After I Left You

After I Left You
Pembunuhan



Di kabarkan di berita.


Pada malam Natal, pukul 2.12Am terjadi keributan di ruang rawat 198 di rumah sakit GSy Perancis.


Kabarnya, suara keras tembakan terdengar dari ruangan itu dan setelah beberapa orang datang mengeceknya. Loid berdiri dengan tembakan dan Arlbe tergeletak di lingkaran darah.


Karena panik, mereka semua menjadi ribut dan akhirnya mereka semua lupa menangkap Loid yang padahal sudah terpojok karena tidak ada jalan untuk melarikan diri.


Akibat kelalaian semuanya. Loid berhasil kabur setelah memecahkan kaca jendela.


Dan kabar Loid James William yang menjadi buronan, kini sudah meluas di berbagai kota.


“Begitulah kabarnya.”


“Tch, merepotkan! padahal aku tidak berniat membunuhnya!”


“Yah, dia langsung mati karena kamu yang menembaknya tepat di dada, Tuan James.”


Sebuah bar yang terletak di tempat tersembunyi, bisa di bilang bar ini adalah tempat para kriminal berkumpul menjadi satu.


Dan di sinilah, seorang Loid James William berada. Ia bersama dengan Earl Monariaty, sang anak bungsu keluarga Monariaty.


Mereka cukup akrab. Earl sering datang berkunjung ke kediaman William dan ia juga beberapa kali bertemu dengan Sylphy yang kebetulan berada di rumah.


Loid mengendus sinis, ia mengacak-acak rambutnya frustasi. “Ahh.. sekarang aku sudah tidak memiliki tempat untuk kembali.”


“Ya ampun.” Jawab Earl sambil menunjukkan wajah agak terkejut. “Hmm.. bagaimana kalau kamu tinggal saja di rumahku? kebetulan aku tinggal sendirian karena kakak ku yang sibuk bekerja di luar kota.” saran Earl dengan wajah serius.


“Kakak mu?” Gumam Loid. “Ahh.. dia orang yang hebat. Btw, hubungan kalian sangat dekat, bukan?”


Earl tersenyum sambil mengguncang gelas anggur miliknya pelan. “Ya.”


“Haaaa.. bikin iri aja.”


“Pfft hahaha.” keduanya tertawa bersama.


...***...


Setelah minum beberapa gelas anggur. Earl dan Loid pulang bersama karena Loid yang langsung menerima tawaran Earl tanpa pikir dua kali. Yang ia pikirkan hanyalah, Earl orang yang baik karena mau membantunya.


“Eh? kenapa berhenti?” tanya Loid merasa bingung karena mobil yang mereka naik malah berhenti di tengah jalan.


Bukan jalan biasa. Kawasan itu adalah hutan yang sepi, tidak ada akses cahaya di sana.


Namun, itu adalah jalan yang benar untuk menuju ke kediaman keluarga Monariaty.


Earl tersenyum kecil sambil mengangkat bahunya. “Entahlah..” jawabnya. Ia melirik kan matanya ke arah supir pribadinya, sementara supirnya melihat lirik kan matanya dari kaca depan mobil. “Kate, coba periksa mesinnya.. aku rasa ada yang bermasalah.”


“Baik.” jawab Kate singkat.


Setelahnya Kate membuka pintu mobil dan langsung mengecek mesin mobil. Loid bingung, sementara Earl. Ia sangat tenang sambil menghisap sebatang rokok miliknya.


Beberapa saat kemudian..


“Haa sial, aku butuh toilet.” Gumam Loid, Earl mendengarnya.


“Apa sebutuh itu? aku rasa Kate masih akan lama.”


Loid menyipitkan matanya. “Ahh..”


“Tunggu sebentar, aku akan bertanya kepada Kate.”


Earl segera keluar dari mobil dan menyusul Kate yang ada di depan, ia berbicara kepada Kate. Namun, Loid tidak bisa mendengar percakapan mereka.


Beberapa saat kemudian. Earl kembali. “Kate bilang dia masih butuh beberapa waktu, tapi katanya kamu bisa bilang air di semak-semak kalau sudah tidak tahan lagi.” Earl tersenyum.


‘Masih butuh beberapa waktu? tapi aku sudah tidak tahan lagi! tapi, mana mungkin seorang Loid James William buang air di semak-semak!! ah masa bodoh! pokoknya aku sudah tidak tahan lagi.’ Batin Loid. “Okay, tunggu sebentar, aku tidak akan lama.”


Earl hanya tersenyum kecil saja.


