After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 2 : Jadi Preman Pasar



“Sa, Darsa! Ini gue woy, Jono!"Jono mengunjungi rumah teman selnya.


“Jono? Mau ape lu ke mari? Tumben lu inget temen lame, btw lu baru bebas nih?"


“Iye. Eh Sa, gue pengen punya ilmu kebal nih... biar nggak ada lagi yang nyakitin gue"


Darsa menerangkan kepada Jono bahwa ada seorang dukun sakti yang bernama ki Argo, di gunung Batu Jonggol Bogor Jawa Barat. Ia pergi ke sana bersamanya dengan menaiki mobil milik Darsa.


“Jadi ki Argo ini bener-bener dukun sakti Sa?"


“Beneran sakti dia. Ngapain juga gue bohong ame lu? Gue jamin lu bakal tenang setelah ketemu dia"


Sesampainya di tujuan mereka, mereka berdua langsung mengutamakan tujuan kedatangan mereka ke ki Argo, Jono ingin sekali memiliki ilmu kebal. Penyerangan Alam kepadanya sungguh membuatnya ingin membalas dendam.


“Bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi kuat dan kebal Ki?" tanya Jono pada sang dukun


“Hahahahahahaha! Caranya mudah Anak muda, kau hanya perlu mengikuti semua perintahku. Maka setelah itu, Ilmu kekebalan akan aku berikan kepadamu! Apa kamu bersedia untuk menerima perintahku itu?"


“Apa perintahnya Ki? Apapun perintah Ki Argo akan saya laksanakan! Yang penting saya bisa mempunyai ilmu kebal nantinya"


“Hahahahaha! Tenang... caranya gampang, kamu harus berendam di air terjun ini selama 40 hari 40 malam. Setelah itu, pasti kamu akan mendapatkan ilmu kekebalan dariku. Dan aku jamin, bahwa kekuatan dan kekebalanmu tidak akan pernah menghilang, selama kamu menggunakan kalung ini" ujar dukun itu sambil memberikan kalung jimat pada Jono


Akhirnya Jono pun mematuhi dan melaksanakan perintah dari ki Argo, hari demi hari ia lalui. Sementara itu di lain tempat, Salma sedang mengkhawatirkan keberadaan kekasihnya itu.


“Ya Allah, kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang sebenarnya terjadi pada bang Jono? Bukankah belakangan ini dia bilang kalo dia mau cari uang? Lantas kenapa dia masih belum juga kembali, 10 hari sudah dia tak ada kabar ya Allah. Tolong lindungilah dia dimanapun dia berada" gumam Salma dalam hati.


⭐Sebulan kemudian


Dengan berpakaian lusuh dan kotor, Jono sampai di rumah ibunya. Pemuda itu bahkan tidak berkata sepatah kata pun dan segera ingin masuk ke dalam rumah ibunya begitu saja.


“Bang Jono, Abang dari mana aja? 40 hari nggak pulang? Kasihan ibu dan adik-adik kamu Bang" tanya Salma yang mengkhawatirkan Jono sejak kepergiannya.


“Bukan urusan kamu! Aku capek, mau tidur! Eh ingat ya, besok kita nikah. Kamu harus terima Abang sebagai suamimu, ngerti? Abang nggak mau kalo sampe' kamu jatuh ke pelukan orang lain! Termasuk si Firmansyah tolol itu!" ujar Jono ketus


“Uang dari mana untuk biaya kita menikah Bang?"


“Bukan urusan kamu! Pokoknya kamu cukup diem dan pasrah menerima apa adanya. Besok aku pasti dapat uangnya! Kamu tenang aja pokoknya! Ngerti kamu Salma? Tugas kamu hanya diam dan pasrah!"


“Kalung? Kalung apa itu Bang? Sejak kapan kamu punya kalung itu? Dan kamu dapat dari mana?" Salma langsung mencecar kekasihnya dengan ribuan pertanyaan ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa kekasihnya menggunakan sejenis kalung jimat.


“Aku dikasih sama temanku! PUAS? Lagipula apa hak kamu tanya-tanya begitu? Siapin aku makan sekarang" celetuknya


“Cepat! Kamu tuli Salma?" sambungnya mulai emosi


“I... iya Bang, iya"


“Apaan nih? Nasi garem lagi?"


“Iya Bang"


“Kamu nggak bisa masak yang lain apa? Aku tuh bosen makan ini terus Salma! Mana hasil penjualan gorengan kamu?"


“Jangan Bang, jangan. Jangan pakai uang itu Bang, Alma mohon sama Abang. Itu untuk simpenan kita nanti Bang"


“Kurang ajar kamu! Kenapa tadi kamu bilang kamu nggak punya uang? Kenapa kamu berani bohong sama aku? Uang ini kan bisa buat modal kita nikah tolol!"


Salma berusaha menahan tangisannya. Sementara itu Jono yang sudah tidak peduli dengan kondisi calon istrinya langsung berlalu begitu saja.


