
Bella tak kembali ke rumahnya hingga malam pun menyelimuti kota. Dia numpang mandi di rumah Sylphy dan meminjam pakaian Sylphy setelah dia selesai mandi.
Mereka berdua tidak melakukan apa-apa selain menonton film Korea dari layar televisi yang ada di kamar Sylphy.
Keduanya diam dan fokus pada apa yang mereka lihat, mereka juga membawa camilan untuk menjadi teman ketika menonton drama.
“Sylphy, jam berapa sekarang?” tanya Bella. Ia berencana untuk menginap kalau sudah larut malam.
“Jam.. 8.21 malam.” jawab Sylphy.
Bella berdeoh sambil manggut-manggut pelan. Ia berencana untuk pulang setelah selesai film terakhir ini.
Ting Ting Ting
Alarm pengingat yang Bella setel di ponselnya berbunyi. Bella sengaja membesarkan volume alarm milik nya karena agar dia bisa lebih mudah mendengarnya.
“AAAAHHHHH!!! SYLPHYYY!!!” teriak Bella setelah bangkit dari sofa yang berjarak beberapa meter dari televisi.
Sylphy terperanjat kaget. Ia hampir menjatuhkan teh yang sedang diseruputnya.
“Ada apa? kenapa?” tanya Sylphy panik dan secara alami ikut berdiri.
Bella memegang kedua sisi pundak Sylphy dan ia secara berutal mengguncang tubuh Sylphy. “Jam! jam! jam! Konser! Gery!!” matanya berbinar ketika mulutnya melontarkan kata-kata itu.
Dengan antusias. Bella segera berlari ke nakas dan mengambil ponselnya, kemudian ia mencari sesuatu lalu memberikannya pada Sylphy.
“Lihat ini! Gery akan datang ke sini!!!”
Terlihat dari pemberitaan group fans Gery kalau lelaki itu akan memainkan musik nya di acara penyambutan musim semi. Sylphy memiliki firasat tidak enak ketika melihat ekspresi Bella yang sangat antusias di depannya.
“Syl! ayo--”
“Tidaak!!” jawab Sylphy cepat sebelum Bella menyelesaikan kata-katanya.
Bella memanyunkan bibirnya dan menyipitkan kedua matanya.
“Aishh! ayo plisss! aku tidak ada teman yang akan menemaniku ke dalam karena semua temanku pergi bersama, aku lupa bilang ke mereka kalau aku ada di rumahmu.”
Rumah Sylphy dan rumah Bella lumayan jauh. Bahkan Sylphy kaget karena tadi Bella tiba-tiba datang, biasanya perempuan ini akan mengabarinya terlebih dahulu sebelum dia datang ke rumahnya.
Sylphy tidak punya pilihan ketika Bella sudah mendesaknya seperti itu. Tanpa pilihan, Sylphy mengikuti apa yang Bella mau.
Dan saat ini, mereka berada di tempat acara penyambutan musim semi. Acara di adakan di tempat seperti bar. Faktanya, itu memang bar, namun kali ini di sewa oleh seseorang dari universitas yang sama dengan Sylphy. Orang itu menyewa bar selama 1 malam untuk acara penyambutan musim semi.
“Sylphy, 'kan?”
Suara pria yang terasa familiar tiba-tiba terdengar dari belakang tubuh Sylphy. Karena penasaran, ia segera berbalik untuk melihat siapa yang ada di belakangnya dan mengetahui namanya.
“Ehh.. Larry? ternyata kamu ada di sini juga? aku pikir kamu tak suka datang ke tempat seperti ini hahaha.”
Larry menemani tawa ringan Sylphy.
“Aku di sini karena temanku yang memaksa ku untuk ikut ke sini, sejujurnya aku tidak suka datang ke tempat ramai seperti ini.” Larry menjelaskan alasan mengapa ia bisa berakhir di sana.
Sylphy hanya menanggapinya dengan tawa ringan saja. Karena tidak ingin canggung, jadinya Larry juga ikut tertawa bersamanya.
“Tesss Tess aooaaaa satu.. Tess satu dua Tess..”
Suara lelaki terdengar dari mikrofon yang sudah tersedia di bar untuk karaoke.
Ketika Sylphy memutar matanya ke arah panggung. Ia melihat sosok Gery yang sudah rapi dengan rambutnya yang di sisir ke belakang. Walau gaya seperti itu tidak terlalu cocok untuk Gery, namun ia tetap saja terlihat sangat tampan.
