
Beberapa hari berlalu. Sylphy terus membuatkan sarapan dan makan malam Philips.
Namun, ia tidak pernah mengatakan bahwa ia lha yang memasakkan makanan itu untuk Philips. Karena Nessy yang memintanya.
“Tolong jangan bilang kalau kau yang memasak makanan ini, aku takut tuan Philips akan marah dan memecatku, aku butuh uang untuk biaya ibuku di rumah sakit.” itulah kata-kata Nessy memohon kepada Sylphy.
Tentu saja Sylphy tidak tega dengannya, ia tahu rasanya kerja keras untuk membiayai orang tua terutama orang tua yang sedang berjuang untuk hidup. Alhasil Sylphy tidak memberitahu Philips bahwa ialah yang selalu mengantikan tugas Nessy untuk memasak. Toh, menurutnya itu juga tidak penting dan tidak ada topik untuk membicarakan itu.
Seperti biasa, setelah pulang dari kantor Philips langisng makan karena ia suka dengan makanannya.
Bahkan suasana hati Philips berubah menjadi agak terang akhir-akhir ini.
“Haahhh.. kenyang banget.”
Philips mengelap mulutnya mengunakan tisu setelah meminum air putih.
“Enak banget, gak nyesel nolak makan malam bareng.” Gumam Philips sambil tersenyum simpul.
“Syukurlah kalau anda suka.” Ucap Nessy yang tiba-tiba sudah ada di depan Philips dan menyusun piring yang sudah Philips gunakan tadi.
Philips melihat ke arahnya. “Ah yah btw, siapa yang memasak ini?”
Nessy tersentak, bagaikan petir menyambarnya. “A-Ahhahaha.. saya yang memasak nya.”
Ketika Nessy mengatakan itu, tiba-tiba saja Sylphy ada di sana.
“Sylphy?” Gumam Philips. ‘Kalau di ingat-ingat.. aku hampir tidak bisa melihat wajahnya beberapa hari ini..’ batin pria itu.
“Ya?”
“Mau ke mana?”
“Ke toilet.” Sylphy menunjuk ke arah toilet dengan jari-jarinya yang terlihat ramping.
“Oh.” Jawab Philips.
Setelah itu Sylphy langsung melangkah pergi meninggalkan mereka menuju ke toilet.
Melihat kepergian Sylphy, Nessy merasa lega dan langsung menghela nafas.
...***...
Tak Tik Tak Tik
Dentingan jarum jam terus menggema di ruangan tanpa adanya istirahat.
Kini sudah pukul 11.36Pm dan suasana apartemen Philips benar-benar sangat sunyi.
Tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan karena mereka yang ada di sana sudah masuk ke kamar masing-masing.
Namun, Philips masih tidak tidak. Ia duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil memegang gelas yang di isi dengan minuman anggur.
Hari ini ada lebih banyak masalah di kantor ayahnya, jadinya ia juga melakukan usaha tambahan untuk kantor tersebut.
Biar serenggang apapun hubungannya dengan sang ayah-Reyga. Namun, ia tidak bisa membiarkan perusahaan yang Reyga urus jatuh karena biar bagaimanapun itu juga adalah perusahaan peninggalan Radeus.
Philips meletakkan gelasnya di atas meja lalu ia memijat dahinya pelan.
Setelah beberapa saat ia merasa mengantuk. Namun, anehnya kakinya malah mengajaknya untuk berjalan ke arah pintu keluar kamar.
Ceklek-
Philips memutar gagang pintunya pelan, setelah terbuka ia keluar dari kamarnya dan berjalan di ruangan yang teras sangat sunyi.
Suar dentingan jam yang berasal dari ruang tamu menggema menambhakan bumbu-bumbu menyeramkan.
“Eh? siapa?” Gumam Philips.
Ia melihat seseorang berdiri di balkon sambil memegang tembok pembatas balkon yang terbuat dari besi.
Setelah maju beberapa langkah, akhirnya Philips dapat melihat siapa itu.
Philips duduk di ayunan rotan yang berbentuk oval. Namun, ia masih memperhatikan Sylphy yang melihat ke arah jalanan yang ada di bawah apartemen.
