After I Left You

After I Left You
Benar Atau Salah?



Sylphy yang bingung dengan jawaban dari Philips langsung memiringkan kepalanya. “Seseorang?”


“Ya. Dia tinggal dengan Ayahnya, Agam Wree.” Jawab Philips.


Mendengar nama Agam Wree yang sudah lama tidak dirinya dengar membuatnya shock. “A-Ayah?” suaranya gemetar. “Kenapa dia balik lagi? bukanya dia sudah menghilang selama bertahun-tahun?”


Philips melihat ke arah Sylphy. Ia menarik Sylphy lalu secara paksa ia mendudukkan Sylphy di atas pangkuannya.


“Tuan?..”


“Sebentar saja, oke.” Ujar Philips memotong perkataan Sylphy. Ia segera tersenyum tipis lalu menumpukkan wajahnya di pundak Sylphy.


“Ada apa?” Tanya Sylphy yang merasa aneh dengan kelakuan Philips belakangan ini.


Philips diam sejenak, lalu kemudian ia menjawab. “Aku sudah ingat semuanya sekarang.”


Sylphy membelalak. Ia segera melihat ke arah Philips dengan rasa selidik yang mengatakan. Sejauh mana dia tahu?


“Be-benarkah? ja-jadi.. apa saja yang sudah mau ingat?”


“Semuanya.” jawab Philips serius.


Seketika keadaan menjadi hening. Bola mata Sylphy bergetar menunjukkan rasa khawatir yang sangat tidak wajar.


Philips tersenyum. Ia kemudian menyipitkan matanya lalu meremas langsung Sylphy dengan sangat kuat.


“Sett..” Desis Sylphy dengan matanya yang ia pejamkan.


Philips semakin tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sylphy, lalu kemudian ia berbicara. “Aku akan ceritakan masa lalu ku dengan Sylpylee Creylin, bagaimana menurutmu, hmm?”


Sylphy tidak menjawab. Sebenarnya ia tidak menyetujui pertanyaan Philips. Tapi diamnya Philips anggap sebagai jawaban Ya.


Sangat konyol tentunya, tapi itulah sifat Philips.


“Pada musim panas di tahun pertama aku berkuliah, aku ingat kalau ada seorang wanita yang datang ke Vila kakek ku dan dia mengatakan bahwa namanya adalah Janesiyu, di depan semua orang. Nama aslinya bukan Janesiyu, melainkan Sylphylee Creylin.”


Sylphy tersentak. Ia ingin segera turun dari pangkuan Philips dan segera kabur dari sana. Namun, Philips malah memegang pinggangnya semakin kuat, dan iapun tidak bisa memberontak akibat tatapan mengintimidasi yang Philips berikan.


“Kemudian.. setelah berbohong sebagai Janesiyu selama 1 bulan terhadap kakek ku, akhirnya kakek ku suka dengannya dan teratur dengan nya. Karena itu, aku di kabari olehnya untuk kembali ke Vila nya dan bertemu dengan Janesiyu yang sebenarnya adalah Sylphy itu.” Sambung Philips bercerita. Ceritanya semakin menegangkan dan suaranya semakin dingin dan datar. “Kemudian, setalah aku kembali ke Vila nya, aku bertemu dengan wanita itu. Awalnya kami tidak akur, namun kemudian kami menjadi akur satu sama lain karena beberapa hal kecil yang menurutku menarik darinya. Lalu, kami bertunangan dan memakai cincin pertunangan yang sama. Kami bertunangan di saksikan oleh kakak ku bersama istrinya, kakekku, dan ayah ku yang aku hindari.” Sambung Philips.


“Lalu, ketika hampir selesai musim panas. Aku menyatakan perasaan ku kepadanya. Tapi, dia malah langsung menolak pertanyaan ku tanpa mau berpikir dua kali. Setelah aku di tolak, aku terus berusaha membuat dia jatuh cinta dengan ku. Namun, dia terus saja mengatakan kalau dia tidak suka dengan ku. Kemudian, karena aku yang sudah putus asa dan musim panas akan segera berakhir, akhirnya aku membuat tekad untuk membuatnya agar bisa terjerat denganku selamanya. Yaitu, aku berencana untuk skidipapap dengannya. Namun, karena perencanaan ku kurang matang, akhirnya aku gagal dan dia sepertinya semakin membenciku. Setelah musim panas berakhir, aku menyatakan perasaan ku sekali lagi dengannya sebelum dia pulang. Namun, kami malah bertengkar hebat dan akhirnya dia kembali ke rumahnya tanpa berpamitan denganku. Lalu, aku merasa bersalah karena tindakan ku kepadanya. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menemuinya setelah mengetahui alamat rumahnya. Namun, aku malah mendapatkan kabar bahwa kakek ku meninggal ketika aku di perjalanan ingin menemuinya. Setelah aku sampai di tempat tujuan. Aku mengalami shock yang sangat hebat dan hampir gila. Akibat tindakan sembrono ku, orang yang aku cintai marga kepada ku. Lalu, akibat aku meninggalkan Vila kakek ku, dia mati. Dia mati karena di bunuh. Dan setelah itu, aku sakit lalu ingatan ku semuanya menghilang.”