Semua perempuan yang ada di sana bersorak untuknya. Entah ada berapa banyak orang yang datang, namun hampir semua perempuan yang datang berteriak memanggil nama Gery dan terus-menerus memuja lelaki itu.
“Hahaha.. dia sangat populer.”
Sylphy merasa kalau Larry sepertinya tidak suka dengan Gery.
“Oke semuanya, kalau begitu aku bawakan lagu yang lagi trend yaa.”
Hampir semuanya menjawab "ya" dengan berteriak kencang.
“♪Ketika badai menerjang, angin berhembus kencang♪♪”
“♪rasa takut itu kembali ku rasakan saat mengingat kejadian masa lalu♪♪”
Sylphy tersentak. Ia merasa lagu itu sepertinya akan sama seperti masa lalunya. Sylphy tidak fokus, ia tertegun tanpa berpaling dari Gery yang bernyanyi dengan suaranya yang merdu.
“Sylphy? apa kamu suka Gery?”
Karena sara Larry, Sylphy kembali sadar ke akal sehatnya dan langsung melihat ke arah Larry.
“Tidak, aku tidak tertarik dengan laki-laki yang suka bernyanyi, aku lebih suka laki-laki dingin daripada seperti ini.” jawab Sylphy.
Ia mengatakan yang sejujurnya kepada Larry.
Sejak pandangan pertamanya dengan Gery, kesannya kepada lelaki itu adalah “Laki-laki yang suka bernyanyi dan memiliki tubuh lentur sangat tidak menarik, sebaiknya mereka menjadi perempuan saja daripada menjadi laki-laki.” ia membuat kesan pertamanya di pertemuan kedua mereka saat di kantin.
Larry hanya berdeoh merespon apa yang Sylphy katakan.
Kemudian, terlihat wajah Sylphy yang gelisah entah karena apa. Semakin Gery jauh menyanyikan lagunya semakin gelisah terlihat wajah Sylphy di ruangan yang agak gelap itu.
“Mau ke mana?” tanya Larry khawatir.
“Ke toilet.” jawab Sylphy tanpa repot-repot melihat ke arah Larry yang mengkhawatirkan dirinya.
Sylphy berada di toilet. Ia berdiri di depan kaca wastafel sambil menatap wajahnya yang terlihat gelisah dan memucat.
Warna pink terakhir di pipinya telah hilang ketika tiba-tiba orang asing datang ke toilet.
Padahal jelas-jelas tertulis bahwa toilet itu khusus untuk perempuan. Namun, laki-laki yang sedang mabuk berat malah asal masuk saja ke sana dan membuat Sylphy kaget bukan main.
“Ap-apa yang kamu lakukan di sini?”
Dengan rasa panik, gelisah dan takut Sylphy menjauhkan dirinya dari pria yang berjalan ke arahnya dengan sempoyongan seperti zombi yang telah menemukan mangsanya.
Sylphy begidik ketika mata laki-laki itu terlihat sangat mesum saat melirik ke arah dada dan pahanya.
Saat ini Sylphy mengunakan baju kaos berwarna kuning dan mengunakan rok pendek yang bahkan tidak menutupi lututnya.
Ia memakai pakaian itu karena usulan gila dari Bella, seharusnya ia tidak usah menuruti apa yang Bella katakan.
“Hic, jangan takut hic, aku akan hic membuat mu nyaman kalau kamu tidak hic melawan.”
Lelaki itu mengangkat tangannya dan hendak meraih dada Sylphy.
Sylphy sudah berada di ujung tembok, ia tidak memiliki ruang lagi untuk lari. Karena ketakutan, Sylphy gemetar dan menutup matanya.
“Baguss.. menurut lebih hic bagus daripada melawan ku hic.”
Bughh---
Belum sempat laki-laki itu memegang Sylphy. Tiba-tiba ada seseorang yang menolong Sylphy dengan memukul wajah lelaki ituhingga pingsan.
“Kamu tidak apa-apa?” orang itu bertanya dengan nada cemas dan khawatir sambil memeluk Sylphy yang masih gemetar ketakutan.
“A-aku tidak apa-apa.” Sylphy meremas baju orang yang menolongnya. Ia merasa hangat berada di pelukan orang itu. “Terima kasih..” ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah orang yang telah menolongnya. “...Gery.”