After Being In Prison

After Being In Prison
Bab 32 : Go Home



Sekitar 10 menit kemudian, wanita itu keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas yang masih terbalut dengan handuk. Salma hampir ambruk namun Jono memegangi tubuhnya agar tidak terjatuh.


“Ya Allah, Sayang... sini, sini, sini, pelan-pelan Sayang" Jono merangkul tubuh istrinya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


“Keluar semua Bang, keluar semua... es krim dan coklat panas yang tadi Alma makan dan minum, semuanya udah keluar Bang. Hiks hiks. Bayi kita makan apa Bang? Kasihan mereka" ujar Salma sambil menangis terisak-isak tak terkontrol.


“Sssst... sini, sini, sini Sayang. Peluk Abang Sayang, peluk Abang. Ya Allah perjuangan kamu besar banget Sayang. Abang tau kalo Abang ada di posisi kamu, pasti Abang juga akan mengeluh seperti kamu. Sabar ya Sayang ya? Cup, cup, cup" ujar Jono sambil memeluk tubuh Salma dan menciuminya beberapa kali.


Salma ingin mengambil pakaiannya dan memakainya, namun Jono menghalanginya. Pria itu lah yang mengambilkan dan memakaikan pakaian pada tubuh istrinya.


“Sayang, aku panggil dokter ke sini ya?"


“Apa Bang? Panggil dokter? Dalam kondisi bulan madu seperti ini? Kalau biayanya mahal gimana dong Abang?"


“Abang bakal cari dokter praktek yang gratis di sekitar sini, insyaallah ada"


Jono menelusuri internet tentang dokter praktek yang gratis di Denpasar, dan untungnya dia menemukannya. Dr. Rufaydah Keysia Ilsa Sp.OG, konsultasi gratis tanpa biaya apapun.


“Nah, udah ketemu Sayang, kalo diliat dari namanya, kayaknya dia muslimah nih"


“Ya udah Bang, panggil aja"


Sekitar 30 menit kemudian, dokter kandungan datang ke Red Doorz Denpasar dan memperkenalkan dirinya.


“Saya dokter Rufaydah Ibu, kebetulan saya juga pernah nyantri dan dari keluarga santri"


“Masyaallah, pasti suami Dokter ustadz ya?"


“Ah, ahah... saya... belum punya suami. Kalo ditanya mau punya suami sih, pingin dapet ustadz sih. Tapi jodoh orang kan kita nggak tau betul kan Bu?"


“I... iya betul, maaf Dokter"


“Tidak masalah Ibu"


Dokter Rufaydah meminta keterangan dari Salma tentang apa keluhan yang dirasakannya sekarang, Salma mengatakan bahwa wanita itu mengalami morning sickness yang parah.


Dokter Rufaydah menyarankan agar Salma banyak berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Mengandung janin lebih dari satu memang tidak mudah.


***


Hari ke-2 di pulau Dewata, kondisi Salma sudah cukup membaik, Jono memutuskan untuk mengajak sang istri ke pantai Kuta. Salma menyetujui saran suaminya dengan syarat mata suaminya tidak boleh jelalatan. Semenjak keluar dari penjara, Jono tidak sesuci dan sepolos dulu.


Selama di perjalanan ke Kuta dan sampai di Kuta sekalipun, cadar Salma tidak pernah lepas.


(Sesampainya di pantai Kuta)


“Sayang... buka cadar kamu dooong" pinta Jono dengan manja.


“Ish Abang! Ini kan tempat umum Sayang. Kamu tuh gimana sih, malu dong kita sama orang-orang Bang" protes Salma.


“Bodo amat, siapa peduli dengan orang-orang itu? Kita ini kan suami istri dan sedang berbulan madu. Jadi bebas dong kita mau ngapain aja Sayang"


“Tapi nggak di lingkungan seperti—" belum selesai Salma bicara, Jono sudah mengangkat cadar Salma dan menerkam bibir ranum istrinya dengan ganasnya, jeritan Salma tercekat oleh kecupan ganas itu.


