
“Di mana aku?" Salma mulai membuka matanya dan berbicara dengan suara yang parau.
“Abang... Abang...Abang di mana? Bagaimana kondisi anak kita Bang?" tanyanya kebingungan.
“Abang di sini Sayang! Abang di sini! Maafin Abang Sayang... maafin Abang! Nggak seharusnya Abang ninggalin kamu sendirian sampai berhari-hari. Maafin Abang Sayang!" ujar Jono sambil menghujani tangan Salma dengan ribuan kecupan dan meneteskan air mata.
“Apa yang terjadi Bang? Kenapa Abang menangis? Anak kita lahir dengan selamat kan Bang? Iya kan Bang?" tanya Salma dengan suara yang masih parau.
“Salma, maaf gue harus memberitahu sesuatu ke lu, sesuatu yang mungkin berat buat lu dengar" sahut Aldo dari balik pintu.
“Ada apa Al?"
“Lu... lu mengalami keguguran Salma"
“Apa Al? Gue... gue keguguran?" Salma terkejut dan menangis seketika, suaranya menjadi gemetar.
“Innalillah Wa Inna Ilaihi Raji'un... Ya Allah, sesungguhnya segala sesuatu hanya milik-Mu... dan mereka yang menjadi milik-Mu pasti akan kembali kepada-Mu... ajari kami untuk mengikhlaskan semuanya ya Allah" ujar Salma yang sudah pasrah 100 persen kepada Allah Azza Wa Jalla.
Delia dan Mita pun berhambur memeluk Salma dan suasana menjadi penuh duka, banjir air mata terjadi di rumah sakit itu. Delia dan Mita memotivasi Salma untuk bersabar dan pasrah kepada kehendak Ilahi. Sementara wanita itu sendiri juga tidak begitu ambil pusing, karena ini memang ujian yang didatangkan dari Allah.
Jono tak bisa berhenti menciumi kening istrinya bertubi-tubi. Dia bersumpah akan membalas dendam kepada Alam, jika dia tidak keluar rumah maka hal ini tidak akan pernah terjadi. Pingsannya Salma hingga ia keguguran ini juga karena Salma tidak kuasa jika harus terus diganggu iblis berpeci itu.
***
Beberapa hari Salma menghabiskan waktunya di rumah sakit, dan Alhamdulillahnya semakin hari kondisinya semakin membaik. Sampai akhirnya dokter kandungan memperbolehkannya untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Jono menggendong sang istri untuk membaringkannya di ranjang, seketika itu Salma langsung ingat pesan sahabatnya Delia, mumpung kondisi suaminya sedang bucin karena sudah merasa bersalah telah meninggalkannya dan membuatnya keguguran. Wanita itu akhirnya berinisiatif untuk mengajak sang suami untuk pergi ke psikolog supaya sang psikolog bisa melakukan terapi medis untuk sang suami dan supaya dua sejoli itu bisa berkonsultasi di sana.
“Sayang, kamu istirahat aja ya, kamu harus banyak istirahat. Kamu juga harus banyak minum dan makan, supaya kondisi kamu kembali membaik seperti dulu"
“Abang... Abang, ayo kita ke psikolog Bang. Ayo kita ke psikolog supaya beliau yang menangani masalah rumah tangga ini Bang"
Jono pun menyetujui saran istrinya itu, dan mereka sudah sepakat untuk pergi ke psikolog dalam kurun waktu 3 hari ke depan.
***
3 hari kemudian sesuai dengan rencana kemarin, Jono dan Salma pergi menemui psikolog terbaik di Jakarta Selatan, sesampainya di sana mereka langsung melakukan konseling.
“Baiklah Pak Jono, Bu Salma, apa ada yang bisa saya bantu? Ada masalah apa dengan rumah tangga Anda?" tanya psikolog itu membuka pembicaraannya.
“Sebenarnya kami saling jatuh cinta Dok. Tapi saya rasa kami gagal" jawab Jono.
“Gagal dalam hal apa Pak?" tanya sang psikolog.
“Sudah berlangsung sejak berapa lama?" tanya sang psikolog.
