After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 30 : Batal Ke Kuta



“Seandainye aje usia kandungannye 9 bulan dan calon anak gue nggak kembar, pasti gue udah ngajak main do'i... sayangnya waktu itu dokter Amira bilang kalo bini hamil kembar harus puasa dulu... ya Allah Salma, nggak pernah Abang liat kamu secantik ini sebelumnya. Malam ini kamu cantik banget Sayang" gumam Jono dalam hati.


Akhirnya malam itu juga Jono bergabung ke bawah selimut dan menghusap-husap perut Salma.


“Mmmmh... Abaaang... kok belum tidur sih? Alma udah ngantuk niiih" Salma yang merasa terusik merengek manja.


“Alma, sebenarnya Abang nggak kuat nih Sayang, lagi pengen Abang, tapi..."


“Iiiish Abang! Nggak inget dokter Amira ngomong apa waktu itu? Emangnya Abang mau Alma keguguran lagi? Ini kan bayi kembar Abang bukan satu, kalopun bayi satu kan juga harus nunggu usia 9 bulan dulu Abang"


“Iya maaf, ya udah deh Abang pasrah aja, emang harus puasa dulu sampe' lahiran" ujar Jono yang kemudian bergabung menelusuri alam mimpi bersama istrinya.


***


Hari sudah subuh, Salma bangun perlahan dari tempat tidurnya dan membangunkan suaminya dan mengajaknya menunaikan ibadah shalat subuh.


“Baang... Abang" ujar Salma sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


“Mmmmh... iya Sayang" Jono yang masih setengah sadar mulet dan mencoba membuka matanya.


“Shalat dulu yuk Bang, udah subuh nih" ujar Salma dengan lemah lembut.


“Mmmph iya Sayang" jawab Jono yang kemudian mendudukkan dirinya sambil mengucek-kucek matanya. Setelah mulai sadar, Jono memperhatikan wajah istrinya yang terlihat berkilauan di depan matanya, sangat cantik sekali. Tubuhnya sudah terbalut dengan mukena putih.


“Mmmmph... morning kiss dulu dong Ayank"


“Nanti aja Bang, nanti subuhnya keburu habis lho"


“Abang nggak mau tau, morning kiss dulu pokoknya"


“Ish, cepetan Abang! Kalo mau morning kiss sikat gigi dulu sana... bau jigong tau, udah ayo sikat gigi dulu, terus wudhu, terus shalat, jangan banyak omong Abang. Alma cubit nih ntar"


“Iya iya Sayang, ampun, hehehehehehe!" ujar Jono sambil tertawa puas dan berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelahnya menyikat giginya.


“Huuuh... dasar suami bucin akut! Udah tau waktunya shalat subuh mau habis masih aja banyak omong. Tapi setidaknya hamba bersyukur ya Allah karena bang Jono sudah berangsur-angsur berubah" gumam Salma dalam hati sambil tersenyum.


Dua raka'at shalat Subuh telah dilaksanakan, setelah mengaji dan mengganti mukenanya dengan habaya, hijab, dan cadar hitamnya, Jono melakukan morning kissnya dan mengajak Salma untuk jalan-jalan santai ke pantai Kuta. Namun ketika wanita itu hendak beranjak dari sajadahnya, tiba-tiba perutnya kembali bergejolak.


“Abang perut Alma kram... mau muntaaah"


“Hah? Kamu mau muntah? Ayo berdiri Sayang"


“Huwek! Nggak bisa Bang, nggak kuat bangun Alma, tolong cari kresek Abang Alma udah nggak kuaaat"


“Eh... iya, iya, iya... tenang ya Sayang ya, ini kreseknya"


“Huwek! Huwek! Uhuk uhuk!" Salma memuntahkan semua isi perutnya ke dalam kresek, sementara Jono menyingkirkan sajadah dari depan istrinya dan memijit lehernya. Setelah selesai, Jono menggendong istrinya dan menidurkannya di ranjang.


“Abang, maafin Alma ya, gara-gara Alma bulan madu kita jadi kacau begini" ujar Salma dengan suara parau.


“Nggak apa-apa Sayang, ini bukan salah kamu... kamu lagi morning sickness, wajar lah. Apalagi kamu menanggung 2 nyawa. Kalo kondisi kamu udah membaik, baru kita ke Kuta, oke?"


