
Setelah acara makan malam dengan Miss Mcgee di restoran yang mahal. Akhirnya jadwal Philips berakhir dan ia kembali ke mansion nya.
Ketika sampai di mansion, ia di sambut oleh maid-maid nya.
Namun, ia tidak melihat keberadaan Sylphy sama sekali di sana. Padahal, biasanya Sylphy lah orang pertama yang akan menyambutnya dan mengambil jas miliknya.
‘Siapa peduli dia ada atau tidak.’ pikir Philips.
Ia langsung masuk ke kamarnya dan hendak mandi sebelum tidur.
Seperti biasa. Philips berendam di bathtub yang di isi dengan busa mandi. Ini adalah hal yang di lakukan Philips ketika ia memiliki waktu luang.
Setelah selesai.
Ia memakai bathrobe yang cukup terbuka. Baju bagian depannya yang terbuka, menampilkan dadanya yang bidang. Tulang sel4ngkangannya terlihat seksi, tubuh panas. ya benar-benar sempurna untuk di sebut sebagai pahatan profesional.
Philips melangkah ke lemari anggur nya. Ia mengambil sebotol anggur beserta gelasnya, lalu ia membawa nya ke dekat jendela kaca yang sangat besar.
Di sana terdapat sebuah sofa yang berukuran besar. Memiliki senderan untuk bahu dan panjang.
Philips menuang anggurnya. Ia mengguncangnya pelan sambil memandang langit dalam diam.
Di suasana nya yang begitu berantakan. Tiba-tiba saja seseorang menelponnya.
Drettt Dreett
Walau Philips enggan untuk mengangkatnya. Namun, sepertinya ada yang sedang terjadi.
“Bicara.” kata Philips dengan nada dingin, saat ini ia tidak ingin basa-basi dengan siapapun.
[Tuan, saya melaporkan. Tadi saya melihat Aquila di sebuah bar] ujar orang itu, suaranya adalah wanita.
Philips diam sejenak, lalu kemudian ia menjawab. “Benarkah? apa yang dia lakukan di bar?” tanya Philips.
[Sepertinya dia datang ke bar bukan karena kemauannya. Dia datang ke sini untuk mendekati om-om tua Bangka! aku rasa dia di sini karena Agam Wree!!]
“Oke, pantau terus apa yang sebenarnya terjadi, kalau dia dalam bahaya, bantu dia.”
Dengan itu, Philips menutup panggilan telepon secara sepihak.
Philips mengubah ekspresi, ia menyeringai lalu meneguk anggurnya.
Pagi berikutnya..
Sylphy membersihkan ruangan seperti biasanya. Namun, sepertinya ia berjaga-jaga untuk tidak bertemu dengan Philips.
Ia tidak akan bisa menemui pria itu lagi. Sejak kemarin, ia sudah berfikir untuk kabur dari mansion ini. Namun, sayangnya ia tidak menemukan celah untuk keluar.
Rumah ini bagaikan sangkar emas. Yang masuk ke dalam, memiliki kecil kesempurnaan untuk keluar.
Sylphy sudah banyak bertanya-tanya kepada para pekerja di sana. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa kembali sebelum kontrak kerja mereka berakhir. Sebelum kontrak berakhir. Tidak ada yang bisa keluar dari sana.
Beberapa tahun lalu pernah ada satu maid wanita yang bekerja dengan sangat baik di mansion ini. Namun, tiba-tiba saja ia mendapat kabar bahwa orang tuanya meninggal akibat kecelakaan.
Tapi, karena kontrak kerjanya belum usai. Ia tidak di izinkan untuk keluar dari sana.
Di sana ia benar-benar sangat membenci Philips dan mengutuk pria itu dengan segala umpatan.
Ia merencanakan pelarian diri yang sempurna. Tapi, tidak mudah baginya untuk bisa melakukan rencananya untuk dengan sempurna.
Ketika ia ingin melarikan diri dari mansion itu. Beberapa bodyguard yang menjaga rumah ini berhasil menangkapnya. Kemudian, ia di bawa menghadap ke Philips. Lalu, kabarnya tidak tahu apa lagi yang terjadi.
Sejak saat itu dia tidak pernah terlihat.
Banyak buah bibir yang mengatakan bahwa ia mati di tangan Philips karena mencoba melarikan diri sebelum kontrak kerjanya usai.
