
“Ini capa Ante?" tanya Bradley.
“Ini adiknya Bradley Sayang, Bradley mau kan punya adik?" jawab Salma yang kemudian bertanya.
“Ade Ady?"
“Iya, Bradley maunya punya adik laki-laki atau perempuan Sayang?"
“Ady auna ade aki, api alo uwan uga gak apa cih. Enting ucu"
“Aduuuh, lucunya anaklu Del. Umur masih 3 taun tapi udah pinter ngoceh, sini Sayang, sini Sayang. Peluk Tante lebih erat lagi ya nak, cup, cup" Bradley mengeratkan pelukannya pada Salma, dan Salma pun menghujaninya dengan banyak ciuman pada wajah bocah suci itu. Bradley juga beberapa kali menciumi perut Salma yang sudah lumayan membuncit.
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikanku anak yang lucu, cerdas, dan baik hati ini, berikanlah juga hal yang sama untuk sahabatku Salma. Kasihanilah dia ya Allah" gumam Delia lirih dalam hati.
“SALMA! Kurang ajar kamu! Kamu Abang cari-cari di rumah nggak ada ternyata kamu ngerumpi di sini ya hah? Istri kurang ajar! Ayo pulang! PULANG!" tiba-tiba Jono masuk ke rumah Delia dan menarik tangan Salma, mencengkeramnya dengan kuat sampai-sampai pergelangan tangannya merasakan rasa sakit yang luar biasa.
“JONO! LEPASIN TANGAN SALMA! LU BERANI NYAKITIN SAHABAT GUE? DAN ITUPUN DI ACARA ULANG TAHUN ANAK GUE? APA-APAAN LU INI? UDAH MASUK TANPA SALAM, KASAR SAMA ISTRI LAGI! SUAMI MACAM APA LU HAH?" sentak Delia, sementara itu Bradley yang ketakutan menangis histeris dan langsung dibawa oleh sang ART ke dalam kamar.
“Huaaaa! Om ahat! Om ahat! Huaaaa!" pekiknya menangis histeris ketika bik Siti sudah menggendong bocah suci itu, dan ART itu pun membawanya ke kamar
“DIEM LU DEL! INI URUSAN GUE! SEBAIKNYA LU MENYINGKIR DARI URUSAN GUE! ATAU–"
“Atau apa Bro? Lu mau nyakitin bini gue juga? Apa lu udah gila Jono?" sahut Aldo
“Elu tuh yang gila! Karena lu nggak ngundang gue ke pesta ini! Salma ayo pulang! AYO PULANG! MINGGIR SEMUANYA! MINGGIR!" Jono langsung menyeret Salma ke luar rumah Delia, wanita itu pun merasa kesakitan luar biasa. Jono memasukkannya ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kedua pasangan yang sangat tidak harmonis itu. Jono hanya diam dengan ekspresinya yang dingin dan kaku, sementara itu Salma hanya bisa meneteskan air mata kesedihannya.
Sesampainya di rumah kontrakan mereka, Jono langsung menyeret Salma keluar dari mobilnya dan memarahinya dengan intonasi yang kasar.
“Salma, kamu nggak ngundang aku ke pesta? Apa maksud kamu? Kamu mau nyingkirkan aku? Kamu berpesta tanpa aku dan kamu melakukannya dengan sengaja supaya kamu jauh dari aku kan? YA KAN?"
“Bang Jono! Undangan pesta ini memang khusus untuk aku Bang! Abang jangan sensitif seperti ini!"
“BOHONG KAMU!" Jono mencekik leher istrinya hingga wanita itu tidak bisa bernafas dan menangis karena kesaktian.
“Hok! Nggak Bang sumpah demi Allah... aku nggak bermaksud untuk menyingkirkan kamu! Hok! Ya Allah Bang lep... lepas... Abang nyakitin Salma! Sakit Bang!" Salma meminta suaminya melepaskan cengkraman tangannya tetapi suami gilanya itu tidak menggubris, pria itu justru semakin mengencangkan cengkramannya.
“Kamu lebih menyakiti Abang dengan cara seperti ini!" ketus Jono
“BANG! BANG JONO! YA ALLAH! LEPASIN AKU!" pekik Salma
“BANG! KALO KAMU MELAKUKAN INI LAGI KE ALMA! ALMA MINTA CERAI!" lanjutnya sambil berusaha melepaskan tangan suaminya.
