
“Yasmin! Ada apa di sana? Mana makanannya? Aku sudah lapar Sayang. Kenapa kamu lama sekali?" pria di dalam kamar itu mulai penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.
“Iya Papa, aku datang!"
“Sayang, udah dulu ya, mucikariku mulai nggak sabar tuh, sampai ketemu lagi ya Sayang, sekali lagi makasih makanannya. Dah ganteng"
“Dah"
“Cakep beneeer tuh cewek... kapan ye gue bisa maen ama dia?" gumam Jono dalam hati.
Jono kembali ke loby hotel dan mengabarkan kepada teman-temannya bahwa sekarang ini dia sedang bekerja di hotel Amuz Gourmet sebagai resepsionis. Dan ia juga mengabarkan tentang tamu pertama yang dia terima.
Balasan WhatsApp teman-temannya pun bernada positif semua, mereka merasa iri dengan apa yang bisa dilakukan Jono. Namun di satu sisi mereka bangga karena punya pemimpin yang dapat menarik perhatian wanita cantik seperti Yasmin.
***
Sementara itu di pondok pesantren, Salma mengajar seperti biasa. Dan Alhamdulillah hari ini dia lebih bersemangat mengajar, karena merasa suaminya sudah berubah.
Para santriwatinya pun ikut bersemangat ketika Salma mengajar, walaupun pada mulanya mereka menyampaikan belasungkawa mereka atas meninggalnya janin yang dikandung Salma beberapa waktu lalu.
Usai mengajar, Salma menghubungi suaminya via telefon.
“Halo Bang, kamu bisa jemput aku ke pondok kan?"
“Bisa Sayang, bisa... aku emang ambil shift pagi dan malam, tapi sorenya aku free kok... jadi aku bisa pulang ke rumah kalo sore, ada Robi partnerku yang menggantikan posisiku nanti. Kamu nggak masalah kan kalo aku ambil shift malam juga?"
“Nggak masalah kok Bang, asalkan kamu niat dan semangat kerja, Alma pasti akan mendukung Abang"
“Syukurlah... ya sudah, Abang otw sekarang ya? Hati-hati kamu sama si penjahat kelamin itu, awas kalo salah satu dari kalian macem-macem lagi, Assalamualaikum"
“Iya Bang, nggak akan... Wa Alaykum Salam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh, kamu hati-hati di jalan ya Bang"
***
Jono bergegas menuju ke pondok pesantren Al-Hikmah Putri untuk menjemput istrinya, namun di tengah perjalanan, saat lampu merah, Jono menyimpan nomor WhatsApp Yasmin dan mulai menyapanya.
***
Di depan rumah bordil milik Papa Diego Di Marco Yasmin mendapatkan pesan dari nomor asing.
Hello darling! Simpan nomorku ya... kapan-kapan kita ketemu lagi, aku tergila-gila dengan kecantikanmu. I Love You Yasmin Helena [Unknown number]
Pasti ini mas Jono kan? [Yasmin]
Iya Sayang, kamu masih di hotel kan sekarang? Dan satu lagi Sayang, jangan panggil aku mas... panggil abang aja, biar nggak kayak orang kampung [Unknown number]
Oke deh, Bang Jono. Habis ini aku balik ke hotel kok Bang [Yasmin]
Oke, nanti aku nyusul ya, aku masih ada urusan [Unknown number]
“Kepo amat sih lu, ini rahasia tau" sahut Yasmin sinis, Syifa langsung menekuk wajahnya karena kesal dengan perilaku temannya itu.