Setelah adegan itu berlangsung cukup lama, Jono menghentikannya dan tersenyum di depan Salma yang masih rebahan, Salma pun membalasnya.


“Kenapa sih kamu senyum-senyum gitu? Minta apa? Minta apa hayo? Pasti mau minta jatah lagi kan?" ujar Salma sambil tertawa cekikikan.


“Tau aja kamu" jawab Jono yang wajahnya mulai memerah.


“Tau lah, itu muka kamu udah merah gitu. Wkwkwkwk, lucu tau nggak sih kamu itu Bang" ujar Salma yang masih tertawa cekikikan.


“Puasa dulu" sambung Salma dengan nada datar.


“Iya" sahut Jono dengan nada rendah.


***


3 hari mereka habiskan waktu untuk berbulan madu di pulau Dewata Bali, mereka keliling pulau Bali dan berkunjung ke pantai Kuta, Pandawa dan pantai-pantai lainnya, juga tanah lot, serta melihat konser tari Kecak, dan membeli suvenir khas pulau Bali.


Ketika Jono dan Salma ingin check out dari Red Doorz Denpasar, tiba-tiba Salma kembali mengalami morning sicknessnya, sejak di hotel tubuh Salma nampak lelah dan lemas. Rupanya wanita itu kelelahan menyusuri perjalanan di Bali.


“Sayang, ayo kita check out. Kamu nggak apa-apa? Kenapa kamu nangis? Kamu kangen orang tua kamu?" tanya Jono yang melihat istrinya tiba-tiba dalam kondisi menangis dan masih dalam kondisi berbaring di atas kasur, namun Salma tidak menjawabnya.


Setengah jam kemudian, wanita itu bangkit dari tidurnya dan tiba-tiba saja merasa mual.


“Huwek!" Salma berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di wastafel, Jono yang setia, menemaninya, membawa ke belakang rambutnya yang terurai ke bawah, dan memijat punggung dan leher istrinya.


“Mengandung satu janin aja kamu udah kesulitan waktu itu. Apalagi sekarang, sekarang kamu membawa 2 nyawa Sayang"


“Huwek! Uhuk uhuk" Salma masih memuntahkan isi perutnya.


“Sssst, It's okay... keluarin semuanya Sayang, keluarin semuanya" ujar Jono yang masih memijat punggung istrinya dan menciumi punggung dan pundaknya beberapa kali.


“You've done?" tanya Jono setelah Salma berhenti muntah.


Salma mengangguk. Setelah semuanya beres, mereka berdua melakukan check out dan pergi menuju pelabuhan Gilimanuk Bali untuk menyebrang hingga ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.


Selama perjalanan, Salma mengeluh kepalanya pusing dan mual. Sementara itu Jono merangkulnya sepanjang perjalanan dan membuat istrinya merasa nyaman.


“Sayang, kapan sih kamu lahiran? Abang nggak tega liat kamu begini terus. Dan lagipula Abang juga udah nggak sabar pingin liat anak kembar kita.


“Sabar Bang, tunggu 3 bulan lagi baru kamu bisa melihat mereka. Tapi Alma punya syarat Bang"


“Syarat? Syarat apa itu Sayang?" tanya Jono penasaran.


“Abang harus ada di sisi Alma ketika Alma udah mau lahiran. Abang bisa memenuhi syarat ini kan?" tanya Salma.


“Duh, semoga aja Yasmin nggak tau soal semua ini. Kalo sampe' dia tau gue punya bini... wah gawat, bisa mampus gue" gumam Jono dalam hati.


“Bang? Abang? Bang Jono? Kamu kenapa bengong sih Bang? Kamu masih takut ditangkap polisi?" bisik Salma.


“Oh, mmmm... nggak kok Sayang, nggak. Eh tapi iya sih... Abang masih trauma sama kejadian waktu itu" jawab Jono berbohong.


“Tenang aja Bang, selama Abang mau benar-benar berubah... Insyaallah Abang nggak bakal balik lagi ke penjara. Kalaupun seandainya polisi datang mencari Abang, Alma akan meminta penjelasan kepada mereka atas dasar apa mereka menangkap Abang lagi"