
Pagi yang suram. Padahal Sylphy sudah berusaha keras untuk mengabaikan Bella, namun kenyataannya.
Ia tidak bisa mengabaikan perempuan itu karena entah bagaimana perempuan itu terus memiliki ide untuk bisa mengobrol dengan Sylphy.
Tadi malam Bella menghubungi nomor rumah Sylphy yang entah dapat dari mana dia.
Sylphy masuk ke gedung fakultasnya sambil membawa beberapa buku di tangannya dan tas mini yang tergantung di bahunya.
“Sylphy!!” pekikan yang sangat keras ini menggema di ruang fakultas.
“Ekhem ekhem!”
“Ah, sorry-sorry.”
Karena di tegur oleh seseorang, Bella mengecilkan suaranya dan segera menghampiri Sylphy untuk mengobrol.
“Sylphy! kau tahu? malam ini kau harus ikut ke ruang musik setelah kelas!” Bella sepertinya benar-benar energi dan memiliki tidur yang cukup tadi malam, benar-benar berbeda dengan Sylphy.
Sylphy hanya menanggapinya dengan senyum paksa saja. Ia habis kata-kata untuk temannya yang satu ini.
“Oh benar, Sylphy aku semalam tidak sengaja melihat kamu dan senior Gery jalan bersama, apa kalian sudah kenal lama?” Tiba-tiba Laurent menanyakan ini, hal ini tentunya membuat Sylphy tersentak kaget, tapi tentu ia tahu kalau pasti akan ada yang melihat mereka karena mereka berada di tempat umum.
Bella yang mendengar itu kaget, ia segera menatap Sylphy dengan ribuan tanda tanya di benaknya.
“Eumm.. ehmm.. tidak, aku tidak kenal dia, kami hanya beberapa kali bertemu karena kebetulan dan kemarin juga sama.” jawab Sylphy seraya menggosok pelipisnya.
“Eh? benarkah? sebuah kebetulan? bukankah itu kebetulan seperti yang ada di komik-komik akhir-akhir ini, aku dengar mereka akan berakhir berpasangan kalau sampai tiga kali bertemu secara tidak sengaja!” ujar Laurent lagi. Bella entah bagaimana tapi ia akhirnya angkat bicara untuk masalah ini.
“Sylphy, dosen sebentar lagi datang dan Laurent cepat kembali ke kursi mu.”
Mendengar suara lantang Bella di hiasi dengan senyum mengintimidasi dari Bella, Laurent segera berlari kembali ke tempat duduknya.
Sementara Sylphy yang kadar kepekaannya yang bagaikan roller coaster dan saat ini ia tidak begitu peka dengan ekspresi Bella karena dirinya yang ada di rel bawah.
Karena Bella merangkul bahunya dan mengakunya duduk. Ia hanya mengikuti lalu duduk di sebelah bella. Tidak lama setelah itu, akhirnya dosen pun datang ke sana.
...***...
Akhirnya saatnya pulang. Seperti biasa Sylphy akan langsung kembali bersama dengan Bella hingga mereka akan berpisah di gerbang universitas.
“Sylphy.” panggil Bella dengan suara rendah. Ia terlihat menyembunyikan sesuatu dan ingin mengatakannya, namun ia ragu untuk mengatakannya dan akhirnya ia memalingkan wajahnya. “Ah, lupakan.”
Sylphy menyadari bahwa Bella ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
Setelah Bella pulang tidak lama kemudian Sylphy di jemput oleh supir yang menjemputnya biasanya.
“Nona, hari ini tuan Edgar tidak akan kembali, beliau ingin mengatakan sesuatu kepada anda, tapi beliau tidak memiliki waktu untuk itu, jadi beliau memesankan kepada saya. Beliau mengatakan ‘Tolong bilangan kan pada Sylphy untuk jangan tidur dan berkeliling lingkungan rumah sembarangan, biar bagaimanapun, dia baru beberapa bulan di sini dan dia masih belum terlalu mengenal lingkungan mansion ini’ itulah yang beliau pesankan kepada saya untuk di sampaikan kepada anda.”