“Bang Jono! ABANG!"


“ABANG JANGAN DIAMBIL BANG ITU UANG UNTUK SIMPENAN KITA! ABANG!"


“Ilahi, berikanlah hamba-Mu ini kekuatan dan ketabahan ya Allah, sadarkanlah Jono. kembalikanlah karakternya seperti dulu ya Allah. Jangan biarkan dia semakin menjauhi-Mu" do'a Salma lirih dalam hati.


***


Jono memperhatikan uang tabungan Salma. Ia tersenyum devil karena senang telah berhasil mengambil uang itu dari tangan calon istrinya.


“Empat juta? lumayan nih. Yang 3 juta bisa gue buat beli HP baru, nah yang satu juta, kan bisa buat mahar kawin gue ntar! Hahahaha, begoook begok lu Salmaaa Salma. Di SMA doang lu pinter dan jadi bintang kelas. Tapi di luar sekolah, blo'on tingkat dewa! Hahahaha. Nah sekarang langkah selanjutnya, beli HP baru dan hubungi 3 pengangguran itu, Darsa, Bobby, dan Adam. Dulu memang Bobby yang jadi Boss gue. Tapi sekarang, huh... Bobby nggak bakal bisa ngapa-ngapain gue! Gue udah punya andalan, ilmu kebal gue akan abadi selamanya. Hahahaha" ujarnya dalam hati.


Jono mengunjungi rumah satu persatu dari mereka bertiga, dan Bobby sempat bertarung satu lawan satu dengan Jono tapi dia tidak bisa mengalahkannya karena ilmu kebal yang dimiliki Jono sangat kuat, sehingga kepemimpinan beralih ke tangan Jono.


Mereka semua sepakat akan memulai aksinya pagi itu juga. Adalah Adam yang memegang pisau kecil untuk mengancam orang-orang yang ada di pasar.


“Denger semua penjaga lapak pasar! Mulai detik ini, yang memegang teritori pasar ini adalah gue! Gue Jhonny Ruffian. Preman baru yang akan menguasai pasar ini! Setiap orang yang dagang di sini, wajib membayar iuran bulanan ke gue! Kalo nggak, khik! Nyawe lu yang bakal melayang! NGERTI LU SEMUA?" pekik Jono begitu sampai di pasar.


“Eh kunyuk, siape lu dateng dateng udeh mau gantiin posisi gue?" tiba-tiba Bondan si preman pasar yang sesungguhnya menampakkan diri.


“Ape? Kunyuk lu bilang? Eh kodok lingsir, yang ada elu tuh yang kagak pantes jadi preman di sini! Lu sendiri punya ape hah?" Jono mulai meremehkan Bondan


“Wah kurang ajar dia Boss! Kudu diberesin nih kayaknya nih orang gila ini" sahut salah satu anak buah Bondan.


“Betul lu Bro, hajar banci kaleng yang nggak tau diuntung ini!" titah Bondan.


“Siap Boss!"


“Ooooh nantangin gue lu ye? Darsa! Hajar cecurut satu ini!" kini giliran Jono yang memberi perintah.


“Yo'i Boss!"


Kedua kubu mulai saling serang, hingga sang boss preman pasar yang lama itu mengeluarkan sebilah golok. Semua anak buah Jono lari ketakutan. Jono menghadapinya dengan gagah berani dan penuh percaya diri, boss preman pasar yang lama itu mencoba menikamkan goloknya ke perut Jono dan sesekali ia berpindah mengayunkan goloknya ke bagian leher Jono. Tapi semua usahanya sia-sia saja, Jono tidak terluka sedikitpun.


“Hahahahahahaha! Ayo tusuk Men... tusuk, AYO TUSUK GUE KALO LU BISA! AYO GUE JABANIN! TUSUK! AYO TUSUK!" pekik Jono yang mulai menantang dan menyombongkan diri.


Preman pasar yang lama itu pun kebingungan dan tak percaya dengan apa yang telah terjadi, semuanya terlihat begitu nyata di depan matanya. Jono benar-benar kebal sekarang. Setelah mulai merasa jenuh, Jono merebut golok itu dari tangan si empunya. Maka dia pun menikamkan golok itu ke perut sang preman lama beberapa kali sampai dia tewas mengenaskan di tempat itu juga.


“Mulai sekarang, siapapun yang berani macem-macem sama gue, maka dia akan bernasib sama dengan si kunyuk ini! Dan seperti yang gue katakan tadi. Mulai detik ini, pasar ini menjadi wilayah gue! Dan gue minta setoran yang lebih banyak dari si kunyuk ini. Gue minta mulai besok, setoran dua kali lipat dari biasanye! Ngerti lu pade?"


“Tap... tapi Bang–"


“JANGAN ADA YANG PROTES!" pekik Jono yang memotong pembicaraan salah satu pedagang.


“Cabut!"


“Awas lu berani macem-macem sama gue! Mati!"