After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 8 : Is This A Morning Sickness?



Jono meninggalkan Alam yang sudah tak berdaya, pria itu bergegas pulang ke rumahnya dan mengabarkan kepada istrinya bahwa dia sudah puas menghajar Alam.


“Ya Allah Baaang, jadi bener kamu berantem sama Alam? Kenapa sih kamu nggak maafin dia aja? Toh semua masalah juga udah selesai"


“Abang belum puas kalau belum memukuli dia. Biar dia kapok! Sudah lah Salma, ayo... ayo kita lakukan lagi"


“Mmmm... Abang nggak marah lagi kan?"


“Maafin Abang Sayang, Abang stress. Abang merasa hidup ini nggak ada gunanya, hampa. Abang merasa bahwa Tuhan tidak pernah menganggap Abang"


“Astaghfirullah. Ampunilah suamiku ya Allah, dia hanya khilaf dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Kuatkanlah dia dalam menghadapi ujian yang cukup berat ini ya Rab. Semoga bang Jono segera berubah” gumam Salma dalam hati.


“Jadi gimana Sayang? Kamu mau kan melakukannya lagi?"


Salma mengangguk, dan akhirnya Jono pun membawanya ke kamar mereka. Mereka mulai menanggalkan pakaian yang mereka kenakan dan mereka tutupi dengan selimut yang tebal. Dan sekali lagi, dua sejoli itu sangat menikmati olahraga malam itu.


Tiga Bulan Kemudian


“Huwek! Huwek!"


“Ya Allah, aku kenapa? Kenapa sering sekali aku mual dan muntah seperti ini? Jangan-jangan..."


Ya, memang benar bahwa akhir-akhir ini Salma sering merasakan gejala yang mirip seperti ibu hamil, atau morning sickness. Hampir setiap pagi dan malam wanita itu harus melakukan maraton, alias bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Di kala mengajar di pondok pesantren, wanita 28 tahun itu juga sering merasakan hal yang sama. Salma menduga bahwa dirinya tengah hamil muda, sehingga dia terpaksa harus izin cuti sementara waktu. Wanita itu berpesan kepada ustadzah Fahmah untuk menggantikan posisinya sementara waktu.


Kalau Salma benar-benar berbadan dua, pastinya dia akan merasa sangat senang. Tapi di satu sisi, ada satu pertanyaan yang selalu mengusik benaknya. Tentang status janin yang sekarang dia kandung ini. Salma tidak tau ini anak siapa, kemungkinan pertama jelas suaminya sendiri, tapi dia juga punya kemungkinan ke-2. Bagaimana jika anak ini darah daging Alam Firmansyah? Untuk itu Salma ingin segera konsultasikan dengan dokter. Tapi, uang dari mana? Sementara dia hanya seorang ustadzah yang mengajar para santriwatinya tanpa imbalan apapun. Semua orang juga pasti tau bahwa hasil penjualan gorengan itu tidak seberapa. Suami juga tidak jelas pekerjaannya apa. Namun apa daya? Wanita itu terpaksa harus menunggu suaminya pulang. Tidak ada pilihan lain lagi.


Di satu kesempatan, pernah wanita itu hendak berangkat untuk menjual gorengan, namun seketika kepalanya merasakan sakit. Bu Wati tetangganya yang merasa iba mencoba untuk mencegahnya.


“Bu Ustadzah? Bu Ustadzah mau ke mana? Jangan keluar rumah dulu, bukannya Ustadzah sedang tidak enak badan akhir-akhir ini? Jangan dipaksakan untuk keluar dulu Bu"


“Maaf Bu, mmmm memangnya suami Ibu ke mana?"


“Saya juga nggak tau dia pergi ke mana Bu, jam 3 pagi tadi saya bangun karena tiba-tiba perut saya mual, tapi saya tidak melihat suami saya di samping saya. Ya Allah bang Jono kamu di mana sih bang?"


“Ibu bilang Ibu mual-mual sejak pagi tadi?"


“Kita harus periksa ke dokter Bu, saya takut Ibu kenapa-kenapa. Sejak kapan Ibu mengalami ini?"