Karena tidak ada suara dari Sylphy. Akhirnya Philips membuka suara lagi. “Btw, ke mana kau selama ini? di mana kau tinggal?”
Sylphy tersentak. Ia diam namun kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Ia mengelus besi pembatas balkon pelan sambil matanya yang menyipit melihat ke arah jalanan yang ada di bawah.
Bibirnya perlahan melengkung. “Aku di bantu oleh seseorang yang baik hati.”
Philips segera mengeryitkan alisnya. “Seseorang? siapa?”
“Aku lupa namanya.” gumam Sylphy.
Philips bangkit dari ayunan tersebut. Langkahnya kakinya perlahan mendekati Sylphy.
Tangannya perlahan meraih Sylphy, tidak. Tangannya ia letakkan di besi pembatas balkon dan ia mendekatkan tubuhnya dengan Sylphy.
Nafasnya yang hangat sampai bisa Sylphy rasakan dengan jelas.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Sylphy, ia ingin mendorong tubuh Philips. Namun, sayangnya tangannya langsung di pegang oleh Philips hingga ia tidak dapat menggerakkan tangan kanannya. “Apa yang sebenernya kau lakukan?!”
Philips semakin mendekatkan wajahnya. Tanpa abah-abah, ia menyatukan bibirnya dengan milik Sylphy.
Ia memasukan lidahnya kedalam mulut Sylphy dan mengobrak abrik isi mulut Sylphy untuk beberapa saat. Rasanya terasa hangat. Namun, Sylphy tidak bisa bernafas sama sekali karena ulah Philips.
Philips merasa bahwa bibir Sylphy terasa manis. ‘Apa dia makan sesuatu tadi?..’ batin Philips.
Karena Sylphy yang sudah kehabisan oksigen, perlahan tubuhnya menjadi melemas. Tangannya yang tadi ia gunakan untuk memukul dan menarik Philips, perlahan menyeret ke bawah bagai tidak ada tulang untuk menegakkan nya lagi.
beberapa saat kemudian..
Philips melepaskan ciuman mereka. Sylphy langsung memburuh nafas setelah mendorong Philips menjauh darinya.
Ia memegang besi pembatas balkon dengan erat sambil mengontrol nafasnya.
“Sebenarnya ap-”
Ketika Sylphy membalikkan tubuhnya. Alangkah mengejutkan nya ketika melihat Philips yang sudah tergeletak di lantai dengan wajah yang bagaikan tidak memiliki dosa.
Sylphy membelalak dan panik seketika. “Ap.. apa yang terjadi?!”
Ia segera berlari ke arah Philips dan langsung mengangkat kepala Philips. Ia menepuk pipi Philips agak kuat, berharap agar pria itu bisa lekas bangun. Namun, rasa paniknya malah berubah menjadi gejolak emosi karena Philips tidak kenapa-kenapa, ia hanya tertidur.
“Sylphy, antar kan aku ke kamar.. aku sangat pusing..” gumam Philips.
Sylphy menghela nafas lalu ia langsung menarik lengan Philips dan membantu Philips berdiri. Ia langsung membopong Philips kembali ke kamarnya.
“Kau.. berat banget..” keluh Sylphy, padahal mereka baru maju beberapa langkah saja.
Philips yang setengah sadar itu malah tertawa geli mendengar keluhan Sylphy.
Setelah sampai di kamar Philips, Sylphy segera membaringkan Philips perlahan di atas kasur.
Setelah nya, ia berencana ingin segera keluar dari kamar tersebut. Namun, tiba-tiba saja matanya melihat ke arah meja.
“Alkohol?” gumam Sylphy. “Enggak heran kalau dia sempoyongan pas jalan tadi.”
Sylphy memijat dahinya yang berkerut. Setelahnya ia melangkah pelan mendekati pintu keluar.
Ketika Sylphy hendak meraih gagang pintu, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di luar kamar tersebut.
Seperti ada seseorang yang menempel di pintu tersebut.
Karena ingin memastikan perasaan nya, ia langsung membuka pintu tersebut dengan cepat.
“Ahhh... kau..”
Benar saja, ternyata di sana ada Nessy yang berdiri sambil menempelkan kupingnya di pintu kamar tersebut.