
Tanpa ragu dan tanpa ekspresi Sylphy segera bangkit tanpa menerima uluran tangan Gery. Setelahnya ia langsung pergi dari sana di ikuti dengan Bella di belakangnya.
Ia segera pergi karena tidak ingin berurusan dengan Fangirl ataupun Fanboy nya Gery.
“Syl Syl Syl! tunggu!” Bella segera memblokir langkah Sylphy dengan dia yang tiba-tiba berada di depan Sylphy. “Kenapa langsung pergi sih? padahal itu kesempatan besar buat kita bisa lebih deket sama my honey lop lop geryy~~”
Sylphy yang mendengarnya hanya bisa menelan saliva dan begidik saja.
Kemudian Sylphy mendorong Bella ke samping lalu hendak melanjutkan langkahnya pergi dari sana sesegera mungkin.
Gery adalah anak remaja laki-laki yang sangat populer dan terkenal di universitas tempat Sylphy menimbah ilmu saat ini. Namun, walau laki-laki itu terkenal, ia tidak memiliki sedikitpun rasa penasaran dengan laki-laki itu.
Setelah berjalan beberapa saat. Akhirnya mereka sampai di gedung fakultas mereka.
Di sana masih tidak ada dosen, jadi Bella dan Sylphy memutuskan untuk mengobrol-ngobrok dulu sebelum pelajaran dimulai.
“Syl, tau gak sih? katanya Gery kerja sambilan di cafe buta nyanyi.” ujar Bella, tiba-tiba membahas Gery.
Ini adalah hal biasa di dalam obrolan mereka karena Bella yang susah tergila-gila dengan Gery jadi dia akan mengatakan semua yang ia tahu tentang Gery ke orang yang tidak tahu.
Sylphy tidak menjawabnya.
“Katanya suaranya bagus! aku mau liat dia nanti!” Bella antusias dengan tangannya yang mengepal dan kerutan di antara alisnya muncul akibat ia sedang serius saat ini.
“Emang tau ada di mana cafe nya?” tanya Sylphy.
Bella menyeringai. “Fuufufufu~~ tau dong~ apa sih yang nggak Bella tahu tentang my honey lop lop gery~” jawab Bella. “Dia kerja di cafe Dz Join.”
Sylphy merasa tidak asing dengan nama cafe tersebut. ‘Dz.. Dz join.. hm, tunggu! bukannya itu cafe punya Yves? ya kan ya?.’ pikir Sylphy setelah menyadari bahwa cafe milik Yves juga memiliki nama yang sama.
Saat Bella sedang melanjutkan pembicaraannya dengan Sylphy. Tiba-tiba saja dosen mereka masuk dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengeluarkan buku pelajaran lalu fokus mendengar apa yang dosen ajarkan.
Setelah beberapa jam kemudian. Akhirnya selesai sudah jadwal kuliah Sylphy hari ini.
Karena sudah tidak ada urusan lagi di kampusnya, jadi ia menyusun buku-buku dan beberapa benda lagi yang ia bawa ke sekolah untuk dirinya bawa kembali ke rumahnya.
Setelah selesai. Seperti biasa ia menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Namun, sudah berjam-jam lamanya Sylphy menunggu tapi sialnya supirnya tidak juga kunjung tiba.
Karena frustasi menunggu supir. Akhirnya Sylphy memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke stasiun bus.
Perempuan cantik itu menjadi sorotan beberapa mata karena ia yang memang terlihat cantik. Mata nya yang bersinar dan rambutnya yang berkilau berhasil membuat beberapa orang enggan untuk memalingkan pandangan mereka.
‘Hahhh.. gak nyaman banget.’ batin Sylphy yang merasa terganggu dengan orang-orang yang melihat ke arahnya.
Setelah sampai di stasiun dan menunggu beberapa saat. Akhirnya ia menemukan bus dengan rute yang akan lewat ke jalan pekarangan rumahnya. Setelah duduk di dalam bus, ia hanya memutuskan untuk diam sambil mendengar musik menggunakan headphones nya.
“Sylphy?” suara seorang wanita.
