
Jono kembali ke rumahnya dari pasar, ia mendapatkan banyak uang dari banyak pedagang di sana. Pemuda itu menegaskan bahwa dirinya akan melangsungkan pernikahan dengan Salma.
“Buk, ini saya ada uang satu juta lebih, saya mau jadikan ini mahar untuk menikah dengan Salma. Ibu setuju kan?" tanya Jono pada bu Hilda
“Aku yang nggak setuju Bang! Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu? Dan mana tabunganku?" sahut Salma
“Sebagiannya sudah aku habiskan untuk membeli HP baru"
“Apa kamu bilang Bang? Apa kamu bilang? Kamu beli HP baru?"
“Kalo iya emangnya kenapa? Eh Salma, dengar baik-baik ya... selama saya pegang uang. Itu artinya saya bebas untuk menghabiskannya untuk apa saja! Ngerti kamu?"
“Ya Allah Bang Jonooo... istighfar Bang! Istighfar!"
“Ya Allah Naaak... kenapa sih kamu jadi seperti ini Nak? Sadarlah Nak uang itu bukan segalanya! Tapi kekuatan imanmu lah yang segalanya Nak! Astaghfirullahaladziiim!" sahut Hilda
“Ape lu bilang? APE? IMAN?" sahut Jono dengan kurang ajarnya
“Percuma Buk kalo gue beriman tapi ujung-ujungnye tetep sengsare, ape bedanye goblok?" sambungnya
“Bang! Abang berani berkata kasar sama Ibu? Jaga ucapanmu Bang! Kamu nggak takut kena' karma? Kamu nggak takut sama murka Allah?"
“Kamu jangan banyak omong! Sebaiknya kita fikirkan tentang pernikahan kita besok, itu aja!"
“Minggir lu! Dasar adik-adik nggak berguna! Nyusahin aja! Begok!"
“Ya Allah ya Rabbi, berikanlah hamba kesabaran" do'a Hilda dalam hati.
***
Keesokan harinya, acara pernikahan digelar di rumah Alex. Bu Okta memang sengaja mengadakan acara itu di rumahnya sebagai tanda belas kasih karena telah merasa bersalah atas kejadian 10 tahun yang lalu.
“Bu Hilda, Jono, Salma, selamat datang di kediaman keluarga Felixius, maafkan kami kalau ada di antara kalian yang merasa kurang nyaman berada di sini" ujar bu Okta menyambut para tamunya.
“Sama sekali tidak Ibu, kami senang kami bisa mengadakan acara pernikahan di sini. Dan kami sangat berterima kasih atas kebaikan Bu Okta dan Pak Lukas. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian" jawab Hilda yang saat itu duduk di kursi roda.
“Amiiin" sahut bu Okta
“Boleh aja sih gue nikah di sini, asalkan si sombong itu nggak ganggu gue aje Tan" celetuk Jono.
“St, Bang Jono, kamu ngomong apa sih Bang? Nggak enak kan sama tante Okta dan om Lukas! Kamu yang sopan dong Bang!" bisik Salma.
“Diem lu Salma, lu jangan ikut campur urusan gue!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 tepat. Aqad nikah segera dimulai, para hadirin sudah datang berduyun-duyun. Termasuk seluruh siswa SMA 1, teman-teman Jono dan Salma.
“Bismillahirrahmanirrahim... saudara Ahmad Sujono bin Santoso, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Aidah Salma binti haji Lukman Hakim, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 1 juta rupiah dibayar tunai!" ucap sang penghulu memulai acara aqad nikah.
“Saya terima nikah dan kawinnya Aidah Salma binti haji Lukman Hakim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" sahut Jono semangat empat lima.
“Bagaimana para saksi? Sah?"
“Saaah!"
“Alhamdulillahi Rabbil Alamin!"
“Selamat ya, mulai hari ini, kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Silahkan kalian bersalaman dan bertukar cincin" titah pak penghulu.
“Ya Allah, semoga aku bisa merubah wataknya Bang Jono setelah menikah ini" gumam Salma dalam hati.
“Semoga yang dikatakan oleh pak penghulu menjadi kenyataan ya Allah" gumam Salma dalam hati.
“Tunggu!" tiba-tiba seorang pemuda berpeci hitam muncul dari balik pintu.
