
“Wah waaah, beruntung banget lu Salma, karena punya suami yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan pekerja keras" puji Delia.
“Begitulah guys, gue bersyukur Alhamdulillah" sahut Salma yang masih berbohong.
“Ya Allah, padahal apa yang mereka katakan berbanding terbalik dengan kenyataannya. bang Jono, kamu di mana sih bang? Semua orang membicarakan tentang kamu, mereka berfikir rumah tangga kita baik-baik saja. Padahal aku di sini sedang mengkhawatirkan keberadaan kamu. Kapan kamu pulang bang? Ya Allah lindungilah suamiku di manapun dia berada. Maafin gue Mita dan Delia, gue terpaksa harus bohong sama kalian. Gue nggak mau kalian membenci bang Jono. Karena biar bagaimanapun juga, bang Jono itu orang yang selama ini kita bela-bela di SMA. Dan sekarang juga dia udah jadi suami gue" gumam Salma lirih dalam hati.
Selama kepergian Jono, situasi Salma menjadi semakin tidak nyaman. Sesekali ia berkunjung ke rumah mertuanya dan merasa lebih nyaman berada di sana ketimbang di rumahnya sendiri. Namun lagi-lagi ia harus terus menutupi KDRT yang ada di dalam rumah tangganya. Di sisi lain, Alam selalu mengganggunya dengan tindakannya yang kurang ajar.
Dan yang paling parah di antara semua itu, pernah suatu hari saat situasi pondok pesantren sedang sepi, Alam masuk ke kamar pribadi Salma, dan ketika Salma sedang tidur, Alam dan sebagian santrinya mengikat tubuh Salma di ranjangnya.
“Alam! Apa-apaan ini? KENAPA KAMU BERANI MASUK KE KAMAR PRIBADIKU ALAM?"
“Ssst... DIAM KAMU SALMA! Alhamdulillah akhirnya aku bisa mendapatkan kesempatan emas ini"
“TOLOOONG! TOLOOONG! YA ALLAH TOLONGLAH HAMBA-MU YANG LEMAH INI YA ALLAH! HAMBA TIDAK BISA BERBUAT APA-APA TANPA PERTOLONGAN-MU!"
“ALAM! KAMU SUDAH GILA! KAMU GILA ALAM! LEPASKAN IKATANKU! LEPASKAN AKU ALAM!"
“Tidak akan pernah Sayang. TIDAK AKAN PERNAH! Sekarang kamu sudah sepenuhnya berada di cengkraman tanganku. Jadi jangan pernah berfikir untuk lari dari sini, hahahahaha!"
“YA RASULULLAAAH! YA HABIBALLAAAH! ADRIKNIII!" (“WAHAI RASULULLAAAH! WAHAI KEKASIH ALLAAAH! TOLONGLAH AKU!"). UMIII! ABIII! TIDAK ADAKAH SESEORANG YANG DAPAT MENOLONGKU?"
“Hahahahaha... percuma kamu teriak-teriak seperti itu Salma. Tidak akan ada yang mendengarmu, kamu harus mau melakukan ini, ayo Sayang, biar aku membantumu hamil, bukankah itu yang kamu inginkan? Jangan harapkan apapun dari suamimu, dia itu mandul. Akulah yang subur Salma. AKU!"
“AAAAH! TOLOOONG! AUDZUBILLAH MIN ASY-SYAITHANI—" belum selesai Salma membaca taawudz, salah satu santri Alam menyuntikkan obat bius pada tangan wanita malang itu.
Ditambah lagi, mereka mencekoki wanita itu dengan miras. Setelah Salma sepenuhnya tak sadar, barulah ustadz kurang ajar itu melakukan aksinya, ia melucuti semua yang ada pada tubuh Salma dan mulai menikmatinya.
***
Malamnya Salma sadar, dan ia melihat ada Alam yang masih terlelap di sampingnya. Wanita itu ingin berteriak tetapi mulutnya ia tahan dengan telapak tangannya. Dilihatnya tubuhnya masih polos tanpa sehelai benangpun menempel di sana. Derai air mata pun tak dapat dibendung, Salma benar-benar merasa terhina dan ingin segera bertaubat pada Sang Khaliq. Dengan cepat ia memakai kembali pakaiannya lalu berlari ke luar pondok pesantren.
“TOLOOONG! TOLOOONG! TOLONGIN SAYA!"
“Ustadzah? Ada apa? Kenapa muka Ustadzah pucat? Kenapa Ustadzah berkeringat dingin?" tanya ustadzah Fahmah yang terlihat panik.
“Hajar! Hajar! Cepat kamu ambilkan air minum untuk ustadzah Salma" sambungnya.
“Duduk dulu Ustadzah. Tenang ya, ya Allah ini sebenarnya ada apa sih?"
