After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 5 : Siksaan Di Malam Ke-2



“Ayo dong Bang, angkat Bang, angkat!"


Karena dirasa lama tak ada jawaban, akhirnya wanita itu bergegas menuju jalan raya untuk menunggu angkot


“Tunggu Salma!" tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya.


“Alam, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah seharusnya kamu ngajar?"


“Huh, ngajar? Bukannya kalo kamu udah selesai ngajar, itu artinya aku juga udah selesai ngajar? Kita kan berada di pondok yang sama Salma"


Salma melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Alam.


“Salma, TUNGGU!"


“LEPASIN TANGANKU LAM! AKU SUDAH MENIKAH! BANG JONO SUAMI SAHKU! APA KAMU NGGAK NGERTI JUGA?"


“Salma, fikirkan bagaimana jadinya kalau kamu punya anak kelak, fikirkan hal itu! Aku yakin kalau kamu menikah denganku—"


“Aku juga akan mengatakan bahwa, yakinlah bahwa kamu akan membawa mimpimu ini ke liang lahat!" belum selesai Alam bicara, Salma sudah memotongnya.


“Aku tidak mau kalau sampai kamu punya anak kemudian suamimu kembali masuk ke penjara! Kemudian pada akhirnya kamu menyesal karena telah menikah dengan seorang buronan! Tapi di sisi lain kamu juga akan sadar bahwa semuanya sudah terlambat!" sahut Alam


“Fikirkanlah sejenak Salma, aku bisa membahagiakanmu!" sambungnya sambil tersenyum devil.


“Aku cinta dan sayang sama bang Jono, dan aku juga benci kamu dan santri-santri kamu yang kamu didik dengan kesombongan itu! Ingat ini baik-baik pengecut, sekarang silahkan kamu buat suamiku masuk penjara kalau kamu bisa!" ujar Salma ketus sambil berlalu dengan cepat menuju jalan raya dan segera menaiki angkutan umum untuk kembali ke rumahnya.


“Kamu akan menyesal Salma, liat aja!" pekik Alam dari kejauhan.


“Kamu nggak bisa menghalangi jalanku Salma, hahahaha" gumam Alam sambil tersenyum devil.


***


Hari sudah petang, Salma tetap setia menanti kepulangan suaminya yang sampai detik ini pun belum kunjung datang. Kemanakah gerangan suami tercintanya itu? Apakah dia mengalami kecelakaan? Ataukah mungkin dia berselingkuh dengan wanita lain? Salma mulai khawatir, wanita itu sudah mencoba menelfon mertuanya, tapi tak ada orang yang dicarinya dari seberang sana.


“Ya Allah bang Jono, kemana sih kamu bang? Kenapa sampai larut malam seperti ini kamu belum juga pulang? sebenarnya kamu itu di mana sih bang? Ya Allah lindungilah suamiku dimanapun dia berada ya Allah" gumam Salma disertai dengan linangan air mata.


(Pukul 9 malam)


“Assalamu Alaykum istriku yang cantik, Abang pulang Sayang"


“Bang Jono, dari mana aja sih kamu Bang? Aku khawatir banget lho nungguin kamu"


“Ya aku lembur lah, aneh kamu tuh. Pertanyaan macam apa ini?"


“Salma, ini ada uang, kamu masak masakan yang enak buat makan malam ini"


“Kamu... dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini Bang? Iniiii... ini bukan uang haram kan?"


Plak!


“Maksud kamu apa Salma? KURANG AJAR KAMU! AKU SUSAH PAYAH CARI UANG DARI PAGI SAMPAI MALAM LALU KAMU BILANG UANG INI UANG HARAM? BEGINIKAH CARA KAMU MENGHORMATI AKU? BUKANKAH SEORANG ISTRI HARUSNYA MENGHORMATI SUAMINYA? HAH?" tiba-tiba Jono marah besar sampai-sampai ia melepaskan hijab istrinya dan menjambaknya dengan kasar sampai wanita malang itu terjatuh ke lantai.


“Astaghfirullahaladzhim ya Allah! Abang, aku minta maaf Bang kalau mungkin kamu tersinggung dengan kata-kata aku. Aku cuma ingin tau dari mana kamu bisa dapat uang sebanyak ini dalam waktu satu malam? Itu aja Bang, apa aku salah? Astaghfirullahaladziiim ya Allah cobaan apa lagi ini ya Allah berikanlah aku kesabaran dan ketabahan untuk menghadapi ujian ini"


“Iya Bang... iya... sekali lagi maafin Alma ya Bang. Kalo Abang mau makan, biar aku panasi kuahnya, aku masak soto tadi sore"


“Ilang selera makan Abang gara-gara kamu cerewet kayak tadi. Abang mau makan di luar aja! Minggir kamu! Dasar istri nggak tau terima kasih! Nggak becus kamu!"


