
Tepat pukul 12 malam, Yasmin mengirimkan pesan pada Jono, gadis itu menyuruhnya untuk menunggunya di depan lift.
Jono menunggu gadis itu di depan lift, dan ketika pintu lift sudah terbuka gadis itu langsung menarik lengan Jono dan membawanya ke dalam pelukannya, kedua bibir insan itu pun bertabrakan, keduanya sangat menikmati adegan panas itu di dalam lift.
“Cukup, cukup... ayo kita jalan Sayang" ajak Jono setelah adegan itu selesai dilakukan cukup lama.
“Kamu masih nggak suka gaunku Bang?"
“Bukannya nggak suka Sayang, Abang suka kok kamu pake' gaun hitam seperti ini, kamu udah cantik. Tapi... masih kurang elegan"
“Maksud kamu?"
“Hitam itu lambang duka cita, Abang mau kamu bahagia bukan bersedih. Abang pengen kamu pakai gaun yang warnanya lebih terang"
Yasmin setuju untuk mengganti pakaiannya, kemudian Jono mengantarnya pulang. Sampai di rumahnya, Yasmin sempat cekcok dengan orang tuanya, bahkan Jono sempat ditampar oleh papanya Yasmin.
Tanpa perduli dengan orang tuanya lagi, Yasmin langsung naik ke mobil dalam keadaan menangis.
“Sayang, kamu jangan nangis ya?"
“Maafin orang tuaku yang nggak tau diri itu ya Bang, ini semua gara-gara mereka. Tapi tetap saja aku minta maaf sama kamu, sebab karena aku, kamu ditampar papaku tadi."
“Tidak masalah Sayang, yang penting kamu nggak boleh nangis. Kalo kamu nangis, wajah cantik kamu bakal hilang Sayang" ujar Jono sambil mencubit lembut pipi Yasmin.
“Celaka! Gue kan belum ngabarin ke Salma, bagaimana kalau dia mikir yang macem-macem? Ini kan udah jam 12 seperempat"
“Jadi... malam ini kita mau ke mana Bang?"
“Bang? Abang? Kamu kok bengong sih? Ada yang salah ya? Aku masih kurang cantik ya?"
“Ah... enggak kok Sayang, ka... kamu... kamu cantik kok"
“Kenapa sih kamu itu Bang? Kok aneh banget kayak ada masalah gitu? Kamu keringetan dingin lho. Kamu sakit?"
“Enggak kok Min, nggak... Abang cuma... bingung aja mau ngajak kamu ke mana"
“Lho, katanya tadi kamu mau ngajak aku dinner... gimana sih kamu tuh Bang. Makanya kamu tuh yang fokus gitu lho, jangan melayang-layang ke mana-mana" ujar Yasmin yang mulai menangis lagi.
“Sssst iya iya iya Sayang... Sayang, maafin Abang ya. Ayo kita ke—"
“Henshin The Westin! Pasti pemandangan di sana bagus banget malem-malem begini"
“Okay young lady, kita akan segera ke sana"
Jono mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya di lokasi, Jono dan Yasmin menaiki lift untuk menuju ke lantai 69. Sebab di sana lah mereka bisa melihat pemandangan indah, gedung-gedung perkantoran kota Metropolitan Jakarta, dari atas sana mereka tidak mampu lagi melihat hiruk pikuk kemacetan kota Jakarta.
Setelah sejenak mereka melihat pemandangan itu, mereka memilih tempat duduk dan menunggu pelayan datang menuju ke arah mereka berdua.
“Selamat malam Tuan, mau pesan apa?"
“Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Jono.
“Oke, Steak Ojo De Bife satu, sama Octopus satu ya Mas"
“Minumnya?"
“Milkshake coklat 2"
“Oke, silahkan ditunggu pesanannya ya Tuan"
Yasmin melemparkan senyum manis pada Jono selama kurang lebih 10 menit lamanya, sampai akhirnya Jono pun membuka pembicaraan.
“Sayang, kenapa sih kamu senyum-senyum gitu? Kamu bikin aku tegang deh"
“Siapa wanita paling cantik di dunia ini menurut kamu Bang? Hm?"
“Tidak ada yang lebih cantik dari kamu Sayang, Abang bersumpah"
“Kamu yakin?"