Benar, walau Sylphy sudah beberapa bulan tinggal di sana. Ia tidak pernah berkeliaran sampai halaman belakang atau samping mansion. Ia paling hanya berada di kamar, ruang tamu dan halaman depan saja.
Ah! apa dia tahu kalau aku pergi ke halaman samping kemarin? apa Earl mengatakan hal ini kepadanya? tapi, aku ragu kalau Earl mengatakan ini. Walau kami kenal beberapa bulan ini saja, tapi Earl terlihat tidak terlalu peduli dengan urusanku. Pikir Sylphy ketika menyadari kalau di dalam pesan Edgar ada peringatan untuk jangan berkeliaran ke sekeliling mansion karena Sylphy tidak mengenal lingkungan mansion tersebut.
“Baik nona, kita sudah sampai.”
Sepertinya ada yang salah karena mereka tidak kembali ke mansion. Melainkan mereka datang ke sebuah gedung pencakar langit yang teramat kokoh dan besar.
Aneh, sepertinya aku pernah melihat gedung ini, tapi kapan ya? hal pertama yang Sylphy pikirkan setelah melihat gedung pencakar langit tersebut yang berdiri kokoh di depannya saat ini.
“Ayo ikuti saya.” titah supir tersebut.
Sylphy merasa ragu untuk mengikutinya. Ia sering melihat film-film drama tentang seorang perempuan yang di bawa ke hotel lalu di bunuh. Tapi sepertinya gedung itu bukan hotel, tapi untuk berjaga-jaga Sylphy memastikan.
“Apa yang kita lakukan di sini? apa kita akan masuk ke dalam?”
“Iya.”
Sylphy mengeryitkan alis dengan bibirnya yang berkerut. “Untuk apa? apa ada seseorang yang mau kita temui di sini?”
“Iya.”
Supir itu terus saja berkata singkat. Sangat tidak nyaman berbicara dengan orang yang seperti itu.
“Ayo ikuti saya.”
Sylphy berusaha menyakinkan dirinya untuk tidak meragukan tiga kata dari supir nya. Biar bagaimanapun, supir itu adalah orang yang Edgar percayakan untuk menjaga Sylphy.
“Baiklah.” siapapun bisa melihat bahwa Sylphy menjawabnya dengan acuh tak acuh. Walaupun Sylphy adalah sosok pemalu dan pendiam di saat-saat tertentu. Tapi di sisi lain ia juga memiliki sifat kejam dan dingin, tentunya tidak banyak yang tahu, hanya Aquila lah yang mengetahui hal ini.
Berbicara tentang Aquila. Baru-baru ini ada berita tentang perempuan sewaan yang di bawa ke hotel untuk memuaskan hasrat pria bejat. Sylphy yang tidak sengaja melihat artikel tersebut saat ia menjelajah situs web di komputernya, merasa familiar ketika melihat sosok perempuan yang tidak sengaja tertangkap kamera. Sosok perempuan itu seperti Aquila jika di lihat dari tubuhnya.
Setelah memasuki gedung tersebut. Mata semua karyawan tertuju pada Sylphy dan supirnya. Walau Sylphy tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Sylphy tahu kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
Tok Tok Tok
“Permisi tuan.”
Supir mengetuk pintu sebuah ruangan beberapa kali setelah mereka naik ke lantai 8 menggunakan lift.
Well sepertinya orang ini tidak terlalu penting, biasanya orang penting akan selalu berada di lantai paling atas.
“Masuk.” jawab wanita dari dalam ruangan yang di tutup oleh pintu yang sangat tebal tersebut.
Supir membuka pintu tanpa ragu dan langsung masuk begitu saja. Sedangkan Sylphy yang tidak tahu situasi hanya mengikutinya saja.
“Apa kabar?” suara yang terdengar berat dan terasa familiar. Ekspresi yang menunjukkan keacuh tak acuan. Bibir yang menunjukkan senyum namun tampak seperti seringai bagi Sylphy.
Orang yang sudah menghilang dari pandangannya selama beberapa bulan, akhirnya berada di depannya, tidak lain dia adalah Marcel Naumen.