“Lagian lu ngapain sih ikut campur urusan gue segala? Bukannya lu sendiri udah nikah ya? Kasian mas Rama Fa, lu harusnya jaga dia dong, bukan malah keluyuran nggak jelas begini. Parah lu"
“Mas Rama mah ngebosenin Min, dia itu nggak jantan... impoten... mandul! Yaaah walaupun gue sendiri juga kagak mau punya anak... tapi biar bagaimanapun juga kan gue mau mencari kesenangan dengan menjadi PSK seperti ini. Lu tau sendiri kan kalo laki-laki jantan itu pemuas nafsu kita Min, dan semoga aja orang yang chatting sama lu ini nggak lemah kayak suami gue mas Rama"
“Lu tau Min, gue tuh nyesel banget nikah sama mas Rama... ternyata gue salah... harusnya Chrisel yang gue jadiin suami"
“Yaaah kalo itu sih urusan lu Fa, gue kagak mau ikut campur urusan rumah tangga lu. Gue cuma mau fokus sama tujuan gue... menjadi pelacur sampai kaya dan gue kagak mau nikah apalagi sampe' punya anak"
“Yakin mau lu begitu? Kalau sampe' kejadian kecelakaan gimane? Yang bernasib seperti Tanti banyak juga lho Beb, ati-ati lu"
“Ish, bodo ah... gue mau balik ke hotel. Pasti si tua bangka itu udah nungguin"
***
Di lain tempat, Jono sudah sampai di pondok pesantren Al-Hikmah Putri dan melihat keadaan sekitar... jaga-jaga kalau sampai Alam Firmansyah yang tidak tau diri itu masih berani macam-macam dengan istrinya, maka pukulan tangan besinya sudah siap untuk dimanfaatkan.
Salma datang menghampiri suaminya dengan berlari kecil dihiasi dengan senyum sumringahnya sambil memanggil namanya dengan manja.
“Salma kalo diliat-liat lagi senyum gitu cantik juga dia... tapi Yasmin juga nggak kalah cantik, apalagi dia jauh lebih muda dari Salma. Semoga aja Salma nggak pernah tau hubungan gue sama Yasmin deh... karena kalo itu terjadi... bisa berabe gue" gumam Jono dalam hati.
“Eh Sayang, Sayang... ati-ati... nanti kamu jatuh lho" ujar Jono mengingatkan istrinya yang kemudian dia turun dari mobilnya sampai Salma mendekati wajah suaminya dan menyosor bibirnya.
Salma tak peduli jika semua santri-santrinya dan para ustadzah melihat kejadian itu secara terang-terangan. Wanita itu memang ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dia adalah istri shalihah yang sangat setia pada suaminya. Bahkan Alam yang melihat kejadian itu dari seberang pun tak mampu berbuat apa-apa... hanya bisa menahan amarahnya dalam hati karena masih merasa iri. Bahkan ia masih ada niat untuk membunuhnya dan selalu menunggu momen yang tepat untuk melakukannya.
“Salma, kamu nggak malu dilihat banyak orang? Abang malu lho" ujar Jono.
“Kenapa harus malu Bang? Toh kita kan juga udah mahram, jadi kita bebas dong melakukan apapun... ya kan Sayang?" ujar Salma sambil tersenyum kembali.
“Mmmm... i... iya"
“Alhamdulillah karakter bang Jono kembali seperti semula, dulu di SMA kan dia juga pemalu seperti ini. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah mengembalikan karakter lama suamiku" gumam Salma dalam hati sambil tersenyum.
“Ayo Sayang, kita pulang yuk. Kapan sih kamu keisi lagi Sayang? Abang udah nggak sabar pingin jadi ayah"
“Insyaallah Bang... Insyaallah"
Tangan kanan Jono melingkar di pinggul istrinya dan membukakan pintu untuknya, Salma duduk di bangku penumpang dan berpamitan dengan semua orang yang ada di pondok pesantren Al-Hikmah Putri. Disusul oleh Jono yang duduk di sebelahnya.
“Bang... makasih ya udah mau perhatian sama aku"
“Sama-sama Sayang... kamu udah makan? Kalo belum ayo kita makan, Abang yang traktir kamu"
“Lho... kenapa harus makan di luar Bang? Kan aku juga bisa masak, sekalian penghematan kan?"
“Ya udah deh... terserah kamu aja Salma, Abang nurut aja sama kamu"