“Kira-kira sejak 2 Minggu yang lalu Bu. Saya juga nggak tau kenapa itu bisa terjadi, saya sih sempat berfikir bahwa saya sedang hamil muda"


“Mungkin Bu Ustadzah memang benar hamil muda"


“Tapi, bagaimana caranya saya ke dokter? Uang saya pas-pasan dan saya pun tidak tau apa pekerjaan suami saya di luar sana. Dia selalu bilang yang penting uang yang dia dapat bukan uang haram. Tapi entah kenapa saya selalu curiga, walaupun terlalu curiga jatuhnya juga nggak bagus. Tapi naluri saya mengatakan bahwa uang yang dia dapatkan bukan uang yang halal"


“Nggak apa-apa Bu Ustadzah, kita ke dokter aja. Masalah biaya biar saya yang nanggung. Yang penting Bu Ustadzah diperiksa dulu"


***


Bu Wati membawa Salma ke rumah sakit, sesampainya di sana, dokter mengecek kondisi kesehatan wanita itu, dan ternyata hasilnya normal. Salma tidak sakit apa-apa. Dan ketika diperiksa lebih lanjut, dokter menyatakan bahwa Salma positif hamil. Sontak wanita itu pun melakukan sujud syukur kepada Sang Khaliq.


“Alhamdulillah ya Allaaah! Segala puji bagi Engkau Yang telah memberikan karunia sebesar ini kepadaku dan suamiku" ucap wanita itu dipenuhi oleh linangan air mata bahagia.


“Sekali lagi saya ucapkan selamat Ibu atas kehamilannya. Oh iya Ibu kalau boleh saya tau... suami Ibu di mana ya?"


“Entahlah Dok, suami saya itu jarang sekali ada di rumah, dia sering sekali keluar dari rumah dan bahkan terkadang dia keluar rumah sampai 3 bulan baru kembali lagi. Jujur saya sedih sekali Dok dengan kelakuan suami saya. Entah apa yang sudah dia perbuat di luar sana, tapi anehnya setiap pulang ke rumah, dia selalu membawa uang banyak. Dan satu lagi Dok, suami saya itu mantan narapidana. Dan sebetulnya dia orang baik Dok, cuma semenjak dia keluar dari penjara, karakternya sedikit berubah. Dia jadi temperamen dan agresif. Tapi anehnya lagi, dia masih perhatian dengan saya"


“Hmmm, pasti ada yang mempengaruhi suami Ibu ketika dia berada di penjara. Maaf sebelumnya Ibu bukannya saya lancang atau ikut campur dalam urusan rumah tangga Ibu, tapi saya hanya ingin bertanya satu hal yang menurut saya cukup penting. Mmmm... apa Bu Salma mengalami KDRT di rumah Bu? Karena jujur saja saya juga sempat beberapa kali menangani wanita dengan kondisi seperti itu. Jadi, apa benar Ibu mengalami KDRT?"


“Jujur saja, iya Dokter. Saya memang mengalaminya"


“Huffft ya Tuhan... Bu Salma, mohon dengarkan nasehat saya ya, mmmm... tolong Bu Salma usahakan untuk tidak membuatnya emosi. Sebisa mungkin bujuk suami Ibu untuk bermesraan dan bermanja-manja. Mengobrol santai di tempat tidur adalah salah satu solusi terbaik Bu, berikan dia perhatian penuh dan juga do'akan yang terbaik untuk suami Ibu tentunya. Bu Salma harus berkata-kata yang lembut dan sabar menghadapi suami Ibu. Terkadang trauma di masa lalu itu terbawa sampai berumah tangga Bu"


“Baiklah Dok, saya tidak bisa janji, tapi Insyaallah saya bisa melakukannya"


“Baik Ibu, sekarang saran saya... Ibu jangan lupa untuk sering melakukan bed rest dan rutin berolahraga, serta makan makanan yang sehat dan yang paling penting dari semua itu... jangan banyak fikiran Bu, supaya janin yang Ibu kandung berkembang dengan baik dan sehat. Bu Salma sudah mengerti kan maksud saya? Atau apa ada yang mau ditanyakan lagi?"


“Saya sudah faham Bu Dokter, terima kasih atas semua sarannya, saya permisi dulu, Assalamu Alaykum"