“Firmansyah? Apa mau lu ke sini?" tanya Salma yang berdiri seketika.
“Salma, batalkan pernikahan ini! Dia ini bajingan licik! Lu harus tau itu!" ujar Alam
“Kalo dia berdosa biar gue yang nanggung dosa dia! Dan lu harus tau Alam, bahwa lu nggak bisa lagi ngejar gue! Gue sama bang Jono udah resmi menjadi pasangan suami istri, dan hubungan kami sudah dinyatakan sah! Jadi lu nggak ada hak lagi untuk memaksa gue nikah sama lu! Camkan itu baik-baik Firmansyah!" tegas Salma.
“Hahahahaha! Bagus Salma, untung lu begok, udah tau niat gue mau bales dendam tapi lu malah masih belain gue. Dan mampus buat lu Firmansyah, karena hak kepemilikan Salma sekarang ada di tangan gue! Gue yang berkuasa atas dia sekarang! Awas aje kalo lu masih berani macem-macem sama Salma, gue akan membuat hiduplu nggak tenang!" gumam Jono dalam hati.
***
Malam pertama pengantin baru Jono dan Salma diwarnai dengan kebahagiaan sekaligus rasa curiga yang mendalam di hati Salma. Namun wanita itu lebih positif thinking dan masih berharap bisa menjalani hari-harinya dengan semangat yang tinggi. Berkat uang haram yang diperoleh Jono, ia bisa mengontrak rumah yang cukup luas.
Dan di malam pertama ini Jono langsung antusias untuk melakukan olahraga malam, dan tentu saja, sebagai istri shalihah, Salma tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan harapannya yang besar bahwa mungkin suaminya bisa berubah setelah ia memuaskan nafsunya.
“Terima kasih Sayang, karena telah menjadi istri yang penurut. Terus terang, buat Abang... ini adalah malam terbaik yang pernah Abang alami"
“Alhamdulillah kalau Abang bisa merasa puas di malam pertama kita ini Bang. Alma sangat bersyukur dan juga ikut senang mendengarnya"
“Salma, bisa nggak kalo kamu nggak menyebut-nyebut nama Allah lagi?"
“Astaghfirullah Bang, Abang kok semakin ke sini semakin menjauh dari Allah sih Bang? Istighfar Bang! Ingat akan murka Allah! Abang mau kasih sayang Allah untuk kita terputus? Na'udzubillah Min Dzalik! Tobat Bang! Tobat!"
“Abang nggak mau ada keributan di malam pertama kita Salma. Jadi sebaiknya kamu tutup mulut kamu setidaknya untuk malam ini saja"
“Ya Allah, bukakanlah pintu hati suamiku. Hamba tau dia hanya khilaf ya Allah" gumam Salma lirih.
***
Keesokan paginya, setelah menikmati sarapan, Jono dan Salma bersiap-siap untuk pergi. Namun ke 2 tempat yang berbeda, Jono pergi ke pasar untuk kembali memeras uang masyarakat kecil, sementara Salma menjajakan dagangannya demi mencari Ridha Ilahi.
“Salma, Abang jalan dulu, mau cari tambahan uang. Kamu juga hati-hati kalo dagang, jangan ganjen, ngerti kamu?"
“Iya Bang"
“Ya udah, Abang jalan dulu"
“Hati-hati Bang"
“Yok"
“Oh iya Bang, nanti siang ba'da Dzuhur aku ngajar di pondok sampai sore. Soal makan malam, pulang ngajar langsung aku siapin buat Abang"
“Bagus"
“Ya Allah, lindungilah bang Jono dari segala marabahaya, berikanlah kami rezeki yang halal dan barakah, Amiiin" gumam Salma lirih.
***
Setelah keluar dari komplek rumahnya, Jono mengirimkan pesan suara kepada anak buahnya.
“Siap-siap semuanya, kita tarik iuran lagi hari ini. Gue yakin kita pasti bisa dapet uang yang jauh lebih banyak dari kemaren. Kite nggak boleh melewatkan satupun orang yang kerja di pasar. Pedagang, pemulung, tukang parkir, bahkan pencopet sekalipun, mereka semua harus bayar setoran ke kite-kite"