“Sejak suami saya keluar dari penjara Dok" jawab Salma dengan linangan air mata.
“Baiklah, apa Bu Salma pernah disakiti secara fisik?" tanya sang psikolog.
“Tidak Dok, hanya psikis saja, yang berupa kata-kata kasar" jawab Salma bohong.
“Maaf Dok itu tidak sepenuhnya benar. Kami melukai satu sama lain, dan bukannya itu terjadi di seluruh dunia Dok? Terkadang saya juga tidak bisa mengontrol amarah saya" seloroh Jono.
“Dari mana amarah ini datang Pak?" tanya sang psikolog.
“Entahlah Dok, saya... saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini" jawab Jono yang mulai terpojok.
“Coba saja dijawab dulu sebisa Anda Pak" cecar sang psikolog.
“Oke, mmmm... saya rasa itu semua terjadi karena saya takut kehilangan istri saya" jawab Jono agak ragu-ragu.
“Oke, kenapa Anda berfikir demikian?" tanya sang psikolog.
“Saya... saya... mmmm... saya" Jono mulai gugup.
“Kalau istri saya tidak lagi mencintai saya, mudah saja Dok, dia bisa mencari pria lain. Masih banyak laki-laki yang lebih baik dari saya yang mengantri di luar sana. Karena akhir-akhir ini memang hubungan kami tidak begitu baik. Dan belakangan ini memang dia tidak terlihat begitu baik. Belakangan ini bahkan istri saya mengatakan bahwa dia tidak mencintai saya. Mungkin dia sudah dipengaruhi oleh Firmansyah yang nggak tau diri itu. Jangan-jangan dia sudah menyukai Firmansyah" sambung Jono dengan gelagatnya yang dingin dan tak merasa bersalah sama sekali.
“Siapa itu Firmansyah Pak?" tanya sang psikolog.
“Dia itu pengganggu rumah tangga saya. Dia sudah lama tergila-gila dengan istri saya, jangan-jangan Firmansyah sudah mempengaruhi dia untuk meninggalkan saya" tuduh Jono sembarangan.
Lagi-lagi Salma tak bisa menahan air matanya, wanita itu merasa heran dan seketika terkejut mendengar pernyataan aneh yang terlontar dari lisan suaminya. Bagaimana mungkin dan kapan Salma pernah mengatakan hal itu padanya? Bahwa dia tidak lagi mencintai suaminya? Sungguh Salma tidak pernah berkata demikian.
Sang psikolog pun mencoba menenangkan mereka, dan mengatakan bahwa mungkin Jono salah perhitungan. Mungkin juga dia berfikir demikian karena cemburu dan memiliki dendam dengan Alam Firmansyah yang selalu mengganggu rumah tangga mereka.
“Kamu bohong Bang! Demi Allah aku nggak pernah bilang kalo aku udah nggak mencintai kamu dan malah mengharapkan Alam! Itu semua kebohongan belaka Bang! Justru aku yang sering kamu tinggal dan kamu siksa! Di mana keadilan kamu Bang? Di mana hati nurani kamu? Apa kamu udah nggak punya perasaan lagi? Jangan-jangan benar dugaanku selama ini... kamu punya wanita simpanan atau kamu masih menafkahi aku dengan cara yang haram? Aku udah sering bilang kalau itu sama sekali nggak berkah Bang!"
“Mungkin juga itu sebabnya kenapa Allah mengambil anak kita sebelum dia dilahirkan Bang! Kapan sih kamu sadarnya Bang? Ya Allaaah"
“Aku sudah bilang beribu-ribu kali kamu jangan pernah sebut aku dapat uang haram!"
“Tenang Pak, Bu... tenang... bukan begini caranya mengatasi masalah... begini Pak Jono dan Bu Salma... saran saya, intinya Anda berdua jangan sampai saling menuduh yang tidak-tidak. Tetaplah berfikir positif dan sebisa mungkin hindari fikiran negatif... ketahuilah bahwa pemicu KDRT yang utama adalah fikiran negatif. Nah Anda harus bisa menghilangkan itu semua sehingga hubungan rumah tangga Anda bisa kembali harmonis"