Salma mengangguk.


“Sekarang kamu minum dulu ya Sayang ya, kamu lagi pengen makan apa hari ini Sayang? Hm?"


“Nggak tau Bang, Alma lagi nggak nafsu makan sekarang, cuma lagi pengen yang manis-manis aja Bang, perut Alma masih mual nih"


“Mmmph... boleh deh Bang, sama minum coklat panas ya?"


“Siap Bidadariku yang cantik, sebentar ya, Abang keluar dulu. Kamu baik-baik di sini ya Sayang ya, Abang udah siapin kresek di laci nakas buat jaga-jaga kalau kamu mau muntah lagi"


“Iya Bang, makasih ya perhatiannya. Hati-hati Bang, jangan beli makanan yang macem-macem, ini Bali Bang. Beda sama Jakarta, hati-hati dengan barang haram"


“Iya Ustadzah Salma, siap"


“Jangan panggil aku Ustadzah Bang, ini bukan pondok pesantren"


“Hehehehehe, iya cantik, cup. Abang pergi dulu ya"


“Ya Allah, lindungilah suami hamba. Jangan biarkan dia tersesat dari jalan-Mu ya Rab" do'a Salma dalam hati.


***


Jono keluar dari Red Doorz dan segera pergi ke mini market terdekat untuk membeli apa yang diinginkan istrinya, sekotak es krim ia beli di sana sementara minuman coklat sachete telah dibelinya di perjalanan di kapal.


Di tengah perjalanan, Jono mendapatkan telepon.


Yasmin is calling...


Tulisan itu jelas terpampang di handphonenya.


“Yasmin? Ngapain dia telfon gue? Pasti ngajak main nih, aduh mampus gue, mending nggak gue angkat ah, daripada tambah runyam urusannya nanti. Lagipula kalo gue angkat, es krim ini bisa mencair nih" ujar Jono yang kemudian memblokir nomor Yasmin sementara waktu.


***


Sesampainya di penginapan, Jono bergegas menuju ke kamarnya dan memberikan es krim itu pada Salma.


“Abang, kok lama banget sih? Dari mana aja sih kamu Bang"


“Oh... mmmm... itu, tadi sempet lupa jalannya, maklum lah Abang kan orang asing di Bali Sayang" ujar Jono sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Owh, ya udah mana sini es krim Alma"


“Nih, Abang suapin ya?"


“Makasih ya Bang... eh tolong masak airnya sekalian ya Bang"


Jono mengambil kompor minyak tanah dari dalam kopernya dan menyalakan api untuk memasak air. Hingga air mendidih pria itu menuangkan air dari dalam teko ke gelas yang sudah berisi coklat bubuk dari kemasan. Kemudian ia memberikan coklat panas itu pada istrinya. Salma menaruhnya di atas nakas dan memberikan wadah es krim pada suaminya.


“Abang... ayo suapiiin" pinta Salma dengan manja.


Jono dengan telaten menyuapi istrinya, sendok demi sendok es krim masuk ke dalam perut Salma hingga es krim itu habis tak tersisa, Jono hanya memakannya sedikit saja, sisanya dihabiskan oleh Salma.


“Eeeh... tunggu Honey, tunggu... mulut kamu belepotan tuh, sini Abang bersihin dulu" ujar Jono ketika Salma ingin langsung meminum coklat panasnya.


Salma mengembalikan gelas itu ke atas nakas, dan tak disangka sebuah kecupan ganas meluncur ke bibir manis Salma, ya, Jono tidak membersihkan mulut dan wajah istrinya dengan tisu melainkan dengan bibir dan lidahnya sendiri, Salma sempat ingin berteriak karena kaget namun teriakannya tercekat oleh kecupan suaminya.


“Mmmmh... mmmmh... manisnya... apa yang membuat lidah Abang merasakan manis sayang? Bibir dan wajah kamu atau es krim ini?" ujar Jono sambil terus mengecup dan menjilati wajah dan bibir istrinya.


“Mmmmh... mmmmh... kamu cantik banget pagi ini Sayang. Cantik banget! Nggak nahan Abang liat muka kamu" ujar Jono setelah selesai melakukan kecupan ganas yang berlangsung sekitar 30 menit itu.