
Beberapa hari berlalu, masih tidak ada satupun kabar mengenai Sylphy ada di mana dengan siapa dan apa kabarnya sampai saat ini.
Namun, anehnya hari ini terjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah terduga oleh Philips.
Ia menemukan Sylphy yang tengah berjalan menelusuri jalanan trotoar.
Tentu saja Philips yang melihat itu langsung cepat-cepat menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Sylphy hanya diam saja sepanjang perjalanan.
Namun, ketika Sylphy diam, Philips terus memperhatikannya dalam diam.
‘Dia ganti baju?’ batin Philips.
Yah, kali ini Sylphy tidak kumuh, ia juga memakai baju yang layak dan tubuhnya bersih. Tapi, dari mana dia mendapat itu?
Setelah sampai di apartemen Philips mereka langsung turun dan masuk ke dalam kamar.
Kini Philips mulai mengintrogasi dirinya.
“Dari mana kamu?”
“Keliling-keliling.” Jawab Sylphy cuek.
“Bukan maksud nya dari mana? keliling-keliling ke mana?”
“Ini bukan sesuatu yang menarik.”
Philips mengeryitkan alisnya. Merasa geram, gemas dan antara ingin memukul atau melahap Sylphy. Tapi, ia tidak akan melakukan itu selagi itu adalah Sylphy.
“...”
“...”
Beberapa saat kemudian. Suasana hening karena Philips bingung harus bertanya apa. Faktanya, ia tidak mau menanyakan isi pikirannya kepada Sylphy karena itu pasti akan menganggu Sylphy.
“Oh, yah..” Sylphy membuka suara. Ia mendongak dan melihat ke arah Philips. “Kapan kau akan pulang ke As? btw aku akan menumpang denganmu kalau kau kembali ke As nanti.”
Philips terlihat berfikir. “Hmm.. As.. kapan, ya? aku kurang tau sih, aku masih ada urusan di sini jadi ku belum bisa tentuin kapan bakalan balik ke as.” Jawab Philips jujur.
Sylphy hanya menjawabnya dengan deoriah saja.
“Oke lah, kalau gitu aku mijam ponselmu 10 menit gak gak cuma 5 menit.”
“Untuk?” tanya Philips dengan tatapan curiga dan penuh selidik.
“Nelpon bos ku, dia pasti nyariin beberapa hari ini.” Jawab Sylphy.
Philips berdeoh lalu ia mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan langsung memberikannya tanpa ragu kepada Sylphy.
...***...
“Halo boss.”
[Siapa ini?] terdengar suara Yves dari sebrang panggilan.
Sylphy memijat pundaknya sebelum mengatakan. “Ini aku Sylphy.”
[WHAT?!! APA? SYLPHY?!! jadi kau masih hidup? aku pikir kau udah pindah ke alam baka!!]
“Hehehe.. aku ada beberapa masalah, aku sekarang ada di Prancis, aku belum bisa pulang untuk beberapa waktu. Jadi, aku ingin bilang kalau aku keluar dari cafe, maaf kalau kurang sopan tap-”
[Sylphy? ada apa? apa terjadi sesuatu sampai-sampai kau ke Prancis tanpa kabar?] Tanya Yves dengan nada khawatir. [Ah, btw. Aku dengar rumah bibi dan paman mu terbakar habis beberapa waktu lalu, apa kau sudah tau itu?]
Sylphy diam sejenak, kemudian ia menjawab “Yah.. aku sudah tahu tentang itu..”
...***...
Akhirnya Sylphy keluar dari pekerjaan nya sebagai waiter cafe milik Yves. Berikutnya ia menghubungi Glenca dan mengabari wanita itu dengan kabar yang sama seperti ia menyampaikan kata-katanya kepada Yves.
Glenca memberinya nada kecewa. Tapi, semuanya berlangsung sejenak saja.
“Oke, trimks.” Sylphy ponsel Philips pada pemiliknya.
Philips mengambil ponselnya lalu meletakkan nya di atas nakas. Kini ia menatap ke arah Sylphy yang masih diam dengan wajah suntuk. “Kenapa kau keluar?”
Sylphy melihat ke arahnya. “Ya karena aku gak kerja.”
Sylphy terlihat berfikir. Ia memijat pundaknya lalu menjawab “Aku akan cari pekerjaan di sini, aku akan menginap di sini untuk malam ini lalu besok aku akan cari kos atau rumah sewa dan setelahnya aku kerja di daerah sini.”
