
“Kurang ajar!" pekik Salma sambil mendorong Alam hingga terjatuh ke tanah, para santrinya pun secara spontan membantunya berdiri.
“Gue udah bilang jangan ikut campur urusan rumah tangga gue! Lu masih nggak ngerti juga? Gue minta lu pergi dari sini sekarang juga! Bukannya tadi lu mau cari suami gue?"
“Gue mau memperbaiki keadaanlu Salma, lu udah salah pilih suami! Ingat Salma, kalo suamilu sekarang ini kasar, selamanya dia akan seperti itu. Saran gue lebih baik lu ceraiin aja tuh suamilu, gue yakin kalo lu nikah sama gue. Kehidupanlu bakal terjamin"
“Lagipula... belum tentu juga kalo anak yang lu kandung itu anak Jono. Bisa jadi dia anak gue juga kan?"
Salma yang merasa geram dan tak mampu lagi untuk menahan kesedihannya langsung mengusir Alam dari rumahnya dan mengancam akan melaporkannya ke polisi jika dia masih bersikeras untuk mengganggu rumah tangganya. Dengan kecewa dan marah, Alam pun terpaksa harus pergi dan ia masih mengancam Salma.
Dia berjanji akan terus meyakinkan pada Salma jika suaminya itu tidak lain kecuali bajingan kelas kakap. Dan pemuda itu juga masih ngotot ingin menikahinya.
Dan masih menganggap bahwa anak yang dikandung Salma itu adalah anaknya. Memang dasar ustadz yang tidak punya malu, tidak patut untuk dicontoh. Mungkin urat malunya memang betul-betul sudah terputus.
Salma masih tak mampu membendung air matanya, wanita itu segera masuk ke dalam rumahnya dan melaksanakan shalat isya'. Setelahnya wanita itu berdo'a memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa.
Dia berdo'a supaya suaminya segera diberikan hidayah dan juga supaya Alam tidak mengganggu rumah tangganya lagi. Wanita itu juga mengharapkan keselamatan pada janin yang dikandungnya.
Setelahnya wanita itu melanjutkan ibadahnya dengan membuka kitab suci Al-Qur'an dan membacanya sebanyak 1 Juz, setelahnya ia mengharapkan kebaikan untuk suaminya dan juga mertua dan ipar-iparnya dan semua sahabatnya dari Sang Khaliq.
Dan karena mata Salma sudah tampak lelah, akhirnya wanita itu pun membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, sambil mengelus-elus perutnya, wanita itu membaca shalawat dengan harapan supaya calon anaknya itu memiliki sifat dan nasib yang jauh lebih baik dari ayahnya.
Lantas setelah itu ia tutupi tubuhnya dengan selimut yang tebal untuk menembus ke cakrawala alam mimpi.
***
Di lain tempat, Jono dan anak buahnya sudah siap untuk melakukan operasi, yakni perampokan ATM dan toko-toko perhiasan. Mereka semua telah sepakat untuk mengenakan topeng badut.
Sementara itu perampokan Bank nomor 2 Indonesia dan juga bank-bank lainnya akan dilakukan keesokan paginya.
Mereka berangkat ke ATM malam itu juga, mereka memang sengaja memilih waktu malam karena pada waktu malam pastinya sudah banyak orang yang beristirahat.
Sesampainya di sana mereka langsung mendobrak pintu masuk ATM.
“SEMUANYA DIAM DI TEMPAT! CEPAT SERAHKAN SEMUA UANG KALIAN!" pekik Jono.
“CEPAT!" sambungnya.
Semua orang mulai panik dan ketakutan, sementara itu Jono menyuruh semua anak buahnya untuk mendorong semua orang yang ada di sana supaya mengeluarkan semua uang tabungan mereka.
“CEPAT! SERAHKAN SEMUA UANG KALIAN! CINCIN, KALUNG, HANDPHONE! SERAHKAN SEMUANYA KEPADA KAMI! KALAU KALIAN SEMUA MENOLAK... KAMI AKAN MEMBUNUH KALIAN!"
Semua orang yang ada di sana pun terpaksa menyerahkan semua harta benda yang mereka punya.
