-kamit mengatai Sylphy. Namun, fakta aslinya. Sylphy tidak seperti yang dia katakan.
Di kamar Sylphy, perempuan itu tenang membaca buku novel yang ia baca beberapa hari lalu tentang Maverick sang detektif hebat.
Sementara di kamar Philips. Laki-laki itu terus saja mencibiri Sylphy dengan pikiran negatifnya.
Perlahan suara Philips menghilang. Ia memeluk guling nya sangat erat lalu kemudian ia kembali bergumam pelan. “Apa dia gak suka sama aku? tapi kenapa?” gumam Philips. Ia memainkan helai poninya setelah melentangkan tubuhnya di atas kasur. “Janesiyu bodoh!” Kata Philips agak kuat.
Untungnya. Kamar Sylphy dan kamarnya berada cukup jauh, maka dari itu Philips yakin pasti Sylphy tidak mendengar apa yang sejak tadi ia oceh kan dari awal hingga akhir.
Memang Sylphy sama sekali tidak mendengarnya. Namun, ada beberapa maid yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Philips dan mendengar semua yang Philips oceh kan dengan suara yang cukup keras.
Sejak Philips kecil hingga beberapa hari lalu. Mereka yakin bahwa Philips tidak pernah membahas tentang dunia percintaan. Bahkan beberapa maid yang sudah bekerja sangat lama di Vila Radeus sering menduga bahwa Philips tidak tertarik dengan dunia cinta karena ia yang memiliki penyakit Philophobia.
Maka dari itu agak mengejutkan bagi mereka yang sejak tadi mendengar gumaman Philips yang memusingkan masalah perasaanya.
Tok Tok Tok
Pintu kamar Philips beberapa kali di ketuk oleh seseorang. “Tuan muda, boleh saya masuk?” izin orang itu, dia adalah wanita.
Philips melirik ke arah pintu yang masih tertutup. “Hmm.. boleh, tapi aku malas membuka kuncinya.” jawab Philips.
“Oke kalau begitu saya masuk pakai kunci cadangan.” ujar wanita itu.
Philips merasa familiar dengan suara yang wanita itu keluarkan. Maka itu ia mengizinkan wanita itu masuk dengan kunci cadangan. Faktanya, kunci cadangan hanya dimilikinya seorang.
Tap Tap Tap
Perlahan langkah kakinya masuk ke dalam kamar dan mendekati ranjang Philips.
Pintu kamar sudah wanita itu tutup kembali.
“Ada apa?” tanya Philips.
Wanita itu diam sejenak. Lalu kemudian ia berbicara sambil ragu-ragu. “Emm.. ja-jadi.. pertama-tama maaf karena saya sama beberapa orang yang lainnya gak sengaja dengerin apa yang tuan muda bilang sejak tadi.”
Philips membelalak kaget, ia langsung duduk di atas ranjangnya. “Heh?! kok bisa?!!” tanya Philips heboh.
‘Tuan muda satu ini bodoh atau gimana sih? masa iya dia yakin kalau suaranya yang sekenceng itu gak kedengaran sampai luar.’ Batin wanita tadi ketika wajahnya menjadi datar. Namun, ia langsung mengembalikan wajah datarnya menjadi senyuman. “Saya kebetulan lewat tadi.”
Philips menaikkan sebelah alisnya. “Oh.” jawabnya tidak mau memperpanjang masalah. “Jadi ada apa?” tanya Philips lagi karena pertanyaan nya tadi masih belum di jawab oleh maid tersebut.
Maid itu memukul telapak tangannya dengan tangannya yang ia kepal. “Ah benar!” katanya antusias. Ia buru-buru mendekati Philips dan berbisik kepada Philips.
Beberapa saat kemudian..
Maid itu tersenyum setelah mengatakan semua yang ingin dirinya katakan kepada Philips.
Sementara Philips masih berfikir setelah mendengar kata-kata dari maid itu.
“Apa ini benar-benar akan bisa?” tanya Philips agak meragukan apa yang wanita itu bisikan kepadanya.
“Sip pasti bisa!” jawab maid dengan nada antusias sambil mengacungkan jempol ke arah wajah Philips. “Pokoknya kalau tuan muda bener-bener suka sama dia mending lakuin ini menurut saran saya, dia gak akan bisa kabur lagi deh pokoknya soalnya saya sering baca adegan kayak gini di komik!”
Philips mengubah wajahnya menjadi datar. “Apa bisa komik di percaya?” Tanyanya. ‘Bukannya komik cerita fiksi ya? bahkan orang yang gak sekolah SD aja bisa kuliah.’ batin Philips seraya lalu menepuk jidatnya karena frustasi.
“Bisa! udah pokoknya tuan muda tenang aja, ini udah pasti berhasil!” kata maid lagi.
Philips hanya berdeoh pelan saja. Ia sudah habis kata-kata untuk menjawab maid nya.
Sejujurnya, sejak awal Philips adalah orang yang irit kata-kata. Namun, akhir-akhir ini dia jadi lebih banyak bicara.