Philips berdeoh pelan. Tapi, kemudian ia terpikirkan sesuatu.
“Sylphy! bagaimana kalau kau jadi pekerja ku saja?”
...***...
Karena Philips tidak mau kehilangan Sylphy lagi. Jadinya ia memutuskan untuk menjadikan Sylphy pekerjanya, Sylphy bekerja dengannya sebagai maid.
Kebetulan, satu maid Philips sudah keluar dari apartemen nya karena beberapa alasan.
Karena Sylphy yang masih tidak tahu lingkungan Perancis. Jadinya ia langsung menerima tawaran dari Philips.
Setelah menerima tawaran Philips, ia langsung bekerja di apartemen Philips.
Seperti maid-maid pada umumnya. Ia membersihkan apartemen milik Philips.
“Nessy, apa kau Udha buat makan malam?” tanya Sylphy.
Nessy adalah maid yang juga bekerja di apartemen Philips, ia sudah bekerja di sana bahakan sebelum Philips tinggal di sana karena apartemen itu terus di jaga kebersihannya oleh Philips.
Nessy memutar matanya. Namun, kemudian ia berjalan ke arah Sylphy dengan wajah cemas. “Ahh.. maaf kan aku, tapi kayaknya aku gak bisa masak dulu deh karena tangan ku semalam habis terkena minyak panas.” Nessy menunjukkan tangannya yang memiliki bekas luka bakar, terlihat luka itu masih baru.
Sylphy tidak memasang ekspresi sedikitpun. “Okelah aku yang masak untuk tuan Philips.”
Sylphy langsung pergi dari sana.
Nessy yang melihat kepergian Sylphy langsung tersenyum. Sejak Sylphy bekerja di apartemennya Philips, Nessy hanya menganggapnya sebagai pemula yang bisa ia suruh-suruh.
Bahkan sebagai tugas Nessy dikerjakan oleh Sylphy sejak beberapa hari ini.
Karena Sylphy mengatakan bahwa ia akan memasak makanan untuk Philips. Jadinya kini ia sudah berada di dapur dengan celemek yang ia gunakan.
“Hmm..” Sylphy melihat isi kulkas, ada beberapa banyak bahan makanan di dalam kulkas tersebut. “Masak apa ya..” ia berfikir sejenak. “Ah, aku tahu!”
Sylphy langsung mengambil bahan-bahan makanan segar dari kulkas dan langsung membuat makanan yang terlintas di pikirannya.
...***...
Malamnya. Kini pukul 9.43Pm. Philips akhirnya kembali ke apartemen nya setelah seharian berada di kantor dengan pekerjaan nya di perusahaan milik ayahnya.
“Haaahhh.. capek banget!” keluh Philips setelah menyandarkan bokongnya di sofa.
“Selamat malam tuan.” Sambut Nessy, ia langsung mengambil jas milik Philips dan menaruhnya di tempat biasanya. “Apa anda akan langsung makan malam?” tanya wanita itu setelah kembali lagi kepada Philips.
“Ya.”
Mereka segera berjalan ke ruang makan.
Setelah duduk di kursi, Philips mencium bau yang membuatnya cukup tertarik.
“Apa makanan malam ini?” tanya Philips.
“Daging sapi saus manis.” Jawab Nessy. Ia tahu itu karena tadi ia sempat bertanya kepada Sylphy.
Philips menjawab nya dengan deohan saja.
Nessy segera menyajikan makanan yang di masakan oleh Sylphy sambil tersenyum ramah kepada Philips.
“Oh ya, mana Sylphy?”
Seketika wajah Nessy menjadi datar, namun detik berikutnya ia sembunyikan wajah datarnya dengan senyum ramah. “Dia ada di kamarnya, katanya dia mau mandi dan langsung tidur.” Jawab Nessy.
“Oh.”
Philips langsung memotong daging yang terlihat mengiurkan tersebut, ia menusuk daging dengan garpu dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.
Ia mengunyah daging itu beberapa kali di dalam mulutnya. ‘Rasanya.. kenapa gak asing?’ batin Philips dan terhenti sejenak dengan makanannya.
Di sisi lain.
Sylphy menyisir rambutnya di depan cermin sambil tersenyum tipis. “Itu adalah makanan favorit nya, daging sapi saus manis.”
Sejak dulu, Philips tidak terlalu suka makanan pedas dan panas.