“Ustadzah Fahmah, tolong saya. Saya... saya... ada yang meneror saya di pondok pesantren ini. Dia memp*****a saya!"
“Ya Allah! Siapa dia Ustadzah?"
“Maaf Ustadzah Fahmah, saya tidak bisa menyebutkan namanya. Saya cuma minta sama kalian yang ada di sini, jangan sampai berita ini tersebar. Saya ikhlas, mungkin ini adalah ujian dari Allah buat saya"
“Ustadzah Salma yang sabar ya, Allah tidak akan pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka. Bu Ustadzah harus ingat itu ya Bu ya?"
“Terima kasih atas nasehatnya Ustadzah"
“Ustadzah Salma, ini... silahkan diminum dulu" ujar Hajar salah satu santriwati Al-Hikmah Putri.
“Terima kasih Hajar, semoga kamu bisa meminum air dari telaga Kautsar" balas Salma
“Amiiin" jawab Hajar
***
“Bang Jono, kamu dari mana aja sih Bang? sebulan nggak pulang. Alma kangeeen banget sama Abang"
“Apa kabar kamu Salma?"
“Alhamdulillah Baik Bang"
“Salma, berapa kali Abang harus mengingatkan kamu jangan pernah sebut nama Allah! AAAAH!" Jono menghajar Salma hingga tubuhnya dipenuhi memar dan lebam
“YA ALLAH BANG AMPUN BANG AMPUN! SAKIT BANG YA ALLAAAH!"
“TERUSIN SALMA! TERUSIN! SEBUT NAMA ALLAH LAGI! AKU HANCURKAN KAMU SALMAAA!"
“ADUH! AW! ADUH! AMPUN BANG! AMPUN!"
“Ada apa itu Bu? Kok pak Jono marah-marah begitu ya?" tanya bu Wati heran.
“Nggak tau tuh Bu, jangan-jangan ada KDRT di komplek ini, ayo kita periksa Bu" jawab bu Ita.
“Astaghfirullahaladzim! Bu Ustadzah Salma! Pak Jono! Bapak ini apa-apaan sih Pak? Sadar Pak, ini istri Bapak, jangan siksa istri Bapak Pak! Apa Bapak tidak merasa berdosa karena telah menyiksa istri sendiri? Istighfar Pak, ingat Allah!" pekik bu Wati setelah keluar dari rumahnya.
“Eh, Bu Wati, Ibu jangan ikut campur urusan rumah tangga saya ya! Ini rumah rumah saya! Istri istri saya! Kenapa kalian jadi ikut campur? PERGI SANA!" usir Jono.
“Pak, hati-hati ya kalo bicara. Kami bisa melaporkan ini ke pihak yang berwajib!" sahut bu Ita.
“Silahkan! Laporkan saja kalau kalian berani!" tantang Jono.
“Astaghfirullah! Hati-hati dengan benda tajam itu Pak! Benda itu bisa melukai istri Bapak!" ujar Bu Ita
“Kalian pilih diam atau saya cincang? DIAM!" ancam Jono yang kemudian mengancam 2 tetangganya itu.
“ASTAGHFIRULLAHALADZIIIM! ASTAGHFIRULLAHALADZIIIM! SADAR BANG! NYEBUT ASMA ALLAH!" pekik Salma mengingatkan suaminya.
Jono membanting pisau yang ada di tangannya dan kembali memukuli Salma. Wanita malang itu merasa sangat kesakitan, sementara bu Wati dan bu Ita hanya bisa menyaksikan kejadian itu sampai selesai. Setelah puas memukuli istrinya, Jono kembali pergi dari rumah dan meninggalkan Salma yang malang sendirian.
Belum lama acara resepsi pernikahan, rumah tangga mereka sudah tidak sehat seperti ini, bagaimana jika Salma sudah berbadan dua dan mempunyai anak? Namun bagaimanapun juga, Salma tetap tegar dan kuat menghadapi cobaan yang cukup berat dari Sang Khaliq.
“Bu Ustadzah! Ya Allah. Ayo Bu, Ibu ke rumah saya dulu, biar saya kompres dengan air dingin" ujar bu Wati.
“Nggak usah Bu Wati, saya takut merepotkan Ibu dan suami Ibu"
“Nggak apa-apa Bu, sudah kewajiban saya menolong tetangga. Bu I, ayo gotong bu ustadzah ke rumah saya"
“Iya Bu"
(Di Rumah bu Wati)
“Sebenarnya apa yang terjadi Bu Ustadzah? Kenapa suami Ibu bisa brutal seperti itu?" tanya bu Wati.
“Ceritanya panjang Bu. Intinya semenjak keluar dari penjara, suami saya jadi brutal dan tidak kenal belas kasihan. Selama suami saya pergi, saya diteror oleh orang Bu. Dia sering ke sini dan menggoda saya. Makanya saya jadi lebih sering ke rumah ibu mertua saya daripada di sini"