Karena cerita itu. Sylphy menjadi enggan untuk kabur dari sana.
“Sylphy, tuan Philips memanggilmu. Kau di suruh datang ke ruang kerjanya sekarang juga.” ujar pria yang menurut Sylphy cantik. Dia adalah Noah.
Walau Noah adalah pria. Namun, Sylphy terus mengaguminya dengan kata cantik dan manis. Dia tidak menganggap Noah tampan entah mengapa.
Noah mengikutinya dari belakang.
Tok Tok Tok
“Tuan, ini saya.” kata Noah sambil mengetuk pintu ruangan kerja pribadi Philips.
“Masuk.” sahut orang yang ada di dalam.
Tanpa lama-lama Noah langsung memutar kenop pintu dan mempersilahkan Sylphy untuk masuk ke dalam. Kemudian, ia berniat untuk keluar dari sana. Namun, Philips menahannya.
“Noah, aku juga ingin bicara denganmu.” kata Philips.
Karena Philips adalah bos nya. Jadi Noah mengikutinya saja.
Mereka duduk di sofa.
Sylphy terlihat sanga gugup. Ia bahkan sudah berkeringat sebelum Philips mengatakan sesuatu.
Sementara Noah hanya diam, seperti biasa dia tidak menunjukkan emosinya terlalu berlebihan.
Philips adalah orang yang paling tenang bagaikan patung yang tidak mengenal perasaan gugup.
“Sylphy.” panggil Philips.
“Y-ya?” jawab Sylphy cepat.
Philips agak terkejut. Tapi kemudian ia menghela nafas dan kembali meminum tehnya. Karena Sylphy tidak membuatkan dirinya teh. Jadi sekarang Noah lah yang membuatkan teh untuknya ketika ia ingin meminumnya.
“Sylphy. Aku sebenarnya tak ingin menambahkan beban pikiranmu.”
Seketika Sylphy memiliki firasat tidak enak setelah mendengar perkataan Philips.
“A-ada apa?” tanyanya.
“Adik tersayang mu, dia ada di bar beberapa hari ini untuk menemani pria tua.”
“Maaf?” Sylphy membelalak. Rasa bingung dan sejuta tanda tanya melekat di benaknya.
“Aku menyuruh bawahan ku untuk mengawasinya, jadi..”
“Bukan itu!” potong Sylphy dengan nada lantang.
Noah mengeryit. “Hei, jaga sikapmu.”
Sylphy mengigit bibir bawahnya. Ia mengepal tangannya kuat dan bergetar karena geram.
“Noah, biarkan dia bicara.” Ujar Philips. “Jadi apa?” tanyanya pada Sylphy.
“Si-siapa yang membawanya ke sana?”
“Aku tak tahu. Kami sudah menyelidikinya tapi sudah bisa di pastikan bahwa dia ke sana sendirian tanpa siapapun yang menemaninya setiap hari.” Jawab Philips.
“Setiap hari..” Gumam Sylphy.
Baru saja kabar kematian ibunya. Lalu kematian sepupu, paman dan bibirnya. Sekarang kabar Aquila yang ada di bar bersama dengan pria tua?
Cobaan apa lagi yang tuhan akan berikan untuk wanita malang satu ini?
“Kami sudah mengawasinya dari jauh. Jika terjadi sesuatu yang bahaya, kami akan segera menolongnya. Untuk sekarang, semua baik-baik saja.”
Perkataan Philips berhasil membuat Sylphy tersentak. Awalnya dia sangat-sangat membenci Philips dan sudah membulatkan tekad untuk kabur dari sana apapun resikonya. Namun, saat ini jantungnya berdebar setelah mendengar suara Philips yang mengatakan semua baik-baik saja.
Sylphy menundukkan kepalanya. “Terima kasih.” gumamnya.
Noah hanya melihatnya beberapa kali. Namun, beberapa kali ia mendengar masalah pribadi Sylphy itu membuatnya merasa kasihan kepadanya. Biar bagaimanapun, Noah juga manusia biasa. Dia juga tidak bisa apa-apa seperti Sylphy.
Mereka berdua terjerat belenggu Philips dan karena itu Noah bisa merasakan sakit yang Sylphy rasakan.