Loid membuka pintu mobil, ia langsung keluar dan berjalan ke semak-semak. Sementara Earl yang tersenyum sambil melihatnya, senyumnya perlahan berubah menjadi seringai mengerikan dan berlahan, wajahnya menjadi datar.


“Kate, tunggu sebentar.” Earl langsung pergi ke arah Loid pergi.


“Baik.”


Namun, karena pendengaran nya yang sangat tajam. Ia merasa waspada ketika dirinya mendengar suara langkah kaki seseorang.


“Siapa di sana?” tanya Loid, berusaha memberanikan dirinya.


Namun, ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Hal itu membuatnya merinding.


Karena sudah merasa takut, ia segera mengancing celananya lalu pergi dari tempat ia buang air.


Tapi, kejadian tidak terduga terjadi.


Dor!


“Haa.. tuan, anda benar-benar..” gumam Kate sambil memejamkan matanya dan menghela nafas khawatir.


Setelah beberapa saat. Earl kembali sambil tersenyum. Hanya saja, bajunya terkena noda merah.


“Apa anda baik-baik saja Tuan?”


Dengan sopan, Kate memberikan sapu tangan kepada Earl.


“Seperti yang bisa kamu lihat.” Jawab Earl dengan nada bangga.


Kate lagi-lagi menghela nafas. “Baiklah, jadi apa yang terjadi dengan 'beliau'?” tanya Kate.


Tanpa perlu mendengar namanya. Earl sudah tahu siapa yang Kate maksud kan dengan ‘Beliau’ itu.


Earl membuang sapu tangannya. Memegang dagunya lalu menyipitkan matanya. “Entahlah..”


Kate diam sejenak. Lalu kemudian ia berbicara. “Waktu semakin larut, sebaiknya kita pulang segera karena kakak anda mengabari kalau ia hari ini pulang.”


Kate langsung berjalan ke mobil dan begitu juga dengan Earl yang mengikutinya dari belakang dengan wajah antusias.


“Ehhhh, benarkah?! padahal dia sudah tidak pulang selama 2 Minggu!” ujar Earl.


“Yah, dan kemungkinan beliau sudah menunggu anda di rumah.”


Earl tersenyum. Ia menyandarkan bahunya di kursi mobil lalu kemudian ia memejamkan matanya. “Baiklah-baiklah aku mengerti, kalau begitu cepatlah nyalakan mobilnya dan pulang!”


“Baik, Tuan Earl.”


Keesokan harinya..


Seorang pekerja pengumpul getah menemukan mayat Loid yang tergeletak di semak-semak dengan darah di tubuhnya.


Berita ini langsung masuk ke acara utama dan menjadi gosip panas warga. Padahal baru satu bulan 3 Minggu lalu rumahnya terbakar, lalu 2 Minggu lalu ia masuk kasus membunuh dan menjadi buronan, dan sekarang. Ia di temukan mati di pinggir hutan.


Tentunya berita ini sudah menyebar luas. Bahkan Philips dan Sylphy sudah mendengar berita ini.


“Siapa yang membunuhnya..” gumam Sylphy.


“Kemungkinan besar bisa jadi dia di bunuh karena telah melakukan sesuatu yang membuat sang pembunuh marah besar kepadanya.” Jawab Philips.


Seperti biasa, mereka mengobrol di ruang kerja Philips dengan Philips yang meminum the seduhan Sylphy.


“Kalau begitu, apakah pembunuhnya sudah di ketahui siapa?”


“Belum.” Jawab Philips. “Tapi, kasus ini masih tetap di selidiki oleh polisi karena kematiannya karena di bunuh, terutama keluarga kalian di kenal sampai ke dunia luar. Maka dari itu, tidak mungkin polisi menelantarkan kasus ini begitu saja.” Sambungnya.


Sylphy diam sejak. Lalu kemudian Aquila dan Clara terlintas di kepalanya begitu saja. “Ah, benar! di mana Aquila dan Ckara sekarang? bukannya seharusnya mereka sudah tidak memiliki tempat untuk tinggal?” tanya Sylphy.


Philips perlahan meletakkan gelasnya di atas meja, lalu ia melihat ke arah Sylphy. “Clara sudah mati.” jawab Philips.


Sylphy langsung membelalak lebar-lebar. “A-Apa? ba-bagaimana mungkin?”


“Entahlah.” Jawab Philips seraya mengangkat bahunya.


Padahal baru satu bulan lebih saja ia meninggalkan Perancis. Namun, rasanya sudah banyak yang berubah untuk keluarga William.


“Oh, jadi.. di mana Aquila?”


Philips tersenyum. “Dia sekarang tinggal bersama seseorang!” jawab Philips.