Jono yang tidak perduli justru semakin meluapkan emosinya, pria itu mendorong tubuh Salma dan menendang kakinya dengan keras, sehingga menyisakan memar pada betis kiri wanita malang itu.
Salma pun menjerit dan merintih kesakitan, tangisannya pun tak juga kunjung selesai. Sementara itu, Jono yang pergi meninggalkannya untuk kembali beraksi dan melakukan operasi selanjutnya tak memperdulikan istrinya yang sudah terbaring lemah di atas tanah.
“Ilahi, kuatkanlah hatiku untuk menghadapi suamiku, sadarkanlah dia ya Allah. Hamba tau dia menjadi seperti ini karena masa lalu buruknya dan juga lingkungannya. Tapi hamba mohon ya Allah jangan biarkan dia menjadi pendendam"
Jono kembali menaiki mobilnya dan bergegas menuju markas, kemudian pria itu menghubungi teman-temannya dan memerintahkan kepada mereka untuk berkumpul di sana. Dia punya rencana baru malam ini, yaitu kembali merampok bank, tapi di tempat yang berbeda dari sebelumnya.
***
Di lain tempat, Alam masih ngotot ingin membalas dendam pada Jono, pemuda itu pun mendatangi rumah Jono bersama beberapa santrinya.
Sesampainya di sana, Alam melihat Salma berjalan pincang. Alam mendekati wanita itu dan membalikkan tubuhnya
“Apa yang terjadi padamu Sayang?"
Plak!
“Kurang ajar! Apa mau lu Alam?"
“Hehehehehe. Nggak ada cantik, gue cuma mau ketemu suamilu aje. Mana dia?"
“Mana suamilu Salma? Mana dia?"
“Dia lagi mencari nafkah di luar sana. Dia bukan pemeras uang masyarakat seperti lu!"
“Hahaha... bukan pemeras uang masyarakat kata lu? Bagaimana lu bisa yakin banget kayak gitu?"
“Terus maksudlu apa? Lu mau nuduh dia menafkahi gue dengan uang haram gitu?"
“Iye! Asal lu tau aja Salma. 6 bulan yang lalu pondok gue kerampokan. Dan pelakunya suamilu sendiri dan 3 temannya!"
Salma kembali melayangkan tamparan keras pada wajah Alam, wanita itu tidak terima jika suaminya dituduh perampok. Namun memang itulah faktanya.
“Dengar Alam Firmansyah! Gue, seribu kali lebih percaya sama suami gue daripada lu! Jangan lu fikir gue bodoh Lam, gue tau ada niat busuk dibalik wajahlu itu"
“Dengar Salma... gue dateng ke sini demi menyelamatkan lu. Sekarang terserah lu mau percaya sama gue atau kagak"
“AH! AH! AW! Sakit!" pekik Salma sambil memegang betisnya ketika baru beberapa langkah berbalik ke arah rumahnya.
“Lu kenapa Salma? Apa yang sakit?"
“Menyingkir dari gue lu dasar bajingan!" ketus Salma sambil menepis tangan Alam
“Kakilu memar? Ya Allah siapa orang gila yang tega melakukan ini semua ke lu Salma? Hah? Siapa?"
“Kurang ajar!" pekik Salma sambil mendorong Alam hingga terjatuh ke tanah, para santrinya pun secara spontan membantunya berdiri.
“Gue udah bilang jangan ikut campur urusan rumah tangga gue! Lu masih nggak ngerti juga? Gue minta lu pergi dari sini sekarang juga! Bukannya tadi lu mau cari suami gue?"
“Gue mau memperbaiki keadaanlu Salma, lu udah salah pilih suami! Ingat Salma, kalo suamilu sekarang ini kasar, selamanya dia akan seperti itu. Saran gue lebih baik lu ceraiin aja tuh suamilu, gue yakin kalo lu nikah sama gue. Kehidupanlu bakal terjamin"
“Lagipula... belum tentu juga kalo anak yang lu kandung itu anak Jono. Bisa jadi dia anak gue juga kan?"