Suaranya terasa familiar bagi Sylphy walau memang sudah lama ia tidak mendengar suara ini. Karena penasaran, jadinya Sylphy membuka headphone nya yang ia gunakan untuk mendengar kan musik dengan volume sedang.
Benar saja. Sylphy kenal dengan jelas siapa wanita itu. “Ada apa?” tanya Sylphy sambil menatap tajam orang itu. Begitu juga sebaliknya.
Wanita itu menyeringai ketika ia memperhatikan dan meneliti tubuh Sylphy yang sangat-sangat terurus. “Pfft hahaha.” wanita itu tertawa. “Siapa yang menyangka kalau kau sebenarnya adalah anak orang kaya? hahaha.”
Sylphy yang mendengarnya langsung mengeryitkan alis. Ia memiliki firasat tidak enak untuk mendengar wanita itu melanjutkan pembicaraan.
“Ehh.. tapi kayaknya gak mungkin. Gak mungkin anak orang kaya bisa masak dan mengerjakan pekerjaan rumah.” wanita itu terkekeh kecil. “Apa jangan-jangan.. kau adalah simpanan tuan Philips atau mungkin Marcel~” wanita itu mulai melewati batas.
Sylphy sudah di ujung amarah dengan emosi yang bergejolak. Ia ingin segera memukul wajah wanita itu jika saja di sana tidak ramai.
Sylphy berdehem pelan, lalu kemudian ia baru bicara. “Mmh~ kenapa pemikiran mu sangat luas? aku bahkan tidak pernah berpikir begitu tentang kehidupan mu.” Sylphy menyeringai. “Apa jangan-jangan, kau adalah stalker yang mengikuti ku karena kau suka dengan ku...” Sylphy tersenyum, ia melihat ke arah wanita itu dengan senyuman mengejek. “...Nessy?”
Ternyata di era modern ini masih ada banyka orang bodoh, salah satunya adalah Nessy. Bisa-bisanya wanita itu menuduh kan Sylphy kepada hal-hal seperti itu tanpa pikir dua kali terlebih dahulu.
Tampak kerutan di antara alis Nessy. Namun, hal itu malah membuat Sylphy merasa puas.
Ia tidak akan terpojokkan lagi mulai sekarang. Itulah tekadnya untuk melanjutkan hidupnya.
“J4lang satu ini! kau pikir kau begitu sempurna hah?! aku yakin anjing pun lebih cantik darimu!!” sarkas Nessy sambil menunjuk ke arah Sylphy tanpa menghiraukan orang-orang yang berada satu bus dengan mereka.
Suaranya terdengar sangat jelas dan sangat besar akibat ia menaikkan suara nya. Namun, Sylphy sama sekali tidak memperdulikannya. Ia kembali memakai headphone lalu menyalakan kembali musik favorit yang sering dirinya dengarkan.
Sementara Nessy yang tidak tahan dengan tatapan orang-orang memutuskan untuk duduk di bangku paling belakang. Ia tidak ingin semua orang membicarakan dirinya.
Rasa dendamnya kenapa Sylphy semakin bergejolak tanpa henti. Setiap kali ia memikirkan Sylphy ia selalu berdecih dan pembicara “Aku benci wanita sialan itu!” bahkan temannya pun sudah muak mendengar ocehannya yang satu ini.
Tapi dia tidak selagi orang-orang tidak menjadikannya sebagai pusat perhatian utama di tempat ia berada.
Sejujurnya. Ia tidak suka dengan Sylphy bukan karena apa-apa, melainkan karena Sylphy yang bisa dengan mudah menarik perhatian Philips yang ia idolakan.
Pria yang sudah ia coba untuk menarik perhatiannya. Namun, semua usahanya hanya bisa dikatakan nol saja karena semuanya tidak berjalan lancar dan tidak membawakan hasil sedikitpun untuk dirinya.
“Aku benci kau! aku paling benci kau!” cibir Nessy terus menerus sambil menatap tajam ke arah punggung milik Sylphy dari tempat ia berada. Yaitu kursi paling belakang.