“Ya Allah berikanlah hamba kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi suami hamba ya Allah. Bukakanlah pintu hatinya, kembalikanlah dia seperti dulu ya Allah"


***


Hari demi hari dilalui oleh Salma dengan perilaku kasar dari sang suami, namun wanita itu mencoba untuk tabah menghadapi semua ini. Ia tak mau menceritakan masalah rumah tangganya kepada teman-temannya apalagi murid-muridnya atau mertuanya, wanita itu sangat tangguh, jarang sekali ada wanita setangguh dia. Hari ke-3 pasca aqad, 2 sahabat karib Salma datang mengunjungi rumah pengantin baru ini.


“Assalamu Alaykum Salma" ujar Mita


“Salma, Jono, kalian ada di dalam?" sambung Delia


“Wa Alaykum Salam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh! Eeeeh Mita, Delia, kalian apa kabar? Ya Allah makasih ya atas kehadiran kalian di pernikahan gue 3 hari yang lalu. Delia, anaklu ganteng deh, beruntung banget lu punya keluarga yang harmonis ya. Lu kapan nyusul nih Mit btw?" Salma menyambut mereka dengan senang hati dan berusaha untuk tetap tenang.


“Nggak tau lah Beb, masih belum mikir ke sana gue, masih fokus ke karir dulu. Lu tau sendiri kan gue kerja di salah satu perusahaan ternama, gajinya lumayan sih, tapiii... gue kagak tau kenapa menurut gue laki-laki tuh brengsek semua" jawab Mita yang terlihat trauma dengan laki-laki.


“Termasuk Aldo berarti Mit?" tanya Delia dengan nada tersinggung.


“Mmmm... ya nggak lah Del, saking aje gue kagak jodoh ama do'i. Kan do'i udah sama lu, masa' iye gue mau ngerampas? Ya nggak lucu kali" sahut Mita.


“Kalian tuh lucu ya, dari SMA sampe' udah dewasa seperti sekarang masih aja suka ribut. Eh, tapi btw si duo bucin Alex Alyssa apa kabar guys yak?" ujar Salma sambil tertawa kecil dan beralih menanyakan 2 sejoli yang dahulu menjadi trouble maker di SMA mereka itu.


“Hahahahaha... Alex dan Alyssa? Mungkin masih tetep seperti dulu. Nggak tau deh gue rumah tangga mereka kayak gimana, nggak mau kepo juga gue. Kemaren kan dia yang jadi tuan rumah di acara pernikahan kalian, yaaah walaupun sekarang tuan rumah sejatinya om Lukas sih. Baik banget lho itu orang sumpah, kebalik banget sama anaknya, Alex tuh manusia campur setan kali, wkwkwkwk" celetuk Delia dengan kata-kata pedasnya.


“Hush! Jangan ghibah, dosa lho" sahut Salma.


“Iye iye percaya yang udah jadi ustadzah" ujar Delia.


“Hehehehehe" Salma tertawa masam.


“Eh Beb, cepetan dong lu bikin anak woy. Jangan lama-lama, nggak sabar gue pengen liat bayi unyuk-unyuk lho. Pasti dia bakalan cantik seperti uminya atau tampan seperti abinya" sahut Mita.


“Insyaallah Mit, Insyaallah. Semua tergantung kepada takdir Allah. Lagian gue juga masih nabung-nabung, belom punya fikiran buat hamil dulu" ujar Salma


“Weedeeeh... udah berapa ronde lu Sal? Hm? Hm?" tanya Delia mulai menggoda.


“Ish apaan sih lu, baru juga nikah udah tanya soal itu" protes Salma.


“Hehehehehe... eh babang Jono mana nih btw? Daristadi kagak keliatan batang idungnye?" tiba-tiba Delia bertanya tentang suami sahabatnya itu yang membuat Salma menjadi sedih.


“Ya Allah, mereka menanyakan keberadaan bang Jono, padahal aku sendiri pun tidak tau di mana dia"


“Oh, mmmm... lagi kerja guys, sekarang dia jadi tukang parkir, tapi gue nggak tau di mana persisnya. Sekalian mampir ke rumah mertua gue dia" jawab Salma berbohong.


“Wah waaah, beruntung banget lu Salma, karena punya suami yang berbakti kepada kedua orang tuanya" puji Delia.


“Begitulah guys, gue bersyukur Alhamdulillah"