“Hahahahaha... Boss! Kita kaya Boss! Kita kayaaa! Hahahahahahahaha!"
“Tau nih Adam, lebar amat sih mulutlu itu!" sahut Bobby.
“Udah cukup, jangan ribut lagi. Awas kalo sampe' ada yang ribut lagi gue tembak kepalanye ntar! Ngerti lu pade?"
“I... iye Boss, ngerti Boss... ngerti"
“Dah, yuk, cabut!" titah Jono yang kemudian langsung menuju ke lokasi berikutnya, yakni toko perhiasan.
“Darsa, lu udah lama jadi perampok, nah sekarang gue mau tanya sama lu, di mana toko perhiasan yang buka 24 jam?"
“Ada Boss! Namanya FELLI JEWELLERY! Buka 24 jam sehari!"
“Good news! Oke, sekarang pemberhentian selanjutnya... FELLI JEWELLERY. Let's go!"
Mereka pun bergegas menuju toko perhiasan tersebut, sesampainya di sana, mereka kembali melakukan penjarahan besar-besaran. Semua karyawan dibuat ketakutan oleh mereka berempat, mereka semua mulai memecahkan kaca-kaca etalase perhiasan dengan menggunakan bagian belakang senjata api mereka dan mengambil semuanya tanpa tersisa sedikitpun. Bahkan ada 3 orang yang sempat melakukan perlawanan terhadap mereka, namun pada akhirnya mereka menembak ketiga orang tersebut hingga terkapar di atas lantai.
Tak lama kemudian polisi datang ke TKP, Jono CS pun berhamburan keluar dari toko perhiasan itu, dan lagi-lagi mereka berhasil lolos dari kejaran polisi.
***
Keesokan paginya, Salma mendapatkan panggilan telefon dari sahabatnya yang baru saja merayakan hari ulang tahun anaknya.
“Halo Salma, Assalamualaikum, bagaimana keadaanlu Beb?"
“Halo Del, Wa Alaykum Salam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh. Sama seperti hari kemarin dan 2 hari yang lalu. Gue masih disiksa suami gue Del, hiks hiks... nggak tau deh kapan dia bisa berubah, intinya sekarang ini yang bisa gue lakuin cuma sabar aja sampai Allah membuka pintu hati suami gue"
“Ya Allah Beeeb, lu yang sabar ya Honey, jujur aja kalo gue ada di posisi lu... pasti gue udah minta cerai"
“Yaaah mau gimana lagi Del, hidup emang harus tetep dijalani. Belum lagi Alam yang masih ngotot ngincer gue"
“Yaaah mungkin ini memang ujian dari Allah buat gue, lu tau kan bahwa Allah tidak mungkin menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka?"
“Jujur gue jadi ikutan sedih denger curhatanlu Sal... lu tuh bener-bener super duper sabar, nggak gampang lho jadi orang kayak lu gitu"
“Maap-maap nih yak, gue harap lu nggak tersinggung Say, lu punya suami yang karakternya berubah 180 derajat dari aslinya, plus Alam yang masih suka gangguin elu. Lu juga ngajar nggak dibayar, jual gorengan juga berhenti karena lu hamil. Gue bingung gue harus melakukan apa supaya bebanlu ini jadi ringan Beb"
“Lu masih punya uang nggak btw? Kalo lu nggak punya uang, lu tenang aja. Gue dan mas Aldo bisa bantu lu Insyaallah"
“Mmmm nggak usah Del, nggak usah... gue kagak mau ngerepotin elu dan Aldo, kalian kan baru aja merayakan pesta ulang tahun Bradley, makasih atas tawarannya tapi maaf gue nggak bisa terima. Simpen aja uangnya untuk masa depan kalian, khususnya untuk Bradley, dia butuh sekolah dan pendidikannya harus tinggi. Anaklu cerdas Delia, sayang kalo dia nggak sampai ke jenjang perguruan tinggi"
“Nggak masalah Salma, gue kasih sebagiannya ke elu, lu kan tau sendiri kalo mas Aldo itu gajinya besar dan ekonomi kami sudah sangat mencukupi. Jadi gue mohon lu terima aja sebagian uang dari kami"