Semua yang Philips katakan tidak bisa membuat Sylphy berhenti merasakan khawatir.


“Oh, yahh.. sebelum aku hilang ingatan, aku bertemu dengan Janesiyu palsu itu.”


Akhirnya sampai di inti permasalahan yang membuat Sylphy benar-benar khawatir.


“Kami bertemu. Tapi, dia berjalan dengan seorang pria dan ketika aku bertanya, dia mengatakan kalau pria itu adalah kekasihnya.”


‘Ti-Tidak! bukan begitu! dia bukan kekasihku dan aku bukannya tidak suka denganmu! bukan begitu! kau salah paham...’ Sylphy sangat ingin menjelaskan dan mengatakan yang sebenarnya kepada Philips. Tapi, seseorang melarangnya untuk hal itu.


Dia tidak boleh menceritakan masa lalunya dengan Philips kepada siapapun. Jika itu terjadi, ganjaran untuknya sangatlah bukan main-main.


‘Orang itu’ sendiri yang akan memberinya pelajaran. Bahkan, dia sudah bertemu dengan orang itu setelah mereka berpisah selama 7 tahun.


Sylphy hanya bisa menundukkan kepalanya saja tanpa mengkritik. Bagaimana bisa Philips mengingat semua itu hanya dalam waktu beberapa Minggu saja bersama dengan dirinya.


“Jadi Sylphy. Apa pendapatmu dengan ini, hmm?”


“A-Aku tidak tahu..” jawab Sylphy.


“Bohong! kau harus jelaskan yang sebenarnya! pertama, kenapa kau berbohong tentang kau adalah Janesiyu, kedua! apa kau benar-benar sebenci itu denganku? dan yang ke tiga. Aku lupa mengatakan kalau kasus pembunuhan kakek ku juga ada keterlibatan nya dirimu!!” bentak Philips yang sudah sangat kesal.


Sylphy mengangkat kepalanya. Matanya melihat ke arah wajah Philips dengan tatapan kosong. “Apa maksud mu aku terlibat? aku sudah kembali ke kediaman ku pada kejadian itu dan kakek mu mati ketika kamu ingin menemui ku.”


Philips memegang pinggang Sylphy semakin kuat seraya menunjukkan seringai menyerahkannya.


Ini adalah sifat seorang Philips yang asli.


“Cincin tunangan itu.” Sylphy tersentak. Sementara Philips semakin menyeringai karena ia terus berhasil memojokkan Sylphy. “Ketika kamu kembali, aku sempat mengintip ke kamarmu. Saat itu, kau memasukkan nya ke dalam saku bajumu lalu kemudian kamu membawanya pergi dari Vila Naumen tanpa jatuh karena kau sudah mengawasi mu. Saat itu aku senang, tapi kemudian cincin itu di temukan di dekat TKP tempat pembunuhan kakek ku terjadi.”


Wajah Sylphy semakin memucat. Namun, ia masih tetap berusaha tersenyum. “Bagaimana anda bisa menemukan itu di TKP sementara anda berada di tempat lain bahkan sampai anda lupa ingatan dan di rawat di as. Anda tidak kembali ke Vila itu lagi, bukan?” Ujar Sylphy, berusaha mencari cela.


Philips tersadar. “Oh, iya. Aku lupa.. Aku dapat kabar ini dari teman masa kecilku, Dorothy.” Philips menyeringai, ia mengangkat tangannya lalu kemudian mengelus lembut pipi Sylphy dan perlahan ia mengangkat kepala Sylphy. “Itu tidak penting. Yang penting adalah, apa kau membunuhnya, hmm?”


Sylphy diam. Ia ingin menundukkan kepalanya lagi. Namun, sayangnya Philips menahan wajahnya untuk menunduk. Dengan terpaksa, ia harus memperlihatkan wajahnya yang cemas itu kepada Philips.