“Iya... sudahlah kita langsung ke inti pembicaraan aja, jadi siapa sebenarnya Diego Di Marco ini?"
“Mucikari berdarah Italia, dia keturunan Casanova si penjahat kelamin ternama di Italia itu"
“Jadi dia keturunan Casanova?"
Yasmin mengangguk.
“Pantas saja dia jadi mucikari ternama di sekitar sini"
Makanan sudah datang, mereka makan dengan lahap dan saling suap terkadang mereka juga bercanda ria, bahkan saking terlalu banyak tertawa, Yasmin sampai sempat tersedak. Untungnya Jono dengan cepat memberi milkshake kepada Yasmin.
“Maaf ya Bang, aku jadi keselek deh. Habisnya kamu tuh lucu banget sih, jujur aku belum pernah ketemu cowok seromantis dan sehumor kamu. Pasti mereka yang nantinya jadi istri kamu beruntung banget ya Bang"
“Uhuk!" kini giliran Jono yang tersedak dan terbatuk-batuk, sehingga Yasmin melakukan hal yang sama dengan yang Jono lakukan padanya beberapa menit yang lalu.
“Abang, kamu kenapa sih Bang? Aku ada salah omong ya?"
“Mmmm... nggak... nggak ada kok Min, nggak ada. Eh, liat deh di sebelah sana, bagus banget ya pemandangannya" Jono menggenggam tangan kanan Yasmin dan membawanya ke arah balkon gedung restoran untuk melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Jono memeluk erat tubuh Yasmin dengan manja dan meletakkan dagunya di atas pundak Yasmin, sesekali Yasmin juga mencoba menggodanya dengan memainkan rambutnya yang berwarna cokelat kehitaman.
“Oh my God! Seksi banget dia. Akh! Sayang banget gue udah nikah, kalo nggak udah gue caplok tuh body" gumam Jono dalam hati yang mulai berfikiran kotor.
“Entah kenapa gue merasa ada yang aneh sama bang Jono, nih orang kayak lagi ada masalah. Tapi masalah apa? Tau ah... gue kagak mau ikut campur urusan dia. Yang penting kan gue bisa ditraktir dan barangkali... gue bisa diajak main sama dia suatu hari nanti" kini giliran Yasmin yang bergumam dalam hati.
“Jono, ingatlah istrimu. Dia sedang hamil Jono, apa kamu tidak kasihan dengan dia? Apa jadinya jika kamu berani berselingkuh dengan wanita lain yang jelas-jelas dia itu bukan mahrammu, sadarlah Jono. Kamu tidak berfikir tentang bagaimana tanggapan orang-orang tentang kamu nanti? Bagaimana dengan nasib istrimu nanti? Apa kamu rela dia menjadi bahan tertawaan masyarakat? Ingatlah bahwa istrimu itu seorang ustadzah yang sangat berpengaruh di sekitar daerah komplekmu. Istighfar Jono... Istighfar... jangan sampai harga dirimu dan istrimu ternodai, istighfarlah sebelum murka Allah datang kepadamu" bisik bayangan putih.
“Omong kosong! Apa yang kau tunggu Jono? Justru inilah kesempatan emas untukmu, hm? Lihatlah dia... bukankah dia lebih muda dari istrimu? Belum lagi tubuhnya yang ramping itu, kamu pasti tergoda kan? Ayolah Jono! Rayulah dia! Bergeraklah lebih dekat lagi! Kapan lagi kau punya kesempatan emas seperti ini? Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!" bisik bayangan merah.
“Dengar Jono, istrimu itu sangat membosankan. Dia masih kurang muda, harusnya kamu menikahi Yasmin yang jelas-jelas lebih muda dan lebih cantik dari Salma. Ayo, tarik tali gaun merah itu! Maka kau akan mendapatkan surganya dunia Jono! Ayolah! Mumpung kau masih ada umur!" sambung bayangan merah.
“Jangan Jono, jangan... dia itu bukan siapa-siapamu. Ada istrimu yang menunggumu di rumah, kalau kau mau, rayu saja dia. Jangan Yasmin, dia bukan gadis yang baik untukmu Jono! Jangan lakukan itu padanya! Jangan!" bisik bayangan putih.